• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Menangis

ByPaskalis

Agu 14, 2021

Udara dingin menghembus masuk melalui dinding yang terbuat dari ranting dedaunan dan rerumputan seadanya di pondok (camp) pengungsian.

Menyelinap lembut mendekap ke pori-pori tubuh bayi mungil yang sedang berusaha menutup mata.

Nampak salah seorang mama (ibu) mencoba menghangatkan tubuh anaknya dengan membungkusinya dengan kain gendong.

Dan terlihat di ujung pondok salah seorang bapak sedang mengangatkan tubuh di tungkuh api seadanya.

Hujan es membuat kekebalan tubuh para pengungsi kian menurut (drop), menyebabkan berbagai penyakit mulai menyerang anak-anak dan orang dewasa hingga orang lanjut usia.

Ada yang mulai terkenal batuk beringus dan buang-buang air (diare), serta beberapa orang tua didapati sesak nafas.

Memang benar, cuaca dingin itu mempengaruhi imun tubuh para pengungsi.

apalagi, mereka harus berdesak-desakan satu sama lain di dalam beberapa pondok (camp) sederhana yang lebarnya hanya untuk tidur.

Di dalam hutan, stok makanan tidak tersedia bahkan tidak cukup untuk sebulan,apalagi jika tinggal dalam jangkauan lama, tentu pasokan makanan kian menipis.

Pada malam hari, bayi milik ibu muda harus menangis dan mamanya mencoba mendiamkan dengan memeluk penuh belaian kasih sayang sambil mencoba membujuk tidur.

Lantunan syair bahasa lokal dari mama berusaha dinyayikan dekat di telinga dengan suara perlahan-lahan sambil membaringkan dan membujuk, dekapan tangan mama mengelus pantat secara lembut berharap anaknya cepat tertidur.

“Hus..hus..diam ini sudah mau malam diam…diam… tidur ayo tidur…huaeyo..huaeyo..”

Namun, selimut kusam berusaha di lepaskan bayi mungit itu, karena membuatnya gerah, sekali-kali mama mencoba memakaikan selimut itu lagi.

Dari dalam hati ibu itu berharap agar anak nya segera tidur.

“Ayo pakai ini cuaca dingin anak…ayo pakai..” ucap mama dengan suara lembu mencoba mengenahkan selimut itu.

Namun, anaknya masih saja menangis, menandakan dia gerah dan gelisa, terlihat bayi itu mencoba melepaskan selimut Kusam yang di kenakannya.

” Huus..huss…sayang anak, rupahnya bayi itu keringat membuatnya terus menangis tak henti dengan suara yang cukup nyaring, paras wajah ibu muda kian membingung apa lagi warga lainnya sedang melotot memperhatikannya.”

Hingga para lelaki sesama pengungsi menegur ibu itu agar segera mendiamkan bayinya.

BACA JUGA :   MIRAS, Menjadi Pemicu Tindakan Kekerasan

Sang ibu berusaha dan berusaha, tetapi belum membuahkan hasil, rupanya bayinya itu mengalami sakit tertentu.

Ibu Maria sibuk mendiamkan, dan kali ini di bantu oleh salah seorang ibu yg juga sepenanggung dalam pelarian untuk menyelamatkan diri.

“Lihat perutnya buncit, dia juga ada menceret, kemungkinan masuk angin,” ungkap salah seorang ibu yang mencoba membantu Ibu Maria.

Ibu Maria Menceritakan,”Kemarin saya mencoba kasih minum air susu, tapi ASI saya tidak ada air susu, jadi saya (ibu Maria) panik karena anak ini minta susu, jadi saya memberikan air dari mata air kecil di hutan.”

Lanjutnya, ” Kemungkinan air dingin adalah penyebab membuat perut anak mengalami kembung dan buang-buang air.”

Salah seorang Ibu yang mencoba bantu Ibu Maria memberikan ASI kepada bayinya dan bayi tersebut melahap air susu dengan lahapnya.

Para wanita mencoba memakai ramuan sederhana untuk memberhentikan cairan yang keluar bersamaan kotoran dari pantat bayi.

Namun cara tradisional tidak dapat sembuhkan sakit menceret yang di derita sang bayi.

Layanan kesehatan hanya berada di ibukota kabupaten Nduga, dan keamanan tidak menjamin. Apalagi para petugas kesehatan sudah mengungsi ke daerah yang aman, jadi tinggal bangunan kosong.

Terkadang orang tua hanya mengangkat tangan dan menunggu takdir ketika melihat penyakit menyerang anak-anak kian memburuk.

Namun mereka mencoba dan terus mencoba memakai ramuan tradisional dan terkadang tertolong, namun beberapa saat saja.

Kondisi alam yang penuh misteri menjadi tempat pengungsian, tentu menantang warga dan memang lari dari situasi konflik perang yang dirasakan kurang aman.

Tetapi mau bagaimana lagi, meninggalkan rumah yang dulu aman dan pergi ke daerah yang baru menjadi sebuah pilihan
semata untuk bertahan hidup.

Dan tentu sebagai manusia harus menyesuaikan dengan kondisi alam yang baru mereka singgah see.

Sudah bertahun-tahun lamanya bersembunyi di dalam hutan untuk menyelamatkan diri dari kegelisahan hidup di lingkungan kampung yang dulunya aman, namun kini tidak.

Ndugama duka yang sunyi, banyak korban yang berjatuhan. Walau dalam Suasana duka sekalipun, warga dipaksa untuk tidak berduka.

BACA JUGA :   Asal Mula Bunga Matahari

Masyarakat sipil mati di tembak, dan media tidak mengekspos.

Anak di bawah umur di tembak mati di katakan, mereka itu anggota separatis (TPN OPM).

Ada masyarakat kurang gizi,di katakan tidak ada.

Ada masyarakat mengungsi di hutan, di katakan tidak ada.

Akses media di batasi, dan berbagai gelombang hoax berterbangan menyampaikan tidak ada pengungsi.

Masyarakat luar tidak diberikan akses untuk membawah bantuan sosial bagi warga sipil.

Genap sudah beban di dada, menjadikan hati kian gusar, merana meratapi nasib hidup di pengungsian.

Cerita di dusun berterbangan di media sosial, seorang Mama melahirkan anak di pengungsian dan memberikan nama anaknya itu “Pengungsi”.

Saya tidak tahu persis, mengapa orangtuanya memberikan nama kepada anaknya itu Pengungsi?

Mungkin, pemberian nama (pengungsi) itu sebagai rasa bersyukur karena melahirkan anak serba kekurangan dan selamat di pengungsian hutan Papua.

Cerita di pengungsian, dekat goa batu tempat persembunyian menjadi sebuah perenungan yang senduh.

Bila saja ada media memberitakan kondisi yang sebenarnya, bisa jadi media itu di cap pembangkang.

Makanya, Independensi media di Indonesia dipertanyakan, karena tidak menjalankan peran jurnalistik dengan kaidah-kaidah jurnalistik yang universal.

Cerita ibu Maria dan kondisi bayinya yang sakit diare dan kian sekarat.

Membuat Sang ibu mau membawah anaknya pergi ke ibu kota kabupaten untuk berobat, namun suami mencekal istrinya agar tidak membawah anaknya itu ke rumah sakit, karena jarak rumah sakit yang jauh dan keamanan tidak terjamin.

Malam yang sunyi terdengar jelas suara tangisan bayi yang tak tertahankan kian berisik.

Sederhananya suara yang berisik ingin menyampaikan kepada orang tua bahwa dia sedang merasa sakit pada perutnya.

Sedangkan orang dewasa sedang risau dan diam karena kondisi yang tidak menentu itu.

Hingga pagi subuh barulah bayi itu tertidur pulas, tentu mamanya merasa senang dan berfikir, anaknya itu sudah merasa nyaman dan tertidur pulas sampai siang hari, bahkan pada sore harinya masih tidak bangun-bangun!!!

Kali ini yang menangis adalah mamanya, suaranya merintih pedih seperti kehilangan sesuatu yang berharga.

BACA JUGA :   Anak Terlantar di kota Jayapura

Ia benar, Mama itu mendapatkan anaknya telah berpulang ke surga untuk selama nya.

Saya yakin bahwa Tuhan tahu penderita anak itu, jadi Dia pula yang mengambilnya, apalagi anak itu milik ciptaan Tuhan yang Maha Esa.

Para kerabat kaget mendengarkan rintihan suara ibu Maria dari dalam camp pengungsian dan mereka menghampirinya.

Oh..rupanya ini yang menyebabkan dia menangis, sebagian warga pun tak kuasa menahan pedih dan turut mengeluarkan air mata secara bersama-sama.

Menatap ke langit,namun Matahari malu mengeluarkan sinarnya dan tinggal hanya kelembapan menguasahi waktu dan hari.

Terasa hening kesetika suara tangis menyeruak melepaskan anak pertama secepat itu harus pergi untuk selamanya.

Kesedihan adalah suatu emosi yang di tandai dengan perasaan tidak beruntung, kehilangan, dan ketidakberdayaan.

Setiap manusia saat sedih menjadi lebih diam, kurang bersemangat dan menarik diri, serta Kesedihan dapat juga di pandang sebagai penurunan suasana hati.

Berlabuh dalam suasana sedih membuat depresi dan tidak tentram hingga tidak dapat melakukan aktivitas dalam keseharian.

Menangis adalah salah satu indikasi dari kesedihan, memang benar, rasa kehilangan itu harus di ekspresikan dengan curahan air mata dan rasa bahagia itu harus di tunjukan dengan senyum dan tawa canda.

Menangis itu normal, namun yang tidak normal iyalah kondisi sosial, terasa pahit di ambang ketidak wajaran sebagai umat manusia.

Masyarakat Ndugama adalah manusia dan bukan binatang buruan, tetapi mengapa seakan menjadi target buruan.

Lihat banyak cairan dan kotoran keluar dari dubur perlahan-lahan membuat kain gendong kusam menjadi kotor.

Kondisi cuaca dingin memang mendukung maut untuk beperkara.

Membuat setiap ibu yang memiliki balita menjadi kawatir dan berfikir, jangan sampai musibah itu menghampiri anak mereka lagi.

Memang penyakit diare adalah salah satu penyakit yang mematikan dan bila tidak ada pertolongan secepatnya maka berakibat fatal.

Demikian kondisi yang buruk dan tidak manusiawi tentang Ndugama dan para pengungsi yang di lupakan.

Paskalis (38)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *