• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Berjuang Di Tengah Pandemi

ByJanuard

Agu 8, 2021

Kesan guru sebagai pejuang pendidikan, guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa adalah kalimat yang sudah sering kita dengar dan sangat tidak asing lagi bagi kita. Dari kalimat tersebut membuat mentalitas seorang guru makin dipacu dalam suka maupun duka.
Adanya pandemi Covid-19 membawa dampak yang besar bagi seorang guru. Tanpa terencana semua sekolah, universitas, ataupun tempat-tempat bimbel yang seharusnya dilakukan tatap muka menjadi macet total. Dibalik pandemi ini ada faktor positif yang sangat menguntungkan bagi guru maupun murid di sekolah.
Guru Joze adalah satu guru di sebuah sekolah di pedesaan yang berbatasan dengan negara tetangga Timor Leste, tepatnya di SMP N As Manulea, Malaka-NTT pun mendapat imbas dari pandemi ini. Bagaimana imbas yang dirasakan sang guru? Bagaimana pula sang guru mengatasinya? Mari kita simak ceritanya.
****
Berjalan dengan motor butunya dilindungi awan berhiaskan teriknya panas matahari, meninggalkan penat dan keringat mengiringi perjalanannya. Tangannya layaknya menari menarik gas motor butut demi mempercepat tibanya sang guru. Sesekali ia memperbaiki posisi duduknya sambil melihat agar tidak terjatuh dalam lubang lubang aspal yang mulai rusak dan tak teratur struktur jalannya. Tak terasa tibalah sang guru di peraduannya dan siap melepas lelah dan penatnya.
Siang itu hingga malam hari sang guru tak ingin siakan kesempatan untuk mempersiapkan diri pada esok harinya. Hanyalah anak-anak didiknya yang selalu membayang ketika malam berlangsung. Sang guru mulai beraksi memainkan pena hitamnya menari menghasilkam tulisan, goresan yang akan dijadikan batasan paparan materi ajar untuk pertemuan selanjutnya. Tak pernah pudar keinginan berkreasi demi mereka.
Waktu berlanjut, saat mencengangkan mulai datang. Tanpa diundang, tak berupa dan berwujud, datang membawa perubahan dari yang sudah direncanakan. Layaknya wabah pada umumnya, si covid-19 pun datang tanpa diketahui dari mana arahnya. Demikian semaraknya melebihi pamornya public figure, si Covid-19 pun demikian.
Resah, kewalahan antara istirahat atau lanjut. Sang guru mulai merasakannya. Tekad kokohnya sang guru demi anak-anaknya mulai dikacaukan. Malam itu ditemani secangkir kopi hitam, sang guru mulai merenung tanpa berkata tanpa bertindak. Hatinya berkecamuk apa yang seharusnya dia lakukan untuk anak didik yang dicintainya.
“Ahh…!!!” suara sang guru memecah heningnya malam.
“Maaf pak, ada apa bapa kaget seperti ini?” suara sang istri mengagetkan sang guru. Tanpa sahutan dari sang guru untuk sang istri yang selama ini dicintainya itu.
Berselang beberapa menit lamanya sang guru pun meminta maaf kepada istrinya yang diam membayangi sang suami yang terdiam seribu bahasa saat diajak berbicara.
“Maafin bapa ya bu!” kata sang guru. Situasi rumah malam itu mulai cair seiring tanggapan dari sang guru terhadap perkataan sang istri. Sang guru menjelaskan tentang wabah yang mulai mengancam aktivitasnya bersama lingkungannya.
“Pak, mari kita jalani dengan memohon doa pada sang pencipta dalam menghadapi wabah ini, Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umat-Nya” kata sang istri menenangkan sang guru.
“Tidurlah dan bermimpi indah tentang hari esok” lanjut sang istri. Malam itupin mulai dilalui sang guru beserta keluarga kecilnya dengan tenang dan indah.
Tak terasa sudah seminggu berjalan. Tak mau pergi si wabah itu. Aktifitas sang guru tak seperti biasanya. Rasa rindu ingin menemui anak-anak tercintanya. Hal yang lebih mengejutkab lagi sang guru adalah ketika sekolahnya diliburkan. Apalah daya kalau memang rindu sang guru harus tertahankan dengan keadaan saat ini. Haruskah ia datang menemui anak didiknya? Ataukah harus ia apakan muridnya?
Daringlah menjadi solusinya. Awal baru bagi sang guru begitu pula anak-anaknya. Handphone, laptop, signal menjadi faktor utama keberlangsungan aktifitasnya. Anak didik mulai merengek. Memeinta kesediaan orang tua untuk memberikan yang namanya handphone.
Awal-awal yang membutuhkan serangkaian proses rumit demi berlangsungnya belajar melalui daring. Tugasnya sang guru mulai terasa, dari beberapa siswanya tidak memiliki handphone. Kreatifitas sang guru mulai dituntut demi sang anak. Luring pun harus dilaksanakan.
Berbagai kolaborasi pembelajaran dilaksanakan sang guru dengan penuh cinta demi sang anak tercinta. Seiring berjalan waktu, tak terasa anak anaknya mulai menikmati proses pembelajaran ala covid-19.
Bahagia kembali mulai dirasakan sang guru, tawa ria juga mulai dirasakan anak anak didiknya yang baru saja menggunakan handphone sejak dari hidupnya. Semangat daya juang sang guru seperti awal mulai berjalan kembali. Si butut tidak lagi dipacu menuju sekolahnya saja tetapi rumah-rumah anak tercintanya. Lengkapnya lagi ketika anak asuhnya menyelesaikan pendidikannya di sekolahnya walau si covid tak mau pergi. Hari-hari terus dilaluinya dengan rasa syukur dan bahagia.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Manajemen Bencana Penanganan Covid, Efektivitasnya, dan Dampak PPKM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *