• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Keseriusan Total Sangat Perlu Ketika Ikut Lomba

ByBudi Prathama

Agu 6, 2021 , ,

Era milenial semakin canggih, begitu pula kompetisi perlombaan yang beragam juga banyak macamnya. Saat ikut lomba memang mengasyikkan dan memberikan banyak pelajaran. Dalam lomba tentu dapat melatih mental, perasaan dan fikiran pada titik kesetimbangan. Sehingga terkadang banyak juga orang yang sangat doyan ikut lomba atau biasa kita kenal para pemburu domba, eh pemburu lomba.

Kondisi sekarang bukan lagi perkara sulit jika ingin mencari info-info lomba. Telah disaksikan bersama perkembangan tekhnologi semakin canggih, dan salah satu contohnya adalah media sosial yang mempunyai peran sebagai pemberi informasi. Di mana pun kita berada, disitu pula dengan sekejap dapat menemukan jenis-jenis lomba, asalkan tempat kita masih terkoneksi dengan internet. Karena info-info seperti itu sekarang kebanyakan dari internet. Iya, kerena repot juga panitianya kalau harus pergi pasang-pasang poster hanya untuk mensosialisasikan info lomba, seakan seperti para caleg saja.

Daripada pergi pasang poster, lebih baik upload di semua akun media sosial, kemudian dibagikan terus, maka itu dengan mudah dapat menjangkau para pemburu lomba. Selain hemat waktu, juga hemat tenaga, dan hemat biaya itu sudah pasti.

Apalagi manusia yang hidup di era sekarang, lebih banyak berinteraksi di media sosial dalam jangka waktu 24 jam, terutama para generasi milenial. Ya, tinggal masuk saja dalam menu pencarian di internet dengan kata kunci info lomba, maka pasti banyak muncul jenis lomba yang diinginkan.

Dan salah satu akun media sosial yang banyak digunakan untuk share info lomba adalah akun instagram. Di situ kita bisa lihat hampir semua aktivitas diperlombakan, mulai dari lomba penulisan, lomba olahraga, lomba bergaya, sampai lomba joget-jogetan pun ada. Tinggal memilih lomba apa yang mau diikuti, sesuai dengan keahlian yang dimiliki.

BACA JUGA :   Cara Klasik VS Asik Ngatur Keuangan

Dalam setiap lomba tentu memiliki persyaratan dan ketentuan masing-masing. Hal ini diperuntukkan agar tidak sembarangan orang ikut, karena harus memenuhi kriteria, artinya kalau memenuhi yes dan kalau tidak maka no. Disini terjadi pendisiplinan dari kategori masing-masing lomba, mengingat lomba tidak mungkin dicampuradukan, seperti ada batasan umur dan latar belakang peserta.

Makanya kalau ingin ikut lomba sangat perlu untuk memperhatikan secara teliti apa-apa saja persyaratan dan ketentuan dari lomba tersebut. Dengan kiranya membaca secara saksama dan sampai tuntas, agar tidak terlalu banyak tanya pada lomba tersebut. Hal yang sering juga terjadi, para pemburu lomba terlalu gampang dan cepat bertanya kepada panitia, padahal dalam deskripsi lomba itu sudah dijelaskan secara detail.

Biasanya seperti itu disepelekan saja, pemburu lomba lebih suka bertanya duluan daripada harus menyelesaikan membaca deskripsi lomba. Sehingga kadang kala juga, panitia hanya menjawab bahwa itu sudah dijelaskan di deskripsi lomba. Nah, kondisi seperti itu bertanda bahwa budaya bertanya sebelum membaca, itu masih kuat dan mempengaruhi masyarakat sampai pada generasi milenial hari ini.

Repotnya karena biasanya informasi lomba yang tersebar di media sosial itu, bukan semata-mata hanya akun dari yang mengadakan lomba saja. Karena banyak juga akun-akun yang hanya meneruskan dan membagikan info lomba itu. Kalau kita sangat antusias bertanya sebelum membaca keseluruhan, kan repot jadinya kalau orang itu yang harus jelaskan, pasti disuruh mencari kontak panitia. Lagi-lagi perlu untuk membaca, membaca sampai tuntas.

Seperti yang ada di judul, ketika ingin ikut lomba sangat perlu kiranya untuk tidak asal-asalan. Dalam lomba bukan semata-mata yang penting ikut dan itu sudah pasti ada pengalaman. Tidak, prinsip seperti itu perlu dipatahkan, karena namanya juga lomba maka bertarunglah sekuatnya. Dengan itu, makanya perlu mempersiapkan secara matang-matang apa saja yang harus disiapkan.

BACA JUGA :   Chairul Tanjung Bukan Lagi Anak Singkong

Kenapa saya mengatakan kalau ikut lomba harus serius dan tidak boleh asal-asalan. Mengingat saya pernah mengalami ikut lomba hanya asal-asalan, tetapi ujungnya timbul penyesalan. Makanya, saat ikut lomba selanjutnya sebisa mungkin saya tidak melakukan hal yang serupa atau jatuh pada lubang yang sama, dan ini juga bisa menjadi pengingat untuk pembaca. Meskipun, kelalaian ikut lomba tidak separah dengan kelalaian dalam hidup.

Dahulu, saya sempat ikut lomba yang hanya asal-asalan saja. Lombanya sih tidak terlalu gede dan hanya tingkat universitas saja, lombanya itu penulisan essai. Awalnya saya hanya berpikir yang penting ikut dan akan ada juga pengalaman didapat. Pikirku tidak usah jadi juara, karena lombanya juga susah dan banyak menguras pikiran saja.

Akhirnya saya pun ikut lomba itu dengan essai yang hanya biasa-biasa saja. Essai saya banyak keluar dari sub tema yang sudah ditentukan oleh panitia. Saya juga mengerjakannya pas mendekati deadline, dan fikirku yang penting selesai sampai karya dapat terkirim.

Alhasil, saat tiba waktunya pengumuman, sangat tidak terduga ternyata nama saya terpampang dan masuk kategori empat besar. Kenapa bisa, mungkin karena pesertanya terlalu sedikit dan mau tidak mau nama saya harus muncul. Ya, begitulah mahasiswa di kampus saya bukan tipe mahasiswa pemburu lomba.

Dari hasil tersebut, jelas saya mensyukurinya. Susah lho nama saya bisa terpampang sebagai finalis dalam lomba, maka jelaslah saya bangga. Namun, saya sedikit menyesal kenapa naskah yang saya kirim itu asal-asalan. Seandainya dari awal saya serius untuk membuat essai sekuat tenaga, tidak menutup kemungkinan nama saya terpampang sebagai juara 1, bukan sebagai juara harapan. Saya mengatakan demikian, karena pesertanya sedikit.

BACA JUGA :   Ketika Kita MenTuhankan Kesibukan, dan Melupakan Tuhan Itu Sendiri

Oh iya, saya hampir lupa sampaikan bahwa saya hanya juara harapan, dimana hadianya hanya sertifikat dan buku satu. Beda untuk juara 1, 2 dan 3, selain mendapatkan sertifikat, mereka juga ada uang pembinaannya yang cukup untuk mentraktir pacar dan teman di restoran yang lumayan elit. Bukan hanya traktir pacar, membeli smartphone juga cukup.

Disitulah, timbul penyesalan kenapa dari awal tidak serius ikut lomba. Jadinya kan tidak dapat uang pembinaan, tidak bisa dielakkan bahwa dunia semakin realistis. Bukan berarti seandainya saya serius dari awal ikut lomba, sudah pasti juga dapat, tentu tidak, hanya saja peluangnya akan lebih besar. Ya, begitulah karena mungkin belum berjodoh, seperti aku dan kamu yang sampai saat ini belum dipertemukan juga.

Jadi, kesimpulan dalam tulisan ini, kalau ikut lomba lebih baik dikeluarkan semua jurus-jurus yang dimiliki. Keseriusan dan ketelitian mesti diperhatikan sebelum mengirim karya. Jika sudah melimpahkan semua kekuatan, namun hasilnya tidak sesuai harapan, mungkin itu belumlah berjodoh. Tetapi yakin saja bahwa usaha tidak ada yang sia-sia, akan tiba masanya usaha akan memperlihatkan hasilnya di depan mata kita. Sekian dan terimakasih.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *