• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Walau Daring, Eksistensi Pelantikan GMNI Majene Tidaklah Hilang

ByBudi Prathama

Agu 23, 2021 ,

“Mewujudkan Tri Sakti Bung Karno Berdasarkan Pancasila 1 Juni 1945 di Bumi Assamalewuang.”

Kalimat di atas adalah tema yang diangkat pada Pelantikan DPC GMNI Majene tertanggal 22 Agustus 2021 di Gedung Assamalewuang (Majene, Sulawesi Barat).

Rangkaian acara dimulai sekitar pukul 20.30 WITA malam, dengan prosesi Pelantikan langsung dari Pengurus Pusat (DPP GMNI), Arjuna Putra Aldino selaku ketua umum DPP GMNI periode sekarang.

Walau secara daring, eksistensi Pelantikan tidaklah hilang. Pada dasarnya, kegiatan tersebut awal bagi GMNI Majene untuk dapat mengelaborasikan ajaran-ajaran Bung Karno dan agenda-agenda organisasi ke depan, termasuk di tanah Bumi Assamalewuang. Sebagaimana azas dari organisasi GMNI sendiri, yakni Marhaenisme ajaran Bung Karno.

Mengutip kata dari ketua umum DPP GMNI pada Pelantikan tersebut, “Eksistensi kita tidak ditentukan oleh organisme lain, yang terpenting adalah selamatnya kaum marhaen. (Arjuna Putra Aldino)

Itulah mengapa, GMNI harus selalu menjadi garda terdepan untuk mengawal setiap kebijakan pemerintah dan terus berpihak kepada kaum marhaen (rakyat kecil). Bagi kaum marhaenis (kader ideologis GMNI), bahwa tidak ada jalan lain selain Marhaenisme, Marhaenisme sudah menjadi roh perjuangan dalam menyelamatkan kaum marhaen pada keadaan apa pun.

Lebih lanjut, tema yang diangkat pada Pelantikan itu, Tri Sakti Bung Karno yang berdasarkan Pancasila 1 Juni 1945. Telah kita tahu, bahwa Pancasila adalah hal mutlak sebagai ideologi bangsa Indonesia. Pancasila dalam beberapa rentetan perumusan, menuai hasil bahwa Pancasila lahir 1 Juni 1945 dalam pidato Bung Karno. Kemudian ditetapkan secara hukum berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 24 Tahun 2016.

Dalam pandangan Bung Karno, Pancasila sebagai falsafah hidup dan dasar negara Indonesia. Sementara, Marhaenisme sebagai teori politik dan alat perjuangan untuk membawa rakyat pada kebahagiaan dan keselamatan. Bung Karno mengatakan, “Pancasila is Marhaenisme, Marhaenisme is Pancasila.” Artinya secara substansi, Pancasila dan Marhaenisme sama saja, dan dua kata itu tidak wajar untuk diperdebatkan lagi.

BACA JUGA :   Diperpanjang Hingga 4 Oktober, Ini Aturan Baru PPKM Jawa-Bali

Dengan itu, GMNI Majene memiliki tugas yang berat ke depan. Tugas dan amanah untuk dapat membumikan ajaran Marhaenisme di Bumi Assamalewuang Majene dalam menghadapi segala tantangan yang ada. Bukan GMNI namanya kalau tidak dihadapkan dengan tantangan yang berat, banyak pelajaran yang mesti dapat diambil.

Secara serimoni, Pelantikan DPC GMNI Majene telah mempersembahkan yang terbaik pada acara tersebut. Beberapa pihak yang hadir, termasuk perwakilan Bupati Majene, perwakilan Kapolres, perwakilan DPRD Majene, Dandim, KNPI Majene, beberapa organisasi Cipayung, Organda dan organisasi Kampus.

Ketua GMNI Majene (Bung Agung) dalam sambutannya memberikan makna-makna penting mengenai GMNI. Beliau menyampaikan bahwa GMNI Majene akan tetap menjadi organisasi untuk terus mengawal kebijakan pemerintah dan tetap berpihak pada rakyat kecil (marhaen). Berusaha untuk menyelematkan hidup marhaen dan membawa pada gerbang kemerdekaan yang sesungguhnya.

Merdeka.
GMNI Jaya.
Marhaen Menang.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *