• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

(CERPEN) Senandung Gerimis

ByElang

Agu 13, 2021

; Senandung Gerimis
Oleh : Elang
Perempuan itu berselimut rinai, kuyup, menggigil, dan pasi. Seluruh baju hangat miliknya telah dipakaikannya kepada tubuh mungil yang terlelap dalam dada. Didekapnya bayi merah itu semakin erat, seolah-olah akan ada orang yang akan mencuri darinya.
Ia ingat tatapan ketiga orang itu beberapa jam lalu. Kebencian menyala-nyala dari sana, membakar dirinya yang berdiri kaku bak patung. Sepuluh meter dari tempatnya berdiri, tampak rumah megah berlantai empat, berhalaman rumput nan luas, tempat ia tumbuh dan tinggal (dulu) bersama seluruh fasilitas memanjakan.
Tak ada yang tak tersedia. Kecuali satu; kehangatan. Sebab sudah lama ia melarikan diri, terjun bebas dari tiap jendela rumah itu. Namun, siapa peduli? Bila dengan kenyamanan itu masa depan cerah dapat kau genggam? Begitu kata ayahnya selalu—yang sekonyong-konyong kini membuat gelap kedua matanya.
Ia jua mengingat kalimat itu, terngiang-ngiang dalam kepala. Barangkali karena kalimat itu menjadi kalimat terakhir mereka kepadanya (dan sebuah julukan baru) atau itu yang paling menyakitkan? Entah. Ia membungkuk mengambil tas yang telah dilemparkan, seakan-akan ia sedang mencium kaki-kaki mereka, lalu mereka serentak berkata; “dasar pelacur!!”
***
Perutnya tak dapat lagi disembunyikan. Nyata-nyata ia membulat, menunjukkan sebuah pertumbuhan. Malam itu, demi melihat perut si bungsu, ayahnya segera menyusun skenario; pertama-tama dipanggil dan dibulatkan perut istri sang kerabat dengan bantal, lalu diminta mereka untuk tinggal—hingga gumpalan bantal di perut itu menjelma segumpal daging kemerahan—sementara si bungsu diasingkan, jauh, sunyi, sendiri.
Tak ada televisi di sini, tak ada kasur empuk, tak ada penghangat maupun pendingin ruangan, ataupun makanan lezat serta pelayan. Tak ada. Tempat ini berada jauh dari kemegahan kota dan juga dari rumah ayahnya. Sejauh mata menelusuri, hanya ada pohon-pohon tegak mengelilingi, sungai-sungai kecil, padi yang menguning, dan orang-orang yang sedari pagi tak henti-henti menggerakkan tangan mereka di ladang atau sawah.
Seluruh kenyataan ini memukul si bungsu, menambahkan tinggi jeritannya. Ia terisak-isak di balik pintu, memukul-mukul perut buntalnya. Bagi si bungsu itu sumber masalah, merenggut semua darinya. Terus-menurus Ia begitu, hingga Ia terlelap berlumur air mata.
***
Pada malam yang terlelap, besi jembatan tua itu mengerang. Sepasang kaki ramping berpijak di atasnya, telanjang dari mulai lutut hingga tapak kaki, bergemetar digoda angin malam. Tak ada teriakkan yang meminta perempuan itu turun, sebab malam sudah terlalu lelap dalam tidurnya.
Rasa jijik menjalar saat Ia melihat perutnya—yang sekonyong-konyong turut membangunkan ingatan akan masa yang telah lepas tujuh bulan lalu. Gemuruh petir memenuhi telinga dan cahaya remang samar-samar tergambar di bola matanya.
“Pergi!!” Teriak si bungsu sambil melemparkan tas punggung yang dengan mudah ditepis oleh seorang lelaki di hadapan.
Cahaya remang dari lampu jalan itu tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mampu menyoroti ketiga pemuda telanjang, yang tengah mengerubungi seorang perempuan di sana, yang memeluk tubuh sendiri.
“Pergi!!” Lebih kencang suara si bungsu. Namun gemuruh petir menelan teriakkan itu bulat-bulat.
Lepas menit berlalu, si bungsu tak berkutik. Rasa sakit yang semula hanya dirasakan tubuhnya kini menjalar hingga nuraninya.
Mengapa? Lirih si bungsu—tanya atas dua masalahnya.
Ia menggeleng, menghapus bayangan lalu, dan mulai menghitung. Dalam hitungan ketiga si bungsu akan melompat, menyerahkan diri serta bayi dalam perutnya kepada air di bawah, deras, menggulung-gulung.
Namun…
Kini si bungsu jatuh cinta, disaat tangis pertama bayi itu menggema. Seperti bayi itu yang jatuh cinta kepada senandung gerimis si bungsu—yang disenandungkannya di tengah-tengah kebisingan dan lenguhan hewan—di malam pasi itu.
(2020)
Jejak Pasi : 2016 lalu seorang gadis berusia 14 tahun diperkosa dan terusir dari tempat tinggalnya. Sehingga Ia harus tinggal di sebuah kandang ternak milih salah satu warga—kisah ini terinpirasi dari gadis itu—semoga bisa dipetik pelajarannya.

Elang (3)

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Melihatmu Saja Membuatku Bahagia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *