• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

KLB Gizi Buruk Di Selatan Papua,Apakah Sudah di Tangani Secara Baik?

ByPaskalis

Agu 12, 2021

Jayapura, Papua- (12/8). Kejadian Luar Biasa (KLB) Kasus Kematian 61 Anak bahkan mungkin bisa lebih di Kampung Agats Kabupaten Asmat disebabkan Gizi Buruk.

Apakah persoalan ini sudah di tanggulangi secara baik oleh Pemerintah daerah?

Sebelumnya, media massa koran Kompas mengangkat ulasan dengan tajuk utama isu gizi buruk di Asmat, Papua.

Media terbesar Indonesia itu berhasil mempublikasikan berita, dan membuat mata tertuju ke Papua.

Dengan sigapnya pemerintah membentuk satuan tugas (Satgas) untuk mengunjungi dan melakukan pelayanan di daerah selatan Papua.

Dari berbagai informasi, rupahnya kasus Gizi buruk bukan hanya melanda distrik Agats, Asmat saja.

Tetapi juga hampir sebagian besar di daerah selatan Papua.

Seperti yang di kutib media lokal (Jubi.Com) yang disampaikan oleh aktivis Sosial untuk Suku Korowai Yan Akobiarek saat berada di Asmat, pada 2020 lalu.

Menurut dia, Suku korowai terdapat di Kabupaten Asmat, Yahukimo, Boven Digoel, Merauke, dan lainnya.

Suku ini tergolong Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan cara kehidupannya berpindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat yang lainnya.

Suku Korowai berada di beberapa kabupaten di selatan Papua, sehingga pelayanan kesehatan harus di gencarkan ke beberapa kabupaten.

Daerah Baigon, Mabul, Amakot, Ayak dan sekitarnya terdapat banyak masyarakat mengalami hal yang sama.

Teapi tidak begitu populer dan mendunia maka kita semua tidak mengetahui kematian yang terjadi di sana.

Melihat, anggaran Otonomi khusus (Otsus) pada tahun 2002 hingga 2020, Provinsi Papua dan Papua Barat telah memperoleh dana Otsus hingga mencapai Rp126,99 triliun.

Sejak 2002, dana yang diberikan sebesar Rp1,38 triliun dan meningkat setiap tahun hingga pada 2020 menjadi Rp13,05 triliun.

Di tahun 2021 Alokasi Dana Otsus Papua dan Papua Barat sebesar Rp 7,8 triliun.

Dengan pembagian, Provinsi Papua mendapatkan Rp 5,4 triliun dan Papua Barat sebesar Rp 2,3 triliun.

Papua dan Papua Barat juga mendapatkan dana tambahan infrastruktur sebesar Rp 4,3 triliun.

Dibagi ke Papua sebesar Rp 2,6 triliun dan Papua Barat Rp 1,7 triliun.

Otsus Plus bertujuan untuk mensejahterakan orang asli Papua.

Masyarakat Papua ingin keluar dari kemiskinan, memerdekakan Papua dari ancaman kemiskinan, belenggu ketertinggalan, ketakutan, penindasan, disktriminasi.

Proteksi orang asli Papua dari kebodohan dengan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang bermutu dan melakukan pemberdayaan bagi masyarakat.

BACA JUGA :   MIRAS, Menjadi Pemicu Tindakan Kekerasan

Proteksi orang asli Papua dari berbagai penyakit, dengan menyediakan sarana dan prasarana kesehatan yang bermutu.

Melindungi dari berbagai bentuk kekerasan, seperti kekerasan sosial, perang suku dan kekerasan dalam rumah tanggah, serta bentuk kekerasan dari konflik bersenjata.

“Kasus Gizi buruk ini bukan hanya terjadi di Asmat, kampung Agats saja, tetapi juga di tempat lain di wilayah suku Korowai yang berada di beberapa kabupaten di selatan Papua”

Dengan berharap kepada semua pihak untuk peduli terhadap Generasi Papua terutama bagi Suku Korowai.

Yang menjadi Pertanyaannya ?

Apakah pelayanan Kesehatan di wilayah pedalaman sudah membaik?

Puskesmas Pembantu (Pustu) apakah sudah di bangun secara merata?

Dan apakah rumah sakit milik daerah sudah punya tenaga kesehatan yang mempuni?

Kita berharap jangan hanya membangun gedung saja tapi tidak ada Petugas kesehatan.

Kita berharap ada perhatian dan program secara holistik sehingga berbagai kasus penyakit bisa diatasi.

Pekerja Sosial berharap pemeriksaan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada ibu hamil menjadi prioritas.

Pengukuran tinggi dan berat badan, pembagian vit A, dan pemberian PMT untuk Balita gizi kurang dan gizi buruk, pemeriksaan Frambusia serta Syphillis.

Selain itu, perlu melatih para kader lokal untuk pemeriksaan Rapid Diagnosis Test (RDT) Malaria, RDT Frambusia, dan Pengobatan Malaria dan melatih edukasi tentang Filariasis.

Dan rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebelum Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) Filariasis.

Perlu juga pemeriksaan pasien Suspek TB, memeriksa pasien dengan gangguan pendengaran, memeriksa dan mengobati pasien kaki Gajah, dan merujuk kasus Hidrocele.

Apakah pelayanan kesehatan masih berjalan di daerah Danowage, Simburu, dan Afimabul?

Beberapa kasus diatas merupakan penyakit yang sering di derita oleh masyarakat Korowai.

Dan sudah seharusnya pemerintah memberdayakan orang lokal yang berpendidikan sehingga melalui mereka, informasi bisa di sampaikan dengan bahasa daerah setempat kepada masyarakat kampung.

Contoh Kasus Anak Yermias Epam

Saya masih ingat pada kasus Anak Yermias Epam (7) berasal dari suku Korowai, kampung Vakam, Asmat, Papua.

Anak Yermias Epam masih fasih berbahasa daerah, dia tidak tahu bahasa Indonesia.

Waktu pekerja sosial mengunjungi tempat penginapan, nampak anak Yermias Epam sedang bermain kelereng di teras depan rumah penampungan milik pemdah Asmat, di Dok V bawah, kota Jayapura.

BACA JUGA :   Biaya Wisuda Online Mahal. Apakah Pantas ?

Bapak Ayub Epam, relah berkorban dengan biaya pas-pasan dan dengan pakaian di badan, dia harus meninggalkan kampung Vakam, Asmat dan pergi ke Jayapura untuk berobat anak kandungnya Yermias Epam.

Anak Yermias Epam mengalami pembengkakan pada tulang belakang dan kini sudah timbul empat benjolan baru.

Walaupun benjolan tersebut nampak keluar, tetapi dia tidak merasakan sakit atau menjerik kesakitan.

Namun dengan kondisi itu, dia tidak bisa mengangkat tangan ke atas kepala dan juga tidak bisa membungkuk dan tubuhnya itu hanya bisa tegap saja.

Bila malam bengkaknya itu terasa gatal, dan bapaknya harus menggaruk serta mengelus bengkaknya itu hingga merasa nyaman dan barulah dia bisa tidur.

Bapak Ayub Epam menuturkan, anak Yermias mengalami pembengkakan sejak pertengahan tahun 2019 lalu.

Awal pembengkakan hanya satu tempat saja, namun kini pembengkakan kian besar dan timbul benjolan baru menjadi tiga benjolan di sisi kanan dan kiri tulang belakang serta satu benjolan di leher belakang.

Lanjutnya, anaknya itu tidak pernah jatuh, tergelincir saat bermain, atau karena di gigit serangga di kampung.

Bapaknya kaget ketika timbul benjolan aneh mirip batu, barulah dia membawah anaknya untuk berobat di Asmat.

Setelah itu, di rujuk ke RSUD kabupaten Merauke, dan dokter menyarankan untuk segera merujuk lagi anak Yermias ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura.

Kini bapak Ayub dan anak Yermias Epam sedang menjalani pemeriksaan secara intensif mulai dengan foto benjolan, pengambilan darah, di RSUD Dok II Jayapura

Dimasa pademi Covid-19, dan sambil menunggu kondisi fisik anak kembali pulih untuk selanjutnya menjalani operasi.

keluarga ini membutukan uluran tangan para dermawan, untuk memenuhi kebutuhan makan, dan transportasi ke rumah sakit RSUD Dok II Jayapura untuk kontrol dengan dokter.

Pakaian yang di kenahkan pun kurang dan hanya beberapa pasang saja.

Sedangkan anak Yermias sering minta jajan, minta mainan dan kebutuhan pakaian serta lainnya.

Tentu klien membutuhkan pakaian, makanan, nutrisi, permainan, sabun mandi dan cuci serta uang transportasi, dan lainnya.

“Kami dari kampung di rujuk oleh dokter datang untuk berobat, kalau tidak ada masalah (sakit) seperti ini tentu kami tidak mau ke Jayapura, ungkapnya.”

BACA JUGA :   Nietzsche: Berada pada Ketinggian yang Tepat

Bapa Ayub menuturkan lagi, ” di kampung hidup lebih aman dan nyaman tapi kondisi inilah yang harus memaksakan kami ke Jayapura.”

Contoh Kasus Anak Teovani Bisterei

Almarhuma Anak Teovani Bisterei adalah salah satu anak asal suku Korowai, Asmat, Papua.

Dia di rujuk ke Jayapura dengan harapan mendapatkan perawatan yang maksimal.

Almarhum anak Teovani, sejak tanggal (3/8/2018) menjalani pemeriksaan intensif selama dua bulan di RSUD Jayapura, dan pada tanggal (30/9/2018) klien di rujuk ke Surabaya.

Namun dalam Perjalanan, anak Teovani menghembuskan nafas terakhir di bandara udara Makassar.

Selama dua bulan lamanya anak Teovani berada di RSUD Dok II Jayapura.

Padahal kasus anak ini urgen dan harus segera mendapatkan penanganan dari dokter yang lebih kompeten.

Pekerja Sosial yang mendampingi tidak tahu, apa sebabnya begitu lama dia berlamahan mendapatkan perawatan di RSUD Dok II Jayapura.

Apakah karena masalah biaya, atau menunggu beberapa surat rujukan atau karena penyakit anak ini masih tahap observasi oleh dokter di Jayapura.

Contoh Kasus Putin Hatil

Puti Hatil adalah anak lelaki berumur 3 tahun menderita penyakit langkah.

Dia berasal dari daerah terpencil di kampung Afimabul, wilayah Korowai, selatan Papua.

Luka di pipi anak Puti Hatil menjadi semakin buruk karena bakteri menggerogoti pipi membuat sebuah lubang yang besar di pipinya.

Anak Puti Hatil adalah salah satu kisah sukses yang mendapatkan pertolongan dari rumah sakit.

Berawal orangtuanya harus berjuang berjalan kali menempuh jarak yang cukup jauh dari kampung hingga ke distrik Danowage.

Setelah itu, anak Puti Hatil di bantu oleh misionaris diterbangkan ke Jayapura untuk mendapatkan perawatan di RS. Dian Harapan.

Pekerja Sosial berharap setiap keluarga di kampung-kampung terpencil perlu mendapatkan intervensi kritis, konseling keluarga dan perawatan medis.

Dan setiap masyarakat harus mendukung program dengan menerima kedatangan pemerintah.

Perlu juga Adanya perkawinan yang resmi secara catatan sipil dan agama yang diyakini.

Pemberdayaan ekonomi produktif dengan ditunjangan modal usaha, dan melakukan terapi sosial, serta mengkampanyekan isu sosial tertentu.

Paskalis (29)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *