• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 3 Anak Preman

Bymutiaradee

Agu 10, 2021

Hari berlalu begitu cepat tak terasa sudah dua minggu Gigi dan Vivi meninggalkan aku. Lupakan!! Sekarang aku harus memulai hidup baru. Sudah seminggu terakhir ini aku sekolah di SMA favorit di kotaku. Dan yang masih tak ku sangka aku satu sekolah lagi bahkan satu kelas dengan Rayhan Danuarta sahabatku sejak kecil. Dari TK, SD, SMP , bahkan SMA pun satu sekolahan apa maksudnya ini?? Stop Rin jangan terlaluberharap. Apa? Berharap? Berharap untuk apa? Duh mulai ngaco lagi kan nih otak.
Nasi goreng buatan ibu memang enak sekali. Sampai-sampai aku melahapnya dan tidak tersisa satu butir nasi di piringku. Ibu hanya tersenyum melihat tingkah lakuku seperti ini.
“Kamu memang enggak pernah berubah tetapsaja seperti ini. Padahal dandanan kamu sudah keren kaya gini tapi tetap saja.” Kata ibu.
“Mau dandan secantik apapun, Bu. Kalau sudah makan nasi goreng buatan Ibu semua pasti terlupakan.” Jawabku sambil tersenyum.
“Kamu memang pandai merayu.” Kata ibu.
Ayah hanya tersenyum melihat tingkahku yang masih seperti dulu tidak berubah sama sekali.
Tiiin… Tiiiinn….
Suara klakson motor Ray sudah datang. Setelah Ray dan aku tahu bahwa kita satu sekolah bahkan satu kelas kami memutuskan untuk berangkat dan pulang bersama. Hitung-hitung hemat uang saku. Keadaan seperti inilah yang kadang membuatku semakin bingung. Bagaimana tidak, setiap kali aku berdekatan dengannya jantungku selalu berdesir. Perasaan macam apa ini?
“Ray sudah datang. Yah, Bu, aku berangkat dulu, ya!” kataku sambil berpamitan dan bersalaman pada ayah dan ibu.
Aku pun beranjak keluar menemui Ray dan kami pun berangkat bersama.
Sesampai di sekolah aku dan Ray langsung masuk kelas. Aku pun menyapa si Choco sahabat baruku di sekolah. Ada kejadian lucu saat aku berkenalan dengannya. Jadi ceritanya gini. Waktu itu Choco duduk di sampingku dan mengajakku berkenalan.
“Namaku Chokai. Nama lu siapa?” tanya dia.
Ya, itu yang bikin aku ketawa setiap ingat kejadian itu, namanya Chokai tapi dibacanya Shokai.
“Aku Rin. Oh iya terus gue manggilnya gimana dong?? Masa harus manggil Sho…Sho… kan enggak lucu. Iya enggak sih?” jawabku sambil tertawa.
Enggak nyangka ternyata si Choco enak juga diajak bercanda.
“Iya juga sih. Terus gimana ya?”
“Gimana kalau Choco?? Baguskan?”
“Iya bagus banget dan gue setuju!”
Aku pun memulai pembicaraan. Oh ya, aku juga masih heran namanya kok Chokai, lucu juga sih kaya namanya orang-orang Jepang gitu. Apa mungkin dia punya keturunan Jepang. Tapi kalau dilihat dar wajahnya enggak ada mirip-miripnya sama orang Jepang. Orang Jepang kan matanya sipit, nah dia malah punya mata belo. Duh entahlah. Lupakan Rin!
“Gue boleh tanya sesuatu enggak?” tanyaku
“Boleh mau tanya apa?” jawab Choco.
“Kok nama kamu Chokai?? Aneh banget sih, memang ada keturunan Jepang ya??”
“Hahaha enggak, Mama dan Papa gue asli Indonesia kok.”
“Hahh serius?? Tapi nama lu kok kayak ada keturunan Jepang gitu?”
“Banyak yang bilang gitu sih. Nama Chokai itu nama gabungan dari orang tua gue. Papa gue namanya Choki terus Mama gue namanya Kaira, makanya disingkat Chokai.”
“Oh gitu.” Jawabku singkat.
Hahaha.. aneh banget lagian masih bagusan nama mamanya dari pada nama dia sendiri.
“Rin!!” teriak Choco
“Ada apa sih, Cho??” tanyaku
Duh Rin ok jadi telmi gini sih?
“Jadi dari tadi lu enggak dengerin gue ngomong??”
“Ya maaf!! Memang tadi ngomong apa?”
“Itu lu lihat ke belakang, deh!”
Aku pun melihat ke belakang.
“Ada apa sih, Cho?”
“Jadi lu dari tadi enggak peka?? Dari tadi itu Ray lihatin lu terus. Apa mungkin diam-diam dia naksir sama lu ya!”
“Apaan sih, Cho enggak lucu deh. Lagian juga enggak mungkin lagi. Lu pikir aja? Menariknya dari gue itu darmananya? Sampai-sampai dia suka sama gue.”
“Sekarang lu lihat si Ray pasti dia langsung salting deh!”
Saat aku lihat Ray memang dia lagi salting sih.
Tapi apa mungkin dia memperhatikan aku dari tadi? Ah mungkin saja dia hanya ingin melindungiku seperti yang dia lakukan saat kita masih kecil. Eitss, tunggu melindungi? Tapi ari siapa? Nah kan makin ribet urusannya kalau kayak gini.
Waktu memang cepat berlalu, jam istirahat sudah berbunyi tanda waktunya ke kantin dan menikmati bekal dari ibu. Sejak aku SD sampai sekarang ibu memang selalu membawakan aku bekal. Ya, setidaknya buat hemat biaya toh makanan dari ibu jauh lebih enak dari pada di kantin sekolah. Alasan klasik banget buat hemat uang saku. Aku memang sudah terbiasa makan bekal di kantin sekolah sambil beli air mineral. Maklumlah ada peraturan baru di sekolah, kalau pas jam istirahat semua siswa tidak diperolehkan makan dan minum di kelas. Saat aku makan dengan lahapnya bersama Choco tiba-tiba ada yang datang.
“Masih jaman ya, bawa bekal??” celetuk anak laki-laki di sampingku yang sedang mengangkat salah satu kakinya di atas kursi.
“Ya masih lah, buktinya ada yang bawa bekal!” jawabku lantang.
Semenjak keluar dari SMP aku memang bertekad untuk merubah pribadiku. Yang tadinya tomboi tapi diam kalau ditindas dan sekarang jadi seorang yang feminene tapi enggak suka penindasan.
“Lu berani sama gue?”
“Ya beranilah apa yang harus ditakukan? Toh kita sama-sama makan nasi, kan?”
“Lu enggak tahu siapa gue?”
“Seberapa pentingnya lu? Sampai-sampai semua orang harus tahu siapa lu.”
“Gue itu anak dari Ibu Sinar, donatur terbesar di sini. Kalau cuma ngeluarin lu itu hal yang mudah tinggal bilang sama Mama gue buat nyabut beasiswa anak Mami kayak lu!”
“Dih darimana lukalau gue dapat beasiswa. Stalking ya lu?”
“Percaya diri banget lu!”
“Oh iya soal ancaman lu tadi gue enggak takut tuh! Lagian yang jadi donatur terbesar itu nyokap lu. Terus apa yang mau dibanggakan? Harta orang tua lu? Oh iya, satu lagi lu tadi bilang kalau gue anak mami kan? Sekarang lu pikir siapa yang anak mami? Gue atau lu yang sukanya mengandalkan harta orang tua dan sembunyi di bawah ketiak nyokap lu!” jawabku dengan lantang
“Dasar…” kata anak tadi sambil mengepalkan tangannya seperti mau menonjok.
Dengan keberanianku dan kemuakanku, aku tidak peduli apa yang akan dia lakukan. Rassanya urat takutku dan urat Maluku sudah putus.
Tiba-tiba ada anak laki-laki yang datang, mungkin itu kakak kelas. Terlihat dari tanda pengenal di lengan kanannya. Warna merah.
“Jangan beraninya mukul cewek. Cowok yang berani mukul cewek itu lemah!” kata laki-laki itu sambil menahan kepalan tangan yang tadi hampir mendarat di wajahku.
Akhirnya cowok anak mami itu pergi bersama gengnya.
Baru digertak gitu aja sudah langsung pergi. Dasar pengecut!
“Lu enggak apa-apa?” tanya kakak kelas tadi.
“Enggak apa-apa. Oh ya, lu siapa? Kok abis lihat lu, mereka langsung pergi gitu aja?” tanyaku
“Gue Roesdi.”
“Masalahnya gue enggak tanya nama lu! Lu preman di sini ya?”
“Enggak lah.”
“Tapi kok abis lu datang semuanya pada ketakutan?”
“Nanti lu juga ngerti”
Setelah itu aku bergegas masuk ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi.
Aku dan teman-teman sekelasku menunggu guru masuk. Sudah hampir 45 menit menungggu tetapi masih belum datang juga. Kelas tampak kacau semua anak mengobrol dengan temannya masing-masing. Disaat keramaian menyelimuti kelas aku justru memikirkan perkataan Choco tadi.
Apa benar Ray suka sama aku? Tapi kan enggak mungkin waktu SMP aja dia menjauh masak tiba-tiba dia suka sama aku. Dari kecil kami bersama, menjalin persahabatan, dan enggak ada yang enggak mungkin. Apa mungkin dia suka sama aku?
Lamunanku berhenti begitu saja setelah kaki Choco menendang-nendang kakiku.
“Ada apa sih, Cho?” tanyaku jengkel
“Itu ada anak yang tadi menolong kita di kantin.” Jawab Choco dengan suara yang pelan seperti berbisik.
“Yang mana?”
Choco belum menjawab tapi kami sudah dikagetkan dengan suara seseorang. Ternyata benar itu suara Roesdi, kakak kelas yang tadi menolongku. Tapi mau apa dia ke mari? Apa dia mau balas dendam padaku? Karena aku tadi tidak berterima kasih padanya. Oh tidak!!
“Kalian berdua bisa diam!” kata Kak Roesdi
“Bisa, Kak.” Jawabku dan Choco bersama-sama.
“Itu anak preman ngapain di sini? Mau malak orang?”
“Husst lu sudah ditegur masih aja ngoceh.”
Aku langsung diam setelah mendengar perkataan si Chocho.
Emang gue beo? Pake dibilang ngoceh segala?
Oh iya, si anak preman ngapain ke sini?duh kenapa ge jadi penasaran gini ya!
Ternyata dia hanya mengenalkan ekstra kulikuler karate. Seru juga ya, kalo aku bisa karate. Akhirnya aku putuskan untuk mencatat nomor Kak Roesdi yang ditulisnya di papan tulis.
“Siapa pun yang ingin tahu lebih lanjut informasi tentang ekstra kulikuler karate hubungi saja saya ke nomor ini!” kata Kak Roesdi.
Karena keadaan kelas yang ramai, aku putuskan untuk keluar sejenak untuk menenangkan pikiran. Memang benar sekolah ini sangat nyaman. Semua murid yang sekolah di sini selalu merawat tumbuhan, membuang sampah pada tempatnya, bahkan saat jam istirahat tidak ada yang boleh masuk ke kelas walaupun sekedar makan dan minum. Kayaknya itu sudah disampaikan di atas deh. Hehe maaf. Bangga sekali rasanya bisa sekolah di tempat yang asri seperti ini. Bahkan di depan kelasku ada gubuk. Kok gubuk sih? Ralat, gazebo. Aku duduk di salah satu gazebo sambil melihat asrinya sekolah baruku ini. Disaat aku menikmati indahnya alam sekitar, tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku.
“Hei!” suara itu. Sepertinya aku mengenalnya.
Saat aku lihat ke belakang ternyata Kak Roesdi.
“Ada apa, Kak?” Tanyaku.
“Lu sudah tahu kan siapa gue?”
Ditanya kok balik tanya.
“Belum. Memang Kak Roesdi ini siapa sih? Paling juga si anak preman yang khilaf bantui gue di kantin tadi kan?”
“Jadi gue tadi ngomong panjang lebar di kelas, lu enggak dengar?”
Aku hanya tersenyum. Bair saja aku lagi pengen bermain-main dengannya. Sekali-kali lah jadi orang yang jahil.
“Gue anak karate. Alhamdulillah, sih sudah sering ikut pertandingan dan sebagian besar menang”
“Terus? Sombong nih ceritanya?”
“Bukan sombong tapi berdasarkan fakta.”
“Wah, seru dong sekali-kali ajari gue karate dong, Kak!”
“Lebih baik lu ikut ekstra karate saja.”
“Enggak ah, Kak. Anak-anak ceweknya enggak seru!.”
“Enggak seru gimana?”
“Selalu menindas yang lemah terutama junior.”
“Serius lu?” Tanyanya dengan rautwajah yang kaget.
“Padahal tujuannya ikut karate kan untuk pertahanan diri bukan buat menindas dan segala macamnya.” Lanjutnya.
“Kita kan enggak pernah tahu kapan manusia berubah sedangkan setiap kemungkinan itu pasti ada kan? Ya semuanya sih kembali pada diri sendiri.”
Penjelasanku yang panjang lebar kali ini hanya dibalasnya dengan pandangan tidak percayanya. Aku dapat mengatakan itu karena aku bisa melihat dari matanya. Semua anggota tubuh mungkin memang bisa berbohong bahkan ada yang pandai berbohong, tapi mata? Dia adalah anggota tubuh yang jujur.
“Terkesan gue sama kata-kata lu barusan. Bisa juga anak sejutek lu ngomong sebijak itu.”
“Lupakan saja. Kayaknya gue lagi khilaf.” Kataku sambil emamndang kea rah si anak preman.
Tanpa sengaja keduan mata kami bertemu. Tanpa aku sadari aku mengulum senyum tipis untuknya. Ini kali pertama aku tersenyum pada anak laki-laki selain Ray di sekolah ini. Maklum anak baru.
“Gini saja, deh! Lu ikut karate tapi gue yang pegang. Gimana?”
“Maksudnya pegang gimana sih? gue enggak ngerti.” Jawabku sambil mengerutkan dahiku.
“Maksudnya itu yang mengajar kelompok lu entar gue.”
“Terus mulai latihannya kapan?”
“Nanti bisa kok. Sekitar jam tiga siang.”
“Oke.”

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 11 Penderitaan Belum Berakhir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *