• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sekolah Untuk Apa?

ByPaskalis

Agu 9, 2021

” Di sekolah, guru-guru tidak mengajar dengan baik,” Ujar Alex Henock (9) dari Sentani, Kabupaten Jayapura.
Lanjutnya, kalau kami salah sedikit mereka memukul dan menyuruh kami berdiri di depan kelas untuk di hukum. Kalau kami tidak mengerti, mereka tidak mau mengajar supaya kami lebih mengerti. Mereka sering pulang lebih cepat. Jadi lebih baik saya tidak usah sekolah.” Contoh diskusi singkat bersama seorang anak Alex Henock 2021 ini amat tepat untuk menggambarkan kualitas pengajaran pada banyak tempat di tanah Papua.
Inilah adalah salah satu contoh yang terjadi di daerah pinggiran kota. Bagaimana dengan daerah terpencil Papua lainnya, yang hanya ada guru kontrak yang mengajar enam kelas. Sarana sekolah tidak di gunakan karena memang sudah rusak, sehingga para murid duduk di lantai.
“Disini anak kelas IV pun belum mahir membaca, menulis dan berhitung. Ungkap salah seorang guru honorer di SD YPK Ansudu, Pantai Timur, Sarmi. Pernyataan tersebut saya sendiri menanyakan dan mendengar soal peran dan motivasi guru yang rendah dalam mengajar di sana di tahun 2018. Berharap setelah ada bupati yang baru, daerah tersebut ada perubahan, minimal ada guru yg betah tinggal di kampung untuk mengajar.
Kini, di masa pademi Covid-19, anak-anak malah leluasa untuk tidak sekolah. Banyaknya anak-anak yang tidak mengikuti kegiatan proses belajar mengajar lewat dering (internet) dengan baik, dan memilih untuk bekerja, seperti anak- anak di daerah Entrop, Jayapura Selatan.
“Saya sudah tidak masuk sekolah dan membantu paman (om) kerja proyek rumah, ujar Udin.” Sedangkan bapak Udin sedang mengerjakan proyek rumah dan jalan di kabupaten Mamberamo, dan anak ini diasuh oleh Mamanya.
Begitu juga dengan Willy, walau aktif mengikuti pelajaran di SMK lewat dering (online), dia setiap harinya bekerja sebagai montir di bengkel dekat kompleksnya di Entrop.
“Lumayan, setiap Minggu mendapatkan uang tiga ratus ribu (Rp.300.000) dari hasil kerja di bengkel, ujar Willy.”
Ada juga, beberapa anak selain Udin, Willy, manfred, Charly yang kini berhadapan dengan hukum karena ikutan bersama orang dewasa melakukan pengeroyokan terhadap seorang yang menyebabkan korban meninggal dunia.
Atas perbuatan itu, kini mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan di hadapan hukum dan terhitung sudah 14 hari mereka mendekam di tahanan Polsek dalam rangkah penyelidilan.
Lalu bagaimana dengan pendidikan mereka? Sedangkan selama itu (14 hari) hak mereka untuk mengenyam pendidikan di batasi.
Belum lagi biaya dalam pendidikan anak, dari hasil pengamatan di lapangan, biaya pendidikan merupakan masalah utama bagi keluarga miskin, seperti salah satu sekolah swasta di distrik Abepura, kota Jayapura, dengan biaya uang daftar ulang sekolah menengah pertama cukup fantastik hingga tiga jutaan lebih.
Bahkan tanpa uang sekolah pun masih banyak biaya lain seperti buku, alat tulis, seragam, transpor, uang saku, hand phone android, pulsa, materi, biaya print materi dan lainnya, sementara penghasilan orang tua tidak menentu.
Terkadang anak-anak terjun bekerja untuk mencari uang jajan, seperti anak-anak di ruko dok II Jayapura, yang kesehariannya sebagai juru Parkir, jual buku bacaan rohani dan koran, sering dilakukan mereka.
Dari aktivitas itu, di jalanan mereka saling mempengaruhi satu sama lainnya dan menyebabkan ada diantaranya masih sekolah, dan sebagian anak lainnya terpengaruh kearah negatif hingga malas untuk sekolah.
Anak- anak di daerah Entrop misalnya, kini mereka sudah naik kelas. Dulunya mereka hanya mencium zat adiktif dari lem Aibon, namun kini mereka naik kelas memakai dan penjual Narkoba dan membantu menjual minuman keras di sepanjang mata jalan Entrop. Belum lagi tindakan penjambretan hingga pencurian terkadang mereka harus berhadapan dengan hukum.
Orang tua mempunyai peran penting dalam mendidik anak, karena orang tua punya kelebihan berupa pengalaman. Mereka sudah melewati liku-liku perubahan fisik dan emosi masa remaja. Idealnya merekalah yang semestinya paling mampu menuntun anak-anak melalui liku-liku itu. Namun kadang kalah, Orang tua tampaknya menjadi bagian dari problem dan bukan solusinya.
Misalnya, anak anak mungkin menghadapi salah satu atau Bahkan lebih kesulitan soal orang tua mereka sendiri, berikut ini :
Orang tua terus saja mengomelin anak anak, ayah atau ibu pecandu narkoba atau alkohol, orang tua selalu bertengkar, orang tua sudah berpisah, orang tua tidak bekerja, dan masalah lainnya.
Dan akhirnya, dalam buku The First Love Languages ; terdapat satu bab khusus membahas cara mengenali bahasa cinta primer anak. Dalam membesarkan anak, segalahnya tergantung pada hubungan kasih antara anak tersebut dengan Orangtuanya. Semua tidak akan berjalan dengan baik apabila kebutuhan anak akan cinta tidak terpenuhi. Hanya anak yang merasa benar-benar dicintai dan diperhatikan akan mampu berusaha sebaik-baiknya, seperti halnya dalam menitik pendidikan.

Paskalis (29)

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

BACA JUGA :   Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 10 Sebuah Fakta Menyesakkan
Bagikan Yok!

Paskalis

Bergandengan Tangan Ceria Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *