• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Tentang Konflik: Sudahi Saja Lempar-Lemparan Api

Culturecolectiva.com

Manusia tidak pernah jauh dari bara. Ketika menyebar, panas bara itu akan membakar dan meledak. Kadang kita tidak betah. Dengan membahayakan yang lain, imaji sedikit membayang jika panas akan perlahan memudar. Bagiku tidak selalu begitu. Tidak ada api yang bisa diredakan dengan api. Memang tidak bisa. Dunia terlalu aneh untuk membenarkan kedangkalan semacam itu. 

Balas dendam adalah satu hal yang hendak kubicarakan. Aku tidak sedang mencoba secara khusus bersentuhan dengan aras perasaan yang cedera dalam relasi dengan pasangan atau pun teman. Aku mencoba untuk membahas pada level yang lebih umum, lebih luas, dan sedikit elementer. Tentang pengabaian, penghiantanan, kekerasan fisik (physical harm), tentang persoalan hidup. 

Pertanyaan awal, apakah balas dendam benar-benar bisa untuk dimalkumi? 

Ketika menyangkut kebebasan diri dan komunitas, konflik yang tinggi sampai langkah fisik sering terjadi. Tidak jarang, muncul perasaan ingin memberi sakit melebihi apa yang sudah kita terima. Hal itu tidak jarang terjadi. Ia mengalir tanpa ragu dan peduli pada  konsekuensi apa yang akan menunggu di depan sana. 

Kisah nyawa yang melayang oleh saudara, perang antar dusun. Konflik horizontal atas nama ras dan budaya. Balas membalas perasaan sakit dengan sakit yang lain. Belum lagi anak-anak muda yang beradu fisik atas spirit  perkawananan, liga tarkam, pencuri yang dikeroyok massa, bahkan keanehan santet-menyantet yang kabarnya masih berlangsung hingga sekarang. Sebuah kebiasaan yang terlihat lumrah, nan darurat arti kemanusiaan.

Sepertinya, balas dendam memang sudah menjadi teman dekat kita selama ini. Saking dekatnya, diri akan merasa sepi tanpa kepelikan balas membalas. Mengherankan, namun sekali lagi begitu wajar terjadi.

Tapi aku masih percaya, segala akan bias jika dipukul rata. Aku percaya, dunia masih layak menjadi taman indah untuk kita bisa berbagi rasa, tawa, dan ceria. Tentu saja dengan balas dendam sebagai unsur yang tidak akah lenyap dari dunia, perwujudan itu bukan tidak mungkin. Taman yang hanya bisa dikreasi, yang dalam penggalan lirik Bon Jovi, Always disebutkan, “We can pack up our old dreams, and our old lives, We’ll find a place, where the sun still shines.

BACA JUGA :   Merefleksikan Rasa Takut dalam Bingkai Stoa

Lalu, jika tidak balas dendam, bagaimana cara terbaik untuk menanggapi? Aku pun  juga masih bingung menemukan solusi ideal. Kurasa, persoalan dan pengalaman individu terlalu dinamis untuk diselaraskan dalam satu ide saja.

Jika dikembalikan padaku, langkahku biasanya adalah dengan mengabaikan. Pergi begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Tanda kebodohan dan kemalasanku untuk berkehendak dengan bijak. Dan, nampaknya, mengabaikan memang bukan solusi terbaik. Bisa saja, kehendaak lain merasa tersayat dengan pengabaian itu dan bersedih, dengan perasaan ingin membalas yang tak tersampaikan. Bisa saja, kemungkinan bisa sangat luas. 

Sudah kukatakan jika aku tidak jarang berada dalam situasi pengabaikan ini. Kebodohanku yang lain. Padahal, menyelesaikan masalah dengan mencoba membangun diskusi akan jauh lebih berarti dalam membangun kerangka makna.

Oh ya, berbicara fenomena balas-membalas ini didasari oleh salah satu  hasrat, amarah. Hasrat dangkal yang menguasai ketidakpastian atas diri. Yang lagi-lagi, terdapat jeratan oleh rantai kuat yang sedang menjerat, mengekang, dan menkonsumsi kedirian. 

Berdamai dengan Amarah

Of what use is anger, when the same end can be arrived at by reason? Do you suppose that a hunter is angry with the beast he kills?” – Seneca

Amarah (anger) adalah aspek yang sifatnya natural. Biasanya diukur dari tempramen yang kian meningkat, bahkan memuncak. Rasa marah adalah ekspresi yang lahir karena ketiadaan daya mensiasati ekspresi yang lain. Ia bisa dikatakan sebagai self-defence (pertahanan diri), demi membuka kemungkinan alternative atas suatu tujuan.

Menurut Seneca, apapun motif dibalik amarah, tetap tidak bisa dibenarkan. Dengan kata lain, “anger is a form of madness.” Semakin jauh tempramen diberikan keleluasaan untuk mencuat, hanya rasa sakit, derita, destruksi, tangis, dst., yang akan lahir di tengah-tengah kehadiran.

BACA JUGA :   Pria Harus Paham Makna Dari bahasa Wanita.

Semakin jauh hasrat dangkal itu menajam, maka akan semakin tenggelam hasrat sejati di dalam dasar yang jauh di dalam diri. lalu, kesedihan akan turun dari determinasi dangkal, dari kebutaan atas rasa yang kian mengeras.

Ada sebuah kisah menarik dari Budhisme, ‘a young man with a temper’, sebut saja begitu. Mengisahkan tentang seorang anak dengan sikap temperamental. Ayahnya lalu memberikan ia sebuah palu dan begitu banyak paku.  Ayahnya menyampaikan, bahwa, ketika si anak marah, cukup menancapkan paku dengan palu.

Di hari pertama, si anak menancapkan sampai sekitar 30 buah paku. Di hari lain, jumlah paku yang ditancapkan berkurang. Jumlah itu menurun di hari-hari yang lain, sampai tidak ada lagi paku yang ditancapkan.

Lalu, si Ayah menyampaikan kembali untuk mencabut setiap paku jika ia berhasil menekan amarahnya. Si Anak tentu menuruti perkataan Ayahnya. Sampai kemudian Ayah meminta si Anak melihat paku yang berhasil dicabut tersebut dan memperlihatkan lubang yang menetap akibat paku yang tertancap dalam.

Si Ayah hendak menunjukan tentang luka dan arti. Sebuah lubang yang berbekas secara permanen. Tak peduli seberapa banyak permintaan maaf dikehendai. Luka akan terus terasa, lalu menetap dan berbekas.

kesimpulan

Balas dendam dan amarah adalah salah satu kemungkinan saja dalam keseharian manusia. Begitu banyak kemungkinan kompleks yang mendasari balas dendam. Aku tidak akan memberikan solusi apapun. Sekali lagi, apa yang kualami pasti berbeda dengan dirimu. Kalau pun boleh sedikit berpendapat, berbicara dan bersepakat adalah syarat terbaik untuk mereduksi kemungkinan-kemungkinan nirmanusiawi yang akan terjadi, baik dengan diri dan kehendak yang lain.

Yogi Timor (9)

Menulis untuk Bertahan Hidup

Bagikan Yok!

Yogi Timor

Menulis untuk Bertahan Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *