• Sel. Sep 28th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Inner Child Yang Terbawa Hingga Dewasa

Akhir-akhir ini banyak sekali kata-kata “Inner Child” biasanya akan ditemui di sosial media akun para psikolog.

Emang apa, sih, Inner Child itu?

Inner child adalah sikap atau perilaku yang seperti anak kecil.

Umumnya setiap orang memiliki inner child, hanya saja berbeda-beda.

Inner child umumnya ada sejak seseorang masih kecil, lalu terbawa sampai seseorang itu dewasa.

Inner child juga ada yang berasal dari pengalaman pahit sejak kecil, yang terus-menerus teringat, bahkan menjadi trauma, yang akhirnya memberikan pengaruh bagi orang yang mengalaminya.

Apakah kamu pernah mengalami kejadian pahit sejak kecil, yang itu sampai sekarang kamu masih merasa terluka akan hal itu?

Saya ingin berbagi cerita, sewaktu saya kecil dulu, yaitu berusia 9 tahun.

Kata “Bullying” kala itu akrab sekali dikeseharian saya. Sewaktu saya ingin berangkat sekolah, saya selalu memiliki kekhawatiran, terhadap orang-orang yang nanti akan saya temui di sekolah.

Saya takut sekali, jika harus bertemu dengan laki-laki. Disana ada perasaan resah, khawatir, cemas, bahkan bisa dibilang saya trauma.

Setiap bertemu dengan laki-laki di kelas saya, pasti ada saja yang membully secara fisik. Entah rambut saya di jambak, kepala saya di pukul, dan hal-hal lain yang sifatnya kekerasan.

Kala itu, saya masih lemah sekali, tidak berani jika harus melawan, karena pasti akan mendapatkan hal yang lebih lagi.

Saya hanya menangis saja.
Dari pengalaman masa lalu sejak kecil itu, yang membuat saya merasa takut, jika bertemu dengan laki-laki yang kasar, seperti orang-orang yang saya temui di masa lalu.

Jika ditanya, “Apakah Inner child saya terluka atau tidak?” jawabannya adalah Iya. Karena, kejadian dari masa lalu itu juga yang membuat saya memberikan pertimbangan bagi siapa saja orang-orang yang ada di hidup saya saat ini dan nanti.

BACA JUGA :   5 Manfaat Berkebun Bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Ketika pun saya bertemu dengan orang yang memiliki perilaku yang sama dengan orang yang saya temui di kala kecil, pasti ada perasaan seperti takut, khawatir, dan lainnya.

Jika ada orang-orang dalam hidup saya yang seperti itu, ada respon dari alam bawah sadar untuk menjauhi orang tersebut.

Ya, itu adalah gambaran bagaimana Inner child itu bisa terbawa sampai dewasa.
Jadi, Inner child itu bahaya gak, sih?

Inner child yang terluka tanpa diobati atau terus-menerus memendam perasaan sakit itu, dampaknya akan mengganggu saat kita beranjak atau sudah dewasa.

Itu sama saja seperti kita menabung emosi negatif yang ada pada diri kita, lama kelamaan itu akan seperti bom atom yang tinggal menunggu waktunya saja akan meledak.

Entah meledaknya saat kamu sedang dihadapkan pada suatu masalah dengan orang lain, lalu pada saat itu kamu mengeluarkan emosi yang selama ini kamu pendam, yang akhirnya akan menyakiti kedua belah pihak.

Karenanya, diperlukan kejujuran ke diri sendiri. Jika kamu sedang merasa sedih, kecewa, atau marah, akui saja bila memang kamu sedang merasakan itu. jangan dipendam-pendam.

Kamu bisa bercerita ke orang yang kamu percaya. Biasanya orang yang merasa lebih tenang, jika ada orang yang dapat memahami dirinya, dan setelahnya kamu tidak akan merasa sendirian.

Kamu punya orang-orang yang sayang pada dirimu dan mereka akan mendukung dirimu tumbuh menjadi orang yang lebih baik lagi, tanpa kamu harus merasa takut dihakimi atau buruk.

Setiap orang memiliki luka di masa lalu, namun perbedaannya adalah apakah kamu termasuk orang yang sudah sembuh atau belum dari luka di masa lalu?

Oleh karena itu, Inner child yang terluka harus segera diobati. Jika itu berpengaruh ke aktifitas sehari-hari, yang membuatmu merasa tidak nyaman dengan perasaan itu, atau kamu merasa kejadian yang kamu rasakan saat ini adalah akibat dari pengalaman pahit sewaktu masih kecil.

BACA JUGA :   6 Rekomendasi obat herbal kolesterol ini mudah didapat

Kamu perlu konsultasikan dirimu ke orang yang proffesional, seperti Psikolog.

Atau kamu bisa dengan rutin self healing, dengan cara bermeditasi, menulis buku harian, mengakui kalau itu memang menyakitkan, dan memaafkan.

Walaupun akan berbeda hasil yang akan didapatkan, ketika kamu berkonsultasi ke Psikolog atau Self healing.

Berkonsultasi ke Psikolog, kamu akan mendapatkan penanganan klinis yang pastinya lebih proffesional dan paham untuk menyembuhkan. Biasanya kamu akan diberi pertanyaan dan pengertian terkait luka atau trauma yang terjadi sewaktu masa kecil.

Terlebih kamu juga akan mendapatkan kesembuhan jangka panjang, karena penanganan yang tepat dari orang yang proffesional, sehingga potensi untuk kembali ke luka yang sama bisa lebih kecil, dibandingkan kamu yang memilih untuk self healing.

Self healing adalah penyembuhan diri. Kamu melakukan seorang diri, itu bisa dilakukan dengan cara kamu memberikan hal kepada diri kamu, hal yang kamu senangi.

Semisal, kamu sedang pikiranmu sedang kacau, yang tanpa sadar respon yang kamu berikan pun sama seperti kamu di masa kecil.

Kamu menjadi sedih tiba-tiba. Pada saat yang seperti itu, ada sinyal luka yang mesti kamu tuntaskan.

Namun, karena kamu belum menyadari itu, akhirnya yang kamu cari adalah kesenangan yang sifatnya menenangkan, yaitu self healing.

Kamu membeli makanan atau minuman yang kamu senangi, lalu kamu menjadi senang, berarti itu self healing versi kamu.
Atau kamu bermain sosial media atau menonton film favorit, berarti kamu sedang self healing.

Namun, self healing ini sifatnya hanya sementara.
Ketika kamu tidak melakukan hal itu lagi, kamu kembali teringat kembali, bahkan bisa sering terjadi berulang kali.

Pengalaman pahit di masa kecil, yang membuat kamu menjadi trauma tidak bisa dipandang sepele.

BACA JUGA :   Kita tidak perlu menyalahkan Tuhan kita di saat cobaan datang. Itu adalah pertanda Kalau ia sayang sama kita

Karena hal itu, bisa mengganggu yang sifatnya jangka panjang dalam hidupmu.

Kamu perlu mengobati luka itu, jika itu dirasa mengganggu perkembangan dirimu.

Kamu menjadi sulit untuk fokus ke masa depan. Karena, separuh dirimu nyatanya masih di masa lalu.

Kamu belum sepenuhnya memaafkan masa lalumu. Untuk kesehatan mental, diri kita harus mempunyai mindset, bahwa pengalaman pahit itu memang ada, dan sudah berlalu, diriku harus memaafkannya, lalu beranjak ke masa depan.

Jika, pengalaman pahit itu sudah diterima dan dimaafkan, maka hati akan lebih lapang dan ikhlas dalam menjalani hidup.

Biarkan pengalaman pahit itu menjadi pembelajaran berharga bagi diri kita.

Bahwa setelahnya kamu akan menjadi lebih berpikir dewasa dalam memaknai kehidupan.

“Manusia tidak bisa memutar waktu, untuk memperbaiki masa lalu, jadi fokuslah pada dirimu yang kini ‘kan beranjak ke masa depan. Karena, dari dirimu, bahagiamu dibentuk.”

Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga ada hikmah baik yang bisa dipetik. Apabila ada saran, kritik, atau komentar, saya persilahkan dibawah ini atau bisa DM di Instagram saya @aidaannisa28.

Note : Tulisan dan langkah-langkah saya dapatkan dari pengalaman berkonsultasi ke Psikolog. Bukan dari opini, karena hal yang sifatnya kesehatan mental seseorang tidak bisa di identifikasi hanya dengan diagnosis pribadi. Jadi, tetap kembali ke yang ahli.

Baca juga : https://imbicom.club/2021/08/06/ego-yang-tak-perlu/

Aidaannisa28 (26)

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram)
Happy Reading!

Bagikan Yok!

Aidaannisa28

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram) Happy Reading!

One thought on “Inner Child Yang Terbawa Hingga Dewasa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *