• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Bab 5 Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 5 Maafkan

Sekarang yang membuatku masih bingung bagaimana caranya aku minta maaf pada Kak Roesdi. Apalagi semenjak Kak Roesdi marah padaku kelompok karateku tidak pernah diajarnya. Jadi kami ketinggalan banyak pelajaran. Ini semua memang salahku, dan aku harus bertanggung jawab atas semua ini. Dan lagi-lagi si Choco hadir diwaktu yang tidak tepat. Bahkan dia membuyarkan semua lamunanku.
“Hei!!” teriak Choco.
“Lu kenapa sih? Kok murung terus? Ada masalah, ya? Cerita dong?” tanya Choco berturut-turut.
Itulah Choco. Kalau sudah tahu temannya lagi murung, pasti pertanyaannya berturut-turut. Bukannya membantu menyelesaikan masalah tapi justru membuat bingung. Mana yang harus ku jawab terlebih dahulu.
“Lu memang enggak berubah, ya! Bisa enggak sih kalau Tanya satu-satu!”
“ Iya iya, maaf! Lu kenapa? Ada masalah?”
“Aku lagi marahan sama Kak Roesdi.”
“OMG, no no no no. Kok bisa? Cerita dong?”
Akhirnya aku ceritakan semuanya pada Choco, dari awal sampai akhir. Bahkan aku yakin tidak ada kejadian yang tertinggal sedikit pun walau hanya seujung kuku.
“Pantas saja Kak Roesdi marah sama kamu. Asal kamu tahu aja,ya! Nama Roesdi itu diambil dari nama ayahnya yang meninggal saat Kak Roesdi dilahirkan. Setahu aku sih, waktu itu Ayah Kak Roesdi dalam perjalanan menuju rumah sakit. Karena Ayah Kak Roesdi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba ada motor dari depan. Ayah Kak Roesdi berusaha menghindari motor itu dan akhirnya malah mobil Ayah Kak Roesdi menabrak pohon di pinggir jalan. Singkat cerita, Ibu Kak Roesdi melahirkan di dalam mobil saat mobil sudah menabrak pohon.” Cerita Choco panjang lebar.
“Lalu bagaimana keadaan Ayah dan Ibu Kak Roesdi?” tanyaku penasaran.
“Ayah Kak Roesdi meninggal di tempat sedangkan ibunya meninggal setelah melahirkan Kak Roesdi. Sejak saat itu Kak Roesdi dirawat neneknya dan diberi nama Roesdi agar nenek Kak Roesdi atau Ibu dari Ayah Kak Roesdi dapat melihat sosok anaknya di diri Kak Roesdi. Setelah mengetahui kejadian itu, setiap orang yang mencela namanya pasti dia marah.”
“Kok Lu enggak pernah cerita, sih?”
“Apa yang harus gue ceritain menurut gue sih enggak penting lu tahu semuanya, lagian kan gue enggak tahu kalau jadinya kayak gini.”
“Oh ya, kok lu tahu banget seluk beluk hidupnya Kak Roesdi?? Jangan-jangan lu…” belum selesai aku berbicara, tiba-tiba saja Chocho memotong pembicaraanku.
“Gue itu tetangganya Kak Roesdi, ya walaupun enggak dekat-dekat amat.”
Dan ternyata si Choco itu tetangganya Kak Roesdi bahkan orang tua mereka sudah saling kenal dari dulu. Pantas saja dia tahu segalanya tentang Kak Roesdi.
Setelah itu aku mengirim SMS untuk Kak Roesdi.
“Aku mau ketemu sama kakak. Ada yang perlu kita bicarakan. Ini sangat penting. Aku harap kakak mau menemuiku di tamandekat rumah kakak jam 4 sore. Setelah latihan.”
Saat aku menuju tempat latihan ku lihat Jeje dan Dedes sedang berbicara serius dengan teman sekelompokku. Pasti dia membuat ulah lagi. Tanpa berpikir panjang aku segera pergi mendatangi mereka. Tiba-tiba salah satu teman sekelompokku mengeluarkan celetuk yang tidak menyenangkan.
“Oh jadi ini orang yang menyebabkan Kak Roesdi enggak mau melatih kita lagi.”
“Maksudnya apa? Gueaja baru sampai tapi sudah dituduh macam-macam.”
“Sudah deh enggak perlu berlagak polos, kami sudah tahu semuanya.”
Apa benar mereka tahu semuanya? Tapi dari mana mereka tahu semuanya? Apa dari Jeje dan Dedes? Entahlah pertanyaan itu enggak penting. Yang penting sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mengakuinya? Mungkin ini memang saatnya untuk mengaku lagi pula aku juga harus bertanggu jawaab atas perbuatanku itu.
“Duh duh, senang banget lihat satu kelompok pada berantem!” kata Dedes.
“Iya nih, apalagi yang mancing masalah itu si culun. Bakal seru nih.” Kata Jeje.
Belum selesai mereka memaki-maki aku, tiba-tiba saja Damarestra dan Rekatama datang bahkan mereka ikut memojokkan aku.
“Ada apa sih rame banget?” Tanya Rekatama.
“Ini nih anak baru sekolah cuma modal beasiswa aja sudah belagu!” jawab Dedes.
“Eh gue bilang ya sama lu, sekolah modal beasiswa aja sudah mau mancing masalah!” lanjut Jeje.
“Ya yang penting enggak cari-cari masalah sama gue.”
“Mending kita pergi dari sini, kayaknya sudah muak banget nih, lama-lama di sini.”
Ya, kalau mau pergi, pergi saja kenapa harus pamit? Toh enggak ada yang mau menahan kalian. Kataku dalam hati. Ku kumpulkan keberanianku untuk mengatakan semua yang telah terjadi. Mungkin ini memang saat yang tepat.
“Jadi sebenarnya…” belum sempat aku meneruskan perkataanku tiba-tiba salah satu dari mereka menyelaku.
“Sudah santai saja! Kami tahu kok, lu enggak melakukan itu. Lagi pula itu tadi cuma akting kami saja.”
“Gimana akting kita? Baguskan?”
“Santai saja kami enggak akan percaya kok sama mereka. Kamu tahu sendiri kan, mereka itu suka menindas. Makanya kita akting.”
“Untung saja kami anak ekskul teater, jadi kalau buat akting itu masalah kecil.”
“Oh iya Ra, kamu kan dekat sama Kak Roesdi, kamu bilang ke dia dong. Suruh melatih kita lagi, kita sudah ketinggalan banyak, nih!”
“Iya nanti kalau ketemu pasti aku sampaikan. Akucabut dulu, ya! Ada urusan penting.”
Lagi-lagi Kak Roesdi enggak datang untuk mengajari ku dan teman-teman sekelompokku latihan. Begitu marahkah dia sama aku? Sampai-sampai mengorbankan tanggung jawabnya hanya karena masalah itu.
Jam tangan yang ku pakai menunjukkan pukul 16.00, segera ku kayuh sepedaku dengan kecepatan yang menurutku tinggi. Aku tak ingin Kak Roesdi menungguku, nanti bukan masalah yang selesai justru tambah rumit masalahnya. Akhirnya sampai juga. Setelah beberapa menit aku mengelilingi taman ini, aku sama sekali tidak melihat Kak Roesdi. Apa dia tidak akan datang?? Entahlah lebih baik aku tunggu dia di tempat saat aku bertengkar dengan Kak Roesdi.
Cuaca memang tidak bersahabat. Buktinya langit berwarna gelap,kilat mulai menyambar-nyambar bahkan mendung mengusir matahari yang bersinar. Tak lama kemudian air hujan perlahan mulai turun. Ku putuskan untuk berteduh di pohon ekat tempatku berdiri tadi. Hampir satu jama ku menunggu tapi batang hidung Kak Roesdi masih saja belum terlihat. Tiba-tiba ada tangan yang menepukku dari belakang. Aduh siapa, ya? Apa aku harus menengok ke belakang? Enggak!! Aku enggak mau. Aduh, rasanya tubuhku sudah membeku bahkan menggerakkan kepalaku saja aku tak mampu. Sebenarnya bukan enggak mampu sih, cuma takut saja. Ya, kalau yang di belakang aku itu orang kalau bukan. Aduh, kenapa jadi mikir yang aneh-aneh sih. Enggak ada orang lewat lagi. Akhirnya dengan terpaksa dan penuh rasa penasaran aku memberanikan diri untuk menengok ke belakang.
“Haaaa…” teriakku sangat kencang
Dan tangan yang tadi menepuk pundakku, pindah ke mulutku dan membungkamku.
“Jangan teriak gitu dong! Nanti disangka guengapa-ngapain lu lagi.”
Aduh, aku masih enggak percaya ternyata tadi itu tangan Kak Roesdi. Akhirnyaa dia datang juga, setelah satu jam aku menunggu dan enggak sia-sia.
“Oh ya, kamu mau ngomong apa? Katanya penting?”
“Mau minta maaf, Kak!”
“Minta maaf buat apa?”
Ini orang lupa apa pura pura lupa sih? Jadi bingung aku.
“Masalah yang waktu itu, Kak.”
“Oh masalah nama? Sudah lupakan saja! Sudah gue maafin kok.”
“Beberapahari inihidup gueenggak tenang, Kak. Gara-gara masalah itu, gue jadi kepikiran terus.”
“Gue memang seperti itu! Terlalu sensitif kalau bahas soal nama.”
“Iya Kak.”
“Jadi ini yang dibilang penting?? Oh ya, yang harusnya minta maaf itu harusnya gue.Kita aja baru kenal, eh sudah berani marah-marah.Gue yakin orang tua lu pasti enggak pernah marah sampai segitunya.”
“Sudah enggak perlu bahas yang lalu. Oh ya, sekarang kita baikkan dong?”
“Iya cewek jadi-jadian.”
Aku dan Kak Roesdi salingmengaitkan jari kelingking kita sebagai tanda kalau kita sudah damai.
“Oh ya, jadi guesudah bisa panggil Kak Ros lagi, kan?”
“Kok Kak Ros, sih?”
“Enggak apa-apa kan bagus. Lu saja panggil aku cewek jadi-jadian.”
“Iya deh iya.”
Kami pun tertawa bersama.
“Oh iya, akhir-akhir ini lu kok enggak latihan karate lagi sih?”
“Sorry gue lagu fokus sama nenek yang sedang sakit.”
“Iya enggak apa-apa kok. Tapi yang harus lu ingat, lu itu punya tanggung jawab buat latihan karateapalagi lu itu senior jadi harus memberi contoh yang baik.Gue tahu lu sayang banget sama nenek soalnya dari kecil lu dirawat sama beliau.”
“Iya. Kali ini emang gue yang salah. gue terlalu mementingkan urusan pribadi. Tapi lu tenang saja besok gue sudah mulai latihanlagi kok.”
“Oh ya kok lu tahu sih, kalau dari kecil gue dirawat sama nenek.”
“Gue tahu dari si Chocho, dia yang cerita semua hal tentang lu.”
“Chocho??Yang mana sih anaknya??”
“Hahh??Lu enggak tahu?? Padahal dia itu tetangga lu.”
“Ya maklumlah gue jarang di rumah, sekali di rumah cuma istirahat sama jaga nenek.”
Ya, jadi aku kasih tahu deh Chocho itu yang mana.Temanku satu ini memang jarang banget di rumah.Dia selalu sibuk dengan kegiatannya entah itu organisasi, karate, dan lain-lain.
Akhirnya misiku berhasil juga. Ternyata enggak sesulit yang aku bayangkan. Enggak seperti menyatukan Vivi dan Gigi, kalau itu butuh pengorbanan. Kok jadi ingat mereka, ya. Apa kabar mereka di rumah barunya? Jadi kangen, kapan ya bisa ketemu sama mereka? Jadi enggak selera makan. Padahal biasanya kalau aku lihat makanan ibu pasti langsung ku lahap. Tapi kali ini rasanya makanan ibu enggak menarik. Entah ibu salah memasak atau memang aku yang enggak nafsu makan. Kali ini nasi dan lauk yang dihadapanku hanya ku aduk-aduk dan pananganku kosong memikirkan keadaan dua sahabatku.
“Kamu kenapa lagi sih, nak? Masalah kamu sama Roesdi?”
“Enggak apa-apakok, Bu.”
“Sudah ceritakan saja! Anak Ibu ini memang enggak bakat bohong.”
“Iya iya. Aku lagi kangen sama Gigi dan Vivi, rasanya pengin panggil mereka cumi lagi.”
“Nak, mereka telah memiliki kehidupan baru. Ibu yakin mereka pasti bahagia dan mendapatkan sahabat-sahabat yang menyayangi mereka.”
“Kalau ingat mereka nafsu makanku jadi menurun.”
“Jangan gitu dong! Kalau mereka ada di sini pasti mereka sedih lihat kamu enggak mau makan gara-gara memikirkan mereka. Ibu tahu kalian sudah lama menjalin persahabatan dan ikatan batin kalian itu sangat kuat layaknya saudara kandung, kamu harus ingat itu! Kalau yang satu kesakitan pasti yang lain juga merasakan. Seperti sekarang kalau kamu terus seperti ini pasti mereka juga merasakan. Apa kamu mau hanya gara-gara kamu mereka jadi kepikiran terus?”
Ibu memang benar, kami ini kan bersahabat sudah lama bahkan memiliki ikatan batin yang kuat. Terbukti saat Gigi sakit, aku dan Vivi merasakan hal yang sama. Ya, walaupun enggak separah Gigi sih. Tapi itulah kelebihan kami.
“Kalau kamu enggak mau makan entar nasinya nangis, lo!” kata ibu sambil tersenyum.
“Apaan sih, Bu! Emangnya aku masih kecil.”
“Kalau kamu enggak makan berarti kamu enggak menghargai Ayah dong! Ayah sudah berjuang agar semua kebutuhan kamu terpenuhi. Ayah kuras tenaga dari pagi sampai malam hanya untuk Ibu dan anak Ayah tercinta. Masak sampai rumah kamu enggak makan?” kata ayah panjang lebar.
“Iya aku makan. Aku tahu kok kalau Ayah sayang sama aku dan aku juga sayang sma Ayah.”
“Oh sayangnya cuma sama Ayah, Ibu enggak nih?”
“Sama Ayah dan Ibu dong.”
Kali ini aku memang enggak canggung mengatakan kalau aku sayang sama ayah dan ibu. Apalagi setelah mendengar cerita hidupnya Kak Ros, dia kan belum sempat mengatakan kalau dia sayang sama oarang tuanya eh malah orang tuanya meninggal terlebih dahulu. Oh iya, Kak Ros juga pernah bilang katanya dia pengin sekali mengatakan kalau dia sayang sama orang tuanya. Ya, kalau memang sayang sama orang tua apalagi yang sudah meninggal hausnya didoakan setiap hari. Aku enggak mau menyesal kayak Kak Ros. Kita kan enggak tahu kapan malaikat Izroil mencabut nyawa kita dan orang-orang yang kita sayang. Selama mereka masih ada, selalu buat mereka bangga dan bahagia.
“Kalau sama Ray, sayang enggak?”
“Uuhhuukk.. uuhhuukk.. Ibu apaan sih? Kan cuma sahabat.”
Itu kan setiap ada kata Ray aku selalu keselak. Huuhh, menyebalkan.
“Kalau lebih juga enggak apa-apa kok. Ibu dan Ayah justru mendukung. Apalagi akhir-akhir ini kalian semakin dekat. Ada kemungkinan dong kalau lebih dari sekedar sahabat.”
“Apaan sih Bu, aku itu masih pengin fokus ke sekolah dulu, enggak mau mikirin masalah yang itu dulu ah!”
“Tapi kamu harus ingat ayah dan ibu tidak melarang kamu untuk pacaran asal kamu harus bisa menjaga diri.”Kata Ayah.
“Jadi kalau tiba-tiba Ray nembak gimana??Bakal punya pacar dekat dong, kayak lagu tuh pacar lia langkah.”
Perkataan ibu jadi membuat aku salah tingkah. Kalau sudah kepepet begini hanya satu yang harus dilakukan yaitu kabur.
“Ayah, Ibu aku sudah kenyang, mautidur ngantuk banget.”
“Bilang saja kalau kamu mau kabur!”
Memang benar ikatan batin antara ibu dan anak itu enggak ada tandingannya. Buktinya ibu tahu isi hatiku. Aku hanya menoleh ke belakang, melihat ibu dan ayah sambil tersenyum hingga lesung pipitku terlihat.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 9 Hujan Di Malam Hari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *