• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 10 Sebuah Fakta Menyesakkan

Pagi ini rasanya aku tidak memiliki semangat untuk menjalani hari ini dengan keceriaan seperti biasanya. Makan masakan ibu yang biasanya selalu ku lahap habis pun sekarang hanya ku pandangi saja. Untuk apa ke sekolah kalau enggak punya sahabat. Melakukan semuanya sendiri. Membosankan! Melihat aku terus melamun ibu pun bertanya padaku.
“Kamu kenapa, Ra?”
“Enggak apa-apa kok, Bu.”
“Serius? Apa kamu sakit?”
“Enggak kok, Bu. Masih ngantuk saja.”
“Memangnya semalam kamu begadang?”
“Iya, Bu. Aku lupa belum mengerjakan PR.”
“Ya sudah, segera makan sarapanmu supaya kamu enggak ngantuk lagi.”
Maafkan aku ibu aku terpaksa membohongimu. Sebenarnya kemarin aku enggak begadang, aku tidur seperti biasa. Hanya saja hari ini aku malas sekali. Tapi aku enggak boleh berlarut-larut dengan semua ini. untuk apa aku capek-capek memikirkan Chocho dan Ray, toh belum tentu juga mereka memikirkan aku. Aku harus lebih semangat lagi untuk belajar, aku tidak ingin mengecewakan ayah dan ibuku. Tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu. Saat aku ingin membukakan pintunya, ibu justru menyuruhku untuk makan kembali dan ibu yang membukakan pintunya. Rasanya aku kenal dengan suara itu. Tapi siapa ya? Apa Damar? Ah tapi enggak mungkin. Lagi pula untuk apa dia ke sini. Mungkin telingaku saja yang sedikit bermasalah.
Oh My God, ternyata telingaku enggak salah dengar. Itu memang suara Damar. Buktinya saja sekarang dia ada di hadapanku. Ibu menyuruhnya untuk sarapan bersama kami. Ternyata perkiraanku salah, Damar adalah anak yang baik, bersahaja, sopan, dan ramah. Baru saja dia kenal dengan ayah dan ibuku tapi mereka sudah akrab. Senang rasanya melihat mereka akrab. Akhirnya penderitaanku kemarin tidak terulang lagi. Hari ini aku berangkat sekolah bareng Damar. Jadi enggak harus naik angkot lagi. Uang jajan juga enggak kepotong lagi deh.
Sesampainya di sekolah, kami menjadi perhatian. Bahkan mereka rela menghentikan perbincangan mereka untuk melihat kami. Apalagi si Jeje, Dedes dan Chocho yang bengong melihat kami berangkat bareng. Rasanya ingin ku letakkan timba di bawah mulut mereka yang meront-ronta ingin keluar dari mulut mereka. Saat kami jalan di depan mereka langsung saja mereka menyambut kami dengan kata-kata yang pedas banget. Rasanya tanganku ingin mendarat di pipi manis mereka.
“OMG no no no no, Dedes cubit gue dong? Gue pasti mimpi buruk.”
Dedes pun mencubit tangan Jeje.
“Aaau… Sakit tahu. Hahh jadi ini bukan mimpi dong?”
Kami hanya tersenyum simpul di hadapan mereka karena perkataan Jeje yang konyol.
“Oh jadi gini sifat kamu sebenarnya. Memalukan! Abis sama Ray, Kak Roesdi, sekarang Kak Damar kamu rayu juga?” kata Chocho
“Eh kalo ngomong dijaga dong! Aku sama Ray, Kak Roesdi dan Kak Damar cuma teman saja kok.”
“Mana ada maling yang mau ngaku.” Celetuk Dedes.
“Mana ada orang yang fitnah mau ngaku.”
“Oh jadi kamu nuduh aku fitnah?”
“Aku enggak pernah menuduh kamu. Kamu yang bilang sendiri kan.”
“Sudah-sudah!Aku enggak menyangka pujaan hatiku jalan sama orang yang musuhku selama ini.” Celetuk Jeje.
“Apa kamu bilang? Pujaan hati? Maksud kamu, Kak Damar?”
“Itu sudah tahu. Terus Ray gimana?”
“Aku sama Ray itu cuma main-main saja. Aku cuma pengin lihat kamu menderita itu saja.”
“Kamu tega ya. Ray itu benar-benar cinta sama kamu, tapi kamu justrumenganggap dia kayak boneka?”
“Terus masalahnya apa? Terserah aku dong mau ngapain saja, bukan urusan kamu!”
Gila, aku masih enggak menyangka ternyata Ray cuma buat mainan saja. Aku enggak boleh tiggal diam, aku harus memberitahu Ray tentang ini semua. Setelah mendengar perkataan Jeje, aku segera pergi meninggalkan mereka semua termasuk Kak Damar. Sebenarnya aku dengar Kak Damar memanggilku tapi suara itu berlalu begitu saja, mungkin dengan angin yang berhembus begitu kencang, sekencang jantungku berdebar. Sesampainya di kelas, aku langsung duduk di sebelah Ray. Ku rasa dia sedang merenung.
“Ray aku mau ngomong sama kamu.”
“Ngomong saja.”
“Kamu kenapa sih Ray? Tiba-tiba saja marah sama aku. Salah aku itu apa? Kamu bilang dong! Biar aku bisa introspeksi diri.”
“Kalau kamu enggak merasa salah, ya sudah berarti kamu enggak salah.”
“Aku pikir kamu bisa mengerti aku, ternyata sama saja. Sama kayak yang lainnya, pergi begitu saja tanpa memberi alasan. Kalau tahu begini jadinya kenapa aku harus dekat sama kamu? Kenapa aku harus kenal sama kamu? Toh akhirnya hanya kecewa yang aku rasakan.”
Ray hanya diam mendengarkan ocehanku itu. Mungkin dia berpikir itu enggak penting. Aku tahu perkataanku itu sudah menyimpang dari tujuan awalku. Tapi mau gimana lagi, toh sudah terjadi.
“Apa? Justru aku selalu mencoba untuk mengerti kamu tapi apa balasannya? Yang kecewa itu aku. Kamu enggak pernah ngerti.”
“Maksudnya apa sih?”
“Aku cemburu lihat kamu sama Roesdi. Puas!”
Aku hanya terdiam. Aku bingung mau menjawab apa. Ray meneruskan perkataannya.
“Aku juga kecewa sama kamu. Kamu pikir kamu siapa? aku tahu kamu sebenarnya suka sama aku tapi kamu selalu memendam itu. Kamu enggak jujur, apa salahnya sih kita pacaran? Persahabatan juga butuh cinta. Kamu itu munafik, enggak mau mengakui perasaan sendiri. Oh iya satu lagi, Jeje itu lebih baik dari kamu karena dia enggak munafik. Dia mau mengakui perasaannya sama Damarestra enggak seperti kamu. Ngerti!”
Ya Allah, bantu hamba-Mu ini. Aku sudah bingung mau berkata apa, aku enggak mau masalah pribadiku ini menjadi perbincangan orang. Apalagi semua teman sekelasku mendengar pembicaraanku bersama Ray termasuk Chocho. Pasti sekarang Chocho semakin berprasangka buruk padaku. Tiba-tiba saja Pak Ilham datang.
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa Pak Ilham.
“Pagi, Pak.” Jawaban semua siswa.
Untung saja Pak Ilham datang kalau tidak aku enggak tahu gimana caranya menghadapi Ray yang sedang terpancing emosi. Aku kira masalah ini berhenti sampai di sini, enggak tahunya Pak Ilham memberi tugas kelompok. Satu kelompok terdiri dari 2 anak dan parahnya aku satu kelompok sama Ray. Kenapa disaat keadaan yang seperti ini aku harus satu kelompok sama Ray.
Bel istirahat sudah berbunyi. Aku langsung pergi ke kantin sambil membawa bekal yang dibawakan ibu. Tiba-tiba saja Damar datang menghampiriku sambil membawa kotak kecil entah apa yang ada di dalamnya.
“Boleh ikut gabung enggak?” tanya Damar.
“Boleh. Yang kamu bawa apa sih?” Jawabku.
“Ini bekalku.”
“Serius? Seorang Damarestra anaknya donatur terbesar di sekolah ini bawa bekal? Kesambet apa kamu? Tumben bawa bekal.”
“Apaan sih, jangan ingatin aku sama waktu itu bikin malu tahu. Lagian aku juga pengin hidup sehat kayak kamu. Oh iya, kamu kenapa kok kayaknya galau gitu?”
“Masak sih? Enggak apa-apa kok.”
“Aku sudah tahu kok masalah Ray kan?”
“Kok kamu tahu sih?”
“Iya lah berita itu sudah menyebar kemana-mana.”
“Serius?”
“Iya lah ngapain juga bohong.”
“Ya sudahlah mending kita makan saja. Aku sudah lapar nih.”
Saat kami mau makan, tiba-tiba saja ada cewek yang menghampiri kami.
“Boleh ikut gabung enggak?”
“Boleh. Kamu anak baru yang tadi kan?”
“Iya, namaku Clara.” Sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Ternyata dugaanku benar. Dia adalah anak baru yang sekelas denganku. Kelihatannya dia anak yang baik, semoga saja dia mau menjadi temanku.
“Aku Tiara tapi biasa dipanggil Ara sih.”
“Kalau aku Damarestra tapi biasa dipanggil Damar, cowok paling keren di sekolah ini.” kata Damar dengan penuh percaya diri.
“Sudah enggak perlu dipikirin, dia anaknya memang kayak gitu sedikit gangguan jiwa. Kamu bawa bekal juga?” tanyaku.
“Iya, sekalian hemat uang jajan.”
“Sama dong aku juga sering bawa bekal. Gimana kalau kita tiap hari makan bareng saja, biar seru.”
“Pasti. Lagian akuenggak punya teman di sini.”
“Jangan mau sama Ara, dia orangnya cerewet.Kamu pasti enggak betah deh lama-lama sama dia.” kata Damar menyela pembicaraanku dengan Clara.
“Apaan sih, terus ngapain kamu dekat-dekat aku.”
“Kalau aku sih sudah kebal sama ocehan kamu. Orang pertama kali kita ketemu kamu kan cerewet banget, ngomel mulu.” Ejek Damar.
“Memang ceritanya gimana?” tanya Clara.
Akhirnya Damar menceritakan semuanya pada Clara. Dan itu membuatku malu di depan Clara. Saat kami sedang bercanda, tiba-tiba saja ada seorang wanita separuh baya memanggil Damar. Yang membuat kaget Damar memanggil wanita itu dengan sebutan mama. Apa jangan-jangan itu Ibu Sinar donatur terbesar di sekolah ini. ternyata dugaanku benar ia adalah Ibu Sinar donatur terbesar di sekolah ini dan mamanya Damar pastinya. Akhirnya Damar memperkenalkan aku dan Clara pada mamanya.
“Oh jadi ini yang namanya Ara?” tanya Ibu Sinar.
“Iya, Bu.”
“Damar sering cerita banyak tenang kamu.”
“Masak sih, Bu?” jawabku pada Ibu Sinar.
“Oh jadi diam-diam kamu suka sama aku?” lanjutku sambil mencairkan suasana.
“Apaan sih kamu sok cantik.”
“Ya memang aku cantik.”
Kami pun tertawa lepas. Tanpa sengaja aku melihat Chocho yang memandang iri kebersamaanku ini. mungkin dia merasa tidak nyaman dengan teman barunya itu. Tapi sudahlah, lupakan saja! Toh sekarang aku punya sahabat baru. Aku baru sadar, bahwa sahabat yang setia dan selalu perhatian itu adalah musuhku sendiri. Bahkan sahabat yang selalu ku percaya justru mengkhianatiku dan lebih memilih untuk menjadi musuhku. Dari pada bingung memikirkan semua ini, akhirnya aku mengajak Ibu Sinar untuk makan bareng kami.
“Ayo Bu, kita makan bareng. Kebetulan Ibu membawakan banyak bekal untukku. Sepertinya aku enggak habis kalau makan sendiri.”
Akhirnya kami pun makan bersama.
Enggak terasa waktu berjalan begitu cepat. Malam Minggu kali ini, menjadi malam yang sangat membingungkan untuku. Bayangkan saja malam Minggu yang biasa aku habiskan bersama Ray sekarang tinggal kenangan. Huhh, jadi kangen sama Gigi dan Vivi. Apa kabar kalian di sana? Kok sekarang jarang menghubungi aku. Apa mereka sudah lupa padaku. Mungkin sekarang mereka sedang menikmati masa-masa indah bersama sahabat barunya. Kapan ya bisa ketemu kalian lagi? Haduhh, kenapa jadi lebay gini sih. Pakengomong kangen segala lagi. Ara.. Ara..

BACA JUGA :   Istri tidak hanya butuh nafkah tetapi dia juga butuh kasih sayang dan perhatian

Dear Diary,
Baru kali ini nih, malam Minggu rasanya sepi banget. Biasanya kan sama Ray. Tapi sekarang kayaknya sudah enggak mungkin deh. Kangen waktu kita sering melihat bintang dan saling berbagi cerita. Entah itu cerita sedih atau bahagia. Mungkin bagi banyak orang kegiatan seperti itu sangat membosankan. Tapi kalau menurutku itu justru hal yang selalu ku tunggu-tunggu. Tapi sekarang semua itu telah hilang. Sekarang aku bingung mau curhat sama siapa. Kalau sama Ibu atau Ayah, aku malu masak hampir tiap hari curhat terus. Rasanya hidupku dipenuhi dengan banyak masalah. Jadi kangen sama Gigi dan Vivi.
Belum selesai aku menulis semua curahan hatiku, tiba-tiba saja lampu di kamarku mati. Benar-benar malam Minggu yang kelabu. Karena pemadaman listrik jadi bingun mau ngapain. Lama kelamaan mataku terasa berat.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *