• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Memilih Hijrah Dari Kebodohan

Tanggal 10 Agustus 2021. Ditandai dengan Tahun baru Islam, 1 Muharram 1443 H.

Hal itu pun disambut penuh suka cita bagi para umat muslim. Karena, makna pentingnya hari Tahun baru Islam, bagi manusia di seluruh dunia.

Tahun baru Islam, merupakan peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam, yaitu memperingati penghijrahan Nabi Muhammad SAW, dari kota Makkah ke Madinah pada 622 M.

Banyak doa-doa baik dan harapan pada pergantian Tahun baru islam ini. Salah satunya berharap agar pandemi ini, lekas berlalu. Kegiatan mengaji pun juga turut dilakukan.

Jika sebelum pandemi mengaji bersama-sama, namun pada moment pandemi kali ini, umat Islam lebih memilih untuk mengaji di rumah masing-masing.

Dari banyaknya doa-doa dan kegiatan mengaji yang dilakukan pada pergantian Tahun baru Islam, ada hakikat penting yang patut kita resapi dalam moment pergantian Tahun baru Islam, yaitu Hijrah dari kebodohan.

Hijrah dari kebodohan, merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup pada jaman Jahilliyah.

Ketika dahulu banyak aturan-aturan adat dari nenek moyang, yang mengikis habis hati nurani, seperti mengubur bayi perempuan hidup-hidup, bahkan perempuan kala itu benar-benar dipandang rendah bagi masyarakat pada jaman Jahilliyah.

Banyak perbudakan yang melanggar norma asusila dan kemanusiaan. Yang membuat keadilan kala itu, adalah hal yang sangat langka sekali.

Jika kejadian-kejadian itu, terjadi pada jaman Jahilliyah, jauh sebelum Rasulullah SAW ada, dan kehadirannya seperti cahaya benderang, yang menyejukkan dikala gelap gulita.

Agama Islam ada untuk memberikan kesejukkan, dari ajaran-ajaran yang mengedepankan saling mengasihi, kemanusiaan, rasionalitas, adil, dan rahmat bagi seluruh alam.

Itulah yang menjadi pengingat bagi kita, tentang tujuan Tahun baru Islam.

BACA JUGA :   Merasa Dirimu Tidaklah Berharga?

Tidak lama ini, penulis banyak menemui berita-berita hoax dan hal-hal lain yang diluar nalar manusia.

Banyaknya berita-berita hoax di kala pandemi saat ini, membuat masyarakat semakin termakan oleh informasi-informasi yang tidak benar, bahkan tak jarang dari mereka yang menyampaikan berita hoax itu, ke orang lainnya. Yang akhirnya membuat kebodohan semakin merajalela di masyarakat.

Contohnya berita tentang mobil ambulance yang sedang berjalan, lalu ditimpuki oleh batu, hingga kaca pada mobil ambulance itu rusak.

Karena masyarakat sudah terlanjur termakan hoax, kalau mobil ambulance itu datang untuk menakuti-nakuti masyarakat. Padahal faktanya, semua mobil ambulance itu di operasikan untuk mengantar pasien yang sakit virus Covid 19.

Hal itu, dikarenakan adanya berita hoax yang dikonsumsi oleh masyarakat dan ditelan mentah-mentah, hingga terbawa menjadi perilaku yang akhirnya merugikan banyak pihak.

Ada banyak fakta dari berita-berita hoax yang bertebaran di luaran sana, bahkan sosial media pun menjadi sasaran paling empuk untuk menyebarkan berita hoax, dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Itulah contoh dari kebodohan yang terjadi pada masa kini.
Di masa pandemi ini, salah satu bentuk hijrah dari kebodohan adalah menyaring segala bentuk informasi yang diterima, sebelum benar-benar dikonsumsi, apalagi disebarluaskan.

Hijrah dari kebodohan, bukan lah hal yang memalukan. Justru penulis pun menyadari ada banyaknya kekurangan selama ini, sebagai manusia yang memahami hakikatnya sebagai makhluk yang berakal.

Ketika menjumpai kekurangan, penulis memilih untuk hijrah dari kebodohan. Contoh sederhana, seperti terlupa apa yang seharusnya menjadi keharusan, sebabnya karena terlalu banyak menunda.

Yang perlu kita sadari adalah semua manusia memiliki kekurangan, namun yang membedakan adalah yang pertama, manusia yang memilih untuk hijrah/berpindah menjadi lebih baik, atau yang kedua, manusia yang nyaman dengan kebodohannya, kelalaiannya, kesalahannya, hingga menjadikan manusia itu tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk.

BACA JUGA :   Keluh Kesah Sopir Angkutan Umum Selama PPKM

Semoga yang membaca tulisan ini, adalah manusia yang pertama. Dengan akal pikiran yang sudah Allah berikan, menjadi bekal untuk kita, bisa selamat dari bentuk-bentuk kebodohan yang ada.
Terima kasih sudah membaca tulisan memilih hijrah dari kebodohan, apabila ada saran, kritik, atau komentar, saya persilahkan, atau juga bisa DM di Instagram @aidaannisa28.

“Kalau pertimbangan perbuatan manusia adalah suka atau tidak suka, berarti dia masih bayi. Yang tinggi derajatnya adalah ketika dia ikhlas melakukan apa yang memang dibutuhkan untuk manfaat bagi masyarakat banyak, seberat dan setidak enak apapun. Ini merupakan tanda dewasanya manusia.” – Emha Ainun Najib

Aidaannisa28 (26)

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram)
Happy Reading!

Bagikan Yok!

Aidaannisa28

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram) Happy Reading!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *