• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk mentoleransi frustasi.
Ego sendiri lebih akrab dengan sifat manusia yang egois atau hanya mau menang sendiri.

Sedangkan kepentingan orang lain dikesampingkan.

Ketika kita melihat orang yang berusaha terus menuruti keinginanya, maka itu adalah Ego. Ego berkaitan pula dengan harga diri.

Pasti kamu pernah mendengar, kan. Kala orang yang ngomong gini “Lo jangan egois, dong,” “Turunin Ego lo dikit napa,” “Dia mah Egonya tinggi, makanya gak mau ngalah.”

Contoh diatas adalah gambaran bagaimana Ego itu dipandang oleh manusia.

Jika melihat orang yang tidak mau mengalah, kita pastikan orang tersebut memang punya Ego yang tinggi.

Jika melihat orang yang berusaha agar pendapatnya disetujui oleh banyak orang, kita sebut itu Ego.

Banyak sekali, ya contoh-contoh Ego dalam diri manusia. Meskipun tak semua orang memiliki Ego yang tinggi.
Jadi sebenarnya Ego itu baik gak, sih?

Untuk menjawab ini, kita perlu menganalisa, apakah semua manusia memiliki Ego?
Seorang psikolog kenamaan, Sigmun Freud, mengatakan bahwa kepribadian manusia terdiri dari 3 komponen utama, yaitu Ego, Id, dan Superego.

Tapi, sekarang yang kita fokuskan adalah Ego.

Kenapa Ego bisa ada didalam diri manusia? Karena adanya Ego, identitas manusia terbentuk.

Ego yang membuat identitas tentang diri kita dibangun sendiri.

Kita ambil contoh sederhana,
1. “Saya adalah orang yang good looking, oleh karena itu saya patut untuk dihormati oleh banyak orang,”
2. “Saya ini kurang cakap kalau bertemu dengan orang yang baru, pasti nanti saya akan sangat memalukan terlihatnya,”
See? Diatas merupakan contoh masing-masing Ego.

BACA JUGA :   Miris! Apakah Tebing Tinggi Layak Jadi Kota Badut Anak?

Contoh yang pertama, saya yakin dengan kesadaran saya, kalau saya ini good looking, maka saya ingin agar orang lain memperlakukan saya sebagaimana saya meyakini diri saya. Jika, ada yang bertentangan, maka saya akan merasa tersinggung atau mungkin berusaha agar keyakinan saya ini disetujui oleh orang lain.

Contoh yang kedua, dari awal saya sudah sadar bahwa saya ini tidak pandai dalam hal berkomunikasi, jadi ketika saya bertemu dengan orang yang baru saya temui, saya akan dengan sendirinya berperilaku seperti apa yang saya yakini tentang diri saya.

Keduanya sama-sama mencerminkan bagaimana Ego bekerja dalam kehidupan sehari-hari pemilik Ego itu sendiri.

Jadi, kalau misalnya kamu meyakini dirimu pandai dalam sesuatu hal, maka itu adalah Ego.

Atau hal lainnya, yang kamu yakini tentang dirimu sendiri.
Sebenarnya sah-sah saja, jika kita memiliki kepercayaan diri atau perasaan ingin dihargai. Karena itu adalah kebutuhan manusia.

Kebutuhan manusia ada 5 menurut Maslow. Yaitu Kebutuhan akan fisiologi, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, aktualisasi diri.

Ego ini ditempatkan pada kebutuhan penghargaan dan aktualisasi diri.

Namun, segala sesuatu yang diperlakukan secara berlebihan, maka dampaknya akan buruk dihari kemudian.

Ego selalu berbicara tentang diri sendiri, yang difokuskan pun juga diri sendiri, Ego tidak memedulikan pada kondisi orang lain.

Ego juga yang membuat kamu menjadi denial atau menyangkal, bilamana dirimu disalahkan oleh orang lain. Sekalipun kamu berada pada posisi yang benar.
Ketika kita sudah tau kalau Ego ternyata yang seperti itu dan wajar saja, jika manusia memiliki Ego karena sudah menjadi salah satu komponen utama dalam diri manusia.

Tapi, terlepas dari kewajaran Ego. Kita gak boleh, nih. Karena, adanya Ego dalam diri kita, akhirnya semuanya bersikap “Oh, suka-suka gue,”
Kamu pernah denger kalimat ini gak, sih “Ego ini membunuhku”, kok kalimatnya hampir-hampir mirip, ya, kayak “Cinta ini membunuhku” Hehe.

BACA JUGA :   Inspirasi Warna Gaun atau Kebaya Untuk Si Kulit Gelap Agar Terlihat Lebih Cerah

Baca juga : https://imbicom.club/2021/08/04/tips-menjaga-kesehatan-mental/

Ya, itulah Ego. Bisa membunuh dan membuat kita kehilangan orang yang kita sayangi, atau membuat orang lain jadi gak respect dengan diri kita, karena Ego. Saking cinta ke diri sendiri berlebihan. Akhirnya orang lain jadi dibodo amatin, terhadap orang lain jadi “Yauda, gakpapa kalo dia gak seneng sama sifat gue, emang gue begini orangnya, kalo ngomong suka ceplas-ceplos,”
Waduh, i think this too over with yourself. Rasa empatinya, tolong ditempatkan…

Jangan sampai, ya. Karena Ego yang tinggi, terus kita jadi manusia yang gak empati sama orang lain. Gak mau memahami perasaan orang lain, jika diri kita yang berada di posisi orang yang kita sakiti.

Ya, mungkin kamu gak sadar kalo ucapanmu itu menyakiti hati orang lain, karena kamu merasa “Gue bener, kok ngomongnya, kalau dia sakit hati ya berarti itu urusan dia, dia nya aja yang baperan orangnya,”

Come on!

Setiap manusia itu, kan punya perasaan dan akal. Lalu, fungsi perasaan itu, kan untuk merasakan perasaan sedih, kecewa, senang, marah, dll. Terus, kalo ada orang yang menggunakan perasaannya untuk sedih atau kecewa, ketika semisal mendengar ucapan yang menyakiti hatinya, walaupun kamu sendiri gak sadar udah ngomong yang nyakitin, karena kamu merasa “This is me!”

Mending pergi ke laut aja, deh orang yang kayak gitu, ya. Huft!

Makanya penting banget, sifat empati itu ada pada diri manusia. Agar, bisa ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, kalau misalnya kamu ada di posisi orang tersebut.

Kalau memang kamu merasa “Ya, gue, sih kalau ada orang yang gituin gue, gue biasa aja, ya gue bawa enjoy aja, ya”

BACA JUGA :   Merasa Dirimu Tidaklah Berharga?

This is you, not me or other.
One thing all you need to know. Satu hal yang perlu kamu tau.
Bahwa tidak semua orang harus seperti dirimu.
Harus seperti inginmu.
Harus seperti apa yang kamu mau.
Hargailah perasaan orang lain, dengan gunakan rasa empatimu.
Jangan memaksakan kehendakmu, pada orang lain. Every human, there free will, right? and
Think, before your speak!

So, mulai sekarang. Yuk, kita sama-sama introspeksi diri.
“Aku ini termasuk orang yang punya Ego yang tinggi gak, sih?

Gunakan dengan bijak Ego yang ada pada diri kita, jangan sampai Ego yang tinggi membuat orang lain atau diri kita sendiri jadi merugi.

Karena ada Ego yang tak perlu.

Terima kasih sudah membaca tulisanku. Bila ada kritik, saran, komentar, atau mau diskusi. Saya persilahkan DM aja ke Instagram @aidaannisa28.
Keep healthy!

Aidaannisa28 (26)

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram)
Happy Reading!

Bagikan Yok!

Aidaannisa28

Penulis yang senang berimajinasi, berekspresi, dan bertumbuh menjadi berarti. For know more : @aidaannisa28 (Instagram) Happy Reading!

One thought on “Ego Yang Tak Perlu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *