• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saat Luka menyentuh Cinta Bab 7 Membuatnya cemburu

Di seberang jalan aku melihat Ray dengan wajah yang marah. Terserahlah aku enggak peduli lagi sama dia aku terlanjur kecewa. Sudah sering dia mengecewakanku dan sekarang saatnya aku untuk bertindak. Aku mencoba membuat Ray cemburu. Kalau dia cemburu pasti dia masuk dan mengklakson. Itu sudah menjadi kebiasaan dia.
“Hati-hati jangan marahan kelamaan entar putus lo!” kata Kak Ros
“Ye, kapan jadinnya kok sudah langsung putus.”
“Jadi kalian belum jadian?”
“Ya belumlah, lagian dia juga cuma sahabatku dari kecil itu sajaenggak lebih.”
Dan berhasil si Ray pasti cemburu. Tapi sekarang aku enggak peduli mau dia cemburu atau enggak itu urusan dia, yang penting aku berhasil membalasnya.
“Jadi masih ada kesempatan dong buat aku?”
“Apaan sih Kak?”
“Ye aku serius lagi.”
“Sudah ah aku mau masuk.”
Aku hanya tersenyum.
Aku masih bingung dengan sifat Ray tadi. Kenapa dia kelihatannya marah waktu lihat aku sama Kak Ros. Aku jadi penasaran, lebih baik aku tanya langsung saja sam Ray.
“Assalamu’alaikum.” Aku mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah Ray.
“Wa’alaikum salam. Eh Ara mau cari Ray, ya?” tanya ibunya Ray.
“Iya Tante.”
Tiba-tiba Ray keluar dari kamarnya.
“Ray dicari Ara.”
Ray langsung menghampiriku dengan wajah yang cemberut enggak seperti biasanya.
“Kamu kenapa Ray? Ada masalah?”
“Enggak biasa saja.” Jawabnya cuek.
“Oh iya, kamu tadi kenapa sih kok marah gitu lihat aku sama Kak Ros.”
“Siapa yang marah?”
“Kamu tadi marah kan?”
“Enggak biasa aja. Ngapain aku marah toh enggak ada gunanya kan.”
“Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini berubah.”
“Kamu yang enggak ngerti perasaan aku.”
“Maksudnya gimana sih?”
“Aku itu suka sama kamu lebih dari sahabat. Kamusaja yang enggak peka sama perasaanku.”
“Tapi..” belum selesai aku bicara, tiba-tiba Ray memmotong perkataanku.
“Tapi kamu suka kan sama Roesdi.”
“Kamu kenapa sih? Kak Ros itu sudah aku anggap kakak aku sendiri.”
“Terus gimana jawaban kamu? Aku suka sama kamu.”
“Aku enggak bisa Ray. Kita itu sahabat, aku enggak mau persahabatan kita hancur cuma gara-gara cinta.”
“Oke aku sudah tahu jawaban kamu. Sekarang kamu pulang dan enggak usah ganggu hidup aku lagi!”
“Apa-apaan sih nih?? Yang harusnya marah itu aku soalnya kamu sudah beda-bedain aku sama Jeje dan Dedes kamu tahukan cewek itu enggak suka dibeda-bedain termasuk aku. Niat aku ke sini itu baik cuma mau minta maaf, eh malah diusir.Tahu gini aku enggak mau ke sini kalau cuma buang-buang waktu aja.Dan tanpa kamu suruh pergi aku juga bakalan pergi. Oh ya, satu lagi kamu tadi minta aku buat enggak mengusik hidupmu lagi kan?? Dan itu sebentar lagi akan terwujud. Sekarang sudah puaskan??”
Ray langsung menutup pintu rumahnya dengan kencang setelah mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu.
Akhirnya aku sampai rumah. Kali ini aku ingin sejenak menghilangkan rasa lelahku dengan mandi dan membersihkan diri. Walaupun kegiatanku sangat padat, aku tetap menyempatkan waktu untuk beribadah salah satunya salat. Bahkan setiap hari aku salat berjamaah bersama ibu dan ayah.Setelah salat ashar aku segera masuk kamar. Aku hanya ingin menenangkan diriku sejenak. Kenapa sih jadi enggak fokus belajar? Kenapa jadi memikirkan perkataan Ray di sekolah tadi. Sudah berulang-ulang ku bolak-balik buku tapi tetap saja, aku selalu memikirkannya. Apa salahnya sih jadi diri sendiri? Kenapa dia enggak bisa menerima aku apa adanya sih? Dan kenapa saat aku mulai jatuh cinta dia justru membuat aku kecewa. Apa ini rasanya sakit hati? Entahlah hal ini membuat kepalaku bingung. Lebih baik aku mendengarkan lagu. Ya, sekedar untuk hiburan sesaat.
Ku tak bisa menggapaimu takkan pernah bisa
Walau sudah letih aku tak mungkin lepas lagi
Kau hanya mimpi bagiku tak untuk jadi nyata
Dan segala rasa buatmu harus padam dan berakhir
Itu hanya beberapa lirik lagu Utopia yang sedang ku dengarkan. Huuhh, kenapa harus lagu ini sih? Jadi ingat sama Ray lagi kan. Ini adalah lagu kesukaan aku dan Ray. Mungkin aku dan Ray memang enggak bisa bersatu. Meskipun segalaperjuangan dan semua kenangan masa lalu yang enggak bisa dilupakan. Aduh kenapa jadi kepikiran Ray lagi sih? Kalau aku lebih suka lagunya Sammy Simorangkir yang judulnya Dia.
Ku ingin dia yang sempurna
Untukdiriku yang biasa
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Aku hanya manusia biasa
Yuhan bantuku tuk berubah
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia
Itulah beberapa lirik lagu dari Sammy Simorangkir yang judulnya “Dia” yang menjadi favoritku.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Tidak Pakai Masker Swab di Tempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *