• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Wahana semesta begitu dahyat luasnya. Mengarungi semesta itu dalam waktu yang singkat ddan instan tidak akan memungkinkan. Bahkan, pencarian yang mengikis umur hingga menua masih belum akan cukup, selalu ada yang kurang. Mencari adalah kesia-siaan yang berisi kepedihan. 

Mencari dalam konteks apapun, kebijaksanaan dan kebenaran tidak akan ditemukan, tidak ada kepenuhan. Semakin mencari, semakin diri merasa kosong. Coba saja, baca buku sebanyak mungkin maka kebodohan yang akan kamu rasakan.

Teman hidup, passion, karir, keinginan orang lain, dst., juga serupa. Kenyataan dan kita adalah kontradiksi yang tidak pernah stabil.  Menyisir setiap sudut jalan kebenaran yang kita percayai,  bahkan dengan penuh percaya diri sekalipun adalah kesia-siaan dan kekecewaan. Bergerak dalam kebuntuan, rutinitas yang berulang-ulang setiap hari sampai akhirnya nyawa tak tertolong lagi. Nietzsche menyebut aktivitas dan rutinitas manusia sebagai “pengulangan abadi”. Ia mengatakan dalam The Gay Science:

“Bagaimana, jika suatu hari atau malam setan mencuri setelah Anda ke dalam kesepian Anda yang paling kesepian dan berkata kepada Anda: ‘Kehidupan ini sebagaimana Anda sekarang menjalaninya dan telah menjalaninya, Anda harus hidup sekali lagi dan berkali-kali lebih banyak; dan tidak akan ada yang baru di dalamnya, tetapi setiap rasa sakit dan setiap kegembiraan dan setiap pikiran dan desahan dan segala sesuatu yang sangat kecil atau besar dalam hidup Anda harus kembali kepada Anda, semua dalam urutan dan urutan yang sama — bahkan laba-laba ini dan cahaya bulan di antara pohon-pohon itu, dan bahkan saat ini dan aku sendiri. Jam pasir kehidupan yang kekal terbalik lagi dan lagi, dan kau bersamanya, setitik debu!”

Selain itu, terdapat sebuah novel berisi satir menarik berjudul Candide, karya seorang filosof ternama, Voltaire. Novel satir ini terbit pada tahun 1759 dan banyak kalangan menganggap jika novel ini adalah magnum ovum atau karya terhebat Voltaire. Ia meringkas isi pikirannya itu untuk mengkritik aliran optimisme metafisik dari G. W. Leibiz. 

BACA JUGA :   Buku Lama

Bagi Voltaire, optimisme yang berisi pola sesuai hukum sebab-akibat hanya merupakan kedangkalan yang menerobos dinamisme dunia ke dalam hukum mekanistis berbau kehororan dan kebodohan. Dunia itu, terutama dunia manusia sangatlah kompleks dan tidak cukup terlukis hanya dengan memakai hukum sebab-akibat saja.

Candide, yang berperan sebagai tokoh utama dalam novel berjudul Candide itu beberapa kali menemukan diri terserak-serak dalam kebingungan dan ketidaktahuan akan dunia yang selalu memberi pukulan keras padanya. Novel ini sangat saya rekomendasikan untuk kita yang sedang mencari bahan bacaan filsafat dalam bentuk novel, yang dikemas ringan dan sederhana, novel tentang petualangan dan romansa klise. 

Optimisme membunuh Candide secara perlahan dari dalam. Ia beberapa kali mengalami frustasi mendalam, sampai meyakini bahwa ia adalah satu-satunya orang yang merasa tersiksa dan meragukan eksistensi Tuhan. Lantas, ia menanyakan kepada setiap orang yang ia temui untuk membuktikan apakah benar dirinya lebih menderita daripada apa yang dialami orang lain. 

Ia justru menemukan jika sakit yang ia rasa masih belum seberapa jika dibandingkan dengan orang-orang tersebut. Adapun orang yang ditanyai oleh Candide juga merasa jika hidupnya ternyata lebih baik dari si tokoh utama. Artinya bahwa, jalan yang dilalui oleh setiap orang begitu berbeda. Bahkan, membandingkan mana yang lebih pahit juga tidak akan melahirkan makna apa-apa. Lagi-lagi, hanya kita yang mengenal konteks hidup kita sendiri. 

Artinya, aku, kamu, kita berada bersama dan memberi makna atas dunia melalui pengalaman fenomenologis kita masing-masing. Dunia adalah ruang publik bagi kita beserta lainnya untuk berbagi perbedaan, bukan membandingkan. Berfokus pada satu hal tidak berarti meninggalkan jalan dan perspektif lain. Tidak ada yang benar-benar mampu hidup sendiri, kita adalah subyek yang berelasi membentuk intersubyektifitas.

Yogi Timor (9)

Menulis untuk Bertahan Hidup

BACA JUGA :   Kita tidak perlu menyalahkan Tuhan kita di saat cobaan datang. Itu adalah pertanda Kalau ia sayang sama kita
Bagikan Yok!

Yogi Timor

Menulis untuk Bertahan Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *