• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

CURAHAN HATI

Bysri muningsih

Agu 10, 2021

TAK SEINDAH YANG AKU BAYANGKAN
Akibat Mulut Iparku

Aku kira setelah menikah, kehidupanku akan jauh lebih baik karena aku menikah dengan orang yang aku sayangi. Tapi ternyata aku salah, meski aku menikah dengan orang yang aku sayangi dan juga menyayangiku, kehidupan pernikahanku tak senyaman dan sebahagia yang aku bayangkan.
Namaku Anne, aku menikah dengan suamiku pada tahun 2019. Awal pernikahanku, semuanya baik baik saja. Baik suamiku maupun keluarganya sangat menyayangiku. Mereka memperlakukanku seperti anak dan saudaranya sendiri. Aku merasa sangat senang pada masa itu.

Tapi kesenangan itu hanya sebentar saja. Hanya beberapa bulan aku merasa bahwa mereka menyayangimu, dan selanjutnya adalah tekanan. Tekanan tentang segala hal, sampai aku hampir depresi. Sebenernya sih, yang membuat aku mulai tak nyaman dengan keluarga suamiku adalah kakaknya, ya kakak iparku. Oh iya, setelah menikah aku dan suamiku tinggal serumah sama orang tuanya. Kenapa aku bilang yang pertama kali membuatku tidak nyaman adalah kakak suamiku, ya karena kakaknya itu selalu mencari cari kesalahan orang. Kakak suamiku ini pintar sekali menggiring opini publik gitu. Jadi yang seharusnya masih menyukaimu, malah tidak suka denganku.

Pada awalnya, aku mengira mereka hanya karena peduli makanya seperti itu. Tapi semakin hari perkataannya sangat menyayat hati. Masih bisa ku tahan, masih bisa aku bertoleransi, namun semakin dibiarkan semakin menjadi. Sampai suatu ketika, dimana aku mulai merasa jenuh dan merasa muak dengan semua banyolan kakak suamiku, aku menceritakan semua keluh kesahku pada suamiku itu. Aku menceritakan segalanya dengan tangis yang tertahan. Suamiku mengatakan bersabarlah, mereka memang seperti itu.

Dengan perkataan suamiku yang seperti itu, aku mulai menenangkan diriku. Aku berpikir ternyata suamiku masih peduli dengan perasaanku. Setelah beberapa lama aku sudah tidak mendengar celoteh dan omongan yang membuat telinga dan hati terasa sakit. Ya seperti sebelumnya, hanya beberapa saat saja. Setelah merasa semua sudah baik baik saja mungkin pikir kakak iparku, ia mulai bertingkah, dengan menegur aku yang saat itu sedang ingin pergi keluar untuk mengambil uang di tabungan atm. Dia mengatakan, bahwa aku harus hati hati. Aku mengiyakannya dengan menganggu kan kepalaku.

BACA JUGA :   Romantis Sekali. Kapan Lagi Seperti Ini?

Namun ketika aku pulang, ia langsung memburuku dengan pertanyaan yang menurutku tak seharusnya di pertanyaan dan menurutku itu juga bukan urusannya. Ia bertanya “berapa suamimu ngirim uang? Berapa yang kau ambil?? Banyak dikirimkan uang?? Kau itu kalau punya uang jangan di habiskan! Jangan belikan yang gak perlu! Elok kau simpan sama ku saja!. Berbagai pertanyaan dan perintah yang sangat tak nyaman menurutku. Seolah dia lah yang seharusnya menerima uang itu. Itu saat suamiku sedang kerja di luar kota. Dan yang membuatku lebih tidak menyangkah adalah di saat suamiku pulang, ia langsung menceritakan hal yang sama sekali tidak aku lakukan.

Aku masih diam, karena aku tidak ingin memicu pertengkaran. Tetap aku tahan semuanya, karena buatku, selagi suamiku masih percaya padaku, aku tidak perlu melakukan apapun. Hingga di suatu saat hari sudah menunjukkan malam, dan anakku ingin tidur akan tetapi suamiku memberikan permen. Aku sudah mengatakan, kalau anakku ingin tidur jangan di beri permen nanti tempat tidurnya banyak semut.

Tapi suamiku tak mendengarkan aku, ia tetap memberikannya. Dan benar saja, permennya di letakkan di tempat tidur, sudahlah karena permen anak gak jadi tidur malah tempat tidur bersemut. Bagaimana aku tidak emosi, malam hari itu sudah waktunya orang istirahat, bukan mengerjakan ulang pekerjaan yang sudah dikerjakan. Aku marahi anakku, dia menangis kuat sekali padahal saat itu aku tidak melakukan apapun sungguh. Lalu di luar suami mertua dan iparku duduk di teras, iparku yang mendengar tangisan anakku berbisik pada suamiku bahwasanya aku memukul anakku, dan suamiku mengatakan tidak kak si adek memang begitu kalau menangis. Tapi dia bersikeras bahwa aku sudah memukul anakku.

BACA JUGA :   Sastra: Makhluk Aneh

Di saat itulah, semua yang aku tahan selama ini meluap. Seolah bom waktu yang saatnya tiba meledak tanpa terkendali dan menyakiti siapa saja yang berada di dekatnya. Ku luapkan segalanya, rasa sakit, dan tertekan yang sudah tertahan.

Aku berteriak sekuat kuatnya, rasa sakit yang menumpuk di hati ini perlahan menghilang. Tidak ku hiraukan perasaan mereka, apakah mereka marah, terluka atau bahkan merasa tidak suka. Karena dalam pikiran ku saat itu hanya meluapkan emosi ku saja. Akibat sudah terlalu lelah untuk di curigai, di fitnah dan di sakiti.

Di saat itulah suamiku sadar bahwasannya aku sudah sangat tertekan. Aku yang sudah sangat marah, setelah meluapkan segalanya langsung lari masuk kedalam dan mengemasi pakaianku.
Suamiku yang menyadari akan hal itu, ia menyusulku masuk kedalam kamar. Ia membujukku untuk tetap tinggal. Akan tetapi setelah memjkirkan hal yang aku alami selama ini, aku rasa aku tidak akan tahan.

Namun ketika aku melihat anakku, dan melihat wajah sedih suamiku aku mengurungkan niatku. Aku berpikir selama ada cinta suamiku dan sayang untuk anakku, aku tidak boleh menyerah.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *