• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Keping-keping Peninggalan Peradaban Di Lereng Timur Gunung Slamet

ByLaksa Tiar Makmuria

Agu 3, 2021

Malam itu angin berkesiur meluruhkan daun dan bunga Kamboja. Dinginnya coba mengusik kehangatan obrolan empat orang yang sedang duduk-duduk di Kedai Kopi Pojok. Mereka sedang bersiap untuk masuk ke arena perbincangan bertajuk Teras Budaya yang dilaksanakan oleh Gemalingga pada 31 Juli 2021.

Menjelang pukul 20.00 WIB tiga dari empat orang itu masuk ke ruang tengah. Mereka bersiap mengisi dan mendialogkan mengenai sejarah Purbalingga dalam tema “Menumbuhkan Rasa Kebangsaan melalui Kebudayaan”.

Diskusi Teras Budaya yang diadakan secara daring oleh Gemalingga

“Jika kita belajar mengenai situs-situs pra sejarah di Jawa, kita pasti tak akan jauh-jauh dari situs Sangiran dan Trinil. Seolah dua tempat itu saja pusat peradaban pra sejarah di Nusa Jawa ini. Padahal, Harry Truman Simanjuntak, seorang arkeolog dari Universitas Indonesia pada tahun 1983 dalam penelitiannya mengatakan setidaknya ada 22 situs purbakala di Purbalingga.”

“Kalian juga harus tahu bengkel Purba di desa Ponjen, Karanganyar, Purbalingga yang merupakan situs purbakala terbesar di Asia Tenggara.” Ujar Gunanto Eko Saputra yang karib disapa Om Igun.

“Di wilayah Purbalingga juga pernah ditemukan fosil rahang Stegodon yang sekarang disimpan di museum Purbakala Sanggaluri Park.”

“Kalau untuk fosil manusia Purba ada tidak, om?” Tanya Laksa Tiar Makmuria yang memandu acara tersebut.

“Menurut Harry Truman Simanjuntak, tanah kita (Purbalingga) itu kadar asamnya tinggi. Ini yang bisa menyebabkan sisa-sisa peradaban purbakala menghilang karena tidak tahan asam. Tapi banyak juga perkakas zaman purba yang masih ditemukan diselamatkan seperti Menhir, Dolmen, dan lain-lain.” Tambah Om Igun.

Prasasti Bukateja. Sumber : www. Igosaputra.com

“Masuk ke era Hindu-Budha, kalau mengenal Borobudhur dan Prambanan saja itu berarti pengetahuan umum kita cukup standar. Di Purbalingga sendiri terdapat prasasti yang dinamai Prasasti Bukateja. Dan prasasti ini terbuat dari lempengan emas murni.

BACA JUGA :   PPKM Level 4,Ruas Jalan di Kota Tegal Disekat

“Kemungkinan prasasti ini berasal dari antara tahun 821-840 Masehi. Kemungkinan prasasti ini berasal dari era Mataram Kuno. Sekarang prasasti itu disimpan di Universitas Leiden, Belanda.”

“Kalau isi prasasti itu sendiri apa, om?” Singgung si Moderator.

“Ini yang masih menjadi misteri. Cuma Profesor Casparis pada tahun 1956 mengatakan, pada bagian belakang prasasti itu terdapat tulisan dengan aksara Kawi dan berbahasa Melayu Kuno yang berbunyi ‘Ini Padehanda Hawang Payangnan’ yang artinya kurang lebih; ‘ini adalah sisa tubuh dari Hawang Payangnan’. Hawang ini kemungkinan adalah sebuah gelar dan Payangnan adalah nama orang. Tapi siapa dia? Masih menjadi misteri, bro.”

Gunanto ES sedang memaparkan materi di acara Teras Budaya

“Jadi, kalau saya boleh berasumsi pengaruh Kerajaan Mataram Kuno sampai di Purbalingga dan dulunya wilayah ini merupakan wilayah penting. Prasastinya saja terbuat dari emas. Dan Hawang Payangnan ini bkan tokoh bisa, tentunya.”

Diskusi semakin menarik ketika Om Igun juga memaparkan mengenai Prasasti Cipaku yang secara kebahasaan dan aksara juga tahun terciptanya semasa dengan Prasasti Batu Tulis di Bogor.

“Cuma sayangnya, isi dari prasasti ini belum bisa terbaca. Hanya ada beberapa kata yang bisa diidentifikasi. Salah satunya yang berbunyi; Indra Wardhana “.

“PR besar buat kita semua berarti, om. Masuk ke era Majapahit, seperti apa si peradaban di Timur Lereng Gunung Slamet ini?”

Malam belum suntuk saat diskusi baru dimulai barang 20 menit. Cerita terus disambung oleh pemateri kedua, Agus Sukoco.

“Pakde Agus (sapaan akrab Agus Sukoco), melihat tuanya peradaban kita ini, menurut Pakde apa yang bisa dimaknai dari itu semua?”

Bersambung…

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *