• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Saat Luka Menyentuh Cinta Bab 1 Belum Puaskah?

Bymutiaradee

Agu 8, 2021

Belum Puaskah?
Awalnya menyenangkan memiliki sahabat yang setia dan baik padaku. Hampir tiga tahun bersama membuat kami mengerti kelebihan dan kekurangan masing-masing, apa yang disuka dan yang tidak disuka, serta apa yang membuat senang dan apa yang membuat marah. Bahkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain. Apalagi hampir setiap hari kami selalu bersama membuat kami semakin kompak. Selain itu, kami juga saling menerima apa adanya. Bahkan baiknya, buruknya, konyolnya, asmaranya, masalahnya dan semuanya kami saling berbagi satu sama lain. Tapi sebentar lagi masa-masa itu akan berakhir. Huuhh, semoga saja setelah kami berpisah, kami mendapatkan kehidupan yang lebih baik, memiliki sahabat yang baik dan tidak melupakan masa-masa indah yang pernah kami lalui selama ini.
Sedih rasanya beberapa hari lagi akan berpisah, tapi hubungan kami justru semakin renggang. Entah apa yang dipikirkan oleh Gigi dan Vivi. Sahabat baikku yang memiliki karakter bertolak belakang. Gigi yang cablak, humoris, kadang juga suka nyindir orang tapi kalau disindir enggak mau. Sedangkan Vivi yang diam-diam menghanyutkan, diam-diam marah, diam-diam nangis. Mereka saling menyalahkan. Benar-benar rumit membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Andai saja kepalaku ini bisa dilepas, pasti akan ku letakkan dan ku suruh dia untuk beristirahat sejenak. Sayangnya, itu hanya hayalanku saja. Melihat hubungan mereka yang semakin renggang membuat otakku berpikir keras untuk menyatukan mereka kembali. Akhirnya, ku putuskan untuk mendekati si Vivi dan bertanya apa yang terjadi sebenarnya. Tapi semuanya sia-sia. Setelah beberapa hari aku mendekati si Vivi, dia justru terus menjelek-jelekkan Gigi membuat telingaku semakin panas dan tak tahan mendengarkan ucapannya. Andai saja dia bukan sahabatku sudah ku siram pakai air bahkan sudah ku cabik-cabik rambut dan bajunya. Astaga apa yang terjadi dengan pikiranku? Pasti mulai teracuni oleh omongan mereka yang menjengkelkan. Sudah beberapa kali aku memberi saran padanya tapi jawabannya hanya itu-itu saja. Menyebalkan! Akhirnya aku ganti strategi. Ku coba mendekati si Gigi. Setelah beberapa hari aku mendekatinya, hasilnya sama saja. Dia juga menjelek-jelekkan Vivi di depanku. Bahkan dia tidak mendengarkan saran dariku. Rasanya ingin ku hanyutkan dia ke laut. Agar menjadi santapan kumpulan hiu di sana. Hanya saja dia sahabatku jadi aku tak tega melakukan semua itu.
Hujan yang deras di malam hari, membuatku melupakan sejenak masalah persahabatanku. Tak beberapa lama, hujan mulai reda. Membuatku ingat kembali dengan masalah yang tak berujung. Ku buka jendela kamarku dan ku hirup aroma khas hujan. Sangat menenangkan. Yah walaupun hanya sesaat. Cukup membuat otakku yang sudah panas ini kembali fresh. Itu memang kebiasaanku bahkan sudah menjadi hobiku.
Kembali lagi ke topik yang tadi. Strategi apa lagi yang harus ku lakukan. Sudah berbagai cara ku lakukan tapi semuanya sia-sia dan tak berguna. Hanya membuang-buang waktu saja. Ku hempaskan tubuhku di ranjang tempat tidurku. Untung saja ranjangku tak rubuh, padahal ranjang ini sudah rapuh. Bayangkan saja, sudah hampir 10 tahun ranjang ini bertahan. Awalnya ibu ingin mengganti ranjang ini dengan yang baru tapi karena uangnya belum cukup akhirnya ibu mengurungkan niatannya.Bahkan rencananya kalau ranjangnya sudah rubuh, terpaksa harus tidur beratapkan langit beralaskan bumi. Duh makin ngawur. Ada apa dengan otakku sebenarnya?
Hari yang indah, mentari sudah menampakan wujudnya. Pagi ini harus diawali dengan senyuman dan semangat. Ku lupakan dulu masalah Vivi dan Gigi sejenak. Ya,walaupun hanya sejenak setidaknya otakku sedikit beristirahat dan tidak mengeluh kesakitan. Saat aku sampai di gerbang sekolah, ku lihat si Gigi berjalan dari sisi kiri dan si Vivi berjalan dari sisi kanan. Saatnya beraksi. Kataku dalam hati. Saat mereka mulai berdekatan, ku rangkul mereka berdua. Aku hitung dari satu sampai tiga kalau mereka tidak marah berarti rencana pertamaku berakhir. Satu, dua, ti… belum selesai aku menghitung dan brrrugggh mereka secara bersamaan menghempaskan tanganku hingga membuatku tak memiliki keseimbangan dan akhirnya aku terjatuh. Aaaaaaaaaahhhhhhh sial kataku dalam hati. Bayangkan saja, niat baik ingin menyatukan sahabat, eh malah jatuh di genangan air bajuku kan jadi basah. Bahkan tanpa rasa bersalah mereka membalikkan badan secara berlawanan dan pergi meninggalkanku. Hhuuhhh, sebel. Tiba-tiba tanpa ku sadari ku lihat ada seseorang yang berdiri di sampingku. Ya, walaupun hanya kelihatan sepatunya karena aku masih duduk sambil menggerutu. Pelan-pelan ku tengadahkan kepalaku dan ku lihat siapa yang berdiri di sampingku. Oh my God, itu si Rayhan Danuarta sahabatku sejak kecil. Bahkan orang tua kami berteman sudah lama. Sahabatku satu ini, sangat digilai cewek-cewek di sekolah karena keahlian dia dalam bermain basket. Maklumlah yang namanya kapten baskrt. Aku sampai eran enapa disetiap sekolah owok yang paling popular adalah pemain basket terutama kaptennya. Selain itu juga, banyak yang bilang senyum dia itu yang bikin cewek-cewek klepek-klepe. Ya, kalau boleh jujur sih memang dia tampan dan senyumnya manis banget. Mungkin kalau dia makanan sudah dikerubungi banyak semut.
Waktu kecil kami selalu bersama apalagi saat masih TK, dia seakan menjadi pelindungku atau sejenis pahlawan bertopeng. Bayangkan saja setiap kali ada anak yang mengganggu aku, pasti dia memarahinya. Sempat waktu itu, ada anak cowok yang menggangggu aku. Eh, tiba-tiba dia jadi pahlawan kesiangan dan menolong aku. Ya, jadinya mereka berantem gitu. Sampai dimarahi bapak ibu guru. Pulangnya dari sekolah dia justru minta maaf karena dia kalah melawan anak cowok yang tadi menggangguku. Cerita itu sudah lama tapi lucu banget dan enggak akan pernah aku lupain. Bahkan waktu TK, SD, dan SMP kami selalu satu sekolahan dan satu kelas. Enah keajaiban atau rencana apa yan sudah Tuhan siapkan. Dan sekarang dia ada dihadapanku, rasanya lama banget enggak ketemu dia. Waktu aku lihat, dia justru cuek terus pergi meninggalkan aku. Ya, kirain mau bantu eh enggak tahunya sama saja. Sifat cueknya sekarang semakin menjadi-jadi. Setelah masuk SMP, selama satu bulan dia memang sering mengabaikanku. Apalagi setelah semua teman sekelasku mengataiu bahwa aku dan dia berpacaran. Itulah awal kehancuran persahabatanku dengannya. Padahal itu kan hanya gosip dan keisengan semata tapi tetap saja sifatnya jadi dingin. Selain itu, mungkin dia juga malu bersahabat dengan orang sepertiku anak yang cupu, kudet, bahkan sering disebut si kutu buku lah, si culun lah dan lain-lain. Selain itu mereka juga sering memanggil aku, Gigi, dan Vivi dengan sebutan cumi. Entah apa tujuan mereka. Mereka itu adalah anak –anak hits di sekolahku. Entahlah kenapa mereka begitu benci padaku.Padahal seingatku, aku tidak pernah mencari-cari masalah tapi justru mereka sendiri yang memancing-mancing masalah.Waktu si Ray pergi meninggalkan aku, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.Setelah dia membantuku dan memberikan jaketnya untukku dia langsung pergi tanpa sepatah kata sedikitpun. Padahal aku belum sempat mengucapkan terimakasih padanya. Kenapa hari ini semua orang mengabaikanku. Sekali ada yang bantu, eh langsung pergi gitu aja. Sungguh hari ang menyebalkan.
Saat bel berbunyi tiga kali tanda istirahat, aku pergi ke kantin sambil beli minum dan makan bekal dari ibu tadi pagi. Oh iya kali ini ak pakai seragam olahraga, ya gara-gara jatuh tadi. Untung saja semua guru tidak mempermasalahkan penampilanku. Dan saat ini adalah saat-saat yang paling menyebalkan dalam hidupku. Setelah makananku habis, kali ini apa yang harus aku lakukan? Entah sejak kapan pikiranku melayang entah kemana. Gimana caranya ya, buat Gigi dan Vivi bersatu?? Tanyaku dalam hati. Akhirnya aku SMS mereka dan aku minta mereka datang ke rumahku untuk makan siang bersama.
Tak lama kemudian setelah aku sampai di rumah, ada orang yang mengetuk pintu saat aku dan ibu mempersiapkan makan siang.
“Biar aku yang buka pintu, Bu. Mungkin itu Gigi dan Vivi” kataku
“Iya, Nak. Langsung persilahkan mereka untuk duduk di meja makan, ya!”
“Iya, Bu”
Ternyata benar yang datang Gigi. Setelah Gigi masuk dan duduk di meja makan tak lama kemudian Vivi juga datang. Akhirnya kami bisa berkumpul lagi. Hal yang beberapa hari ini aku rindukan, rasanya masih kayak mimpi bisa kumpul bareng mereka lagi. Ku kira makan siang kali ini menyenangkan karena Gigi dan Vivi berkumpul bersamaku. Tapi kebahagiaan itu hanya sementara. Bayangkan saja meraka justru bertengkar dan perang makanan di rumahku. Perkiraanku memang salah. Tak tahan lagi aku membendung amarah ini.
“Kalian itu enggak punya sopan santun ya? Masih sempat juga berantem di rumah orang. Sebenarnya niatku mengundang kalian, aku hanya ingin kalian akur seperti dulu. Itu saja! Apalagi sebentar lagi kita akan berpisah. Aku cuma pengin persahabatan kita memiliki kenangan yang indah bukan seperti ini!” kataku.
Kali ini aku memang benar-benar marah sudah berbagai cara aku lakukan untuk membuat mereka akur lagi tapi itu semua hanya sia-sia dan buang-buang waktu saja.
“Kamu sih!” kata Gigi.
“Kok jadi aku kan kamu yang mulai” kata Vivi.
“Stop! Belum puaskah kalian menjatuhkanku tadi, dan sekarang mengancurkan waktu makanku. Aku sudah muak mendengar pertengkaran kalian. Aku kecewa persahabatan yang aku bangun selama tiga tahun ini hanya sia-sia dan tak berguna. Buang-buang waktu saja! Sekarang lebih baik kalian pergi dari sini!”
Aku terpaksa mengusir mereka, aku malu pada ibu untung saja ayah masih kerja kalau tidak aku tak tahu apa pendapat ayah tentang semua itu. Aku langsung berlari menuju kamar dengan air mata yang sedari tadi tak terbendung.
Ibu menghampiriku, mencoba menghibur dan menenangkan hatiku yang sudah kayak dodol yang diaduk-aduk.
“Kamu kenapa, Nak?”Tanya ibu.
“Aku malu sama Ibu.”
“Malu kenapa?”
“Ibu sudah susah payah memasakkan semuanya untuk aku dan sahabat-sahabatku, tapi apa balasannya? Mereka justru membuang makanan itu. Aku yakin Ibu pasti kecewa padaku.”
“Sudahlah Nak, tak perlu berlebihan. Awalnya Ibu memang kecewa tapi Ibu tahu pasti ada alasan yang membuat kalian bertindak seperti itu.Kalian itu anak baik-baik dan Ibu tahu betul sifat anak Ibu yang satu ini. Kamu harus ingat, yang namanya jalinan persahabatan itu pasti ada pasang surutnya. Dan hal itu justru menjadi bumbu-bumbu indah persahabatan. Ibu juga yakin hal itu justru akan kamu kenang bersama sahabat-sahabat kamu ketika kalian sudah dewasa. Kadang salah paham justru akan memperkuat ikatan.” Kata Ibu panjang lebar sambil tersenyum.
“Iya Bu, semoga permasalahan ini segera berakhir. Aku sudah tak tahan lagi melihat mereka bertengkar.Apalagi aku jadi kesepian saat di sekolah.”
“Kamu tidak perlu merasa kesepian, Ibu dan Ayah selalu disampingmu. Jangan lupa juga Allah selalu bersamamu. Ibu selalu berdoa agar kamu mendapatkan yang terbaik.”
“Apa Ibu tidak mendoakanku untuk selalu bahagia?”
“Bahagia itu bukan jaminan, Nak. Selama kita hidup, kita tidak akan terlepas dari masalah. Dan kadang masalah itu yang membuat kita bersedih.Apa mungkin kita selalu bahagia seumur hidup?”
“Tidak Bu. Ibu memang benar, Ibu telah mendoakan yang terbaik untukku.”
“Iya. Dan yang terbaik itu termasuk agar kamu tetap tegar dalam menghadapi segala masalah yang sudah menantimu. Ingat kamu sudah beranjak dewasa. Ibu bisa mengatakan semua ini karena Ibu pernah mengalaminya.”
“Terima kasih untuk doa-doa Ibu. Aku juga akan selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga dan sahabatku.”
Setelah kejadian itu, aku tidak lagi menyapa Gigi dan Vivi. Saat bertemu mereka saja mengingatkanku pada kejadian memalukan di rumah. Dan setelah kejadian itu pula aku menjadi anak yang pemurung dan pendiam. Bahkan sering aku diejek beberapa temanku.
“Mana sahabat setiamu? Sudah enggak betah sama kamu? Kasihan!” kata mereka sambil tertawa. Saat mereka mengejekku, ku lihat Rayhan yang biasa dipanggil Ray memandangiku. Mungkin dia hanya kasihan padaku.Dan yang perlu ditekankan hanya sekedar kasihan, enggak ada niatan buat membantu.Mungkin dia masih mementingkan gengsinya yang setinggi bintang di langit itu.
Sepulang sekolah aku pulang sendiri. Jalan kaki bersama teriknya matahari yang seakan telah membakar kulitku yang eksotis ini. Hampir setengah perjalanan aku harus berjalan, tiba-tiba terdengar suara motor dari belakangku. Ya,mungkin Pak Dirman tukang ojek tetanggaku.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Kehadiran dia: chapter 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *