• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Berawal dari hobi

Bysri muningsih

Agu 23, 2021

Hai hai.. ada cerita baru lagi nih, kali ini ceritanya akan cukup menarik untuk kalian baca.

Semuanya berawal dari sebuah hobi, karena hobi inilah aku menjadi yang sekarang. Ya hobiku adalah menulis, tetapi sebelum menulis, hobi awal ku adalah membaca. Aku suka sekali membaca, buku apapun itu, termasuk masuk novel. Ya aku suka membaca karena kebiasaan yang sering aku lakukan waktu sekolah, yaps benar baca buku pelajaran. Karena kebiasaan itulah, membaca menjadi kegemaranku.
Tak jarang aku menghabiskan waktuku hanya untuk membaca ku, dulu aku itu membaca ya karena tuntutan sekolah, yang mengharuskan membaca untuk setiap pertanyaan dadakan di sekolah. Namun lama kelamaan, membaca menjadi sebuah kebiasaan yang terlanjur menjadi hobi. Teman teman sekelas ku juga menjuluki sikutu buku.
Ya dari tuntutan sekolah, aku jadi banyak belajar dan mengetahui banyak hal melalui membaca. Bagaimana tidak, di mulai membaca buku pelajaran aku mulai tertarik membaca koran yang mana pada saat itu, membaca koran hanya untuk pria/wanita dewasa saja. Namun aku menyukainya, dari situlah aku menjadi tahu tentang berita terbaru.
Hampir setiap hari aku selalu membaca koran, sampai orang tua ku mengatakan bahwa aku kecanduan membaca, ya meski begitu mereka tetap senang dengan hal positif yang aku lakukan. Ya karena bagi mereka, jarang sekali anak anak seperti aku suka membaca koran, apalagi itu belum tentu anak anak mengerti. Memang sih aku juga gak ngerti ngerti banget, ya tapi seneng gitu.
Hobiku itupun berlanjut ketahap yang lainnya, kalian tahu majalah bobo kan?? Nah itu tuh yang aku baca setelah sering membaca koran, orang tuaku menyadari kalau putri nya itu menyukai bacaan, nah jadi di belikan deh majalah bobo. Kalian tahu, aku seneng banget pada masa itu. Hingga aku duduk di SMP aku mulai mengenal tentang novel dan komik.
Aku yang saat itu, belajar tentang menulis novel mulai tertarik nih dengan novel. Aku mencari toko buku untuk membeli beberapa buku novel, namun harganya sangat mahal untuk anak SMP seperti aku. Demi hobiku itu, aku mengumpulkan uang jajanku, dan uang yang aku dapat dari teman teman yang minta contekkan tugas sekolah. Gini gini aku pinter loh.
Dengan memanfaatkan itu semua, aku bisa membeli buku novel fantasi urban legend. Dan itu juga cukup untuk aku yang masih di bawah umur pada saat itu. Tapi bukan berarti aku tidak membaca buku pelajaranku ya. Aku tetap membacanya, karena itu peraturan sekolah. Oh dan lagi aku sekolah, dari sd sampai SMA di satu sekolah ya. Jadi peraturan sama.
Hal yang sama juga berlaku di SMA, ya hobi membaca ku lah. Di bangku SMA pun aku mengumpulkan uang hanya untuk membeli novel. Hingga di suatu saat, aku mulai terpikirkan tentang karyaku yang di baca orang. Tapi ya Cuma pikiran saja, belum ke tahap yang serius. Namun saat itu aku sudah coba menulis banyak hal, tentang kehidupanku, atau karangan cerpen dan puisi. Untuk di baca sendiri saja dulu, begitu pikirku pada masa itu.
Aku terus menulis semua hal yang aku alami menjadi sebuah cerita pendek, tapi ya itu untuk di baca sendiri. Karena aku belum punya cukup keberanian untuk menulis dan di baca semua orang. Meskipun begitu, aku sangat senang dengan semua karya amatirku itu. Bagiku walau itu adalah sebuah karya yang tak di baca orang, tapi sangat berharga. Sebab semua yang tertulis di dalam novel amatir itu adalah kisah masa kecilku yang menyenangkan.
Kalau di tanya, apakah aku tidak ingin karya ku di baca banyak orang? Jawaban ku ya aku ingin, sangat ingin ya tapi balik lagi ke awal aku belum siap tentang karya amatir ku itu. Hingga dimana salah seorang sahabatku mengatakan bahwa aku tak perlu takut untuk suatu hal yang positif, lagi pula menulis itu bukan suatu hal yang buruk. Ia selalu mengatakan hal hal positif yang membuatku berani. Dalam keberanian itu ada suatu kebetulan yang seolah jalan yang di tunjukkan tuhan padaku.

BACA JUGA :   KuTak Ingin Kau kembali

Di sekolah masa itu ada sebuah perlombaan kecil antar sekolah, dan salah satu perlombaan nya adalah menulis sebuah novel dengan genre apa saja. Aku yang merasa itu adalah sebuah kesempatan langka, menjadikan diri ini berani mengajukan diri untuk ikut serta. Kalian tahu, karya ku di terima baik oleh para juri, meski itu hanya meraih juara dua. Tapi aku sangat senang, aku berlari pulang kerumah, dan aku menunjukkan penghargaan ku itu pada orang tuaku. Namun, ekspresi kebahagian yang ku harapkan dari orangtuaku tidak sesuai dengan keinginanku.

Mereka marah, mereka mengatakan bahwa mereka kecewa dengan keputusanku yang mengambil perlombaan sastra bahasa indonesia. Ya menurutku wajar sih mereka kecewa, karena biasanya aku selalu mengambil ajang perlombaan matematika dan selalu berada di peringkat pertama. Setelah melihat kekecewaan yang ada pada orang tuaku, aku mengurungkan niatku untuk menjadi penulis.

Ya aku harus menerima yang memang seharusnya aku tidak lakukan. Aku tidak lagi menulis, bisa di bilang itu pertama dan terakhir kalinya aku menulis sebuah novel atau karangan sastra apapun. Karena aku tidak mau membuat mereka kecewa. Semua tanganku pun hilang perlahan seiring dengan perkembangan.

Akan tetapi, hobi ku ini bangkit kembali setelah aku menikah. Ya suamiku yang mendengarkan semua ceritaku, setelah dia melihat sebuah piala dan penghargaan yang tidak terpajang di lemari hias, dan membaca beberapa cerita yang aku tulis dengan tangan. Ia memberi kan kesan positif terhadap karyaku. Ia mengatakan jika aku menyukai tulisan dan ingin menulis, maka menulis lah, aku tidak akan melarangmu. Mendengar itu, aku mulai mempelajari ulang menulis. Hingga saat ini aku menulis di sebuah aplikasi komik dan novel. Mereka menyukai aku membaca tapi tidak untuk menulis.

BACA JUGA :   Playboy : Guru Terbaik untuk Perempuan yang pernah di Pacarinya

Aku sangat senang. Akhirnya aku bisa memulai karyaku yang kecil.
Ini adalah cerita dari salah seorang yanh ingin berbagi ceritanya.. Terima kasih untuk anda yang tidak saya sebut namanya, untuk percaya menceritakan masa masa anda.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *