• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Pak Kowi dan Gagasan-gagasan Millenialnya

Byztumangger

Agu 19, 2021

Kemarin sore, fokus saya dicuri oleh satu cuitan yang menampilkan foto sesosok yang nomor satu di indonesia. pak presiden kita, Jokowi atau yang sering di panggil pak De. Pada postingan tersebut tertulis sebuah kalimat pernyataan beliau. Kalimatnya begini; Jokowi : “Kita harus buat generasi muda berminat jadi petani. bla bla bla” lebih kurang begitu.

“Lha lha. Ada apa ini?” gumam saya seketika. Tampaknya semangat No 1 kita semakin membara akhir-akhir ini semenjak pengecetan Boeing Business Jet 2 & nbsp;berlangsung dengan hikmat, ups! Atau semangat itu murni karena prihatin cadangan bahan pangan indonesia mungkin mulai menipis, atau bahkan dalih bau janji-janji perihal segudang lapangan kerja yang sulit mewujudkannya selain menyuruh memilih menjadi petani?

Tapi dari semua kalimat yang disampaikan, kata “berminat” inilah paling menyentil hati saya. sebagai seorang generasi muda tentu saya ingin itu masuk akal.

Memang, sejak jaman Soekarno dulu sampai sekarang, kicauan perihal kaum generasi muda punya kendali besar terhadap suatu negeri, itu memang tetap gurih di telinga. tetapi menurut hemat saya agak kurang tepat jika goalsnya ditujukan pada kata akhir “petani” di mana kehidupan petani kita saat ini di indonesia hampir tak terjamah kesejahteraan (menurut data statistik 2018, kesejahteraan petani terus menurun 0.49% sepanjang tahun).

Konon lagi menggerakkan dunia generasi muda terjun menjadi petani sama saja mematahkan harapan para orangtua yang tidak ingin anaknya merasakan kepedihan seperti yang dirasakannya selama berprofesi sebagai petani. Dan ini rasanya tidak fair!

konon lagi gagasan mendorong generasi muda karena rata-rata petani sekarang sudah berusia di atas 45 tahun dan dengan usia segitu tentu sudah kurang produktif dalam berbudidaya. katanya?

lalu pertanyaannya, apakah dengan menargetkan yang muda hasil penen menjadi maksimal? lantas apa juga yang menjadi tolok ukur generasi milenial untuk meminati dunia tani?

BACA JUGA :   Berjuang Demi si Buah Hati

Oke jangan milenial lah, bagi mereka (Agriculture graduate) lah, Kalau dilihat dari jumlah data secara kuantitas mahasiswa/i yang mengambil jurusan bidang pertanian memang cukup melesat sejak 5 tahun terakhir.

Tetapi dari jumlah yang ada dan dari data survey menunjukkan bahwa banyak yang mengambil bidang pertanian karena daripada daripada dan memang banyak juga yang mengatakan karena tidak ada pilihan lain (pelarian). dan itu artinya berbanding terbalik dari minat.

lantas apa yang membuat pak jokowi begitu bersemangat menciptakan gagasan minat kepada generasi muda? kalaulah mengambil jurusan pertanian saja hanya karena terpaksa?

Oya, mungkin beliau melupakan satu hal tentang “berminat.” di sana ada kata menyuruh kan ya? Mungkin kalau dianalogikan sepertinya sama halnya seperti seorang bapak yang menyuruh anaknya melakukan sesuatu. Misalnya begini “Nak, dengarkan nasihat bapak. kamu jangan bandel, salat jangan tinggal, harus taat pada Tuhan, bla bla bla.”  secara bahasa, bisa dipahami bahwa seorang bapak ingin anaknya jadi orang baik, jadi kebanggan dan selalu tunduk pada Tuhannya.

Tetapi pertanyaannya, apakah ia anak bakal mau mendengar bila bapaknya sendiri tidak mencontohkan orang yang taat seperti apa? fasilitas yang dibutuhkan si anak juga tak diberikan, entah itu Iqra’ untuk mengaji, sajadah untuk salat, mencarikannya guru dan membayar iyuran pengajian atau bahkan memasukkannya ke pesantren. adakah ingin itu akan kesampaian jika hal-hal di atas tak di penuhi? Tentu mustahil bukan?

Nah dari sebuah analogi tentang seorang bapak dengan anaknya itu kita pun tahu bahwa pak presiden yang terhormat melupakan sesuatu tentang keinginannya untuk menumbuhkan ingin kepada generasi yang dimaksudnya.

Apa itu? Ya apalagi kalau bukan fasilitas dan sentuh tangan maupun kebijakannya dan kru-krunya selama ini di bidang pertanian.

BACA JUGA :   Tiga Pemain yang CLBK pada Bursa Transfer Musim Panas

Nah sebelum kepedean pak nomor 1 se endonesa membabi buta menyuarakan keinginannya menumbuhkan ingin kepada generasi muda menjadi petani (katanya), izinkan saya bertanya kepada bapak!

Bapak ke mana? Saat petani panen raya hasil-hasil pertanian, mengapa bapak dan jajaran tetap ngotot melakukan impor besar-besaran pak? Hampir tiap tahun lho pak petani meronta-ronta dengan harga yang yang mencekik!

Bapak kemana saat petani menjerit dan dikriminalisasi akibat konflik lahan yang dialihkan dengan tambang? jalan tol dan tanam jagung tumbuh bangunan lainnya.

Bapak kemana saat banyaknya mafia/kartel pangan di jagad indonesia ini?
Pupuk subsidi yang tidak tepat sasaran dan kelangkaan yang berakibat pengharapan besar-besaran bagi petani.

Dan tentu masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang membuat gigil tulang-tulang petani yang hampir mati berdiri.

lalu dengan eng-ing-eng dan problematika cukup rumit di panggung pertanian seperti itu lantas bagaimana mungkin bapak se-pede itu menginginkan generasi muda untuk berminat menjadi petani pak?

Ah masa iya bapak mau menjerumuskan generasi muda ke zona yang amat memprihatinkan? (ya karena di indonesia status petani memang memprihatinkan).

Oya pak. Bukan tidak bagus gagasan seperti ini pak, bagus! tapi kalaulah ada tindakan yang benar di sana, pasti bisa diterima dengan lapang dada.

Semua pun tahu, setiap ayah tentu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. tetapi setiap ayah juga jangan sampai lupa atas kewajibannya.
***
mengenai pilihan profesi, logikanya cuma satu pak, kenapa banyak orang memilih menjadi selain petani, sebut saja ASN, PNS, karyawan dan pernak-pernik pekerjaan kantoran di perusahaan kecil besar lainnya? Tentu karena adanya harapan untuk hidup lebih menjadi manusia bukan? di sana ada sebuah jaminan menjadikan “orang” berkejaran menuju pentas prestasi demi meraih posisi yang pantas untuk diimpi.

Seandainya bidang pertanian kedudukannya dibuat seistimewa PNS atau ASN, kehidupannya dijamin negara, kemakbulannya sebagai penyangga negara benar-benar nyata, bukan cuma nama dan kalau bisa status kemiskinan di ruang lingkup petani di kikis habis. Dengan demikian tentu ada harapan-harapan yang besar untuk hidup lebih bernapas lega, dan ada jenjang masa tua yang keterjaminannya bisa membuat lapang dada.

BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 6 Terlalu Dramatis

Caranya? Ya bisa, kita bisa belajar dari pertanian dunia luar, jepang misalnya atau Australia. Mereka menerapkan industri pertanian dengan sentuhan yang intens, kita juga bisa menerapkan hal yang sama dengan catatan proyeksi impor dapat dibatasi dengan mengunggulkan prodak dalam negeri. Kalaupun manajemen pembudidayaan bagus dan prodak petani punya kualitas yang baik kalau harga tetap anjlok akibat bebasnya prodak asing masuk ya sama saja petani kita akan tetap menderita.

Di negeri jiran, status sebagai petani justru sangat disukai karena secara finansial ada yang benar-benar diharapkan. Sedangkan di negara kita, bagaimana mau meminatinya? bukankah kebanyakannya memilih bertani hanya karena celah lain tidak ditemukan? Di negeri ini bisa hidup di kategori nyaman dan bisa makan pun syukur “jika tak mampu membeli sandang, pangan dan perkakas super mevah minimal tidak merasakan tekanan hidup ekstra susah.”

bukankah hidup ini merdekanya cuma satu, “bebas lapar”. Kalau menjadi petani bisa makmur, punya kehidupan lebih baik, masa depan yang cerah, bahkan tidak dimintapun kebanyakan orang akan mengejar impian ke sana. Tanpa repot menumbuhkan ingin apalagi disuruh berminat. bukan cuma generasi muda bahkan all generation will come as farmer. bisa saja.

Dan untuk saat ini, seharusnya untuk petani perhatianlah yang dinomorsatukan, tanpa itu! jargon “kerja, kerja, kerja” semakin hambar terasa.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *