• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Setiap orang memiliki karakterdalam diri masing – masing dan penampilan luar diri masing – masing.

Karakter adalah nilai – nilai yang khas, baik watak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari dalam dirinya yang dapat terlihat seperti cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari – hari.

Dari karakter yang ada pada diri seseorang terhadap nilai – nilai yang berdasarkan budaya seperti relegious, jujur, toleransi, disiplin, pekerja keras, mandiri, kreatif, rasa ingin tau dan sebagainya.

Sedangkan penampilan luar diri seseorang yaitu gaya penampilan seperti memakai baju yang mahal – mahal dan perhiasan – perhiasan agar dilihat orang lain bahwa ia lebih kaya, mewah sukses dan sebagainya.

Jadi apa yang lebih penting bagi kita sebagai umat Tuhan: karakter di dalam diri seseorang atau penampilan luar seseorang? Dalam kitab Timotius di ceritrakan bahwa ada beberapa orang di Gereja Mula – Mula yang lebih mengutamakan penampilan lahiriah dari pada karakter.

Menghiasi diri mereka dengan Emas, permata yang indah dan pakaian yang mahal sehingga mereka di jauhkan dalam memiliki waktu dengan Tuhan.

Gereja adalah komonitas orang percaya yang mengasihi dan menyembah Tugan, bukan tempat untuk berfashion show.

Bahkan, ada beberapa orang yang mempergunakan lebih banyak waktu untuk memikirkan apa yang mereka pakai untuk pergi ketempat kebak tian ibadah di Gereja, atau bagaimana cara untuk dapa mengesankan orang lain dari pada memikirkan bagai mana cara hidup untuk lebih dekat dengan Tuhan dalam ibadah, saat teduh, berdoa dan penyembahan.

“ayat 9 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang – kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal – mahal, ayat 10 tetapi hendaklah ia berdandan dengan perbuatan baik, seperti yang layak bagi perempuan yang beribadah.” 1 Timotius 2:9-10.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Kalian Lupa Bahwa Kebahagiaan itu Masalah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *