• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 4 Inikah Cinta

Bymutiaradee

Agu 13, 2021

Sepulang sekolah, saat aku dibonceng Ray rasanya beda. Enggak seperti biasanya. Jantungku mulai berdegup cepat. Apa aku mulai suka pada Ray? Tapi enggak mungkin. Mana mungkin aku suka pada orang yang sudah mengecewakanku beberapa kali. Entahlah tapi rasa ini tidak bisa berhenti begitu saja.
“Rin..” kata Ray memanggiku pelan.
“I..iya” jawabku terbata-bata.
Apa-apaan sih ini kenapa jadi gugup seperti ini? Aku enggak boleh gugup karena ini. Please Rin jangan membuat Ray curiga.
“Kamu kenapa, Ra?”
“Enggak apa-apa, kok.”
“Sebelum pulang kita mampir makan ke warung dulu, yuk!”
“Maaf Ray, lain kali saja ya! Setelah pulang sekolah aku mau ikut ekstra karate. Aku sudah ada janji sama Kak Roesdi.”
“Kak Roesdi?”
“Iya emangnya kenapa? Kok kayak kaget gitu.”
“Enggak apa-apa kok. Lu serius mau ikut karate?”
“Ya iyalah, emangnya kenapa sih?”
“Gue cuma takut entar lu kecapekkan aja.”
“Apaan sih, terlalu berlebihan tahu.”
Sesampai di depan rumah, rasanya aku ngin segera masuk. Jantung ini tetap saja berdegup cepat. Bisa-bisa aku kena serangan jantung kalau terus seperti ini. Saat aku mau masuk Ray menahanku. Dia menarik tanganku.
“Aku mau ngomong sama kamu.”
“Ya kalau mau ngomong, ngomong saja! Enggak perlu pakai izin.” Kataku sambil senyum dan memperlihatkan lesung pipitku.
“Aku kagum sama kamu. Kamu tadi bisa melawan si Damarestra di kantin.”
“Damarestra, siapa dia?”
“Itu anak yang bertengkar sama kamu di kantin.”
“Oh, si anak mami itu namanya Damarestra.”
“Asal kamu tahu saja hampir semua murid membicarakan tentang kebernianmu. Aku senang kamu sudah berubah. Kamu mau melawan orang yang menindas kamu.”
“Iya. Aku sudah capek aja dari kecil selalu ditindas dan aku bertekad mulai sekarang aku akan melindungi orang-orang yang ditindas makanya aku ikut karate ya buat membela diri aja.”
“Aku setuju sama kamu.”
“Sudah dulu ya, Ray! Ibu pasti sudah menungguku. Aku juga sebentar lagi mau berangkat latihan.”
“Iya maaf aku lupa. Sukses ya untuk latihan pertamamu!”
“Iya, pasti.”
Saat aku makan siang tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu.
Duh siapa lagi nih? Ganggu orang makan aja!
“Biar Ibu saja yang membukakan pintunya. Lebih baik kamu melanjutkan makannya!”
“Ibu ngerti aja kalau aku ini masih ingin menikmati masakan buatan Ibu.”
Tiba-tiba ibu memanggilku dengan suara yang lantang.
“Rin.. ini dicari temanmu.”
Hah? Siapa ya? Kayaknya kau enggak ada janji.
Aku langsung berlari ke depan. Ternyata dia itu Kak Roesdi. Dari mana dia tahu rumahku. Akhirnya ku tahan hasratku untuk makan lagi. Dan ku awali pembicaraanku dengan Kak Roesdi.
“Kok lu bisa tahu rumah gue sih?” Tanyaku heran sambil menyipitkan mataku.
“Tadi gue enggak sengaja lihat lu sama cowok. Akhirnya gue ikutin. Lagian ini juga searah sama jalan ke rumah gue.”
“Oh gitu. Latihannya kan jam tiga siang. Ini saja baru jam dua.”
“Gue cuma ingin memastikan. Lagian lu kan bisa belajar dulu sama gue sebelum latihan. Jadi lu bisa lebih unggul dari teman-teman lu yang lain.”
“Iya juga sih. Ya sudah aku mau ganti baju dulu.”
“Eh tunggu!”
“Apa lagi sih??”
“Cowok tadi pacar lu??”
“Oh, dia itu sahabat gue. Kenapa sih?”
“Enggak apa-apa cuma pengen tahu aja.”
Dasar anak preman aneh!
Dan akhirnya aku berangkat bareng Kak Roesdi yang menyebalkan itu. Tapi seharian ini aku belajar banyak hal sama dia. Tentang karate, kesederhanaan, semangat dan lain-lain. Sepulang latihan Kak Roesdi mengajakku jalan-jalan sebentar ke tempat favoritnya yaitu taman dekat rumahnya.
“Kak Ros namanya kok jadul banget sih?”
“Memangnya kenapa? Lu panggil gue gimana tadi? Kak Ros? Emangnya gue kakaknya Upin Ipin?”
“Biar lebih mudah saja, Kak. Namanya bagus sih, tapi kok penulisannya jadul banget Roesdi.” Kataku sambil tertawa.
“Gue senang kok punya nama itu.”
“Nama lu kan bagus, Roesdi Oktaviano. Kenapa enggak dipanggil Okta aja kan lebih keren?”
“Gue lebih suka dipanggil Roesdi bahkan gue bangga sama nama Roesdi”
“Apa yang perlu dibanggakan orang nama jadul kaya gitu!” kataku pelan.
Tapi aku enggak menyangka ternyata Kak Roedi mendengarnya. Bahkan dia sangat marah padaku. Rin, kenapa sih selalu membuat masalah. Kataku pada diriku sendiri. Baru saja kenal tapi sudah mengecewakan.
“Gue itu sebenarnya paling enggak suka kalau ada orang bahas nama. Gue tahu ujung-ujungnya juga bakalan kaya gini. Sekarang kita pulang saja! Gue sudah enggak mood.” Kata Kak Roesdi dengan nada tinggi. Aku yakin dia pasti marah sekali padaku.
“Enggak gue mau pulang sendiri saja! Lu kan lagi marah, nanti malah ditinggal ditengah jalan lagi.”
“Gue emang lagi marah. Tapi kita tadi berangkat bareng jadi pulang juga bareng. Gue enggak mau dibilang enggak bertanggung jawab. Ngerti!”
“Iya iya.”
Terpaksa aku ikut apa mau dia. sebenarnya apa salah aku sih? Aku kan cuma ngomong yang sebenarnya. Toh aku juga cuma bercanda. Sensitif banget sih ini orang. Enggak asik, enggak bisa diajak bercanda.
Saat makan malam pun aku jadi enggak nafsu makan gara-gara masalah tadi. Kenapa aku jadi kepikiran ya? Masalah itu selalu menghantui aku. Gimana caranya minta maaf? Sepertinya dia memang sudah marah sekali padaku. Kalau si Dedes dan Jeje tahu pasti dia mempermalukanku di depan umum. Dan aku enggak mau itu terjadi. Oh iya, Dedes dan Jeje itu geng yang paling ditakuti sama anak-anak di sekolah. Yang enggak habis pikir mereka itu sama kayak Damarestra dan Rekatama yang selalu mengandalkan harta orang tua. Apalagi Dedes itu suka banget sama Damarestra jadi dia selalu ikut campur urusan Damarestra. Termasuk ikut-ikutan memusuhi aku. Sebenarnya namanya Deswita tapi anak-anak di sekolah memanggilnya Dedes. Jeje juga gitu nama aslinya Jesica. Lebih bagusan nama aslinya dari pada nama tenarnya. Jaman kali ya, nama-nama kayak gitu.
“Kamu kenapa lagi, Nak?” tanya ayah. Lagi-lagi suara ayah mengagetkanku.
“Enggak apa-apa kok, Yah!” jawabku.
Aku berusaha menyembunyikan masalahku pada ayah. Aku enggak mau ayah terlalu mencampuri urusanku bukannya aku enggak suka, tapi aku hanya ingin masalah ini tidak menambah berat beban ayah. Sudah cukup ayah bekerja seharian aku tidak ingin mempersulit ayah lagi.
“Kamu jangan bohong sama Ayah, Ayah kenal kamu bukan cuma satu atau dua hari tapi sejak kamu dalam kandungan Ibumu. Ayolah ceritakan pada Ayah!”
Aku tidak tega melihat ayah memohon-mohon seperti itu. Akhirnya aku menceritakan semua pada ayah.
“Apa aku salah bertanya seperti itu, Yah?” tanyaku.
“Pertanyaanmu enggak salah, hanya saja celetukanmu yang membuatnya sakit hati.”
“Ya, Ayah kan tahu sendiri anakmu ini sering enggak terkontrol.”
“Ya, itulah kekuranganmu. Seharusnya kamu dapat mengontrolnya, kamu kan baru kenal, masa sudah berantem.”
“Dan aku besok harus minta maaf padanya?”
“Itu baru anak Ayah berani mengakui kesalahannya dan mau minta maaf. Ayah salut padamu, Nak.”
Ayah memang benar seharusnya aku dapat mengontrol kekuranganku itu.
Andai saja yang bersamaku saat itu Ray, pasti dia tidak akan marah padaku, dia kan tahu kekuranganku. Kenapa jadi memikirkan Ray, sih.
Oh iya, aku jadi penasaran sama Kak Roesdi. Kenapa ya, dia bisa marah banget sama aku?? Entahlah lebih baik aku tidur sambil menyiapkan mental untuk minta maaf sama Kak Roesdi.
Pagi yang cerah, seperti biasanya aku makan bareng ibu dan ayah. Walaupun makanannya sederhana tapi kebersamaan yang tercipta sangat menyenangkan. Apalagi hal ini belum tentu terjadi pada semua orang. Dan lagi-lagi suara klakson itu mengagetkanku. Ya, siapa lagi kalau bukan Ray.
“Anak itu selalu saja membuatku kesal. Enggak tahu apa lagi makan, bikin orang keselak aja!”
“Lanjutkan saja, biar Ibu yang ke depan menemui Ray. Mungkin dia mau makan bareng kita.”
Aku lanjutkan makan dengan santai. Tiba-tiba ibu ke ruang makan bersama Ray
Apa dia mau makan makanan yang sederhana seperti ini. Aku jamin dia pasti enggak mau.
Dan dugaanku salah dia justru sangat lahap. Enggak nyangka cowok keren seperti dia mau makan makanan sederhana seperti ini.
Dan seperti biasa kami berangkat bareng lagi. Setelah ku amati ternyata Ray enggak seburuk yang aku pikirkan. Justru dia membuktikan bahwa dia benar-benar berubah. Ya, semoga saja bukan hanya hari ini tapi untuk kini dan nanti.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 9 Hujan Di Malam Hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *