• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 2 Pertemuan dan Perpisahan

Bymutiaradee

Agu 9, 2021

“Rin” suara yang memanggilku.
Aku seperti mengenal suara ini. Suara yang sekarang jarang ku dengar. Dan saat ini suara itu berhasil membuat jantungku berdebar lebih cepat. Oh Tuhan apalagi ini? Aku menengok ke belakang. Aku sungguh tak menyangka ternyata Ray yang memanggilku.
“Ray, ada apa?” tanyaku dengan ragu dan sedikit terkejut.
“Mau pulang bareng?” ajak Ray
“Masih ingat sama aku?”
“Ya iya lah, kamu kan sahabatku.”
“Hah? Sahabat? Bukannya kamu malu punya sahabat yang cupu, kudet dan sering dibilang kutu buku?”
“Kamu akan terus menggerutu seperti itu atau pulang bersamaku?”
Itu kan jadi ribet gini. Awalnya sih pengen sok jual mahal gitu.Tapi kalau dipikir-pikir boleh juga pulang bareng dia. Daripada harus jalan kaki sejauh ini?
“Iya iya, tapi urusan kita belum selesai.” jawabku tanpa berpikir panjang.
Di tengah perjalanan Ray memuji penampilanku. Ya, memang beberapa hari terakhir ini aku berpenampilan beda. Ibu menyeruhku untuk mulai berdandan. Dan akhirnya, Rin yang awalnya cuma dikuncir kuda sekarang lebih sering menggerai rambutnya. Seperti inilah aku yang sekarang. Terlihat lebih anggun dan feminine.
“Rin, beberapa hari terakhir ini penampilanmu beda. Kamu tampak lebih cantik dari sebelumnya.” kata Ray saat diperjalanan menuju pulang.
“Ya, yang namanya orang kan pasti berubah. Terima kasih atas pujianmu! Oh ya, kamu enggak malu boncengan sama aku?”
“Ngapain harus malu? Kamu kan sudah cantik apalagi hari ini jadi perbincangan hangat semua siswa.”
“Kalau penampilanku seperti dulu?Apa kamu masih mau boncengan sama aku kayak gini?” tanyaku.
Ray hanya terdiam. Sebenarnya aku sudah tahu jawabannya.
“Maaf ya, jadi bahas yang lain. Aku memang bodoh sempat-sempatnya aku tanya masalah itu ke kamu. Kamu sudah mau ngantar aku pulang saja, itu sudah lebih dari cukup.”
“Kamu enggak perlu minta maaf kok. Mungkin untuk sekarang aku belum bisa menjawab pertanyaanmu itu.”
Duh ribet banget sih ni orang. Tinggal jawab pertanyaan sepele aja pake dipikir panjang.
“Enggak apa-apa kok, santai saja!!”
Memang benar perkiraanku selama ini, Ray telah berubah. Sekarang dia selalu memandang seseorang dari penampilannya. Jujur aku enggak kenal Ray yang sekarang. Mungkin dia telah dibutakan oleh ketenarannya di sekolah.
Tak terasa sudah sampai di depan rumahku. Aku menawari Ray untuk mampir ke rumahku.
“Mau mampir, Ray?” tanyaku.
Bodoh banget aku, mana mungkin Ray anak orang kaya mau mampir di gubuk kecilku ini. Kataku dalam hati.
“Pasti. Sudah lama sekali aku enggak ke sini. Jadi ingat waktu kita masih kecil, Rin. Dulu kita selalu bersama. Tapi semenjak SMP aku justru menjauhimu, aku sekarang sadar cuma kamu yang mau menerima aku apa adanya. Mereka hanya memanfaatkan aku untuk popularitas mereka di sekolah. Bahkan aku sudah bisa menjawab pertanyaanmu tadi. Kamu saja bisa menerima aku apa adanya kenapa aku enggak? ” Jawab Ray.
Apa? Astaga aku masih tidak menyangka. Pertemuan singkatku dengannya sudah membuatnya berubah total. Ah tidak! Mungkin aku yang terlalu berlebihan.
Ternyata dugaanku salah, Ray mau mampir di gubuk kecilku setelah lama sekali dia enggak ke sini.
“Sudahlah lupakan saja! Lebih baik sekarang kita buka lembaran baru. Mari masuk!” Jawabku sembari membalikkan badan.
Tiba-tiba Ray menggenggam tanganku dan menahanku untuk masuk ke rumah.
“Rin, maafkan aku atas perlakuanku padamu selama ini! Aku telah dibutakan oleh popularitas hingga aku tak menyadari cuma kamu yang menerima aku apa adanya.” Kata Ray.
“Ah lupkan saja. Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu minta maaf. Toh semuanya sudah terjadi. Kita mulai dari awal tanpa melupakan masa lalu dan kenangan yang telah terjalin antara kita!” jawabku sambil tersenyum.
Setelah itu semua hening, hampir beberapa detik tidak ada yang memulai pembicaraan. Kayak lagi di kuburan gitu.
“Lebih baik sekarang kita masuk! Ibuku pasti sudah menunggu. Kamu pasti sudah kangen kan sama masakan Ibuku? Waktu kecilkan kita suka banget sama masakan Ibu. Bahkan kita sering berantem. Kamu masih ingat kan?” kataku seraya memecah keheningan sambil melepaskan tanganku dari genggaman Ray.
“Tentu saja aku ingat.Waktu itu kita rebutan tempe goring an. Memang masakan ibumu tiada duanya.” Kata Ray sambil nyengir kuda.
Ini nih yang selalu aku kangenin dari dia. Senyumnya itu lho? Bikin hatiku kewalahan.
Eh kenapa nih? Kok jadi deg-degan gini?
“Ayo kita masuk!”
Dengan reflek aku menarik tangan Ray dan mengajaknya masuk.
Sudah beberapa kali aku mengucapkan salam tetapi tetap saja tidak ada yang menjawab. Kemana ibu? Ah, mungkin sedang berkebun di belakang. Ibuku ini memang hobi sekali berkebun. Bahkan halaman kosong di depan, samping, dan belakang rumah disulapnya menjadi kebun. Hal ini juga yang membuat persahabatan ibu dan ibunya Ray awet sampai sekarang. Aku berharap semoga persahabatanku dengan Ray juga awet seperti persahabatan ibu dengan ibunya Ray.
“Ibumu kemana, Ra? Setahuku setiap kali Ibumu tahu kalau kamu pulang pasti dia langsung menyambutmu dengan ramah.” Tanya Ray.
“Mungkin Ibu sedang berkebun di belakang. Kayak kamu enggak tahu Ibu saja, dia kan hobi banget berkebun. Bahkan hal itu juga yang membuat persahabatan ibuku dan ibumu awet sampai sekarang.” Jawabku
“Aku berharap hubungan kita akan sebaik hubungan Ibu kita.”
“Semoga saja, aku juga berharap seperti itu. Lebih baik kita langsung masuk saja!” ajakku.
Sungguh tak ku sangka saat aku membuka pintu. Dan menuju ke belakang, terdapat banyak makanan di ruang makan. Ternyata ini semua ulah Gigi dan Vivi yang berencana memberi kejutan padaku serta bekerja sama dengan ibuku.
“Rin, kami mau minta maaf atas semua kesalahan yang kami perbuat seminggu yang lalu.” Kata Gigi.
“Iya Rin, aku baru sadar bahwa sahabat itu penting. Aku dan Gigi merasa sedih melihat kamu menjauhi kami. Akhirnya kami membuat kejutan ini bersama ibumu untuk menebus semua kesalahan kami. Sekali lagi kami minta maaf, Rin!” kata Vivi panjang lebar.
“Kami juga ingin memberi kesan yang terbaik untuk persahabatan kita tiga tahun ini. Kami enggak mau persahabatan kita dikenang buruk, yang kami mau persahabatan kita dikenang indah bahkan oleh semua orang yang pernah hadir dan melengkapi cerita persahabatan kita.” Sahut Gigi.
“Aku sudah memaafkan kalian. Aku juga minta maaf kalau aku terlalu egois pada kalian. Jadi sudah pada baikan nih?” tanyaku.
Kami pun tersenyum dan berpelukan melepas rindu setelah kami bertengkar lama sekali.
“Aku lihat kalian tadi pulang bareng. Ciiee, sudah pada baikan nih! Atau malah sudah…” sebelum Gigi meneruskan perkataannya aku menyelanya.
“Dasar cumi, kami itu enggak pernah marahan atau musuhan. Memang sih, kami di sekolah cuek tapi bukan berarti musuhan atau marahan.”
“Oh, kalau sahabat memang harus sambil pegangan tangan gitu. Eitss, bahkan bisa dibilang gandengan.” Celetuk Vivi yang sudah memojokkanku dengan Ray.
“Apaan sih kalian ini? Ngaco banget!” Jawab Ray singkat.
“Itukan wajah kalian berdua mulai merah.”
Duh kenapa pipiku mulai memanas? Jangan jangan mukaku? Oh tidaakk.
“Cumi sudah deh, lebih baik kita makan saja! Perutku sudah keroncongan nih!” kata ku sambil mengalihkan pembicaraan.
“Iya nih, cacing-cacing diperutku sudah pada demo!” kata Ray melengkapi ucapanku.
Setelah mendengar perkataanku dan Ray semua orang jadi tertawa. Disela-sela makan Gigi menyampaikan sesuatu.
“Semuanya aku mau ngomong sesuatu?” kata Gigi.
“Ya kalau mau ngomong, ngomong saja Gi. Enggak perlu minta izin” jawabku sambil bercanda.
“Besok aku mau pindah ke Jakarta ikut Mama dan Papaku. Mungkin aku juga akan sekolah di sana.” Kata Gigi.
“Aku besok juga pindah ke Surabaya dan akan meneruskan sekolah di sana.” Kata Vivi.
Kata-kata mereka itu membuat aku tersedak. Ray pun mengambilkan minum untukku. Berat rasanya kehilangan sahabat dua sekaligus yang hampir tiga tahun selalu bersama. Air mata ini memberontak ingin keluar. Tetapi aku tetap berusaha untuk menahannya, aku hanya tak ingin mereka pergi membawa beban karena aku tak ikhlas. Aku tetap berusaha untuk tersenyum. Setelah beberapa menit terdiam aku memulai pembicaraan.
“Ya, kalau itu memang pilihan kalian aku hanya berharap semoga itu yang terbaik buat kalian dan kalian mendapat sahabat yang lebih baik dari aku.” Jawabku sambil ku paksa bibirku untuk tersenyum.
“Kami enggak akan lupain kamu, Rin. Kamu sahabat terbaik kami.” Kata Gigi.
“Semoga saja kita bisa bertemu lagi. Aku pasti kangen sama kalian.” Kata Vivi.
“Aku bangga pada kalian. Kalian sudah berhasil membuat persahabatan ini dikenang banyak orang. Aku enggak akan pernah lupain kalian.”
Tiba-tiba mereka beranjak menuju aku dan memelukku dengan erat. Itu membuat Ray yang tadinya duduk di sampingku harus berpindah duduk di tempat lain.
“Aduh cumi, meluknya jangan kuat-kuat tubuhku sakit semua!” kataku sambil memecah tawa. Mereka semua yang ada di ruang makan tertawa.
“Oh iya, kok pada pindah ke Surabaya sih? Sekongkol ya?” tanyaku.
“Oh iya ya, aku baru sadar.” Jawab Gigi.
Saat Gigi, Vivi dan Ray pulang aku mengantar mereka ke depan rumah. Mata Gigi dan Vivi tampak berkaca-kaca. Dan kali ini aku memang benar-benar tak kuat menahan air mata yang sedari tadi memberontak ingin keluar. Aku memang dikenal mereka sebagai orang yang selalu menutupi kesedihan. Aku hanya tidak ingin mereka terbebani dengan semua hal yang mengganggu pikiranku. Tapi apa boleh buat ini memang tidak bisa ditahan lagi. Aku pun memeluk mereka erat-erat. Aku hanya ingin memanfaatkan waktu yang ada, aku tahu ini pelukan terakhirku bersama mereka.
“Maaf aku besok enggak bisa ikut mengantar kalian ke bandara. Aku hanya tidak ingin kalian terbebani. Aku yakin kalau aku besok di sana pasti aku akan menangis seperti ini lagi. Aku hanya ingin melepas kalian dengan kebahagiaan.” Kataku sambil terisak-isak. Untuk kali ini mereka yang memelukku.
“Ray, tolong jaga Rin ya, aku enggak mau dia kenapa-kenapa.” Kata Vivi.
“Pasti.” Jawab Ray sambil tersenyum dan menepuk pundakku.
Dia mencoba menguatkanku
Setelah Gigi dan Vivi pulang.Tiba-tiba saja tubuhku jatuh tak berdaya bagai dihempas ombak di lautan. Ini semua seperti mimpi, saat hubungan persahabatan kami membaik, disaat itu pula kami harus berpisah. Aku menangis terisak-isak memikirkan semua itu. Seperti ini kah akhir dari perjuanganku selama ini? Ray langsung duduk di sampingku dan mencoba menguatkanku.
“Sudah lah Rin, jangan kamu tangisi semuanya! Allah pasti memiliki rencana yang indah dibalik perpisahan ini.”
“Mungkin kamu memang benar Ray.”
“Lebih baik sekarang kamu masuk dan istirahat. Kamu terlihat lesu dan kecapekan.”
Malam tiba membawa luka di jiwa. Aku masih tak menyangka waktu begitu cepat berlalu. Tiba saatnya aku harus ikhlas melepaskan meraka untuk meraih impiannya. Televisi yang sedari tadi menyala dihadapanku tak ku hiraukan, aku justru melamun tak menentu. Tiba-tiba ayah menupuk bahuku dari belakang.
“Kamu kenapa, Nak? Tumben murung seperti ini?” tanya ayah padaku. Aku tidak bisa menjawab aku bingung mau menjawab apa. Aku pun memutuskan untuk memeluk ayah sambil menangis. Pasti ayah saat ini semakin bingung melihat tingkah laku anak semata wayangnya menangis.
“Kamu kenapa, Nak? Jangan buat ayah semakin bingung?” tanya ayah khawatir.
Akhirnya ibu datang sambil membawa kopi hangat untuk ayah dan menceritkan semuanya pada ayah tentang kejadian tadi siang. Ayah hanya tersenyum mendengar cerita ibu tadi. Dan ternyata disaat aku tadi mengantar Gigi, Vivi dan Ray ibu tak sengaja mengintip di jendela. Jadi, ibu tahu segalanya yang kami lakukan tadi.
“Yang kamu lakukan itu sudah benar, Nak. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan itulah hidup, selalu berputar. Yang harus kamu lakukan sekarang belajar dengan rajin, buat bangga mereka dan doa kan mereka. Jangan melupakan mereka karena merekalah yang memberikan pelajaran hidup tentang perpisahan.” Penjelasan ayahyang panjang lebar.
“Iya Yah, aku pasti akan selalu mengingat nasihat Ayah.” Jawabku.
Aku juga selalu berharap semoga setelah Ray melihat kejadian tadi siang, dia jadi mengerti arti persahabatan yang sesungguhnya dan menepati janjinya untuk menjaga aku.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Circle Idaman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *