• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Keluarga terkadang Salah dalam Memberikan Contoh bagi Remaja

Sangat sulit dan bahkan mencerminkan kemunafikan, apabila seseorang berusia 45 tahun berkata kepada remaja,
“Do as we say and not we do!”
(Lakukan apa yang kami perintahkan, bukan apa yang kami lakukan).

Bermula dari sebuah curhatan dungu dari remaja muda di media sosial (Facebook) tentang perasaan dan sikap orang tua yang menurutnya berlebihan dalam membatasi untuk bergaul mencari identitas diri.

Pergaulan bebas juga sering dikonotasikan sebagai hal yang negatif seperti narkoba, seks bebas, kehidupan malam, perilaku negatif tentu melanggar norma dan agama.

Sewaktu memasuki usia remaja, anak-anak mulai memiliki pandangan dan pendapat sendiri dan menurut mereka itu paling benar.

Alhasil, tak jarang mereka mulai melawan perintah dan nasihat orang tua.

Remaja putri mengungkapkan betapa tidak bebas, jengkel karena banyak nasehat, teguran yang di berikan Orang tua kepadanya.

Jangan berpacaran dulu, jangan bermalam mingguan, jangan jalan dengan teman lelaki, jangan pulang kemalaman, jangan bermain Facebook, dan berbagai nasehat positif lainnya.

Pokoknya serba jangan, dan jangan, jangan itu lah, jangan inilah, huuuff!!!!

Rupahnya media sosial (Facebook, WA, Twitter) adalah tempat untuk mengungkap curhatan bagi kalayak umat manusia, seperti remaja pelajar ini.

Banyak netizen yang merespon positif dan bercanda namun ada juga yang berkomentar membangun dan memberikan penguatan (nasehat) kepada status milik remaja putri ini.

Di Masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa ini sering kali menimbulkan gesekan dengan orang tua.

Orang tua sering merasa khawatir, ingin dapat berdiskusi, ingin dekat dengan mereka agar dapat memahami apa yang mereka hadapi.

Namun, banyak orang tua merasa sulit mendekati remajanya. Tak jarang orang tua merasa anak-anak mereka malah menutup diri dan menjauh.

Orang tua sangat takut, jangan sampai anak gadis mereka salah dalam melangkah, salah dalam bergaul, dan salah dalam bertindak.

Namun untuk mencari pembenaran, apakah bahasa remaja “Orang tua macam tidak pernah mudah kah?”

Kalimat di atas sebuah kalimat pamungkas untuk menerangkan bahwa ini jaman mereka (remaja muda), dan di jaman orang tua dulu pun pasti mengalami hal yang sama seperti apa yang mereka rasakan sekarang.

“Fall in love”, KT (Ketemuan), first on love, first kiss, sentuan pertama, seveenteen days, cinta monyet, serba mencari jadi diri di masa awal pubertas.

Pergeseran dan perilaku dunia barat menyangkut hubungan seksual mengalami transformasi dahsyat dan merambat ke benua asia, terutama ke Asia Tenggara.

Bagi mayoritas, tradisi menangguhkan hubungan seksual sampai saat pernikahan sudah dianggap kuno. Konsep Keperawanan yang harus di pertahankan sampai saat nikah sudah hanyut di bawah zaman.

Kalau 20 Tahun lalu, remaja jalan bersama dan berkumpul masih menjadi berita biasa, masa kini menjadi realita hidup.

Pergaulan bebas memang memberikan dampak yang besar bagi remaja sehingga sebagai orang tua sudah tentu mengarahkan anak anak mereka untuk bergaul di lingkungan sosial yang dapat di pantai langsung oleh orang tua mereka.

Peran Pemerintah USA Melawan Pergaulan Bebas

Hasil survey US News menerangkan bahwa mayoritas bangsa Amerika menyetujui hidup bersama tanpa nikah sebagai sarana untuk mendapatkan pasangan idaman.

Pada tahun 1960-an sekitar 25 persen pria dan 45 persen wanita masih virgin (belum berhubungan seks) pada usia 19 tahun.

Pada tahun 1989-an yang mempertahankan kesucian di bawah 20 persen, dan trend penurunan angka tersebut terus berlanjut.

Masyarakat Amerika pada umumnya lebih menghargai postur dan pribadi seseorang yang menjaga kesehatan nya melalui diet dan pantang rokok ketimbang yang membatasi hubungan seksual.

Seseorang yang tidak berhubungan seksual pada usia 19 tahun dinilai aneh, sakit, atau homoseksual.

Pada tahun 1960-an, 30 persen muda-mudi usia 18 menyatakan memiliki pasangan.

Sebaliknya masa kini, 30 persen menyatakan memiliki dua sampai empat pasangan intim, 22 persen menyatakan memiliki lima sampai 10 pasangan intim, dan 20 persen menyatakan memiliki 10 pasangan atau lebih.

Bahkan di Amerika pernah mengeluarkan pernyataan mengerikan karena angkah kehamilan remaja meningkat drastis, waktu itu presiden Clinton menyatakan ” the nations most serious social problem”.

Dan juga di bawah pemerintahan Reagen dan Bush dan kongres Amerika membiayai program khusus bernama Abstinence Only (Menahan Diri), yang bertujuan untuk mendidik dan membina siswa untuk menyadari daya guna menahan diri dalam kehidupan seksual.

Bahkan pada tahun 1997-1998, pemerintah USA menyediakan bonus sejumlah 100 juta dolar bagi negara bagian yang membuktikan menurunkan angkah kehamilan di luar pernikahan.

Lalu bagaimana di abad 21 ini, apakah Amerika berhasil menurunkan angkah kehamilan bagi muda mudi?

Realita Pergaulan Bebas :

Lalu bagaimana dengan realita kehidupan remaja di Indonesia, terutama di Indonesia timur.

Apakah budaya ketimuran masih menjadi benteng yang kokoh dalam membendung para remaja putra dan putri?

Apakah orang tua sudah memberikan contoh yang baik kepada buah hati mereka?

Hubungan seksual secara bebas antar remaja hanya dapat diatasi apabila orang tua memberikan contoh yang baik.

Di Indonesia, pemerintah dan agama dan keluarga berperan penting dalam meningkatkan moral bangsa.

Ada kampanye, ” Pakailah Toga dulu baru menikah”. Menikah dan Kawin (seks) jelas berbeda, remaja sekarang kalau tidak kawin (seks) itu tidak cinta bahkan tidak akan sampai ke pelaminan (menikah).

Bagaimana kalau nantinya hamil setelah melakukan hubungan seks?

Terus kalau berhubungan seksual (kawin) jalan terus tanpa alat pengaman (kondom), dan lebih buruk lagi gontak gantik pasangan, bagaimana hasilnya?

Tentu akan berbenturan lagi dengan moral dan nilai keTuhanan dan bisa kenah penyakit menular.

Pekerja sosial kota Jayapura, Papua, beberapa kali merespon kasus bayi yang di buang, dimana ada bayi yang selamat dan ada juga bayi yang tidak selamat.

Dari hasil pendampingan terhadap salah seorang Remaja putri mengungkapkan dia tidak tegah melakukan aborsi sehingga dia harus mengandung 9 bulan.

Namun setelah itu di paksakan oleh pasangan pria nya agar membuang bayi tersebut, kasus bayi meninggal dunia itu di temukan di tempat sampah jalan gelanggang Waena, heram, kota Jayapura.

Belum lagi, Kasus bayi yang di temukan di depan rumah warga di Perumnas III dalam, Waena. Kasus bayi yang di temukan di Yotefa, Abepura, dan tindakan aborsi lainnya yang dilakukan secara diam-diam.

Ini adalah contoh kasus hasil hubungan seksual (kawin kawinan antar remaja) dan tentu melanggar undang-undang.

Aborsi jelas melanggar HAM, dalam KUHP pasal 341. Pada pasal ini disebutkan bahwa seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak di lahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Dampak Media Sosial :

Bagaimana dengan Remaja gadis yang viral di sosial media, Twitter, sedang mempertontot sensualitas nya di depan kamera, dan tentu viral.

Kalayak masyarakat dari berbagai usia sharing di media sosial bahwa ada yang viral.

Jangan munafik semua ingin melihat siapa remaja gadis itu yang viral di media sosial (Twitter).

Body aduhai, buah dada seulai pepaya muda, dan pinggul Gita spanyol, seperti sedang melakukan goyang erotis dan membuat video tanpa busana.

Mungkin bagi masyarakat kita hubungkan seksual bebas belum mencapai tingkat mengerikan dan membutuhkan penanganan khusus Pemerintah.

Tapi tanda-tanda ke arah itu sudah mulai nampak di permukaan, dimana pasangan muda-mudi telah menunjukkan kecenderungan erosi nilai suci hubungan seksual.

Dan lebih memperihatinkan ketika orang tua tidak berdaya atau ikut larut dalam menghadapi nilai-nilai seks bebas.

Seakan-akan nilai tersebut tercermin dalam perilaku sebagian besar muda-mudi merupakan pertanda kemajuan berfikir, ketepatan bertindak, dan simbol modernitas.

Melihat perceraian bagi pasangan yang hidup bersama sebelum menikah meningkat lebih tinggi dari pasangan yang tidak melakukan hal serupa.

Demikian halnya dengan tingkat kasus kekerasan KDRT bagi remaja muda.

Sebenarnya siapa yang dungu? Remaja, atau orang tua, tokoh agama, Pemerintah atau setiap kita sama sama dungu.

Maaf, saya suka pinjam kata dungu dari prof. Rocky Gerung.

Paskalis (38)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *