• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 6 Terlalu Dramatis

Ku rebahkan tubuhku di atas kasurku. Kamarku ini memang kecil, tapi di sinilah aku mengeluarkan segala keluh kesah yang aku rasakan. Setiap aku sedih maupun senang aku selalu menghabiskan waktu di sini. Untung saja hari ini, enggak ada PR jadi bisa sedikit santai. Lagi pula badanku pegal-pegal semua serasa mau rontok gara-gara tadi menunggu Kak Ros yang enggak datang-datang. Melupakan masalah Kak Ros. Aku memang sudah lama berteman dengan Ray. Tapi aku sempat kecewa dengan perlakuan dia semasa SMP. Ya sudahlah, itu juga masa lalu enggak perlu diungkit-ungkit lagi. Kenapa ya setiap aku dekat dengan Ray aku merasa nyaman dan aman. Bahkan sering deg-degan kalau dekat sama dia. apa ini yang namanya jatuh cinta? Ahh tapi kenapa harus sama Ray sih. Tapi enggak mungkin juga aku jatuh cinta sama dia, kita an sudah bersahabat lama, masak sahabat jadi cinta. Kayak sinetron saja. Perlahan-lahan mataku terasa berat dan aku tertidur.
Sial. Hari ini aku bangun kesiangan. Bayangkan saja yang biasanya aku bangun pukul 04.30 sekarang justru bangung pukul 06.00 apalagi aku dan Ray selalu berangkat pukul 06.30. waktu setengah jam mana cukup untuk aku bersiap-siap? Apalagi pelajaran hari ini belum aku siapkan gara-gara kemarin ketiduran. Saat aku masih memakai sepatu tiba-tiba si Ray sudah datang dan seperti biasa dia selalu mengklakson aku agar segera keluar. Entahlah aku buru-buru keluar. Aku langsung menyambar bekalku yang sudah disiapkan ibu, aku juga makan roti isi coklat untuk megganjal perutku sambil bersalaman kepada ibu dan ayah.
“Hati-hati..” kata ibu dan ayah bersama-sama.
Tak lama kemudian aku terjatuh. Padahal kata-kata ayah dan ibu masih terngiang-ngiang di telingaku. Untung saja Ray menolongku. Tapi posisinya yang enggak bagus, jadi kayak di film-film. Dia menologku tapi seperti memelukku, terlalu dramatis. Dan yang enggak mengenakkan lagi saat dia menolongku dan menatap mataku, mulutku masih berlumuran coklat. Tidak lama kemudian dia melepaskan pelukannya.
“Ki..kita berangat sekarang! Kayaknya sudah kesiangan.” Kataku sambil terbata-bata
“Kok kamu jadi gugup gitu sih?”
Kenapa jantungku berdebar lebih cepat ya? Kenapa sih datang disaat yang tidak tepat.
“Masih kaget aja.”
“Ini gara-gara kamu, andai saja kamu enggak kesiangan pasti kamu enggak terburu-buru dan jatuh. Kalau kayak gini kan, jadi aku yang susah.”Kata Ray panjang lebar.
Ih, ini anak enggak sadar ya? Suasana lagi romantis-romantis kayak gini malah dirusak tetap saja cuek dan ketus.
“Jadienggak ikhlas nih?”
“Bukannya enggak ikhlas tapi..”
“Sudah ayo berangkat kita sudah kesingan.” Selaku.
Sesampai di sekolah aku langsung menuju kelas dan duduk di bangkuku. Enggak terasa aku terbawa lamunanku. Jadi ingat kejadian pagi tadi. Tiba-tiba Choco mengagetkanku. Ya, mungkin memang itu kebiasaan dia selalu mengagetkanku.
“Choco, untung gue enggak jantungan.”
“Iya iya maaf.”
“Gue hari ini senang banget.” Kataku bersama-sama dengan Choco.
“Guedulu!” kataku
“OMG no no no no, gue dulu.”
“Gimana kalau suit saja!”
“Setuju.”
Ternyata aku menang. Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi tadi dan semua perasaanku yang aneh ini.
“Itu artinya lu jatuh cinta sama Ray. Cie..” Kata Choco dengan keras. Untung aja enggak ada yang dengar yah walaupun membuat si Ray terpancing untuk menghampiri aku dan Chocho.
“Hayo lagi ngomongin gue ya??” Tanya Ray.
“Apaan sih?Pede gila.”Jawabku dengan ketus.
“Kenapa sih masih marah masalah yang tadi??”
“Enggak kok, biasa aja.”
“Haduh cewek itu memang bikin ribet.Apa salahnya sih tinggal bilang masih marah??”
“Kok jadi nyolot gitu sih??”
“Aduh salah lagi kan. Ya iya aku minta maaf.”
“Enggak ikhlas banget minta maafnya??”
“Terus gimana lagi dong??Apa aku harus berlutut di depanmu sambil membawa buang untuk minta maaf??”
“Ya enggak usah berlebihan juga kali.Santai aja orang aku tadi cuma bercanda.Yah, lumayan lah pagi-pagi sudah ngetes kesabaran orang.”
“Hahh cuma bercanda??”
Tiba-tiba saja Chocho berdeham.
“Ehheemm ehheemm… woy di sini masih ada orang lagi?? Kayak obat nyamuk aja gue di sini.”
“Oh iya gue lupa maaf-maaf.” Kata Ray
“Iya santai aja lagi! Lu bilang tadi mau berlutut sama bawa bunga?? Itu mah bukan minta maaf tapi lu nya aja yang mau nembak.”
“Iya juga sih ya.Tapi bisa dipakai juga kan sekali dayung dua tiga pulau terlewati.”
“Jangan bilang kalau lu mau…”
Belum selesai Chocho bicara, eh si Ray langsung pergi dengan alas an mau ke kamar mandi.
“Aduh tiba-tiba perut gue mules nih, gue ke kamar andi dulu ya!”
Aku dan Chocho hanya memperhatikan tingkah laku Ray yang tiba-tiba aneh dan melanjutkan pembicaraan.
“Tuh kan dia jadi salting, jadi emang benar dugaan gue selama ini kalau si Ray itu suka sama lau.”
“Masak sih??Taoi kayaknya enggak mungkin deh.”
“Enggak mungkin gimana orang sudah jelas kok buktinya tadi.”
“Sekarang giliran lu yang cerita.”
Oh my god, aku masih enggak percaya ternyata ceritaku dengan Choco hampir sama hanya saja dia tidak bangun kesiangan tapi tidak ada yang mengantar makanyadia berlari terburu-buru dan hampir terjatuh karena tali sepatunya belum diikat. Bahkan akhirnya dia mengobrol dan berangkat bareng Kak Ros. Memang keberuntungan buat Choco enggak dicuekin kayak aku.
“Kalo dilihat-lihat Kak Roesdi ganteng juga ya!” kata Choco.
“Cie jangan bilang kalau lu naksir sama dia??” kataku
“Enggak lah.”
“Iya juga enggak apa-apa.”
“Kenapa jadi lu yang mojokin gue?? Balas dendam ya lu??”
“Enggak kok, sudah lu juju aja!!Tinggal bilang apa susahnya sih.”
“Ya susah lah ini kan menyangkut hati.”
“Haahh? Jadi lu beneran suka sama dia dong?? Gila gue mash enggak percaya.”
Akhirnya si Chocho keceplosan karena terpancing omonganku tadi.Dan yang bisa dia lakukan sekarang hanya terdiam.
“Sudah tenang aja entar gue bantu pendekatannya!”
“Serius?”
“Iya seriuslah apa sih yang enggak buat sobat gue yang cantik ini.”
Akhirnya bel sekolah berbunyi juga. Apalagi kali ini pulang pagi.
“Ra, aku senang lihat penampilan kamu berubah kelihatan lebih cantik.”
“Bisa saja.”
“Dan yang pasti enggak malu-maluin.”
Hah, maksudnya gimana sih? Enggak malu-maluin? Jadi selama ini dia malu dong jalan sama aku. Bahkan dia enggak bisa menerima aku apa adanya. Gila, aku masih enggak percaya. Lbih bak aku reda dulu emosiku yang sudah menggebu-gebu. Aku hanya membalas dia dengan senyuman. Tiba-tiba terlihat Jeje bergandengan bersama Rekatama dan Dedes bergandengan bersama Damaretra.
“Apalagi kalau kamu bisa kayak si Jeje sama Dedes, pasti kamu cantik banget. Cowok yang bisa dekat sama Jeje dan Dedes pasti beruntung banget ya?”
OMG hello!! Masak dia bandingin aku sama mereka sih. Ya, jelas beda lah. Gila, sumpah aku sebal banget sama dia. Aku sudah enggak bisa menahan amarahku ini.
“Maksud kamu apa? Kalau kamu malu jalan sama aku, ya sudah mulai besok kamu enggak perlu berangkat dan pulang bareng aku. Aku bisa naik angkot.”
“Aku enggak bermaksud kayak gitu, Ra!”
“Sudah deh alasan kamu itu basi. Ternyata kamuenggak pernah berubah ya? Aku kecewa sama kamu. Dan aku sudah bodoh banget bisa percaya sama kata-kata manis kamu, padahal itu semua hanya omong kosong.”
“Kok kamu jadi kasar gitu sih?”
“Sekarang kamu pikir saja,mana ada orang yang mau dibeda-bedakan dengan orang lain. Sudah enggak penting juga ngomong sama kamu. Aku mau pulang dulu!”
“Kamu mau pulang sama siapa?”
“Sama… Kak Ros” kataku sambil berteriak.
Untung saja Kak Ros lewat. Dia memang penyelamatku. Maaf Choco aku terpaksa. Sebenarnya tadi ada Damarestra sih, tapi masak aku harus pulang sama dia. Males gila… Akhirnya sampai juga di rumah.
“Kamu tadi berantem ya sama Ray?”
“Enggak kok.”
“Sudah enggak usah bohong kamu itu enggak bakat buat bohong.”
“Kata-kata kamu sama kayak kata-kata ibu.”
“Jadi gue sehati sama ibu kamu dong! Berharapnya sih sehati sama anaknya.”
“Apaan sih Kak?”
“Nah gitu dong ketawa! Gue kangen banget sama lesung pipit lu.”
“Eh bentar dehkayaknya dari tadi tuh ada yang aneh sama pembicaraan kita.”
“Aneh gimana??Kamu aja yang ngaco.”
“Tuh kan, tadi itu kita ngobrol pake aku kamu padahal kan biasanya pake lu gue.”
“Emangnya kenapa enggak boleh??”
“Enggak apa-apa sih, malah enak jadi kelihatan lebih dekat gitu.”

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 12 Sahabat Jadi Pacar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *