• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Novel Takdir: Chapter 2

BySri Hidayati

Agu 7, 2021 ,

Di sebuah tempat langganan makan dekat kampus. Di situlah sosok yang ganteng, pinter tapi cuek. Musa bersama dengan kedua sahabatnya yaitu, Zain dan Yusuf.

“Woyyyy broo kamu kenapa diem-diem bae” tiba-tiba kata Zain sambil memukul pundak Musa.

Tapi Musa bukannya kaget malah tak menghiraukan pertanyaan dari Zain.

“Ehhh kamu Zain, kaya gak tau Musa aja. Dia kan emang dingin hha” tiba-tiba jawab Yusuf sambil becanda.

“Emang es bang dingin” ucap Zain.

“Es apa Zain ?”

“Es teh nih enak hahaha”

“Kirain es kelapa, kan seger gitu lhooo hhahaa”

“Ehhh apaan segeran juga es cendol kayanaya deh”

“Cendol dawettttt asyikkkk”

“Hahaha” Zain dan Yusuf pun tertawa bersamaan.

Musa tak menghiraukan becandanya mereka. Musa memang suka diam. Beda dengan Zain dan Yusuf. Zain dan Yusuf pun sudah paham dengan sifat Musa itu, dia memang pendiam, tapi baik.

Musa masih sibuk dengan perasaannya saat ini. Entah apa yang membuatnya selalu kepikiran dengan gadis itu. Baru pertama Musa merasakan perasaan yang aneh sejak bertemu dengan gadis itu. Musa merasa gadis itu benar-benar cantik. Rasanya ingin saja abaikan, tapi pikiran ini selalu menuntun untuk terus memikirkan gadis itu. Padahal, biasanya Musa paling males mikirin cewek, rasanya gak guna banget mikirin cewek. Bagi Musa mikirin orang tua supaya bisa bangga dan bahagia itu lebih menguntungkan. Meski kata maaf sudah tersampaikan, tapi Musa belum menerima maafnya dari gadis itu. Sehingga rasa bersalah itu pun terus saja menghantui. Entah perasaan apa sebenarnya, rasanya aneh.
***
Pondok Musa

“Musa bangun, kamu gak kuliah hari ini ?” Tiba-tiba kata Arka salah satu teman pondok Musa membangunkan Musa di masjid.

BACA JUGA :   Refleksi Diri: Waktu Ibarat Mata Pedang

“Astaghfirullahal’adzim….jam berapa ini ka ?” Jawab Musa kaget.

“Tengah tujuh Sa” kata Arka

“Ya Allah hari ini aku masuk jam tujuh ke kampus, makasih ya Ka sudah bangunin aku” kata Musa sambil berdiri kemudian lari segera menuju kamar mandi.

“Aduhhh”

“Santuy Sa, santuy jalan ajah ehhh ngapain kamu lari-lari ?

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *