• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Nietzsche: Berada pada Ketinggian yang Tepat

Jangan berdiri di tengah sabana!

Pun jangan terlalu tinggi memanjat

Pandangan terbaik dunia

Ada di ketinggian yang tepatĀ 

-Nietzsche, hal.17, dalam The Gay Science

Aforisme itu menunjuk pada sesuatu. Nietzsche tidak akan menerima jika dikata kita memahami maksud dari tulisannya. Teks darinya terselubung, berisi kebahagiaan sekaligus penderitaan. Tafsir teks beraneka-rupa, sejauh manusia masih terus lahir dan meninggalkan dunia penuh tragedi. Terima saja penderitaan itu, sambut dengan gembira. Kurasa itu yang hendak Nietzsche katakan. 

Sabana menganalogikan sebuah tempat; yang panas terik, kering, dan buas. Bertekad untuk menaruh diri dan hidup tanpa persiapan apa pun di tengah gurun semacam itu, sama saja dengan bunuh diri. Tidak ada yang terlihat, selain kejelasan fatamorgana. 

Dalam setiap waktu dan ruang yang kita alami, perasaan itu sering muncul. Kaki ingin bergerak, tetapi ia kaku. Tubuh terpisah dari dunia yang ramai, terpeleset dan terjatuh, lalu terbuang di tempat antah-berantah, yang asing di telinga. Tentu saja, itu adalah kabar buruk, gerombolan singa di tempat itu tidak akan menuntun ke arah pulang. Mereka kelaparan. 

Dalam konteks tertentu, merendahkan diri di depan kuasa akan menutup jalan bagi kehendak, sehingga diri akan terasingkan -menjadi liyan. 

Menganggap diri terlalu tinggi, di atas pohon atau tower dan tidak berpijak ke bumi tidak baik. Dunia memang nampak luas dalam penglihatan, tetapi ia semu. Ketinggian atau kerendahan, preuposisi yang mencerminkan dekadensi, kemunduran; melanggengkan perbudakan. 

Mereka yang ingin tahu adalah mereka sadar di mana harus berada, di sana secara bersama. Meninggi adalah konsep pemimpin; penentu batas-batas semu antara ia dan budaknya. Menjadi budak adalah pengagungan atas humanitas yang di injak-injak, maka harus melawan; karena diri adalah satu-satunya tuan atas diri yang lain, tidak kurang tidak lebih -berada pada ketinggian yang tepat. 

BACA JUGA :   Darurat Membaca Terhadap Generasi Milenial

Dunia memang sarang bagi derita, untuk tumbuh dan berkembang biak. Terima apa-adanya, seada-adanya. Penderitaan tidak untuk diasingkan, seperti apa yang digeluti para penganut Epicurean di masa lalu. Dunia yang kita tinggali, begitu adanya. Hidup harus terlepas dari rangkaian atribut di dalamnya, lalu terarah ke dalam esensi, ke dalam dunia, ke dalam diri. Dunia tidak asing, kita adalah masyarakat dunia. 

Berhenti bermain sajak dengan bahasa kebenaranmu. Bersilat lidah saja tidak cukup untuk membuatmu semakin tinggi. Dan, jika sudah tinggi, lalu apa? Siap memberi dominasi simbolik atas yang lain? Begitu caramu menjadi manusia?

Menaruh porsi yang tepat, apakah bisa? Bisa, tetapi tidak dengan keadaan kita yang masih bergantung pada subjek dan objek lain di luar diri kita. Selama kita tidak sadar, struktur di luar sana akan menggerogoti sampai tubuh kita hanya tersisa tulang-belulang yang akan hanyut hanya dengan sedikit hembusan angin.

Lawanlah kehendak di luar sana dengan kehendak dan naluri intelektualmu, kehendak di luar yang katanya penuh dengan penderitaan. Lalu tertawalah, tertawa dalam komedi ekistensi. Rayakan penderitaan itu setiap hari. Bukan mengajarkan untuk menjadi masokis, hanya, dengan begitu kita merasakan kebenaran.

Kebenaran yang dalam, pahit, dan tak tersentuh itu. Setidaknya kita berusaha sedikit lebih dekat dengannya. Menurutku dengan berani mencari kebenaran berarti berani menembus batas-batas itu, apa-apa yang banal di tengah keseharian kita. Karena itu kita harus berada pada ketinggian yang tepat, artinya tidak terpengaruh lingkurang di luar dalam mengambil keputusan.

Yogi Timor (9)

Menulis untuk Bertahan Hidup

Bagikan Yok!

Yogi Timor

Menulis untuk Bertahan Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *