• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Masih adakah kesempatan???

Kita tengah asik mengobrol dan sesekali di iringi dengan tawa. “Hey bro, sini” kata rio sambil melambaikan tangannya memberi isyarat kalau dia sedang memanggil seseorang. Aku tidak begitu memperhatikan siapa yang di panggil rio, “oohhh… mungkin temannya atau siapanya” kataku dalam hati.
Aku masih asik mendengarkan cerita hardi yang sedari tadi membuat kami tertawa lepas.
“Apa kabar bro” kata rio kepada seseorang yang tepat berdiri di sampingku sambil bersalaman.
“Alhamdulillah baik bro” jawab orang itu. Aku seperti sangat familiar dengan suara itu sembari mengingat ingat kembali.
“Duduk bro” suruh rio
Orang itu langsung duduk di sampingku kebetulan kursi yang di sampingku kosong. Aku langsung menoleh ke samping dan ternyata itu zaki mantan pacarku. Aku kaget kenapa dia juga ada di sini? Pikir ku.
Dia yang menyadari kalau aku melihat dia langsung senyum ” hai din, apa kabar??” Tanya zaki
“Hey” jawabku singkat.
“Lo kemana aja sih ki kok lam banget datangya?” Timpal hardi
“Yaa tadi gue masih ada urusan lah, tapi kan gue gak telat telat amat kan datangnya” jawab zaki.
Aku menatap rio yang tepat berada di depanku dengan tatapan penuh pertnyaan. Rio yang menyadari tatapan ku tidak seperti biasanya dia langsung memainkan hp yang ada di tangannya saat itu.
Teettt… hp ku bergetar tanda ada pesan masuk, dan langsung aku buka
“Din mungkin lo gak suka karna zaki juga ikut, gue yang mengundang zaki untuk ikut kumpul bareng kita, zaki juga teman kita din, mungkin lo kecewa karna gue gak ngasih tau ke lo kalau zaki bakalan datang, tapi itu gue lakuin supaya lo mau datang dan gak menghindar lagi dari zaki seperti yang biasanya” ternyata pesan itu dari rio
“Gue kecewa sama lo, mending gue aja yang cabut” balasku. Setelah pesan itu terkirim dan rio membacanya, aku langsung berdiri dan beranjak ingin pergi meninggalkan tempat itu.
Hardi yang melihat aku berdiri langsung nanya ” mau ke mana din??”
“Gue… gue mau ke” belum selesai aku menjawab pertanyaan hardi, siska langsung berkata, “lo mau ke toilet ya din, bareng yuk gue juga mau ke toilet” kata siska. Aku hanya mengangguk mendengar perkataan siska.
“Oohh.. ke toilet, gue kira lo mau cabut tadi” kata hardi sambil tertawa
Aku hanya tersenyum tipis mendengar perkataan hardi, aku dan siska langsung menuju toilet.
“Lo mau cabut ya, karna zaki ternyata datang?” Tanya siska sesampainya kami di toilet.
Aku langsung menatap siska dengan wajah penuh curiga “lo udah tau kalau zaki bakalan datang?” Tanya ku.
“Iya, gue udah tau, dan anak anak yang juga udah tau, kan zaki juga di undang rio” jawab siska yang masih manatap kaca.
“Kita udah berapa tahun sih sis sahabatan, kenapa kalian masih aja berusaha untuk gue ketemu lagi sama zaki, kalian tau kan dia udah menghianati gue dan gue gak mau lagi ketemu sama dia” kata ku dengan kesal.
Siska langsung menatapku “din, mau sampai kapan lo menghindari zaki, apa lo nyaman, apa dengan sikap lo kayak gini membuat lo udah lupa dengan semuanya, lo udah 4 tahun pacaran sama dia tapi cuma karna azza kalian putus” kata siska.
” justru karna kita udah pacaran selama itu sis yang membuat gue bener bener kecewa dan gak bisa maafin zaki” jawabku, dan ternyata air mataku jatuh membasahi pipiku.
“Dinda, gue sahabat lo, kita semua sahabat lo, kita gak mau lo sedih lagi, yang terjadi antara azza dan zaki itu gak bener din, lo cuma salah paham sama mereka. Zaki juga sahabat gue sama seperti lo, jadi gak mungkin dia nyakitin lo din” kata siska sambil memegang kedua lengan ku.
“Tapi buktinya gak sama seperti yang lo bilang sis” jawabku masih sambil menangis.
“Apa lo pernah ngeliat langsung sampai sampai lo langsung mutusin zaki tanpa ngasih dia kesempatan untuk menjelaskannya. Ini udah 2 tahun berlalu semenjak kalian putus, mau sampai kapan lo dan zaki kayak gini. ingat din, kita itu sahabat” kata kata siska justru membuat aku semakin menangis.
Bener kata siska kita udah sabatan sama zaki sebelum aku dan zaki pacaran. Aku memang tidak memberikan zaki kesempatan untuk menjelaskan semuanya waktu itu. Aku juga tidak percaya dengan semua yang di katakan sari tentang azza dan zaki, tapi karna aku melihat buktinya yang membuat aku gak tau harus percaya sama siapa.
” gue ngerti perasaan lo din, tapi dengan sikap lo yang selalu seperti ini justru akan menyakiti diri lo sendiri, udah selama ini kalian putus dan lo masih terjebak dengan rasa itu, lo masih mengingat dengan jelas semuanya, walaupun bakalan berat tapi coba din anggap aja dia itu sebagai teman bukan mantan lo, atau lo kasih dia 1 kesempatan untuk menjelaskan semuanya supaya hati lo plong din” kata siska padaku
Aku hanya terdiam dan menatap ke kaca yang berada di depanku. “Apa yang di katakan siska itu bener ya, gue harus ngasih zaki kesempatan dan gue harus bersikap biasa aja ke dia” kataku dalam hati.
Aku langsung menyiram wajahku dengan air supaya aku tidak kelihatan nangis.
Setelah selesai dan aku udah mulai tenang, aku dan siska kita kembali menuju ke tempat rio, hardi, zaki dan lisa duduk. “Kok kalian lama amat si” kata lisa, “iya lama amat, kita udah pesen makanan” timpal hardi
“Ya namanya juga cewek” jawab siska.
Aku cuma diam dan langsung duduk di sebelah zaki.
“Din makanan untuk kamu udah aku pesanin” kata zaki memberi tahu ku.
“Makasih” jawabku dengan sedikit tersenyum.
Tidak lama pesanan kita datang, “ternyata dia masih ingat makanan kesukaan ku ” kataku dalam hati, dan kita mulai makan.
Tidak terasa ternyata sudah larut malam dan kami memutuskan untuk pulang. “Din aku anter kamu pulang ya”? Kata zaki.
” gak usah, aku pulang bareng siska dan lisa” jawabku.
“Gue pulang bareng hardi” jawab lisa. “Siska pulang bareng gue din” kata rio. “Lo pulang dianter zaki aja din” kata siska.
Aku sama sekali tidak mengiyakan perkataan mereka. Rio, hardi, siska dan lisa sudah duluan pulang meninggalkan aku dan zaki yang masih ada di parkiran.
“Naik din” kata zaki
Aku cuma senyum dan langsung naik ke atas motornya.
“Pegangan din, nanti kamu jatuh” timpalnya
Aku cuma diam dan tidak mendengarkan perkataan zaki.
Zaki langsung meraih tangan ku yang untuk pegangan ke badanya, aku cuma membiarkannya.
Zaki langsung mengendarai motornya dan aku masuk ke dalam kenangan masa lalu ku saat bersama zaki.
Tiba tiba aku kaget karna zaki memanggilku dan motor yang di kendarainya berhenti, padahal rumahku tidak jauh dari tempat kita berhenti sekarang.
” turun bentar din, aku mau bicara sama kamu” kata zaki.
Aku langsung turun tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulut ku.
” dinda aku tau kamu kecewa, tapi itu semua gak bener din, gak seperti yang kamu liat” kata zaki berusaha menjelaskan.
” tapi aku sudah melihat semuanya” jawabku.
“Iya, waktu itu aku memang pergi sama azza, azza itu adik sepupuku, memang tidak ada yang tau kalau kita itu saudara, karna ada satu momen yang membuat keluargaku dan keluarga azza menjadi jauh, begitu juga dengan aku dan azza.
Itu pertana kali aku ngobrol dengan azza setelah sekian lama, karna aku melihat dia menangis waktu itu, aku berusaha menenangkan dia waktu itu, dan mengantarkannya pulang, ternyata dia lagi ada masalah.
Saat itu aku berjanji aku akan selalu jagain dan selalu ada buat azza seperti kami kecil dulu ” jelasnya
“Kenapa kamu gak pernah bilang?” Tanyaku
“Saat itu aku mau ngejelasin semuanya tapi kamu sangat kecewa dan gak mau mendengarkan waktu itu, dan setelah kamu minta putus aku gak pernah bisa lagi ketemu sama kamu, aku selalu menanyakan kamu ke teman teman yang lain, dan di saat teman teman yang lain ngajak kumpul aku selalu datang dan berharap ketemu sama kamu, tapi kamu gak pernah datang ketika aku datang, kata yang lain kamu gak mau ketemu aku.
Dan hari ini aku gak menyangka kalau kamu juga ada, aku masih sayang sama kamu din, aku mau kita balikan lagi din ” kata zaki
Aku tidak tau mau bilang apa ke zaki waktu itu, “udah malam, gak enak kalau ada orang yang liat kita disini” kataku.
” jaudah yuk kita pulang” kata zaki yang dan menyuruhku untuk naik ke motornya.
Selama di perjalanan aku cuma diam, sesampainya di depan rumah aku langsung turun dari motor zaki.
“Makasih ya udah nganterin aku sampai rumah” kataku dan langsung pergi meninggalkan zaki.
“Aku masih sayang sama kamu dinda” kata zaki
Aku tidak merespon perkataan zaki, aku tetap berjalan menuju pintu dan langsung masuk. Tidak lama zaki pun langsung pergi meninggalkan rumahku.
Aku langsung menuju kamar dan merebahkan badanku di atas kasur.
“Apa bener yang di katakan zaki?? Kalau seandainya bener berarti aku sudah salah mutusin dia waktu itu, tapi kenapa dia gak pernah bilang kalau dia punya sepupu perempuan?? Apa yang harus aku lakukan sekarang?? Kenapa aku gak ngasih dia kesempatan waktu itu untuk menjelaskan semuanya.” Semua pertanyaan pertanyaan itu memenuhi pikiranku saat itu, sampai sampai aku tertidur dengan sendirinya bersama dengan ribuan pertanyaan yang ada di benakku.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Asal usul kota bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *