• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

PMII Menjawab Tantangan Era Disrupsi

Berbicara tentang organisasi. Makna organisasi yaitu kesatuan atas orang-orang dalam sebuah perkumpulan yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

Sebuah organisasi wajib memiliki tujuan. Tanpa tujuan kita akan bingung arah gerak yang harus dilakukan seperti apa dan outputnya nanti bagaimana.

Bisa kita orientasikan dalam sebuah organisasi, contohnya di PMII yang memiliki kejelasan tujuan yakni “Terbentuknya pribadi muslim indonesia yang bertaqwa kepada allah swt, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan indonesia”.

Bisa dilihat dan dimaknai bahwa tujuannya menekankan pada nilai keislaman dan keindonesiaan.

Hal tersebut juga sudah tertera di dalam nilai dasar pergerakan (NDP) PMII yang merupakan sebuah sublimasi antara nilai keislaman dan keindonesiaan.

NDP sendiri merupakan suatu tali pengikat (kalimatun sawa’) yang mempertemukan warga-warga pergerakan dalam satu cita-cita perjuangan sesuai tujuan organisasi.

Sebuah tujuan tidak bisa terlaksana jika tidak ada dinamika.

Begitupun sebaliknya, dinamika tanpa berpatokan pada tujuan maka akan ngambang dan bingung arah geraknya harus kemana.
Dalam berdinamika untuk mencapai tujuan tersebut arah gerak yang dilakukan harus menyesuaikan dengan zaman.

Untuk menyesuaikan dengan zaman jelas harus ada yang namanya pengembangan. Berbicara tentang pengembangan di dalam organisasi.

Di dalam organisasi tepatnya di PMII tidak mungkin jika kita hanya leyeh-leyeh tanpa adanya sebuah dinamika dan revolusi yang kita lakukan untuk mengembangkan organisasi tersebut menjadi sebuah organisasi yang lebih progres. Karena jika hanya pasif saja di organisasi untuk apa kita menceburkan diri di dalamnya. Apakah hanya menumpang embel-embel mengikuti organisasi saja? Lantas sumbangsih apa yang akan kita berikan? Dedikasi apa yang mampu kita lakukan? Mari intropeksi diri.

BACA JUGA :   Derita Anak Kos

Setiap personal wajib sadar bahwa setelah memutuskan untuk tercebur dalam organisasi kita harus siap dengan resiko yang ada, seperti halnya dalam meluangkan waktu, kita harus pintar-pintar membaginya.

Mulailah menjadi pribadi masif yang aktif, inovatif dan kreatif dalam berikhtiar megembangkan organisasi PMII yang lebih progres.

Dan pada hari ini kita berhadapan dengan zaman yang sama, yaitu disrupsi. Tenatang bagaimana yang tertinggal akan kalah. Zaman dimana setiap stakeholder berlomba lomba untuk menciptakan inovasi baru.

Dan mereka yang tidak inovatif akan terpaksa tergantikan.
Pergerakan sistemisasi PMII dalam segi apapun Mulai hari ini haruslah segera berbenah.

Entah itu dalam hal kaderisasi, jaringan bahkan cara untuk mengkritisi pemerintah. Karena zaman 20 tahun lalu yang dikenal sebagai era aktivis dan hari ini sudah berbeda kondisi.

Tentunya dalam kondisi seperti ini perlu rasanya kita berbenah. Kita tinggalkan cara yanv kuno, dan berinovasi membuat cara yang lebih inovatif yang cocok digunakan hari ini.

Sebagai kader PMII kita harus mampu beradaptasi dengan adanya modernisasi. Seperti halnya saat ini kita tengah berada di era revolusi 4.0 yang tidak menutup kemungkinan nantinya akan menjadi 5.0. Era dimana dunia industri digital telah menjadi paradigma atau acuan dalam menghadapi kehidupan.

Menurut saya, sebagai kader PMII kita harus mampu mengembangkan kapasitas diri dan organisasi dalam menghadapi perubahan zaman.

Kader PMII sebagai ruang kapasitas yang kreatif dan inovatif harus mampu menjawab perkembangan yang sedang berjalan. Agar nanti tidak gagap ketika memasuki era revolusi yang lebih tinggi lagi.

Paradigma organisasi juga perlu pembaruan. Hal signifikan yang paling urgen adalah pengembangan sumber daya manusia di dalamnya.

Seperti halnya membaca, menganalisa, dan mengobservasi sesuai data realita yang didapatkan, sebagai modal untuk memperkuat kapasitas kader.

BACA JUGA :   Secarik Cerita di Masa PKL

Di era 4.0 ini hal yang perlu didorong adalah inovasi baru dan pembekalan digital teknologi. Kuncinya adalah sumber daya kader yang berkualitas dan inovatif.

Di sini peran pengurus sangat dibutuhkan. Dimana seorang pengurus harus memahami setiap kapasitas dan potensi-potensi yang dimiliki oleh kadernya.
Tidak hanya itu, menurut saya, di PMII kaderisasi, ideologisasi, dan gerakannya harus berkolaborasi.

Tujuannya untuk lebih kreatif dan inovatif baik itu di ranah internal maupun eksternal organisasi.

Karena jika tidak terkolaborasi maka akibatnya akan terjebak pada kegiatan-kegiatan formal saja.

Pengembangan ini dilakukan sebagai upaya agar langkah PMII terarah dan terpadu untuk memanifestasikan tujuannya.

Setya Dika Firmansyah (6)

Seorang pemuda yang menolak tua tanpa cerita

Bagikan Yok!

Setya Dika Firmansyah

Seorang pemuda yang menolak tua tanpa cerita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *