• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Tradisi Satu Suro, Bebersih!

ByMasSam

Agu 12, 2021

Sasi Suro. Begitu orang Jawa menyebut bulan Muharram. Bulan pertama menurut pengggalan tahun Hijriyah.

Menurut para sesepuh. Bulan Suro itu gawat (baca: istimewa). Hal ini tentu mengacu kepada sejarah. Bahwasanya banyak peristiwa besar yang dialami oleh para nabi. Khususnya Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah.

Saking gawatnya bulan Suro maka para sesepuh mewanti-wanti. Tidak boleh menyelenggarakan suatu kegiatan penting dalam kehidupan pada bulan Suro. Misalnya mengadakan pernikahan atau membangun rumah tinggal. Apabila melanggar wewaler akan tertimpa bencana.

Itulah sebabnya dalam menyambut bulan Suro. Masyarakat Jawa senantiasa melakukan ritual tertentu. Sebuah tradisi turun temurun yang sudah beelangsung ratusan tahun.

Tradisi menyambut satu Suro ini biasanya diawali pada tengah malam. Bagi orang kebanyakan biasanya dilakukan dengan cara lek-lekan, begadang semalam suntuk.
Ada pula yang mwlakukan ‘topo mbisu’ (puasa bicara) dengan mengelilingi tembok kraton. Yang lain bagi para kasepuhan melakukan ‘kungkum’ (berendam, mandi di sungai).

Esok harinya melakukan ‘jamasan wesi aji’. Mencuci benda-benda pusaka seperti keris, tombak dan sebagainya. Orang yang boleh melakukan pencucian benda-benda pusaka hanya orang-orang tertentu saja. Tidak sembarang orang.

Diawali dengan membakar dupa dan merapal doa-doa. Benda-benda pusaka tersebut kemudian dimandikan dengan air kembang. Terakhir biolesi dengan air jeruk nipis (untuk yang ini tentu dimaksudkan agar wesi akai tidak karatan).

Makna di Balik Tradisi
Ritual ini tentu bukan tanpa maksud. Ada makna di balik ritual yang dilakukan oleh orang-orang tua tersebut.

Kalau kita tarik benang merahnya. Dari topo mbisu, kungkum sampai jamasan wesi aji. Pada prinsipnya adalah bebersih. Menyucikan diri.

Ketika manusia dihadapkan pada situasi sulit dan gawat. Hanya kesucian dirilah yang dapat menyelamatkannya. Jadi pesan moralnya adalah untuk senantiasa ‘hidup bersih’. Jika fisik dan jiwanya sudah bersih maka akan dengan tenang menjalani kehidupan 12 bulan mendatang.

BACA JUGA :   AKU BERPIKIR MENGAPA AKU HARUS BERPIKIR

Ini tentu relevan dengan yang sudah saya tulis kemarin. Pandemi covid-19 secara implisit mengirim pesan kepada manusia untuk selalu hidup bersih.

Semoga.

MasSam (46)

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *