• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 11 Penderitaan Belum Berakhir

Suara adzan subuh yang merdu membangunkan aku enggak terasa sudah pagi, akhirnya aku bisa melewati malam Minggu kelabuku dengan tidur nyenyak di kamar. Aku menjalani kegiatan pagiku seperti biasa. Tapi apesnya aku harus berangkat naik angkot lagi. Mau berangkat bareng Ray gengsi dong, orang lagi marahan. Mau berangkat bareng Kak Ros nanti malah memperkeruh suasana. Jadi serba salah nih. Saat sedang menunggu angkot, tanpa sengaja aku melihat Ray berangkat sekolah. awalnya sih berharap Ray berhanti dan menawari aku tumpangan. Ya, tapi harapan tinggal angan. Saaat Ray mendekat dia justru mempercepat motornya tanpa melihat aku sedikitpun. Sebesar itu kah kesalahanku padmu Ray hingga memandangku walau hanya sejenak saja kau tak mau.
Lagi-lagi telat, malang sekali nasibku kali ini. Ya, mau enggak mau harus menrima hukuman dari Bu Har, guru yang terkenal kejam disekolahku. Bahkan alasan apapun tak didengarkan olehnya. Apalagi kalau beliau sudah marah, rasanya dunia hampir rubuh. Mungkin ini memang sudah nasibku hampir setiap hari aku dihukum Bu Har karena aku telat. Ya, maklumlah resiko naik kendaraan umum. Rasanya pegal sekali, bayangkan saja sudah hampir dua jam aku duduk sila di depan pintu. Kalau kayak gini sih bukan lagi kesemutan bahkan kegajahan juga hampir kalah.
Akhirnya jam istirahat datang juga, layaknya pahlawan bertopeng. Kali ini aku harus ke kantin dan makan bekal sendirian. Sebanarnya sudah ku cari-cari Clara, tapi tetap saja aku tidak menemukannya.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya waktu pulang sudah tiba. Rasanya aku ingin cepat-cepat sampai rumah dan tidur untuk melupakan sejenak beban hidupku hari ini. lagi-lagi harapanku pudar lagi. Bayangkan saja di tengah jalan angkot yang ku tumpangi mogok. Akhirnya mau tidak mau aku harus erjalan kaki sejauh kurang lebih 1km. Yang bikin lebih sebal, waktu di tengah jalan aku bertemu Ray tapi dia sama sekali tidak melihatku. Begitu marahkah Ray padaku?
Benar-benar sial, bahkan sampai rumah pun penderitaanku belum berakhir.bayangkan saja, sudah capek berjalan aku harus menunggu di teras rumah karena pintu yang dikunci. Kenapa penderitaan terus menghampiri? Saat aku sedang duduk di tangga teras tiba-tiba saja ada yang menutup mataku. Aku pikir itu ibu.
“Sudahlah Bu, jangan bercanda anakmu yang satu ini sudah lelah dengan penderitaan hari ini.” aku mengeluh panjang lebar.
“Kok Ibu sih?” kata Vivi.
Hahh?? Sepertinya aku kenal suara ini tapi siapa ya? Vivi? Iya ini suara Vivi, aku ingat benar suaranya. Siapa sih yang enggak ingat suara dia yang cempreng dan manja itu. Aku segera mungkin membalik tubuhku dan ternyata perkiraanku benar, langsung ku peluk erat Gigi dan Vivi. Tak terasa air mataku menetes.
“Kamu kenapa, Ra?” kata Vivi.
“Ada banyak hal yang terjadi saat kalian pergi.”
“Kami sudah berpikir seperti itu.” Kata Vivi.
“Kemana Ray? Dia kan sudah berjanji untuk menjagamu?” tanya Gigi.
Aku hanya terdiam.
“Apa Ray yang membuatmu menangis seperti ini?” tanya Gigi.
“Apa? Biar ku tendang dia kalau sampai berani menyakiti sahabat terbaikku ini.”
Tiba-tiba saja ibu datang sambil membawa tas yang berisi sayuran. Ibu pun terkejut melihat Gigi dan Vivi.
“Loh, ada Gigi sama Vivi?”
“Sudah lama?” tanya ibuku.
“Lumayan, Bu.” Jawab Gigi.
“Kok temannya enggak diajak masuk, Ra?”
“Gimana mau masuk Bu, kan rumahnya dikunci.”
“Oh iya, Ibu lupa. Ya sudah, ayo kita masuk biar Ibu masak makanan buat kalian.” Kata ibu.
“Ya sudah, aku mau bersih-bersih dulu. Kalian tunggu di ruang tamu saja!” kataku.
Rasanya senang banget bisa Ketemu sama Gigi dan Vivi. Mereka memang sahabat terbaikku, hanya mereka yang selalu ada disaat aku senag maupun susah. Tapi untuk apa mereka ke sini bukannya mereka besok jug harus sekolah? Entahlah mereka datang saja aku sudah senang.
Setelah aku bersih-bersih, aku langsung menenmui Gigi dan Vivi.
“Kita lanjutkan pembicaraan yang sempat terpotong tadi.” Kata Vivi.
“Sebenarnya apa yang membuat kamu sedih seperti ini, Ra?” tanya Gigi.
Aku tidak mungkin membohongi mereka, mungkin ini memang saatnya aku menceritakan semuanya. Akhirnya aku menceritakan semua masalahku dengan Ray pada Gigi dn Vivi.
“Kami telah menduga itu.” Kata Gigi.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan?”
“Kami akan membantumu, biar aku dan Vivi yang bicara langsung pada Ray.” Kata Gigi.
“Kalian serius?”
“Iya, apa sih yang enggak buat kamu, Ra. Kamu telah membantu bahkan mengajari kami banyak hal. Sekarang saatnya kami untuk membalas kebaikanmu.” Kata Gigi
“Kalian memang sahabat terbaikku.” Kataku sambil memeluk Gigi dan Vivi.
Tiba-tiba saja ibu datang dan memberitahu kami bahwa makanannya sudah siap.
“Anak-anak makanannya sudah siap. Ayo kita makan!” ajak ibu.
Setelah mendengar perkataan ibu kami segera mengikuti ibu dan makan. Kebetulan ayah juga sudah pulang kerja.
“Kok hanya bertiga? Ray mana, Ra? Enggak kamu ajak?” tanya ayah.
Aku hanya terdiam dan melirik pada Gigi dan Vivi. Aku bingung mau jawab apa.
“Kami tadi sudah mengajak Ray, tapi katanya dia lagi capek.” Jawab Vivi.
Maafkan aku ayah, ini belum saatnya ayah mengetahui semuanya. Aku enggak mau ayah terlalu terbebani dengan semua ini.Menjadi tulang punggu keluarga dan ayah yang baik untukku, itu sudah cukup.
Karena sudah larut malam, akhirnya Gigi dan Vivi memutuskan untuk pulang. Sebenarnya ayah telah menawari mereka untuk menginap tapi mereka tidak mau. Katanya masih ada urusan yang mau diselesaikan.
“Kami mau pamit pulang.” Kata Gigi.
“Kenapa enggak nginap saja?”
“Masih ada urusan yang perlu kami selesaikan, Yah.” Kata Gigi
“Oh ya sudah hati-hati.”
“Iya.”
“Besok kalian ke sini lagi ya! Aku masih kangen berat sama kalian.”
“Iya iya.”
“Oh iya Ra, tunggu hari besok ada hal yang indah menunggumu.” Kata Vivi.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Refleksi Hari Persahabatan Sedunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *