• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sepotong Elegi Tipis Bab 11 Epilog

Bymutiaradee

Agu 5, 2021

Sekarang aku sudah sampai di tempat yang Tara maksud. Aku sedang menyandarkan tubuhku di pohon besar di tepi danau. Tempat ini adalah taman yang selalu mengingatkaku pada seseorang yang saat ini masih mengisi hatiku. Aku tidak tahu kapan aku bisa melupakanmu. Atau bahkan aku tidak pernah bisa melupakanmu. Inilah saatnya aku membuka surat darimu.
Untuk seseorang yang saat ini
masih singgah di hatiku,
Tiara (Embem)
Saat lu baca surat ini, mungkin gue sudah pergi dari kehidupan lu. Jujur awalnya gue cuma kangen sama sahabat masa kecil gue yang selalu menginspirasi gue tentang segala obsesinya. Tapi semakin lama ada perasaan aneh di hati gue. Perasaan yang tanpa sadar menunjukkan kehadirannya. Gue datang hanya untuk mengisi kekosongan hati lu. Belum sempat gue menetap di hati lu, tiba – tiba ada Tantra yang kembali merebut hati lu. Maaf bukan merebut tapi mengisi kembali hati lu. Hati yang sempat ditinggalkan oleh Tantra. Hati yang sempat disakiti oleh Tantra.
Lu ingat tidak pas kita ketemu pertama kali? Pas lu cerita segala hal tentang Tantra dan patah hati lu. Awalnya gue pengen kasih tahu lu kalau gue sudah sayang dan cinta sama lu dari dulu. Dari kita kecil, dari kita saling berbagi dan melindungi meskipun pada akhirnya ada jarak yang memisahkan kita. Tapi jarak itu justru menguatkan perasaanku padamu. Tapi setelah lu cerita semuanya, gue pikir saat itu bukan waktu yang tepat. Dan pada akhirnya gue bisa bilang itu lewat surat ini. Ya, ini lah kesalahan gue. Gue selalu menunda waktu yang berharga.
Semenjak kita sering menghabiskan waktu bersama, aku mulai mencintaimu. Mungkin ini memang terlambat. Yang perlu lu ingat “Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri”.
Dari seseorang dengan
cinta yang salah,

BACA JUGA :   Memang Sudah Takdirnya Dia Bukan Untukku

Tara (O)

“Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri,” aku mengatakannya sekali lagi tapi entah kenapa aku merasa ada orang di belakangku yang mengatakan hal yang sama.
“Cinta datang saat dia mulai menghilang” tambahnya.
“Siapa lu?” tanyaku dengan air mata yang membasahi pipiku.
Seseorang dengan pandangan kosong, rambut acak – acakan, memakai baju tidur, mata sembab dan ujung hidung yang macung menyemburatkan warna merah. Sama seperti keadaanku saat ini. Mungkin lebih parah aku yang saat ini masih memakai sandal dengan boneka kelinci diujung dan berwarna merah muda. Sebenarnya siapa laki – laki ini?
“Seseorang yang terobsesi dan pada akhirnya tersakiti. Sama kayak lu.” Jawabnya dengan mata berkaca – kaca.
Entah kenapa aku merasa kita memiliki nasib yang sama. Saat aku melihat matanya yang teduh, aku merasa sangat tenang. Apalagi semburat senyum yang tipis, membuatku semakin nyaman. Entahlah aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan hatiku. Mungkin ini awal dari ceritaku atau justru akhir dari ceritaku yang lalu. Jika memang ini adalah awal dari kisahku, aku tidak akan mengulangi hal yang sama. Hal yang membuatku jauh dengan orang yang sebenarnya ku cintai. Dia adalah Ryan. Seseorang yang saat ini, hanya dengan melihatnya saja membuat hatiku merasa sangat tenang dan nyaman.

*****
Ryan,
Saat ini kepalaku serasa mau pecah, bisa – bisanya aku tidak bisa menyadari perasaanku sendiri. Aku telah dibutakan dengan obsesi. Dan pada akhirnya aku yang tersakiti. Dia yang sangat ku harapkan kehadirannya saat ini justru memilih untuk menjauh dariku. Dan semua ini karena obsesi dan keegoisanku. Saat ini aku sedang kacau. Sangat kacau.
Tapi saat aku melewati sebuah taman yang indah, aku melihat seseorang yang sedang duduk bersandar di tepi danau. Terlihat rambut panjang ikal yang tergerai dibiarkan tertiup angin, tubuhnya yang terlihat mungil dan posisinya yang bersandar seakan menunjukkan betapa rapuhnya dia saat ini. Saat aku berada di belakangnya dan menyapanya dengan kata – kata yang selalu menghantuiku semalaman ini. Sungguh tidak terduga, kami mengatakan hal yang sama. Saat dia menengok ke belakang aku melihat wajahnya yang terlihat sedih. Dan saat itu juga aku bisa menyimpulkan bahwa dia sama sepertiku. Mementingkan obsesi dan mengabaikan cinta. Namanya adalah Ara. Nama yang bagus. Nama yang ketika aku mendengar suaranya membuatku tenang. Dan tatapan matanya yang membuatku terasa nyaman. Entahlah aku tidak tahu perasaan apa ini. Untuk kisah selanjutnya hanya aku dan Ara yang bisa menuntukannya. Yang pasti kami tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Kisah dan cinta yang akan di mulai dari taman ini.

BACA JUGA :   Mengenal kakek dan buyut nabi Muhammad saw.

“Aku melihat kehadiranmu di matanya
Lengkungan indah yang terukir
sangat menenangkan”
– Tiara –

“Entahlah apa yang akan terjadi ke depannya
aku meninggalkanmu untuk kebahagiaanmu
aku terluka untuk kesadaranmu
aku menjauh untuk kedamaianmu”
– Tara –

“Sejak pertama kali aku melihatmu
aku merasa ada yang berbeda
seperti ada ikatan yang menyatukan kita
bahkan kita memiliki nasib yang sama
hanya kita yang dapat menentukan
bagaimana hubungan kita kelak”
– Ryan –

Dimana aku saat ini? Kenapa yang terlihat hanya putih. Sepertinya semua ruangan ini dipenuhi dengan kain putih. Saat aku mengitari ruangan ini, tiba – tiba saja semuanya berubah menjadi gelap. Sangat gelap. Hingga tidak ada penerangan satu pun. Aku juga tidak bisa melihat apa – apa. Tunggu, tunggu sebentar. Sepertinya aku melihat seberkas cahaya di ujung sana. Aku harus ke sana dan keluar dari tempat yang gelap dan terkutuk ini.
Saat aku bisa keluar dari tempat terkutuk itu, aku melihat taman yang sangat indah. Di sana banyak bunga yang tertanam dan sebuah pohon rindang yang di bawahnya terdapat dua ayunan sederhana terbuat dari kayu. Entah kenapa setelah aku melihat ayunan itu, aku merasakan seperti ada seseorang yang menggandeng tanganku dengan lembut. Tapi saat aku melihat ke depan tidak ada siapa – siapa. Ini aneh sekali. Setelah sampai di dekat ayunan itu, aku langsung duduk di atasnya.
Saat itu matahari tengah meratapi nasibnya. Dia harus kembali keperaduannya. Bahkan dia tidak pernah bisa bersatu dengan bulan walaupun mereka memiliki tugas yang sama. Matahari bersinar saat pagi dan siang hari sedangkan bulan bersinar saat malam hari. Bahkan saat ini sinar keemasan itu telah menembus daun dari celah – celah yang ada. Semburat berwarna merah pun mulai terlihat di langit. Dan saat ini aku merasa sangat gelisah seperti separuh dari diriku telah menghilang. Tiba – tiba saja aku mendengar seseorang yang berkata dari belakangku “Lagi rapuh”.
Suara itu? Tara? Apakah benar itu Tara. Oh Tuhan, aku sangat merindukannya. Aku langsung menengok ke belakang. Ku lihat Tara berjalan menjauh dengan tenang. Sepertinya dia tidak membawa beban kepedihan sedikitpun. Setelah itu aku kembali melihat ke depan, dan saat itu juga aku melihat seorang laki – laki berjalan kearahku. Siapa dia??

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *