• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Perempuan Berkerudung Itu,Salmia Namanya

ByPaskalis

Agu 24, 2021 , ,

Terdengar suara Azan Magrid berbunyi, memanggil warga eks pasal lama Abepura untuk bergegas pergi ke Mesjid.

Sore itu suasana batin tidak menentu karena Mesjid tempat mencari kedamaian harus di batasi dengan jumlah jamaah, dan juga di wajibkan untuk mematuhi protokol kesehatan dengan memakai Alat Perlindungan Diri (APD) dengan memakai masker dan menjaga jarak untuk menekan lajunya pademi Covid-19.

Sebut saja namanya ibu Salmia, bagi tiga orang anak ini ibadah adalah sesuatu keharusan karena dengan beribadah semua orang menemukan kedamaian sejati. Ibu Salmia adalah salah satu warga yang taat beribadah. Namun sejak merebak pademi Covid-19 membuat suasana berubah drastis.

Berbagai kebijakan pemerintah untuk menekan lajuhnya Corona virus, dengan pemberlakuan kebijakan pemerintah dan di ikuti oleh perusahan swasta, BUMN, NGO dengan menyediakan fasilitas umum. Seperti alat pendeteksi suhu tubuh, washtapel untuk mencuci tangan dan memakai masker.

Namun pandemi Covid-19 kian gesitnya sehingga swalayan di tutup, rumah ibadah di tutup, objek wisata di tutup.

Selain itu, sekolah tidak berlaku tatap muka, warga tidak dianjurkan untuk berkerumun dalam jumlah yang banyak, jam pelayanan kerja pemerintah di batasi.

Pemerintah terus gencar mengedukasi masyarakat untuk mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak hingga dengan menyediakan Washtapel di setiap sudut-sudut perempatan kota, perkantoran.

Tidak tanggung-tanggung, pemerintah juga membagi masker dan melakukan swepping di tempat kerumunan warga.

Dampak pembatasan sosial memang terasa bagi warga pedagang asongan, pedagang kaki lima, warung glontongan, rumah makan, mereka harus gulung tikar karena pembeli sepih. Kondisi ini tentu membuat mereka trauma karena tidak ada pemasukan.

Di lain sisi mereka harus ikut anjuran pemerintah karena merebaknya pademi kian menjangkit warga dari hari ke hari.

Himbasnya, para pekerja buruh harian harus di PHK, kini mereka kehilangan pekerjaan. Hidup semakin susah, apalagi mereka yang tinggalnya di rumah kontrakan, sebagai pekerja buruh tentu tidak bisa mendapatkan uang untuk membayar kontrakan dan melengkapi kebutuhan harian.

Bagi pengusaha menengah ke atas dampak ini tidak terasa, dan tidak sebanding dengan mereka yang bekerja sebagai pekerja harian di swalayan, rumah makan dan pedagang asongan tentu merasakan dampak ini.

Puncaknya pademi ini membuat setiap orang menjadi stress karena kehilangan mata pekerjaan, seperti halnya dialami oleh ibu Salmia, wanita asal Pangkep, yang sudah dua tahun merasakan dampak ini.
*****
Kisah ibu Salmia dan anaknya sangat menggetarkan hati dan perasaan, karena mereka harus melawan hidup, dan melawan pademi Covid-19 serta berhadapan dengan sosok suami kedua yang suka melakukan kekerasan dalam rumah tanggah.

Suami pertama ibu Salmia sudah meninggal dunia, almarhum meninggal sejak anak Bambang Maulana berusia 2 tahun. Sebelum Pandemi awal tahun baru 2020 lalu, ibu Salmia memutuskan hijrah ke kota Jayapura untuk mencari pekerjaan disini. Sedangkan kedua anak ibu Salmia bernama anak Navafrizal dan Nazla, tinggal bersama nenek dan tete di Tarakan, Kalimantan.

Berjalannya waktu, ibu Salmia mengenal seorang lelaki dan jatuh cinta serta hidup bersama dengan bapak Amirudin.
Sehari – hari bapak Amirudin asal Sulawesi bekerja sebagai buruh bangunan.

Bapak Amirudin dan ibu Salmia bersama anak Bambang Maulana tinggal di rumah kontrakan sederhana di Jalan Baru Pasar Lama, Abepura.

Setiap bulan rumah kontrakan harus di bayar sebesar Rp. 600 ribu/bulan. Persoalan lainnya selama dua tahun, keluarga ini tinggal bersama tanpa adanya hijab kabul (pemberkatan) dari penguluh Kantor Urusan Agama (KUA) secara resmi sebagai pasangan suami istri.

Menurut ibu Salmia, pernah dia menyampaikan ke bapak Amiruddin agar segera menikah, tetapi karena mereka belum siap mengurusi persyaratan pernikahan dan uang belum cukup. Apalagi, pak Amirudin sibuk di tempat proyek, jadi mereka belum saja mengurus kesiapan untuk menikah.

BACA JUGA :   Transparansi Dana Bansos di Cijantung Pasar Rebo

Selama itu juga, ibu Salmia belum mengurus surat pindah domisili dari Tarakan, Kalimantan ke Kota Jayapura, Papua. Terbukti ibu Salmia masih memakai kartu Tanda Pengenal Elektronik (KTP-e) asal Tarakan, Kalimantan.

Ibu Salmia menyampaikan mereka sering tinggal di camp proyek tempat suaminya bekerja. Lanjutnya, bapak Amiruddin terkadang cemburu buta, jika melihat dia berbicara dengan lelaki lain, sehingga suaminya menasehati dan dengan tegas dia menyampaikan bahwa di tempat proyek jangan ngobrol dengan para lelaki lain.

“Hai, kau ingat kalau disini jangan sembarang ngobrol sama teman-teman pekerja disini. Kau disini tugasnya hanya masak dan mencuci piring. Ingat kalau kau ngobrol sembarang disini, awas kau.”

Namun beberapa kali sempat pak Amiruddin melihat istrinya saling ngobrol dan hal ini membuat dia cemburu.

“Sudah ku bilang, tidak dengar juga kau. Kalau begini pulang kau ke rumah jangan tinggal disini.” Makian anjing, dan bodoh ikut diucapkannya.

Menurut ibu Salmia, dia merasa aneh karena hanya cerita biasa saja suaminya marah-marah, masa selama tinggal saya hanya diam diam saja.

“Tapi sebenarnya tidak apa kan, hanya ngobrol biasa. Saya juga tahu diri, siapa saya dan saya juga sudah punya anak”, ungkapnya.

Ibu Salmia menjelaskan bahwa anak Navafrizal dan Nazla kini tinggal bersama nenek dan kakeknya di Tarakan,Kalimantan.

“ Anak Navafrizal tinggal di Pondok Pesantren Dau’D Kolifatullah, Magetan. Setelah pademi Covid-19 melanda Indonesia, sehingga para santri di suruh pulang ke keluarga untuk sementara waktu, dan anak Navafrizal harus pulang kembali ke Tarakan, Kalimantan. Sedangkan anak Nazla mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Setara Paket SMP kini duduk di kelas VIII, tinggal bersama nenek dan tete di Tarakan Kalimantan,” Ungkapnya.

Ibu Salmia sangat sayang kepada anak Navarizal dan anak Nazla, ketika ibu bekerja dan mendapat upah, dia tidak lupa mengirimkan kedua anaknya uang jajan. Bila ada uang, Ibu Salmia sering mengirim Rp. 300 ribu hingga 500 ribu, kepada anak- anaknya itu.

“ Memang uang yang saya kirim tidak besar, tapi kan uang itu bisa di gunakan untuk membelikan sabun cuci dan sabun mandi serta kebutuhan lainnya.”

Dulu awal datang di Kota Jayapura, Orangtua dari ibu Salmia memberikan modal usaha sebesar 3 juta rupiah. Namun, uang yang dikirim itu diambil oleh pak Amirudin untuk bermain judi.

Ibu Salmia sangat cinta anak-anaknya, dia ingin sekali membahagiakan mereka. Makanya ibu Salmia bekerja keras mencari uang dan menyisihkan buat kebutuhan anak anaknya.
Beberapa pekerjaan sudah dia geluti, namun tidak semua pekerjaan bertahan lama.

“Saya pernah kerja di Rumah Makan Sate Kambing, tapi tidak lama, kemudian pindah kerja di Warung Nasi Kuning tapi suami tidak mendukung. Saya pindah bekerja di Rumah Makan Lalapan, dan hanya bertahan tiga bulan bekerja dan terakhir saya bekerja di Rumah Makan Pangkep.” Ungkapnya.

Namun, berjalannya waktu selama dua bulan, Januari dan Februari hingga masuk minggu pertama di bulan Maret 2020, Corona virus melanda kota Jayapura, membuat ibu Salmia di rumahkan sementara waktu.

Selama bekerja, dia tidak bertahan lama bekerja di satu tempat kerja, karena hubungan antara majikan dengan ibu Salmia tidak rama dan penilaian majikan yang buruk. Selain itu, suaminya sering membuntuti ibu Samia saat bekerja, kondisi ini membuat terjadi situasi renggang membuat majikan menilai negatif dengan pekerjaan yang selalu di buntuti oleh bapak Amirudin.

Dan terakhir dia bekerja di rumah Makan Pangkep selama dua bulan, antara bulan Januari dan Februari hingga masuk minggu pertama bulan Maret 2020. Karena pademi mulai merebak membuat ibu Salmia di rumahkan (PHK) sementara waktu.

BACA JUGA :   Puisi: Tak Bisa Melupakanmu

Saat pemilik rumah makan pangkep akan membuka kembali usaha Rumah Makan, mereka kembali mencari ibu Salmia di tempat tinggalnya, dan menemukannya dengan kondisi menyedihkan.

Persoalan itu membuat bos Rumah Makan pangkep berinisiatif untuk mengambil foto dan membuat video serta di share ke media sosial Facebook hingga viral di media sosial dan ditanggapi langsung oleh pemerintah kota Jayapura, sampai melakukan sidak ke rumah ibu Salmia. Melalui Wakil Walikota Jayapura bapak Rustam Sahrul, membawah ibu Salmia dan anak Bambang Maulana untuk menjalani perawatan secara intensif di RS. Bayangkara.

Anak Bambang Maulana adalah anak yang ceria, selama tinggal dengan bapak Amirudin, dia menyaksikan sendiri kekerasan yang dialami oleh ibu Salmia.

Anak berusia dua tahun ini menjelaskan, kondisi ibunya pernah mengalami kekerasan dari bapak Amirudin menyebabkan muka, pipi, mata bahwa telinga keluarkan darah segar.

Dan ketika saya bertanya, kapan kejadian ini terjadi?

“ Sebelumnya kejadian itu sudah lama terjadi, kini berulang lagi lebih parah. Kekerasan yang terakhir dimana suami saya memukul memakai sapu Ijok dan membuat tangan kanan dan kiri menjadi bengkak.”

Pekerja Sosial penasaran, apa alasan suaminya memukul ibu Salmia sedemikian rupa.

Menurut ibu Salmia, Awalnya di suruh untuk mencuci pakaian, tapi karena cape, terus juga suami belum kasih uang untuk beli sabun sehingga terjadi keributan dan tindakan kekerasan.

Selain itu juga, saya (ibu Salmia) punya alasan macam-macam dan membuat suami menjadi emosi hingga tak kontrol menyebabkan terjadinya tindakan kekerasan fisik.

Hal itu di benarkan oleh perawat jaga di RS. Bayangkara.

“ Ibu Salmia mengalami retak pada tangan sebelah kanan, dia juga merasakan lelah, suka batut-batuk, kondisi fisik pun merasakan sakit hampir sekucur tubuh.”

Nampak pakaian yang di kenakan ibu Salmia sudah beberapa hari belum di ganti. Dia mengenakan kerudung coklat dengan kondisi kedua tangan mengalami pembengkakan.

Saat Kejadian, anak Bambang Maulana tidak terima perlakuan kasar dari bapak tirinya itu. Anak ini marah kepada bapak Amirudin dengan kata-katanya yang menentang.

“Jangan kau pukul mama ku”, dia pun beberapa kali ambil batu dan ingin mau melempar bapaknya itu.

Bapak Amirudin sering mendorong anak kecil ini dan mengeluarkan kata-kata makian kepada ibu Salmia dan anak Bambang Maulana.

“ Itu anak mu bandel yah, nakal tidak bisa mendengar dan menentang saya lagi, sama persis seperti kamu. Masih kecil sudah berani pegang batu mau lempar saya, apalagi nanti kalau sudah besar pasti dia (anak Bambang) lebih jahat lagi.”

Kejadian kekerasan fisik yang menimpa ibu Salmia menyebabkan tangan kanannya retak dan bengkak, kondisi fisik kian melemah, dan suka batuk-batuk hingga badan nampak kurus.

Dia tidak menduga sidak wakil Walikota Jayapura, pada malam hari itu dan menemukan ibu Salmia sedang berada di lapangan tempat pembuangan sampah.

Saat itu pula Pak Wakil Walikota langsung mengantarkan ibu Salmia ke Rumah Sakit Bayangkara.

kini ibu Salmia sedang menjalani perawatan secara intensif di RS. Bayangkara. Pekerja Sosial sempat mencari informasi sama perawat jaga di RS. Bayangkara, soal perkembangan ibu Salmia.

“ Ibu Salmia akan menjalani operasi pembersihan pembengkakan pada tangan kanan yang kini sudah bernanah.”

Ibu Salmia menyesal sudah mempercayai seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab karena tidak bisa menafkainya.

“Jujur saya takut, bila ketemu dia lagi karena bisa saja saya mendapatkan tindakan kekerasan fisik bersama anak saya Bambang Maulana,” Ungkap ibu Salmia sedih.

Apa lagi, sebelumnya ibu Salmia pernah melaporkan suaminya dengan kasus kekerasan fisik dan dia di tuntut dengan hukuman 15 tahun penjara.

BACA JUGA :   KLB Gizi Buruk Di Selatan Papua,Apakah Sudah di Tangani Secara Baik?

Namun, bapak Amiruddin tidak mendapatkan kurungan badan karena di dalam tahanan Polresta kota Jayapura terdapat narapidana yang terkonfirmasi positif Corona.

“Kurang ajar benar, dia berani lapor saya di polisi,tunggu dia.”

Hal ini membuat bapak Amiruddin sangat jengkel atas laporan ibu Salmia di kantor polisi.

“ Jujur Saya takut dengan tindakan kekerasan yang membuat fisik saya tidak seperti dulu lagi. Lihat tangan saya kini mengalami cacat. Sering kali dia berbuat demikian, sampai-sampai memar di kepala, dahi, hidup, mulut bahkan telinga mengeluarkan darah segar”, ungkapnya.

Kondisi itu membuat ibu Salmia merasakan trauma dan takut berlebihan bila masih tinggal bersama bapak Amirudin.

Kini ibu Salmia tidak menunjukan perilaku jengkel dan emosi secara berlebihan. Namun sering kali perasaan itu tersimpan di benak anak Bambang Maulana. Terlihat, sejak kecil emosinya suka meluap, maka di kawatirkan anak ini akan tumbuh menjadi sosok yang pemarah ketika mengalami atau melihat tindakan kekerasan serupa lagi baik pada dirinya atau orang disekitarnya di kemudian harinya.

Pekerja Sosial melihat kesedian terpancar dari mata ibu Salmia, dia hanya tabah menerima semua itu dan terus panjatkan doa agar masalah ini cepat berakhir dan bisa menentukan arah hidup yang lebih baik lagi.

Saya Kurang baik apa, coba!!. Pernah bapak Amiruddin sakit ginjal dan dia terkapar di depan pintu rumah kontrakan. Saya sebagai istri merasa kasihan melihat dia menjerit kesakitan. Lanjutnya, saya menolong pak Amiruddin, mencari tumbuh-tumbuhan obat di pasar dan rebus serta menyuap dia makan dan minum hingga beberapa minggu dan kini dia sembuh dari sakitnya.

Tidak semua tetangga dapat berbincang dengan Ibu Salmia, hanya beberapa orang saja yang bisa bersosialisasi dengan ibu ini. Padahal dia pandai bergaul dengan tetangga, tapi sering di batasi dengan sikap cemburu dari bapak Amirudin.

Ibu Salmia adalah sosok perempuan suka bercerita dengan tetangganya, namun setelah bapak Amirudin menunjukan sikap yang kurang baik kepada tetangga sehingga ibu Salmia sendiri merasa malu dengan kelakuan suaminya.

Setelah kasus menimpah ibu Salmia, dia merasa telah mengecewakan harapan dari orangtuanya.

Selama dua minggu mendapatkan perawatan di RS. Bayangkara, ibu Salmia dan anak Bambang Maulana mulai menunjukkan kondisi kian membaik dengan perilaku yang sopan dan rama.

Selama di Jayapura beberapa pekerjaan sudah pernah ditekuninya, sosok Ibu ini adalah perempuan pekerja keras. Namun kejadian kekerasan fisik membuat dia sudah tidak bekerja lagi. Apalagi selalu membuntuti dan mengawasi saat bekerja.

Bila bapak Amiruddin melihat ibu Salmia sedang ngobrol dengan lelaki saat bekerja di warung makan pasti bapak Amiruddin cemburu buta, dan dari kejahuan langsung menelepon dan bertanya-tanya.

” Dia sedang apa dan sedang bicara dengan siapa dan apa saja yang sedang kalian bicarakan dengan lelaki itu”.

Menurut ibu Salmia, dia pernah sedang asik bekerja membersihkan meja makan dan mengobrol soal berapa harga makanan dan minuman dengan para tamu yang makan di rumah makan. Kesetika itu dari luar Warung Makan bapak Amirudin melihat dan langsung menelepon istrinya dan mengeluarkan caci maki.

“Kau mau di ajak kemana dan akan di bayar berapa, hati-hati kau.”

Apa lagi jika ibu Salmia tidak mengangkat telepon!!, Malah akan membuat emosinya meledak. Makanya ibu Salmia mengaku putus asah dan tidak tahu mau berbuat apa. Sering kali, dia mengungkapkan ingin hidup aman dengan bekerja dan membesarkan anak-anaknya.

Paskalis (29)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *