• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Pendakian Jalur Selatan Rinjani

ByDjuan Revi

Agu 19, 2021 , ,

PENDAKIAN HORROR
Oleh: #Rochy_Mario
______________________
______________________
POV : Bang Ochi

Pukul 08.15 pagi, kami baru tiba di Dusun Jati, Desa Timbanuh Lombok Timur.

Aku, Unyil, Rendy, Luris, dan Dini melakukan registrasi di Pos Registrasi TNGR(Taman Nasional Gunung Rinjani) untuk mengurus simaksi.

Hujan cukup lebat, kabut turun, dan uap pun tampak jelas berembus saat kami berbicara. Sembari menunggu hujan reda, Unyil mengeluarkan trangia untuk memasak air.

“Bang Ochi, ayo ngopi dulu,” tawar Unyil sambil mengeluarkan gelas dan tumbler tempat menyimpan air.

“Ok, boleh… saya beli pisang goreng dulu sebentar di sebelah biar lebih pas rasanya,” jawabku menerima tawaran Unyil. Rasa kopi yang sedikit terasa pahit ditemani pisang goreng yang rasanya manis memang pasangan yang pas di pagi berkabut dan dingin.

Saat sedang asik menyeruput kopi, tiba-tiba hujan reda, hanya sedikit gerimis yang masih membersamai. Kemudian, kami segera bergegas, packing semua peralatan, dan siap berangkat. Seperti biasa, akulah yang dipilih menjadi tim leader. Jadi, akulah yang harus berjalan paling depan untuk memimpin pendakian ini.

Alam Rinjani memang indah, setiap jalur memiliki daya tarik tersendiri dan tentu hal mistis yang menyelimutinya. Sudah banyak cerita-cerita dan mitos yang berkemBang di masyarakat, tapi untukku pribadi itu hanyalah bunga-bunga Rinjani yang membuat rinjani tampak indah dan menantang.

Ketika baru dua puluh lima menit berjalan, hujan kembali turun, jalan setapak yang kami lalui menjadi agak licin dan berlumpur, bahkan sesekali kaki kami terpeleset, tapi tidak sampai menyebabkan kami terjatuh.

“Hati-hati guys, licin,” ucapku mengingatkan. Sedikit terpleset, bisa saja membuat kaki terkilir atau bahkan lebih parah.

Suasana jalur selatan Rinjani memang agak sepi karena hanya sedikit pendaki yang melewati jalur ini. Hutan Timbanuh yang masih perawan memang menjadi idaman para pendaki untuk dijajal.

Jalur ini bukanlah jalur untuk pendakian menuju ke puncak tertinggi Rinjani melainkan hanya sampai di Pelawangan Timbanuh atau puncak Jalur Selatan yang disebut puncak Orplas. Namun, pemandangan dari jalur ini adalah yang terindah dengan pemandangan gunung Baru Jari dan danau Segara Anak di dalam cekungan kawah gunung Rinjani Purba. Di sebelah kanan ada pemandangan jalur puncak Rinjani serupa tangga menuju ke langit dengan awan di bawahnya.

BACA JUGA :   Ini Konsep Wisata Halal Indonesia Menurut Wapres Ma'ruf Amin

Jalur Selatan memiliki hutan yang lebat, tak jarang pendaki tersesat di jalur ini dan banyak cerita bahwa mereka menemukan hal-hal aneh semacam di hutan Aokigahara yang misterius di Jepang.

Saat kami melewati hutan, banyak sekali kami dengar suara-suara seperti suara orang berburu babi hutan atau rusa, tapi entah dari arah mana suara itu berasal.

Setelah tiba di Pos I, gerimis perlahan hilang, tapi angin dari arah selatan berembus cukup kencang membawa kabut dingin menusuk tulang, sehingga membuat tangan dan bibir kami membiru. Sesekali kami bergidik menggigil kedinginan.

Tiba-tiba, Dini–salah satu perempuan anggota tim kami– mengalami kedinginan hebat, bibirnya membiru, tangannya menggenggam erat, dan kaku. Lalu, kuputuskan agar tim untuk mendirikan tenda di Pos 1.

“Unyil, tolong ambil air dan masak ya,” suruhku agar dapat segera diminum Dini.

“Iya, Bang,” jawabnya. Ia segera menuju sumber mata air yang tak jauh dari posisi kami.

“Ren tolong Bangun tenda dan Luris tolong baluri tangan dan kakinya dengan minyak kayu putih ya,” lanjutku agar Dini segera mendapat pertolongan pertama.

Aku segera mencari ranting-ranting dan dahan pohon yang kering, tapi semua tampak basah. Hujan disertai angin yang kencang membuat tubuh kami terpapar suhu dingin cukup lama dan membuat tubuh Dini tidak bisa memproduksi panas dengan maksimal.

“Bang, kira-kira Dini kenapa ni? tanya Rendy.
Kondisi Dini cukup membuat kami khawatir, bibir dan kukunya membiru.

“Kayanya gejala hipotermia,” jawabku.

“Hipotermia? Apa tu, Bang?” sela Unyil.

“Hipotermia itu, kondisi saat mekanisme tubuhmu gak mampu mengatasi tekanan suhu dingin,” jelasku.

Dalam kondisi terparah penderita hipotermia seakan merasakan panas atau kepanasan sehingga ia membuka pakaiannya. Padahal, suhu tubuhnya jauh turun drastis.

Peristiwa ini pernah terjadi tahun 1994 di mana tujuh orang pendaki ditemukan tak bernyawa dengan kondisi tidak mengenakan baju.
Kucoba bikin perapian, tapi ranting dan dahan cukup sulit menyala karena dahan pohon semua basah terkena hujan. Akhirnya, kucari bambu yang sudah mati, kukuliti dan kuserut dengan pisau lipat sehingga menjadi serat yang mudah terbakar. Akhirnya api pun siap.
Tak lama, gerimis kembali turun. Untuk mencegah keadaan bertambah buruk, kami memasukkan Dini ke dalam tenda lalu kuminta Luris melepaskan semua pakaian Dini untuk memberikan pertolongan berikutnya.

BACA JUGA :   GENERASI PANDEMI

“Ris, kamu juga buka bajumu dan peluk Dini supaya panas tubuhmu ngalir ke dia, ni pakai sleeping bag punyaku!” perintahku dari luar tenda. Suhu di luar benar-benar dingin. Situasi saat itu membuat kami harus nge-camp di Pos I. Kami bersyukur, jam enam sore hujan pun reda, kondisi Dini membaik dan sudah dapat diajak bicara. Kutawarkan ia teh manis dan dua keping biskuit untuk memulihkan fisiknya.
Suasana sore itu mulai berkabut tebal, tenda-tenda sudah kami dirikan sebagai tempat kami berlindung saat malam dari suhu dingin menusuk kulit.

Langit di ufuk barat menjingga, terlukis indah dari celah tumbuhan bunga Edelweis yang tumbuh setinggi bahu. Perlahan warna senja berubah gelap. Kabut semakin tebal, bahkan cahaya headlamp kami hanya mampu menembus kabut sejauh sekitar sepuluh meter.

Tiba-tiba, dari kejauhan, persis dari semak-semak terdengar suara anak kucing mengeong. Awalnya, kami tak menaruh curiga pada suara itu, tapi suara itu semakin dekat hingga terdengar di balik pohon besar yang sudah setengah terbakar akibat kebakaran hutan bulan lalu.

“Kok ada suara anak kucing ya, Bang?” tanya Unyil.

“Namanya juga alam bebas, kucing juga bebas maen kemana aja, Nyil,” jawabku sambil becanda.

“Eh, mana ada kucing di ketinggian seribu meter gini, di hutan lagi. Lagian, kucing hutan bukan endemik sini,” sela Rendy.

Semakin lama suara anak kucing itu semakin keras dan suaranya semakin banyak. Awalnya, ada satu suara anak kucing, kemudian dua, setelah itu suara anak kucing terdengar dari banyak arah. Begitu banyak suara anak kucing, hingga membuat kami merinding. Tak cuma itu, suaranya berpindah-pindah dengan cepat. Kucoba cari ke arah suara di balik semak, tapi tak satupun kutemukan anak kucing.
Tiba-tiba kurasa ada kegelisahan pada tim kami karena suara-suara itu.

“Gak apa-apa kan ini, Bang?” tanya Luris kepada kami. Raut wajahnya menggambarkan sedikit rasa takut.

“Gak apa-apa kok, kan cuma suara anak kucing, masa takut? Kecil, tinggal lempar ya ilang hehe,” jawabku sambil terkekeh agar suasana tidak mencekam.

Saat kami makan malam, perlahan angin membawa aroma busuk dari balik batu besar yang biasa dijadikan tempat peletakan sesaji oleh orang-orang yang mencari ilmu hitam dan sejenisnya.

BACA JUGA :   Hutan Jati Cafe & Gelato Purwakarta Harga Menu, Daya Tarik & Lokasi

“Kok bau Bangke, Bang?” tanya Dini. Wajahnya memerah hendak muntah.

Bau itu membuat kami mual, busuk menusuk rongga hidung. Akhirnya, kami putuskan masuk ke tenda kami masing-masing dan makan malam dengan roti tawar yang kami olesi selai strawberry.
Saat pukul 23.15 Unyil memBangunkanku. Ia menggoyang-goyangkan bahuku.

“Ada apa sih, Nyil?” tanyaku dengan nada sedikit kesal. Mataku benar-benar berat.

“Bang, takut aku ni. Abang dengar ndak? Ada suara perempuan nyanyi sambil main air tu di luar,” jelasnya.

Kucoba fokuskan pendengaranku.

“Eh, iya, Nyil.” Kubangunkan Rendy dan langsung mencoba merekam nanyian itu.

[“Aku bukak lalo nyawe
Turun roh nyawe …
Silaq dateng seraq nyawe …
Turun gunung nangis sedekaq nyawe”]
Lirik demi lirik berbahasa Sasak didendangkan oleh suara perempuan itu sambil memainkan gemericik air yang jatuh dari pancuran tempat pendaki biasa mengambil air.
Lirik tersebut mengandung arti,
[“Saya buka pergi nyawa
Turun roh nyawa …
Silahkan datang serahkan nyawa …
Turun gunung menangis sedekah nyawa”].

Setiap liriknya sungguh membuat kami bergidik.

Ssrrk … ssrrk … ssrrkk

Tiba-tiba trdengar suara langkah mendekat ke arah tenda kami.
Seperti suara ranting patah terinjak dan anak kucing kembali terdengar mengeong.

“Bang, kaya ada yang nyakarin tenda kami dari luar, ih takut, Bang” suara Luris terdengar khawatir dari tenda sebelah.

Segera kuambil pisau lipatku, kuputuskan keluar bersama Unyil untuk memastikan keadaan agar baik-baik saja.
Baru saja kami keluar, tiba-tiba Unyil terperanjat, tampak seekor monyet hitam seukuran bocah tujuh tahunan menatap ke arah kami dan menampakkan giginya. Monyet itu tidak menggeram, ia tampak seperti senyum ke arah kami, lalu kabur ke arah rerimbunan semak.

Akhirnya, demi keamanan dari binatang-binatang liar, kami berjaga dan membuat api unggun. Malam itu kami tidak tidur lagi. Hingga pukul lima pagi, kami hanya sibuk menjaga api agar tidak padam sambil memasak air.

***

Djuan Revi (281)

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Bagikan Yok!

Djuan Revi

Ingin memanfaatkan sedikit potensi yang ada dalam diri saya agar bisa berguna dan bermanfaat untuk sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *