• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Novel Takdir: Chapter 1

BySri Hidayati

Agu 7, 2021 ,

Kontrakan

Di sebuah rumah agak besar, namun berantakan. Di situlah aku tinggal. Rumah rantau, yaitu rumah kontrakanku. Aku kebetulan ngontrak  dengan delapan anak di dalamnya. Suasananya pasti selalulah ramai di dalammnya. Bagaikan rumah kedua, setelah rumah di desa kelahiranku tentunya.

“Syasya bangun jam berapa ini mau kuliah apa ndak, bukannya kamu masuk jam tujuh yah hari ini ?” Teriak  Meilani yang kebetulan di depan kamarku, yang merupakan depan kamar merupakan depan televisi, yaitu tempat kumpul semua anak-anak kontrakan.

“Astaghfirullahal’adzim…”kagetku mendengar suara teriakan temanku itu.

Dengan sontak aku mengambil ponselku dan melihat jam, ternyata sudah jam setengah tujuh.

“Ya Allah kalian-kalian pada tega banget, kenapa gak di bangunin dari tadi, jam enam kek” marahku pada teman-teman yang kebetulan ada yang di depan televisi dan ada juga yang di dapur.

“Yeealah lagian kamu kebiasaan. Makannya kalo habis sholat subuh tuh jangan tidur lagi, ngapain kek, masakin kita-kita kek. Kan itu baru namanya teman yang baik. Tiba-tiba jawab Intan dengan nada yang kelihatan banget nyindirnya.

Dengan segara akupun berlari ke kamar mandi tak menghiraukan Intan maupun teman-teman yang lain yang terus membulyku itu.

Ndak ada lima menit aku mandi dan akhirnya selesai. Segeraku siap-siap, dandan maksudnya hha sedikit.

Ku melihat Meilani yang sudah rapi, siap berangkat.

“Mei kamu berangkat jam tujuh kan ?” Tanyaku tiba-tiba pada Meilani.

“Iya, mau nebeng ndak ? Makannya cepet, nanti aku tinggal kamu, jangan lupa makan dulu noh udah di siapin sama Nada sma Kak Alvira” Jawab Meilani. Dengan nada ketus pastinya, namun perhatian sih.

Emang nyebelin yang namanya Meilani. Tapi jangan salah dia baik orangnya. Sepertinya gak tegaan juga. Dia the best kalo urusan masak di rumah ini, rumah kedua ini yah. Udah-udah jangan di puji nanti terbang hha.

Semua anggota kontrakanku ada delapan anak. Dan Alhamdulillah sepertinya semua anak-anaknya baik-baik Insya Allah. Di rumah itu hanya ada dua kamar, jadi isinya empat-empat anak perkamarn. Lumayan besar aslinya rumahnya, ada depan buat parkir motor-motor bagi yang bawa motor. Ada tempat televisi juga, dan dapur di belakang ada sendiri.

“Pelan-pelan makannya Syasya” kata Dewi yang kebetulan di dekatku sedang menonton televisi.

“Telat ini dew nanti di tinggal Meilani aku” jawabku.

“Iya dek, pelan-pelan ajah” sambung kak Asyiah sambil tersenyum dan di susul tertawa.

BACA JUGA :   Resep sayur lodeh

“Syasya ayuh berangkat, udah telat ini” tiba-tiba teriak Meilani dari depan rumah yang sudah siap dengan motornya.

“Alhamdulillah kenyang, aku berangkat dulu yah Assalamualaikum….” pamitku lalu berlari menuju Meilani.

“Waalaikumsallam..” jawab serentak semuanya.

“Berangkat dulu teman-teman Assalamualaikum…” Teriak Meilani dari depan rumah dan akhurnya kita pun barangkat menuju kampus.

Kampus

“Uhhh akhirnya sampai Mae” kataku sambil turun dari motor.

“Kamu di kelas apa Sya?” Tanya Meilani kemudian.

“Aduhh aku kelas B7 lagi, capek aku terburu-buru terus dari tadi” jawabku sambil ngeluh karena harus jalan lari-lari naik ke lantai tiga lebih tepatnya.

“Sama Sya lantai paling atas, tapi aku kelas A, ayuhh keburu ada dosen” kata Maelani yang tadinya jalan bareng kemudian harus berlari-lari berpisah.

“Makasih mae tumpangannya, dadah kita pisah” kataku sambil berlari juga.

Dengan lari terburu-buru akhirnya sampai di tangga pertama. Saat mau naik tiba-tiba badanku di tabrak dari samping sama seseorang hingga aku terjatuh.

“Aduhhh kalo jalan lihat-lihat kenapa sih,  sakit tau, ini malah sudah telat juga lagi” marahku pada seorang yang menabrak hingga aku melihat ke atas.

“Maaf” kata orang itu sambil menawarkan tangannya untuk membantuku berdiri.

Reflek akupun menerima bantuan itu. Dan setelah aku berhasil berdiri dia kemudian langsung pergi dan berlari naik tangga meninggalkanku.

“Dasar orang gak tanggung jawab banget, bukannya gimana kek, malah langsung di tinggal gitu ajah, aku juga telat ini kok, untung ganteng itu muka Astaghfirullahal’adzim….apa sih Syasya kamu, udah telat ini” Crocosku tiba-tiba.

Kemudian aku pun melihat ke belakang, nampaknya sudah sepi banget. ”

“Masa iya ndak ada yang telat selain aku sih” batinku.

Seketika bukannya nemu temen malah yang nongol tiba-tiba ada dosen yang mau mengajar kelasku itu nampak dari kejauhan dan sedang menuju ke sini. Dengan segera akupun berlari naik tangga menuju kelas yang di atas.

“Assalamualaikum….” Teriakku sambil lari masuk ke dalam kelas.

“Waalaikumsallam…”

Semua anak kelas spontan menjawab salamku dan menengok ke pintu masuk ssmuanya. Tapi aku tak perduli, aku langsung mencari-cari di mana teman-teman rombongan sahabatku itu.

“Sya sini, Syasya” Tiba-tiba teriak Luluk

Dengan segera akupun berlari menuju bangku yang sudah di tunjukkan oleh Luluk.

“Aduhh belakangku dosen guys, ngomong-ngomong ini tumben pada di belakang, biasanya paling depan ehhh”
Kataku sambil duduk

BACA JUGA :   Penuh Harap di Gedung Tinggi

“Iya ini kelas kating (kakak tingkat), jadi pas kita-kita berangkat depan sudah ndak ada yang kosong” jawab luluk.

“Ehhh ngo….” Belum selesai aku bertanya tiba-tiba salam dosen nyusul.

“Assalamualaikum….”

“Waalaikumsallam” serentak semua anak kelas menjawab bapak dosen.

“Baik anak-anak pasti ada sebagian yang sudah kenal saya, karena ada yang sudah pernah di ajar saya waktu semester awal. Jadi ini mau perkenalan dulu apa langsung bagi kelompok, minggu depan presentasi ?” Ucap bapak dosen.

Tettt…tettt”

“Alhamdulillah….kelar juga” bisikku pada sahabat-sahabatku yang di dekatku.

“Baik anak-anak sebelum, kita mengakhiri makul kita hari ini. Mari kita baca doa Kafarotul majlis bersama-sama. Berdoa di mulai !” kata bapak dosen.

Semuanya pun berdo bersama secara betsamaan.

“Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.” Salam dosen kemudian.

“Waalaikumsallam. Wr.wb.” jawab serentak para mahasiswa.

Semuanya pun keluar satu persatu dari ruang kelas, ada yang langsung keluar ada pula yang ngantri salim berjabat tangan dengan bapak dosen.

“Habis ini yang gak ada makul siapa ajah” tanyaku tiba-tiba sambil berjalan keluar kelas.

“Ehhh aku duluan yah, langsung ada kelas aku hari ini bay” tiba-tiba kata Izmi, saat sudah di depan kelas sambil berlari.

“Owlah, hati-hati Izmi” teriak yang sahabat-sahabat yang lain.

“Aku masih nanti sih bareng Luluk sama Vir juga. Setelah jam ini habis Sya, wahh Rani mana yah guys?” Ucap Sari

“Rani kan beda kelas beb” jawab Vir tiba-tiba.

“Owlah berarti ini yang gak sekelas tadi Rani doank yah ?” Tanyaku

“Iya” jawab yang lain.

“Perasaan aku jarang ehh malah gak ada yang sekelas kayanya deh sama Rani, kemaren-kemaren aku samain gak ada yang sama kayanya kelasnya”

“Iya sama Sya, kita-kita kayanya banyak yang jarang sekelas sama Rani deh” tiba-tiba kata Luluk.

“Ehhh ngomong-ngomong ini gak ada yang masuk jam habis dzuhur pah ? Aku doank nih berarti ? Tanyaku

“Iya Sya hha, tapi kita-kita juga ada jam abis dzuhur deh, sekelas kayanya kita” kata Sari.

“Lah aku masih lama, aku pulang ajahlah yah ke kontrakan, males nunggu masih rada lama aku, gak ikut ngumpul dulu dah baybay” kataku sambil pergi jalan pulang sendiri.

Akhirnya aku jalan sendiri menuju pulang, aku sudah wa grup kontrakan, tapi belum ada yang mau pulang katanya. Meilani masih ada makul lagi katanya.

Tiba-tiba saat mau keluar gerbang kampis ada yang mendorongku dari belakang

BACA JUGA :   Novel Takdir: Chapter 2

“Aduhhhhh”

Aku terjatuh lagi. Dan akhirnya aku menengok ke atas siapa yang sudah membuat aku terjatuh itu.

“Kamu lagi ?” Teriakku

“Maaf” ucap dia.

Lagi-lagi hanya maaf dan mengulurkan tangannya. Saat aku sudah berdiri aku di tinggal begitu aja.

“Ihhhh dasar, itu orang untung ganteng. Tapi sayang orang atau apa sih, nyebelinnya kebangetan banget gitu” Crocosku sambil jalan.

Rasanya hari ini aku terasa capek, sudah tadi berangkat terburu-buru, terus pake jatuh segala. Dan sekarang jatuh lagi. Dan lagi-lagi yang membuat aku terjatuh orang itu-itu lagi, Astaghfirullahal’adzim…..salah apa hamba-Mu ini Ya Allah.

“Tittt …titt…tittt”

Tiba-tiba suara motor dari belakang. Tapi emosiku lagi naik, akupun tak menghiraukan suara motor itu. Hingga sampai di saat aku mau menyebrang tiba-tiba motor itu pun juga berhenti tepat di dekatku.

“Aku minta maaf yah sudah buat kamu jatuh, aku ndak sengaja. Sebagai minta maaf aku kamu mau ke mana hari ini aku anterin gimana ?” Tiba-tiba tawar orang itu.

Dengan segera aku pun menengok ke dia sekilas.  Dia pikir aku siapa ? Percaya begitu aja sama orang tak di kenal. Aku pun hanya diam dan meninggalkan orang yang menurutku aneh itu.

Dalam perjalanan Syasya pulang menuju kontrakannya memang lumayan bisa di bilang jauh. Ada sekitar 10 sampai 15 menit kalo berjalan. Itu pun harus melewati jalan jembatan yang sepi dan seperti jurang yang kalo jalan itu rasanya seoerti manjat aja.  Awalnya dulu emang ngeluh, capek rasanya. Apa lagi kalo berangkat terburu-buru seperti berangkat tadi pagi dan kebetulan gak ada tebengan, nasib hanya bisa meratapi. Tapi ya mungkin karena namanya sudah terbiasa, ya jadinya terbiasa hha.

Dalam perjalanan pulang maupun berangkat itu, setelah melewati jembatan itu pasti kita selalu melewati masjid, dan di depan masjid itu, di salah satu saka sebelum ujung tertempel kotak amal yang selalu setia di situ.

Di situlah hati ini selalu ada rasa sedih, jika aku tak memasukkan sepeserpun di situ. Paling ndak di setiap aku melewati masjid itu aku harus memasukkan, meski tak seberapa.  Apalagi kalo hari Jumat, jika tak memasukkan sedikitpun rasanya sedih aja jika inget itu.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *