• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saatnya Luka Menyentuh Cinta Bab 8 Pertengkaran Kecil

Pagi hari yang cerah. Untung saja hari ini enggak kesiangan. Hari ini berangkat sendiri. Jadi ingat sama si Ray. Sebenarnya sih tadi Ray datang ke rumahku untuk menjemputku. Tapi aku menolak tumpangan yang dia tawarkan, aku terlanjur kecewa padanya. Yah, walaupun aku sudah memaafkannya. Kata anak muda jaman sekarang sih “sakitnya tu, di sini”. Dunia seakan terasa sepi, tanpa canda Ray, senyum manis Ray, celetukan Ray segalanya lah yang ada pada diri Ray. Rasanya seperti separuh dari jiwaku ini hilang. Bukannya terlalu berlebihan, kita kan dari kecil selalu bersama bahkan bertengkar pun enggak separah ini. Kita juga paling enggak betah kalau marahan. Buktinya saja waktu SMP, aku tahu sih Ray selalu menjauhiku dan aku sadar itu. Makanya aku selalu menghindar kalau ketemu Ray. Yang enggak habis pikir dia malu punya teman sekaligus sahabat kayak aku. Memang sih kalau di sekolah kita selalu menghindar satu sama lain. tapi kalau sudah di rumah kita pasti menjalani semuanya bersama contoh kecilnya sih belajar bareng, sering curhat juga sih, makan bareng banyak deh yang kita lalui bareng-bareng. Bahkan kita itu enggak pernah marahan lebih dari dua jam. Jadi kalau kita marahan, selama dua jam kita diam-diaman seperti intropeksi diri. Bahkan setelah itu kita selalu rebutan buat minta maaf, enggak peduli siapa yang salah. Tapi sekarang kita justru diam-diaman. Sudahlah lupakan saja. Oh iya, untung saja tadi Kak Ros datang diwaktu yang tepat. Waktu si Ray mengajakku berangkat bareng. Akhirnya aku lebih memilih bersama Kak Ros. Biar dia bisa merasakan gimana kecewanya aku padanya.
Akhirnya sampai sekolah juga. Semoga saja pergulatan hatiku ini tidak akan mengusikku saat aku belajar di sekolah. aku tidak mau mengecewakan orang tuaku. Sial! Kenapa saat aku baru sampai sekolah aku bertemu dengan Chocho dan ku rasa dia melihatku dengan Kak Ros. Dia pasti marah besar padaku. Memang hari ini hari kesialanku, baru saja mendapat masalah dengan si Chocho eh, masalah datang satu lagi. Tiba-tiba saja aku dan Ray berpapasan di depan pintu sekolah. dia tersenyum padaku. Ya Tuhan, itu senyum yang aku rindukan sepanjang malam. Wajah berseri yang selalu mengganggu tidur nyenyakku. Tiba-tiba saja si Damarestra masuk ke kelasku. Dan dia menghancurkan momen indah itu. Memang menyebalkan! Sekarang yang aku bingungkan, pertemuan sebentarku dengan Ray itu hal yang indah untukku atau justru masalah untukku. Entahlah. Lagi-lagi Damarestra yang selalu mengacaukan momen-momen indahku. Sebenarnya, mau dia apa sih. Selalu mengusik ketenanganku. Akhirnya aku putuskan untuk masuk ke kelas. Dan yang enggak habis pikir, saat Damarestra ditanya sama Chocho dia cuma bilang salah masuk kelas. Gila, enak banget ngomongnya. Apalagi saat dia berpapasan denganku, aneh sekali biasanya dia selalu menjelek-jelekanku tapi kali ini dia hanya diam dan menatap mataku. Lalu pergi begitu saja. Tatapan itu beda, enggak seperti biasanya. Aneh sekali, ya mungkin saja dia lagi insyaf-insyafnya. Syukurlah!
Aku masih enggak percaya, bayangkan saja aku melihatsi Chocho temanku sendiri ngobrol dengan akrabnya bersama Jeje dan Dedes. Ku harap ini hanya mimpi. Saat ku cubit lenganku tersa sakit dan artinya ini kenyataan. Ya Tuhan, masalah apa lagi ini? Kenapa masalah selalu datang bertubi-tubi. Dan tanpa ku sadari saat aku mencubit lenganku sendiri aku berteriak “Aauu..”. setelah mendengar teriakanku, mereka melihatku dengan pandangan yang aneh. Mungkin mereka merasa aku seperti orang gila yang ingin mencari perhatian mereka. Yang membuat amarahku semakin menjadi, Ray malaikat kecilku iku ngobrol asyik bersama mereka. Dunia serasa milik mereka dan aku merasa dicampakan bahkan rasanya seperti ditendang jauh di angkasa. Hhuuh menyebalkan. Oh iya, setelah aku berteriak Jeje dan Dedes beranjak keluar kelas. Saat mereka berpapasan denganku. Dedes membisikkan kata-kata sedikit tapi menyakitkan.
“Makanya jangan pernah main-main sama aku!” kata Dedes.
“Temanmu satu-satunya akan menjauh darimu!” lanjut Jeje.
Mereka memang keterlaluan. Sebenarnya apa sih salahku? Sampai-sampai mereka bertindak seperti itu padaku. Teman satu-satunya yang ku punya mereka ambil. Malaikat kecilku mereka ambil. Bahkan sekarang aku harus menjauhi Kak Ros agar Chocho tidak berpikir macam-macam tentang aku. Mereka memang keterlaluan. Aku enggak pernah mengusik kehidupan mereka. Tetapi mereka justru selalu mengganggu hidupku. Bukan hanya itu mereka juga telah merenggut kebahagiaanku.
Persahabatan macam apa ini? masak hanya karena cinta semua yang kita lalui bersama hilang begitu saja. Aku jadi kangen sama Vivi dan Gigi, hanya mereka yang mengerti aku. Memang benar kalau kehidupan itu kejam. Bahkan untuk bahagia pun butuh banyak pengorbanan. Sekarang aku harus berbagi masalah ini pada siapa? Sekarang yang kurasakan hanya terhempas gelombang air laut, terombang-ambing bagai daun di atas air sungai, tercabik-cabik. Aku butuh seseorang yang bisa mengerti aku.
Memang sangat menyebalkan. Bayangkan saja hari ini Chocho tidak mau sebangku denganku. Dan sekarang aku harus sebangku dengan Ray. Andai saja aku dan Ray enggak marahan, pasti sekarang aku bisa membagi atau sekedar curhat dan minta saran pada Ray. Tapi sekarang itu hanya anganku saja. Pada kenyataannya, Ray justru bercanda dengan teman-temannya dan aku dibiarkan terbungkam dalam kesepian yang ku rasakan. Kenapa jadi seperti ini sih? Yang membuatku semakin kesal, hari ini enggak ada pelajaran. Semua teman-teman sekelasku ramai, bercanda bersama teman-temannya. Bahkan ku lihat Chocho bisa tertawa diatas penderitaanku. Haaahh rasanya aku ingin pergi jauh dari dunia ini. untung saja bel istirahat segera berbunyi. Bel itu memang penyelamatku. Rasanya sudah bosan melihat pemandangan yang enggak enak dilihat. Aku segera mengambil bekalku dan ku bawa ke kantin. Rasanya aku ingin melampiaskan kesedihanku dengan makan. Ya, walaupun hanya bisa sesaat melupakan itu. Tempat duduk ini, mengingatkan ku pada Chocho. Kita selalu makan bekal bersama di sini. Rasanya jadi kangen sama Chocho. Baru sebentar saja memikirkan Chocho, eh ternyata dia juga ke kantin.
“Cho, sini makan bareng aku!”
Awalnya sih, aku lihat dia menghampiri aku. Rasanya senang banget. Eh, ternyata dia justru melewati tempatku dan duduk di belakangku bersama Dedes dan Jeje. Ya Allah, aku lupa kalau Chocho sedang marah padaku. Pantas saja dia selalu menghindariku, hanya gara-gara hubunganku yang terlalu dekat dengan Kak Ros. Aku tahu dia cemburu. Tapi kan aku sama Kak Ros hanya sebatas teman. Mau ku taruh mana wajahku ini, aku terlanjur malu. Kalau Chocho marah aku masih bisa menerimanya. Tetapi kenapa dia harus sama Jeje dan Dedes. Dia kan tahu sendiri, mereka selalu meremehkan aku dan dia. Sifat dan sikap mereka juga kurang bagus. Aku hanya takut nanti dia terpengaruh oleh mereka, itu saja. Aku terlanjur sayang padanya.
“Kok bekalnya enggak dimakan?”
Suara itu.. aku kenal suara itu, tapi siapa? Damarestra? Tapi apa mungkin dia.
“Hei kok malah ngelamun sih?”
Memang benar itu suara Damarestra. Tumben sekali dia bersikap manis padaku. Atau dia punya rencana lain. ya, aku rasa itu. Biasanya kan dia senang sekali meremehkan aku. Bahkan kalau sehari dia enggak meremehkan aku atau mengejekku mungkin harinya enggak akan lengkap. Mungkin saja itu sudah hobinya.
“Ngapain kamu sok manis di depanku?”
“Emang enggak boleh?”
“Sudah deh, rencana apa lagi sih? Kamu mau bikin aku malu lagi? Atau..” belum selesai aku bicara dia sudah memotongnya.
“Kamu itu enggak boleh berburuk sangka dosa tahu”
“Kamu kesambet apaan sih, mendadak baik gitu?”
“Ye, semua orang pasti ada saatnya buat berubah tak terkecuali aku. Dan mungkin ini saatnya buat berubah.”
“Power ranger kali berubah. Sudahdeh sekarang mau apa? to the point aja!”
“Aku mau minta maaf sama kamu.”
“Hahh! Aku enggak salah dengar tu?”
“Ye serius. Kamu mau kan maafin aku?”
“Lagian sebelum kamu minta maaf sudah aku maafin. Santai aja lagi!”
Enggak tahu kenapa, rasanya aku nyaman banget dekat sama Damarestra. Mungkin ini yang membuat cewek-cewek tergila-gila padanya.
“Hey kok jadi ngemalun sih? Tu lihat makanannya keburu basi kalau cuma dilihatin aja. Ya, kalau enggak mau mending buat aku saja!” sambilmengambil makananku.
“Damarestra apaan sih? Aku lapar tahu. Mana gue mau makan!”
Aku segera merebut makananku dari tangan Damarestra.
“Manggilnya Damar saja biar enggak kepanjangan.”
“Iya iya.”
“Aku minta dong! Kayaknya enak banget.”
“Kamu pinjam sendok tu ke ibu kantin.”
“Suapin dong!”
“Idih manja banget sih?”
“Ayolah sekali-kali!”
“Idih ogah, males gila.”
“Ih kamu enggak ada romantis-romantisnya.”
“Eh kamu baru minta maafya. Jangan bikin aku naik darah lagi nih!”
“Iya iya kan cuma bercanda.”
“Bercanda tapi ngarep.”
Aku segera pergi meninggalkan Damar karena bel sudah berbunyi. Yah, makananku jadi enggak habis deh. Di makan nanti di rumah saja deh.
Siang yang terik, matahari bersinar sangat panas. Rasanya ingin cepat-cepat pulang. Jadi rindu sama ibu dan ayah. Panas-panas, naik angkot lagi. Idih pengap banget. Lama enggak naik angkot jadi enggak betah gitu. Oh iya, jadi ingat tadi aku ketemu sama Ray di dpan gerbang sekolah. kirain mau nawarin tumpangan ke aku, eh enggak tahunya dia nawarin tumpangan ke si Jeje di depan mataku lagi. Memang cowok itu sama saja. Dalam waktu yang bersamaan aku juga lihat Kak Ros menawarkan tumpangan ke Chocho. Pasti sekarang hati Chocho senang banget tuh. Selain itu aku juga lihat si Dedes boncengan sama Rekatama. Kayaknya sih mereka semua mau jalan bareng gitu. Kenpa sih Jeje sama Dedes enggak puas-puas membuat aku menderita. Dulu merekan mencacimaki aku nah sekarang sahabat-sahabat terbaikku direbut juga. Keterlaluan!!
Setelah naik angkot aku harus berjalan kurang lebih sekitar 5 km. Aduh rasanya kakiku sudah capek banget kayak sudah enggak bisa digerakin gitu. Akhirnya sampai rumah juga. Belum selesai sampai disitu penderitaanku. Sesampainya di rumah ibu langsung menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan sampai aku bingung mau menjawab yang mana dulu. Hampir dua jam ibu berbicara. Dan dua jam pula aku belum makan, ganti baju, bahkan untuk sekedar mencuci muka juga belum. Untung saja penyelamatku datang. Iya ayah datang, beliau memang penyelamatku dari omelan ibu yang enggak tahu kapan selesainya.
“Assalamu’alaikum” salam ayah
“Wa’alaikum salam” jawabku dan ibu bersama-sama.
“Loh ada apa ini ibu kok ngomel-ngomel? Kedengeran sampai depan lo, Bu.”
“Iya ni Yah, Ibu ngomel-ngomel enggak jelas dari tadi. Hampir dua jam lo, Yah.”
“Kok kamu jadi nyalahin Ibu sih…”
Ibu terus ngomel-ngomel enggak jelas. Bahkan waktu ayah mau mengingatkan ibu. Eh ibu justru semakin menjadi. Terpaksa kami mendengarkan omelan ibu itu.
Satu jam… dua jam… tiga jam…
Sudah tiga jam ibu ngomel-ngomel enggak jelas. Entahlah apa yang dikatakan ibu. Aku dan ayah tidak mempedulikannya. Bahkan adzan terdengar ibu tetap saja ngomel. Rasanya seperti suara ibu saingan sama adzan. Setelah tiga jam terlewatkan, akhirnya ibu terdiam.
“Jam berapa, Yah?” tanya ibu.
“Jam 5 sore.”
“Apa jam 5 sore? Kenapa Ayah enggak ngingetin Ibu sih! Jadi Ibu sudah menasehati kamu 5 jam dong, Ra?”
“Iya Bu, sampai-sampai perutku lapar sekali.”
“Ayah tadi sudah mau mengingatkan Ibu, tapi Ibu saja yang ngomel terus. Jangan dijadikan kebiasaan Bu, enggak baik! Kasihan yang jadi korban. Itu lihat anak kita sampai kelaparan lo. Bajunya juga belum ganti.” Kata ayah panjang lebar.
“Iya maafin Ibu ya, Yah, Ra!”
“Iya Bu.” Jawabku
“Lebih baik kamu sekarang mandi dan salat. Setelah itu makan ya!”
“Iya Yah, perutku sudah keroncongan.”

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 11 Penderitaan Belum Berakhir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *