• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sepotong Elegi Tipis Bab 10 Separuh Jiwaku Telah Hilang

Bymutiaradee

Agu 4, 2021

“Kini baru ku sadari aku telah melepaskan kebahagiaan yang telah ku genggam aku telah kehilangan cinta tulus dari seseorang hanya karena kata persahabatan”
– Tiara –

“Ku harap saat ini kau sudah menyadari semuanya, jika kau memiliki ambisi yang besar maka aku memiliki keteguhan yang kuat”
– Tara –

Beberapa hari terakhir ini, aku merasa ada yang berbeda. Aku merasa telah kehilangan. Perasaan ini seharusnya tidak terjadi. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu bersama Tantra. Iya Tantra, seseorang yang sempat singgah di hatiku dan mengisi hatiku. Sempat?? Apa maksud dari perkataanku? Apakah sekarang rasa itu telah hilang? Ah, tidak mungkin. Aku sangat mencintainya, mungkin sampai sekarang. Apakah benar seperti itu? Saat ini aku sedang berperang dengan pemikiranku di kamar kecil yang sangat tenang dan penuh dengan unsur kesedihan.
Beberapa hari terakhir ini, aku juga tidak bertengkar dengan Han. Jangankan bertengkar sekedar menyapa saja tidak. Ini juga salah satu sumber kegundahanku. Tapi sepertinya masalah percintaanlah yang mendominasi otakku. Dan memaksaku berpikir lebih keras. Pada akhirnya saat ini aku merasa separuh jiwaku hilang.
Saat aku bertengkar dengan pemikiranku sendiri, tiba – tiba saja air mataku mulai menetes. Apa ini? Kenapa aku tiba – tiba menangis? Apa yang terjadi pada diriku sendiri. Oh Tuhan, tolong bantu aku berdamai dengan pemikiran dan hatiku.
“Menangis tidak akan menyelesaian masalah.” Kata seseorang di belakangku.
Saat aku menengok ke belakang, aku melihat Han di pinggir pintu kamarku. Inilah pertama kalinya Han mau berbicara denganku. Sejak setelah aku memutuskan untuk bersama Tantra dan mengabaikan Tara. Han berpikir bahwa keputusanku salah. Dan yang dia katakana dulu adalah kebenaran. Ah iya, Tara. Kemana dia sekarang? Aku tidak pernah melihatnya lagi. Apakah ini sumber dari kesedihanku?
“Masuklah!” jawabku singkat pada Han.
“Setelah beberapa hari ini, apa baru sekarang Kakak menyadarinya? Kakak merindukan Kak Tara kan? Orang yang selalu ada untukmu dan orang yang telah mengisi kekosongan hatimu.”
“Apaan sih! Lu tahu kan kalau gue suka sama Tantra bukan Tara. Tara cuma sahabat gue saja.”
“Jangan mau diperbudak sama obsesi lu sendiri Kak! Lu itu cinta sama Tara, lu sayang sama dia. Dan Tantra? Dia cuma obsesi lu.”
“Apa lu ke sini cuma buat ngomongin masalah ini? Kayaknya gue tidak tertarik”
“Terserah apa yang lu pikirin! Gue cuma mau ngasih ini sama lu! Mungkin ini waktu yang tepat.” Kata Han sambil menyodorkan sepucuk surat berwarna merah.
“Apaan nih?”
“Dari Kak Tara. Warna merah, tanda kesakitan dan darah. Baca setelah lu bisa mengendalikan hati dan pikiran lu. Baca kalau lu sudah punya keyakinan buat Kak Tara. Baca di tempat di mana kalian sering menghabiskan waktu. Tempat di mana mimpi dan cita – cita kalian terukir.”
Dan sekarang yang terdengar hanyalah suara tangisanku. Oh Tuhan, apakah aku benar – benar mencintainya. Apakah aku mengambil jalan yang salah? Inikah akhir dari kisahku.
“Jangan pernah membodohi diri sendiri dengan tidak mengakui perasanmu pada orang yang selalu di sisimu, orang yang selalu mengisi hatimu.”
Setelah mengatakan kata – kata yang membuatku semakin menangis, Han memelukku sebentar dan kemudian keluar dari kamarku.
“Sepertinya lu butuh waktu sendiri. Buat menenangkan hati lu dan berdamai dengan pikiran lu.”
Dear diary,
Sekarang aku sadar. Aku yang salah mengambil keputusan. Aku yang terlalu pengecut untuk mengakui perasaan dan aku yang egois karena telah meninggalkan. Dan sekarang apa yang bisa ku lakukan? Tidur di lantai kamar sambil memandangi fotoku bersamanya. Itulah pengobat rinduku. Dan itu juga yang membuatku menangis dan kadang juga tersenyum. Saat ini hanya itu yang bisa ku lakukan. Mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi. Pertemuan terakhir kita adalah ketika aku mengabaikanmu dan aku tidak mengetahui bahwa kau telah pergi. Ya, pergi bukan untuk sementara tapi untuk selamanya dari hatiku. Dan kini baru ku sadari bahwa separuh dari jiwaku telah hilang.
Saat cinta bisa ku percaya
Saat rindu bisa ku terima
Saat dia berusaha mendekat
Saat itulah ku temui kebahagiaan
Dan saat itu pula ku tak bisa menerima kenyataan
Dia yang kuharapkan
Dia yang kudambakan
Dia yang mengajariku arti kenyamanan
Dia memilih untuk menghilang
Bahkan saat cintanya sudah merobohkan dinding tebal yang kubangun atas nama persahabatan
Kini aku tak bisa mengenalnya
Tak bisa melihatnya
Dan tak bisa menemuinya
Bertemu dengannya adalah keberuntungan bagiku
Mengenalnya adalah kenyamanan untukku
Dan bersamanya adalah impianku
Sungguh baru ku sadari
Cinta datang saat dia menghilang
“Baca di tempat di mana kalian sering menghabiskan waktu. Tempat di mana mimpi dan cita – cita kalian terukir.”
Apa maksudnya? Di mana tempat itu? Oh Tuhan, saat ini pemikiranku sedang kacau. Kondisiku sangat buruk. Rambutku acak – acakan, mataku sembab, dan hidungku memerah.
“Ra kenapa?”
“Aku takut. Jangan tinggalin aku!”
“Aku cuma beli minuman dingin sebentar. Maaf ya, jadi bikin kamu khawatir.”
“Lain kali kalau mau pergi bilang dulu! Jangan main kabur-kaburan.”
“Iya iya nona. Hari ini kok mellow banget sih!”
“Lagi rapuh.”
Aku teringat kejadian itu lagi. Dan lagi – lagi aku menangis. Astaga sudah berapa kali aku meneteskan air mata dan meratapi kehidupanku seperti ini.
Tok… tok… tok…
Terdengar ketukan pintu dari luar. Mungkin saja itu Han.
“Masuk! Pintunya tidak dikunci.”
“Masih meratapi kesalahan? Masih menyesali apa yang sudah terjadi?” kata Han sambil menyadarkan tubuhnya di pintu.
Aku hanya bisa terdiam. Dan perlahan air mata itu datang lagi.
Hening. Selama kurang lebih 10 menit, aku dan Han seakan beradu dengan pemikiran masing – masing. Kemudian aku berusaha menguatkan diriku dan mengatakan apa yang harus ku katakan. Mungkin aku bisa membagi kesedihanku dengan Han.
“Semuanya sudah terlambat.”
“Tidak ada yang terlambat. Semua sudah digariskan oleh Tuhan, yang kita lakukan hanya menjalani dan menghadapinya dengan ikhlas. Kakak masih bisa membaca surat itu di tempat yang telah ditentukan. Mungkin kalian tidak akan bertemu lagi, tapi Kakak masih bisa memperbaiki kesalahan dengan tidak mengulanginya di masa depan. Itu pasti akan membuat kalian berdua senang. Dan siap menghadapi kehidupan yang baru. Kita tidak boleh terpuruk dengan masa lalu.” Kata Han panjang lebar.
“Duh, aku lupa kalau adikku ini sudak gede.” Kataku sambil tersenyum.
“Aku akan pergi ke sana dan memulai kehidupanku.” Kataku sambil tersenyum lebar.
Saat ini aku hanya bisa memandang langit yang jauh dari jendela kamarku.
Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya
*****
Tara,
Ku harap saat ini kau sudah membaca surat dariku dan aku sudah menyadari segalanya. Walaupun semua terasa sulit, kau pasti bisa melewatinya. Aku sudah memaafkanmu, ku harap kita bisa memulai kehidupan kita dari awal. ada atau tanpa hadirnya dirimu aku berharap aku bisa melanjutkan hidup. Selamat tinggal, sahabat sekaligus cinta terdalamku.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Misteri Ribuan Burung Pipit Mati Berjatuhan Di Bali dan Cirebon, Ini Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *