• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Aku Pernah Posesif

ByDiki Pratama

Agu 19, 2021

Ini adalah ceritaku, sebuah kisah cinta tragis yang dipisahkan oleh orang jahat yang tak mensetujui kita untuk bersama, orang jahat yang tak mempercayai apa itu cinta sejati dan yah, Arum adalah namaku.

Kisahku bermula ketika aku tersadar termenung dengan rasa hampa, kecewa, dan depresi. Aku adalah seorang gadis cantik dengan rambut hitam lurus gemulai yang indah. Dahulu teman-temanku memuja kecantikanku mengatakan bahwa aku mungkin akan juara apabila mengikuti kontes kencantikan, modeling, tata rias dan sebagainya.

Akan tetapi, kehidupan mulai menunjukan wajah aslinya. Banyak orang yang iri dengan kecantikanku, sedikit demi sedikit. Mereka yang dulu mendukungku kini menghindariku, hanya karna kecelakaan kecil yang merusak kecantikanku. Mereka mulai menjauh dengan tangis kebencian dan bahkan mereka mulai menghiraukanku.

Tanpa wajah Cantikku Orang-orang mulai pergi, mereka bahkan menjauh dariku tanpa alasan. Mungkin mereka tak mencintaiku karna aku sudah tak cantik lagi.

Namun berbeda dengannya. Pria yang bernama Dimas itu datang menjemputku ketika aku tersesat dan kehilangan arah jalan. Bersama, Dimas menghapuskan tiap air mata depresi dan kesedihan yang mewarnai hari-hariku.

Kini ada orang yang terus berada disampingku. Dimas, dia menerima segala kekuranganku.

Dengan penuh senyum ia menarikku kesisinya. Tingkah lakunya Misterius. Pendiam dan misterius Tapi entah kenapa aku ingin mengenalnya lebih jauh dan memecahkan misteri yang tersembunyi pada dirinya. Orang-orang berkata kalau wanita tertarik dengan pria yang misterius, kurasa perkataan itu benar.

Ia mengundang dan menjemputku yang tersesat tak tahu tujuan dan arah hidup, ia datang mewarnai hidupku kembali, mengundangku untuk datang dan pergi bersamanya. Ia menunjukan jalan hidup baru bagiku.

“Akhirnya!, setelah sekian lama aku bisa bertemu denganmu!” ucap Dimas dengan kotak yang mungkin adalah pengeras suara yang ia genggam dan tempelkan di telinganya, ketika kita berjalan bersama menyusuri dunia.

“Tentu, kau adalah pangeran yang selama ini kutunggu.” Jawabku.

Dimas diam tak menjawab. Tapi aku sadar bahwa itu adalah bagian dari misteri yang harus kupecahkan. Berbeda dengan para manusia iri yang bahkan tak mengajakku bicara ketika aku mengisak minta tolong.

BACA JUGA :   BERJUANG MENEMBUS KEMUSTAHILAN

Dimas berhenti dihadapanku dan memandangku kedekapannya dengan penuh misteri. “aku akan selalu bersamamu” ucapannya meluluhkan hatiku.

Sepanjang perjalanan aku terus mendekapnya keras berharap ia tak pergi dari sisiku. Aku bahkan pergi kemanapun ia pergi dan pulang kemana ia pulang.

Hidupku terasa bahagia bersama Dimas ketika aku sadar bahwa ia adalah orang yang menepati janjinya.

.

Hari ini tepat satu bulan aku bersama Dimas. Hidup kita yang bahagia mulai menemui banyak rintangan. Aku sadar memang kehidupan tak selalu indah. Mungkin ini rintangan hubungan kita.

Dimas mulai sakit-sakitan. Tubuhnya panas. Aku tak tahu harus berbuat apa. Dokter hanya bilang bahwa imun Dimas lemah.

Mungkin ini penyakit yang belum ditemukan obatnya.

Badan Dimas lemas, tubuhnya dingin, dan sedikit demi sedikit dia menjadi sangat kurus.

Aku terus mencoba mengobati dan merawatnya sebisaku. Penuh keringat dan air mata. Aku harus bisa terus berada disisinya.

“Aku tak kuat lagi.” Ucap Dimas.

Mendengar kalimat itu aku menangis sedih. Dan Dimas pun juga, ia menangis sedih dan takut seolah tak ingin berpisah denganku.

.

Diantara rasa sakit dan kesedihan, ternyata masalah terus datang silih berganti.

Ternyata berada dalam sebuah hubungan terasa sangat melelahkan baik raga dan jiwa kita.

Aku tahu banyak orang yang perhatian pada Dimas, mengantarkan makanan, obat, atau bahkan sekedar menjenguk. Aku tahu bahwa penyakit Dimas memang parah, bahkan Dokter sendiri tak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi dari semua itu, ada seorang gadis yang terus mengganggu hubungan kita.

Seorang gadis bernama Marta terus datang dan menemani Dimas. Tak perduli berpakali aku mengusirnya ia terus datang dan datang dan datang. Menjengkelkan!.

“Siapa kau?, kau tahu, Dimas ini milikku. Kami selalu bersama. Makan, Tidur, bahkan Kerjapun kita selalu bersama, Kau siapa seenaknya datang dan mengganggu hubungan kita!?.” Tanyaku.

BACA JUGA :   Ayahku Kini Sudah Tua

“Dimas, Aku akan selalu berada disini tak peduli apapun yang terjadi.”jawab gadis itu sambil menggenggam tangan Dimas.

Sontak amarah ku memuncak, tanpa sadar aku melempar semua barang yang ada di meja depanku, gelas dan botolpun berjatuhan seperti hujan.

“Dimas maafkan aku, tapi bisahkah kau usir wanita penggangu ini? Ku mohon Dimas.” Aku memohon dengan penuh isak tangis. Tubuh Dimas semakin kesakitan, sadar diri Marta akhirnya pergi untuk membiarkan Dimas istirahat.

Akan tetapi masalah kita belum selesai. “Ayo kita selesaikan ini diluar.” ucapku.

Marta pun sontak berdiri dan pergi keluar bersamaku. Akan tetapi ia terus berjalan pulang menghiraukanku seakan tak ingin membahas dan menyelesaikan masalah kita.

Aku terus mengikutinya hingga ia sampai dirumahnya. Kita akan berbicara didalam rumahnya. Aku menunggunya untuk memulai pembicaraan namun, hingga larut malam tak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.

Aku makin kesal menyadari bahwa gadis ini, Marta, ia ingin merebut Dimas dari sisiku.

“HAHA, HAHA, HAHAHA,, jika kau ingin merebut Dimas dariku, jangan harap kau bisa, Dimas adalah Milikku!!.” Ucapku yang kesal.

“Jangan Menggangguku, Ini Rumahku!!, Pergi kau dari sini!” Jawabnya.

“HAHAHA, Menganggumu? Kau yang mengganggu hubunganku dengan Dimas!”

“Pergi Kau Dari Sini Ini Bukan Rumahmu!”

“Jangan pernah Kau ganggu Dimas, Pergi Kau dari hidupnya! Kita bahagia Bersama!”

“Pergi Kau dari Sini!.” Marta terus mengusirku dari rumahnya.

Akupun lelah sekan tak mendapat jawaban darinya aku pulang dan segera tidur disisi Dimas mencoba menghangatkan tubuhnya yang dingin.

.

Esok telah tiba, tubuh Dimas lemas. Namun kita berhasil duduk didepan Televisi untuk menghabiskan waktu bersama, hari mulai terasa indah aku bahkan berencana membuatkan Dimas sup hari ini.

Hari Indah itu sontak berubah.

Marta datang, membuka pintu rumah tanpa izin dariku atau Dimas. Sontak aku marah. Emosiku memuncak.

“Hei!, apa yang kau lakukan disini!?.”

“Dimas, ini pak Tepi, dia orang yang bisa menyembuhkanmu.” ucap Marta.

“Kau membawa dokter?.” Tanyaku, untuk sesaat egoku menghilang, aku ingin mengutamakan kesembuhan Dimas.

BACA JUGA :   Puisi: Jatuh Cinta

Pak Tepi segera menidurkan Dimas dan membakar bunga, mungkin ini adalah pengobatan alternatif, karna pak Tepi sudah tua, dia mungkin akan lebih cocok dipanggil kakek daripada bapak.

Sembari menyatukan kedua telapak tangan didepan dadanya, pak Tepi mengucapkan berbagai kalimat yang tak aku mengerti.

Asap dari Bunga yang dibakar mulai mengelilingi Dimas, kemudian mulai mendekat Mencengkramku keras!.

“Kakek Sakit!.” Ucapku.

“ARUUUMM, Keluar kau akhirnya.” Balas pak Tepi. “Apa yang kaulakukan disini ini bukan tempatmu!.” Lanjutnya

“Apa maksutmu Kakek, Hentikan asap ini melilitku, badanku terasa sakit!” asap bakaran bunga pak Tepi melilit dan mencengkram tubuhku dengan sangat keras, aku meronta kesakitan.

“Ini pasti ulahmu Marta, hentikan semua ini!” aku berusaha mendekat ke arah Marta yang menangis ketakutan, tapi asap pak Tepi menahanku.

“Pergi kau dari sini!, ini bukan tempatmu.” Ucap pak Tepi.

“Kenapa kau mengusirku kek, aku mencintai Dimas!.”jawabku dengan tangis

“Kau tak bisa mencintainya, Kau sadar kau siapa?!, Pergi kau sekarang atau aku akan membuangmu keujung gunung yang jauh disna!.”

“Tidak!, Jika itu adalah bayaran dari cinta, tak akan ada laut dalam atau gunung tinggi yang dapat memisahkanku dari Dimas.”

“Pergi kau!. Kau penyebab Sakitnya Dimas. kau terus menyedot aura kehidupannya”

“Kalau begitu aku akan membawanya bersamaku!”

“Sungguh Jahanam Kau!, akan kukirim kau ke alam Baka!.” itu adalah ucapan terahir pak Tepi.

Ia mengepalkan kedua tangannya. Asapnya semakin mengikatku dengan sangat kencang, aku meronta kesakitan.

“Kaakek Hentikan!. Ampuuun!.” Aku memohon. Aku tak kuat menahan rasa sakit. Namun tak ada yang menhiraukan.

Tubuhku mulai memerah, pikiranku mulai hilang pandanganku mulai buram.

“Dimas toooloong.” Rintihku sebelum tak sadarkan diri.

Dalam buram, aku melihat Dimas.

Ia menatapku ke arahku.

Tersenyum.
“Terima kasih. Atas segalanya.”

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *