• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Mereka tak Sedekat itu.

ByDiki Pratama

Agu 19, 2021 , ,

Sebuah Harapan.

“Aku tak pernah menyadarinya. Aku tak mengenalnya,, selama ini,, tidak, setidaknya aku merasa mengenalnya, aku coba mengenalnya, tapi ini sudah terlambat sekarang, terlambat untuk menjelaskan bahwa aku salah memahaminya,, terlambat untuk meminta maaf kepadanya.”

Pada senin pagi yang cerah, terdapat kepalan tangan kanan yg menghantam wajah seorang pria muda dari arah depan, tendangan kaki kiri yang dihantamkan ke arah punggug oleh pria lainya, dan dia, yang terjebak ditengah peraduan itu, bernama Dika.

Dika hanya bisa terdiam, kedua tanganya berada di kanan kiri kepalanya mencobah untuk melindungi kepalanya dari hantaman yang menerpanya dari dua arah. Bukh ,, dagh ,, brughh!.

Tanganya terlalu sedikit untuk melindungi sekujur tubuhnya. Perut dan puggungnya kini menjadi incaran kedua pria yang terus memukulinya dipojok taman parkir sepeda sebuah SMA di kota kecil yang jauh dari jangkauan dunia. Kemudian dari arah kanan, pria ketiga yang dari tadi menatap dan menikmati kejadian itu mulai bersiap, menundukkan badannya bagai banteng matador, berlari dan melontarkan badanya sekeras peluru ketapel menuju Dika, bahunya menghantam sisi perut Dika melemparkan dia ke tanah tak berdaya.

Dari kekacauan yang terjadi pria yang baru saja menghantam Dika dari depan, mulai terbit dan berteriak ke arah kerumunan yang hanya bisa terdiam melihat aksi itu. Dengan penuh cahaya mengintarinya pria itu berteriak.

“Ini adalah akibat dari perbuatanya!, siapapun yang tak mau membayar hutang, ini adalah balasannya!!.”

Semua orang tertunduk dengan pidato penuh cahaya yang dikatakan oleh pria bernama Aldi tersebut. Tak ada yang berani membantu Dika, mereka semua tahu Dika tak memiliki hutang sepeserpun, ia bahkan tak pernah terlihat medatangi kantin sekolah selama 2 tahun berada disini. Mereka semua tahu, bahwa Dika berhutang atas uang yang tak pernah ia pinjam.

Mereka semua ini juga tahu bahwa Aldi adalah serigala liar yang memandang rendah terhadap mereka, gerombolan domba membayar upeti harian yang disebut Aldi sebagai Hutang. Dika adalah contoh bagi domba yang tersesat dari gerombolan itu, karna pagi ini uang sakunya tertinggal di rumahnya.

Dika terlunta-lunta menuju kelasnya, segera menempati kursi belajar miliknya. Tak lama kemudian Dinda menghampirinya.

Dinda membawa sekotak peralatan p3k ia segera mengoles kapas yang telah dicampur dengan disinfektan, dan menempel plester luka di bawah mata kiri yang bengkak. Dinda adalah ketua di kelas Dika, hanya Dinda yang selalu perhatian pada Dika.

Tak ada yang berani mendekati si domba tersesat dan menerima imbas serupa dari para serigala liar itu, sudah cukup mereka kehilangan uang saku.

Tentu ada perasaan tersendiri bagi dinda terhadap Dika, tak ada gadis yang rela membuang waktunya susah-susah merawat Dika jika tak menyimpan sedikit empati atau ketertarikan rohani. Akan tetapi tiada yang tahu akan kebenaran dan empati tersebut.

Jam istirahat pun tiba, Dika yang terus termenung selama jam pelajaran mendapat panggilan dari speaker yang terletak diatas papan tulis kelasnya. Penggilan itu mengarahkan Dika keruang Konseling, disambut dengan Dinda, Guru Konseling, dan dibelakang guru tersebut Aldi dan dua kawanya berdiri menatap Dika dengan mata yang sangat kejam.

“Apa benar, mereka meminta uang sakumu dengan paksa, seperti yang Dinda katakan?” tanya perempuan yang merupakan guru konseling.

“ti-tidak bu….” jawab Dika, ia tahu jika ia menjawab sejujurnya keadaan bisa menjadi jauh lebih parah dari tadi pagi.

“Dika.. katakan sejujurnya!” Teriak Dinda

“Tidak, tidak terjadi apa-apa.”

“lalu baagaimana dengan lukamu ?, semua orang melihatnya ada 3 saksi yang siap untuk melindungimu..”

“ini ..?” sambil menunjuk ke plester yang dipasang oleh Dinda di pagi hari. “aku terjatuh diparit kosong.”

Suara cekikikan kecil terdengar dari Aldi dan gerombolannya mendengar jawaban Dika yang menurut mereka lucu.

“Diam!.” Teriak guru itu “baiklah saya akan telusuri ini lebih lanjut, dengan bukti yang cukup orang tua kalian bertiga akan ibu panggil.”

Merekapun diperbolehkan meninggalkan ruangan, Aldi dan Gerombolannya segera pergi meninggalkan ruangan, Dinda masih mencoba myakinkan sang Guru, sedangkan Dika menuju balkon kosong dekat gudang bekas laboratorium bahasa “haha,, kenapa tak berani sendiri ? minta perlindungan? Kau kira Dinda ibumu hah?!.” Suara teriakan ejekan menghantui Dika sepanjang jalan menuju lab itu.

BACA JUGA :   Di Tengah Malam

Sesampainya Dika. di lab ai duduk merenung, pikiranya kosong, seandainya disana ada kopi kaleng maka paling tidak harinya terasa sedikit menyenangkan.

.

Dika terdiam dibalkon lantai dua pojok sekolah menengah ahir itu terdiam menatap jalanan yang ramai, akan tetapi matanya kosong, ia tak menyadari keberadaan para pengendara yang saling berlalu lalang di ujung matanya.

Ia merasa hariya hampa, ia bahkan tak merasakan apapun, bahkan hembusan angin pergi menghindarinya. Mungkin jika dia terus melamun seperti ini, sosok yang bergentayangan disektiarnya dapat dengan muda memasuki tubuhnya yang kosong.

“Hai.” Suara sayu terdengar memanggil dika dari belakang. Suara itu terdengar lembut menerjang langsung ke dalam keplanya tanpa melewati telinga Dika. tentu suara itu berbeda dengan suara lembut Dinda yang membara. Dika terkejut, tak ada wanita lain yang berbicara dengannya selain sang ketua kelas. Jika saja Dinda terlepas dari tugasnya, Dika berpikir bahwa ia akan sendirian di dunia ini.

Dika menoleh menuju arah suara itu tiba. Terlihat seorang gadis tersenyum dengan rambut sebahu menyambutnya. Gadis itu menngunakan pengenal kuning yang menandakan bahwa ia berada di tahun kedua, tahun yang sama dengan tahun milik Dika.

“Sedang apa kau disini ?, tak biasanya aku melihatmu disini.” Tanya gadis itu.

“Ah apakah aku mengganggumu ?”

“Tentu tidak, malah aku senang akhirnya bisa mendapat teman disini.” Jawaban itu memberi sedikit rasa lega bagi Dika. “namaku Erika, sedang apa kau disini?”

“kau tak tahu apa yang terjadi?.”

“Apa?” jawab Erika dengan senyum, ini baru pertamakalinya bagi Dika, seseorang yang berbicara dengannya bukan karna iba, seseorang berbicara denganya karna melihat sosok Dika secara penuh.

Merekapun mencoba untuk saling mengenal dan mengobrol bersama hingga lupa akan waktu. Obrolan mereka berjalan mulai dari jumlah mobil dengan angka ganjil, betapa susahnya untuk membeli mobil, mobil para guru, rasa kesal terhadap guru, hinga rasa ingin bebas menerjang ruang dan waktu dengan mobil sport yang baru saja mereka lihat mengebut dan hilang di pojok jalan. Percakapan khas remaja yang baru saling mengenal.

Ini adalah percakapan hangat yang selama ini Dika cari. Bellpun berbunyi, akan tetapi bell itu berbunyi 3 kali yang menandakan waktu pulang, mereka berdua saling tatap dan tertawa terbahak bersama, tersadar bahwa mereka telah bolos jam kelas.

“Kita lihat, akankah kau akan kembali esok.” Ucap Erika ketika mereka hendak berpisah. Dan ini pertama kalinya senyum bahagia tergambar di wajah Dika setelah sekian lama, Dika bahagia ada orang yang menantinya karna dia, bukan karna iba.

Dika mengambil tasnya ketika semua orang telah pergi, mencoba menghindari amukan guru. Diujung gerbang sekolah ia berjalan mundur dan terus menatap balkon tempat mereka berdua menghabiskan waktu tadi siang.

“Hei !.” suara lembut yang berapi mengangetkan Dika “Darimana saja kau?!, aku mencarimu seharian.” Tanya Dinda.

“Oh, yah, aku di toilet” Dika berbohong ia tahu jika ia menceritakan apa yang terjadi pada Dinda maka esok Dinda akan menjempuntya dan menariknya kembali kedunia nyata. Ia baru saja menemukan pelarian sejenak, dan tak ingin menyia-nyiakannya.

“Ingat, apapun yang terjadi, aku ingin yang terbaik untukmu…” ucap dinda terpotong oleh rasa malu “Untuk kita semua.” Jawab Dinda. Dika tertunduk merasakan bahwa kini ia benar-benar kembali pada dunia nyata. Kini, ia hanya ingin kembali kerumah.

.

Esok hari telah tiba, Dika kembali kesekolah dengan perasaan yang campur aduk, kini ia tak semurung hari kemarin.

Beberapa meter dari sekolah terlihat Aldi dan komplotannya sedang menagih ‘hutang’, dan tibalah giliran Dika, ia sudah menyiapkan upetinya, uang pemberian kedua orangtua untuk mengisi perutnya disiang hari harus berada di kantong para gerombolan Srigala, ini adalah nasib bagi para kawanan domba yang lemah.

Ketika Dika akan memberika tangannya yang berisi dengan lipata uang, Dinda menyahut tangan gemetaran ini. “Jangan!,” triak Dinda.

“Berani juga kamu!” sahut Aldi.

“Sudahlah, ini..” Dika memberikan uangnya dan menarik Dinda ke belakangnya pelan-pelan memberi sebuah isarat bahwa ini bukan urusanmu, tinggalkan aku sendiri.

“apa maksutmu Dika?!” tanya Dinda pada Dika, kepalanya di penuhi rasa frustasi, hatinya dipenuhi amarah, selama ini ia selalu mencoba melidungi Dika, akan tetapi semua usahanya tak pernah berhasil. Rasa perhatian, yang Dinda berikan seolah membentur tembok.

BACA JUGA :   Berselimut Rindu

“Seharusnya aku yang bertanya begitu.” Tentu jawaban Dika ini membuat emosi Dinda memuncak, tangannya tergenggam, wajahnya memerah, kepalanya penuh dengan umpatan yang siap ia lontarkan, akan tetapi Dinda mencoba untuk sabar.

“Kenapa kau memberikan uangnya, mereka sudah tak berani menarikmu lagi, aku sudah memastikannya, mungkin beberapa hari lagi mereka tak aka….” suara Dinda mencoba menjelaskan hasil dari perundingannya dengan guru konseling kemarin, akan tetapi bahkan sebelum ucapanya berhasil ia selesaikan, kini Dika memberanikan diri menjawab.

“Ini bukan urusanmu…” jawaban Dika, ia menjawab dengan gerutuan pelan, sekuat apapun jiwanya membara, tekadnya tak sebesar itu untuk dapat menjawab dengan suara lantang. Ia sadar bahwa Dinda banyak membantunya, tapi ia tak pernah tahu untuk apa, ia tak ingin membebani orang atas apa yang ia lakukan.

Dinda yang mendengar itu memuncak, emosinya membara, tak hanya omonganya dipotong, akan tetapi jawaban yang diberikan Dika menyakiti hatinya, ia tak dapat menahan segala emosinya. Hingga tanpa sadar “Traaakkkkk!!!..” Dinda menampar Dika. mereka berdua terdiam, beberapa siswa melihat mereka. Ada yang tertawa, menggunjing, bahkan ada juga yang menghindari Dinda.

Dika sesegera mungkin kembali ke balkon menemui Erika, ia berlari menuju pojokan laboratorium bahasa selepas melemparkan tas ranselnya ke kursi belajar dikelas.

Hatinya berdegup, pandanganya meluas melihat sosok gadis berdiri dipojok balkon, melihat ke arah jalan yang luas seolah tiada akhir, menunggu untuk membawanya ke dunia baru. Rambutnya tertiup angin melambai menyambut kedatangan Dika.

“oh, hai, kau kembali!!!.. tak banyak darimu yang kembali setelah kemarin.” Ucap Erka menyambut Dika dengan senyum yang lebar.

“bukankah aku sudah berjanji padamu.” Jawab Dika, kini mulutnya sudah mulai terbuka, ia berbicara lebih banyak dari kemarin. Mereka menghabiskan waktu bersama sejak pagi itu, dan tak ada pertemuan Dika dan Dinda yang terjadi lagi sejak pagi itu.

Tak terasa jumat pagi pun tiba, Dika menghabiskan banyak waktunya bersama dengan Erika. Hampir seminggu ini mereka selalu bersama menghabiskan waktu.

Dika sangat bahagia, meski ia mendapatkan dua tiga pukulan rutin dari para Serigala, ia merasa bahagia. Rasa manis yang ia rasakan ketika tertawa dan menghabiskan waktu bersama Erika membuat pukulan yang dilontarkan oleh Aldi tak terasa sedikitpun.

Ini adalah pertama kalinya bagi Dika untuk mendapatkan seseorang yang menilainya tanpa pandangan iba, pandangan hampa yang melihat tembus jiwanya. Erika menyentuh tepat di pusat jiwanya, Tiap kata dan tiap waktu yang mereka lontarkan terasa sangat berisi dan bermakna.

Pada hari kamis lalu Erika sempat berkata “Kau harus bangga pada dirimu jika bisa berdiri tegap dengan kedua kakimu sendiri, aku iri padamu.” Memberi semangat Dika.

Dika tak tahu apa maksut dari kalimat Erika itu, tapi hari ini ia mulai berputar dari rute jalan menuju sekolah dan melewati para Serigala dari parameter pengawasannya, kini ia ingin menjadi Domba tersesat lagi, ia ‘berdiri diatas kedua kakinya’ seperti yang dikatakan oleh Erika kemarin.

Tentu saja hal itu tak berhasil. Para serigala itu memulai perburuannya. Menghantam dika dari seluruh arah penjuru mata angin. Dika yang tak mampu melawan kembali hanya bisa terdiam. Namun kali ini ia sedikit bahagia, pukulan itu tak sesakit sebelumnya. Matanya tertuju pada balkon itu, terlihat Erika berdiri jauh memunggunginya, Setiap pukulan yang ia terima dapat membuat sosok Erika terlihat lebih jelas dan lebih indah dari sebelumnya.

.

“Hentikan !! Hei kalian berempat !!, temui saya saat jam istirahat!!.” Dari ujung kiri mata Dika terlihat guru konseling datang bersama dengan Dinda menghentikan aksi itu.

Dika terkejut dengan perkataan Guru itu, rasa sakit yang tadi tak dirasakannya kini kembali terasa. Air matanya terlinang bercucuran, dadanya terasa sedikit sesak, ia sedikit tersenyum, dan ia tak mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini.

“Kau baik-baik saja?” tanya Dinda sembari mencoba membantu Dika berdiri.

“Apa maumu ?”

“Apa maksudmu, aku disini untukmu.” Jawab Dinda. Jawaban yang penuh makna, dan di tangkap berbeda oleh keduanya. “Jika kau ingin menyendiri, aku bisa menemanimu di atas balkon itu, kau bisa bercerita padaku.”terus Dinda.

BACA JUGA :   Perempuan-Perempuan Metropolitan: Bunda Marissa

“Erika menemaniku.”

“Erika?, siapa Erika ?.”

“Kawanku. Dan terimkasih kini kau mengacaukan waktuku bersamanya”

“Tak ada orang bernama Erika disini” jawab Dinda keheranan sambil melihat Dika berjalan menjauhinya.

Tak ada yang tahu bahwa saat itu, Dinda sedang tersiksa, badan mungilnya terkena sedikit hantaman dari salah satu kawanan Aldi, ia pergi menuju kelas dan mulai terlelap karna prasa pusing, meski Dinda sendiri tak tahu perbedaan tidur dan pingsan.

“Hai, kau Dinda bukan.” Ucap suara yang melayang-layang diudara.

“Siapa kau?!, apa maumu?”

“Apa maumu?.” Jawab suara itu, “Dika. Kuharap harapanmu Nyata.” lanjutnya

“Tentu saja ini semua Nyata, aku tak membantunya karna tanggung jawab, aku meny,,,” Dinda menghentikan ucapannya “Apa urusanmu dengan Dika, Siapa kau ?”

“Bagus, jika semua perkataanmu benar.”

“Apa Maksutmu??!!!” sahut Dinda geram. “Darimana kau tahu perasaanku?.”

“Karna aku tak nyata, aku adalah projeksi keinginan karna tak seorangpun memahaminya. Terutama dirimu. Rasa iba itu tak akan membawamu sedikitpun mendekat.”

“Apa maksutmu Iba!!!, tak ada yang Iba aku tulus menyuk,, hei,,, hei,, kemana kau?!, kembali, dengarkan aku Er,,” Jawab Dinda penuh kebingungan atas segala ucapannya.

Suara itu memudar bersama kalimat terakhirnya. Meninggalkan Dinda dalam tanda tanya dan penuh keraguan akan diri. Hatinya di penuhi oleh rasa penasaran akan pernyataan suara itu, kata ‘er’ yang ia ucapkan, atau bahkan tentang perasaan Dika atas keberadaannya.

.

Dika segera menuju ke balkon seusai mendengar ceramah panjang dari Guru konseling, menyaksikan Aldi dan kedua kawannya menerima hukuman skorsing. Disana Dika tak merasakan apapun, tak memperdulikan apapun. Dia hanya bisa memikirkan Erika, dan waktu yang menjadi lebih sedikit untuk di habiskan bersama.

“Erika, kau tahu ?, besok hari sabtu, maukah kau menghabiskan waktu di hari ini sedikit lebih lama.” Ajak Dika mencoba memberanikan diri memulai percakapan. Hampir selama semingu ini hanya Erika yang memulai percakapan.

“Baiklah.”

Mereka berdua menghabiskan waktu bersama, Dika mulai menceritakan apa yang terjadi padanya selama seminggu ini. Mulai dengan Aldi, Dinda, Guru Konseling, hingga perasaannya pada Eriika. Rasa nyaman yang tak ia dapatkan dari orang lain, rasa nyaman ketika Erika menganggapnya sebagai manusia utuh.

“Kau tau, aku adalah kamu. Aku berada tepat dihatimu. Apapun itu, itu hanya nyata bagi kita, lihatlah jalan ini. Luas panjang dan tanpa akhir. Ikutlah denganku, aku akan menghilangkan semua masalah yang ada di hatimu” jawab Erika sambari menunjuk dada Dika, seakan menghipnotisnya mengikuti Erika menuju ujung Balkon.

“Dika….!!!” Teriak Dinda Dari Ujung balkon yang jauh. Dinda yang selama ini mengamati Dika menghabiskan waktunya menyendiri di Balkon terkejut dan segera berlari menuju Balkon itu. Perhatian ini bukan perhatian Biasa. Ada yang lebih disitu. “Dika, Apapun yang terjadi itu tidak nyata, semua hanya ada di kepalamu !.” lanjut Dinda padanya.

“Dinda, Aku sudah Bebas sekarang, mereka tak dapat mengganguku lagi. Tugasmu sudah selesai, aku akan pergi bersama Erika sekarang !, Terimakasih atas waktunya !” teriak Dika berdiri di ujung balkon.

“Erika !?, Tak ada yang namanya Erika. Dika, kemarilah aku ada disini untukmu, bicaralah padaku. aku akan membantumu !!!.”

Dika hanya tersenyum, dan berucap terimakasih untuk kedua kalinya terhadap Dinda. Senyum itu mengejutkan Dinda matanya tak mempercayai apa yang ia lihat, bersama angin yang bertiup kencang jiwa Dika mulai memudar. Sirine berbunyi menandakan raga yang hilang, untuk sekejap Dunia memperhatikan Dika.

Akan tetapi beberapa hari setelahnya, tidak ada yang menyebut nama Dika sekalipun. Dinda mendapat penghargaan atas jasanya, Aldi dan kawan-kawan mendapat hukuman yang setimpal. Tapi tak sedikitpun muncul nama Dika, sehingga tak ada yang tahu apa yang Dinda rasakan atas hasil dari perjuangannya ini.

Terlepas dari semua ucapan terimakasih yang Dinda terima, Dinda tak bahagia. sosok yang ia suka menghilang tepat di matanya. Bersama dengan semua orang yang terus berfokus membahas ia dan jasanya, atau Aldi dan aksi bejatnya. Terlepas dari semua kejadian itu hanya Dinda yang dapat mengenang jiwa Dika secara Abadi

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *