• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Ke Rumah Kakak, Tapi Akhirnya ke Rumah Almarhum (11-12 April 2021)

Menjelang Minggu sore 11 April 2021, saya bersama bapak berangkat ke Majene di rumah kakak perempuanku yakni Suriani.

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 17.00 WITA. Pemberangkatan kami penuh dengan semangat, mengingat kami juga akan menarik uang intensif Kartu Prakerja yang sudah beberapa minggu telah saya selesaikan.

Saat kami tiba di Tinambung, saya pun berhenti di depan ATM tepatnya di Kandemeng dengan harapan ingin segera menarik uang Prakerja tersebut. Saat saya ingin segera masuk di pintu ATM dan ingin mengambil kartu ATM di dompet, ehh ternyata tidak ada. Saya sih sempat kaget dan terlintas dipikiran, apakah kartu ATM saya hilang atau jatuh?. Tetapi tidak lama setelah itu, baru saya ingat kembali bahwa kartu ATM tersebut ternyata tertinggal di dalam tas dan ada di rumah.

Karena memang saya lupa, tanpa pikir panjang lagi, kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalan ke Majene. Namun, sebelum itu kami singgah dulu di Tinambung rumah kakak perempuan saya yang tertua untuk menitip Smartphone punya adek saya dan ada juga beberapa pisang yang memang kami sengaja bawakan. Mengingat hari selasa nanti tanggal 13 April, akan melaksanakan puasa yang pertama.

Menjelang beberapa menit dari situ, kami pun akan melanjutkan perjalanan ke Majene. Akhirnya dapat tiba di Majene saat memasuki waktu magrib. Saya sendiri tidak langsung ke rumah tetapi ke Masjid dulu dekat rumah kakak saya di Majene, mengingat sudah masuk juga waktunya untuk shalat magrib. Dan setelah itu barulah saya ke rumah martua kakak saya. Maksudnya rumah martua kakak saya itu tinggal seatap dengan kakak saya.

Esoknya, 12 April 2021

BACA JUGA :   Ayahku Kini Sudah Tua

Setalah kami selesai shalat subuh di rumah saudara perempuan saya, kami pun siap-siap untuk segera kembali ke rumah di Nipa, Todang-Todang. Tetapi, sebelumnya Jasmin dan juga kakak saya Suriani menahan untuk menunggu sejenak karena ngopi-ngopi dulu sebelum balik pulang.

Jasmin adalah suami dari kakak saya. Kami pun menikmati suguhan kopi di pagi hari ditemani dengan beberapa bingkisan roti sebagai penyokong pada sarapan pertama di pagi itu. Setelah selesai sarapan, kami pun berangkat dan singgah dulu di pasar ikan Majene lalu kemudian melanjutkan singgah di pasar sentral Tinambung.

Tiba di Tinambung

Seperti tujuan awal berangkat ke Tinambung bahwa kami akan berbelanja untuk persiapan menyambut awal Ramadhan yang pertama. Saya pun mengantar bapak ke pasar sentral Tinambung dan saya menunggunya di luar.

Setelah menjelang beberapa menit, saya main hp sambil menunggu bapak berbelanja. Sekaligus juga buat aktivitas agar tidak terkesan lama dan bosan saat duduk menunggu di tempat yang kurang kondusif untuk bisa fokus.

Saya main hp sambil searching-searching tentang media-media yang bisa menerima tulisan esai ringan untuk dapat diterbitkan, apalagi yang ada honornya, hehehe. Iya, syukur ada beberapa media saya temukan dan saya pun sudah mendaftar/membuat akun sebagai kontributor di media tersebut, meskipun belum ada tulisan yang berhasil saya terbitkan.

Tidak lama setelah itu, tiba-tiba ada kabar duka dengan masuknya pesan di whatsapp groupnya “TCSC Majene” dengan bertuliskan “innalillahi wainnalillahi rajiun”. Saya pun terkaget dan segera membuka group tersebut dan memastikan siapa sebenarnya yang meninggal.

Al-Fatihah, bapak teman karib saya “Symsuriati” telah berpulang ke rahmatullah sekitar jam 05.00 WITA setelah shalat subuh di Wonomulyo. Saya sendiri sementara di Tinambung dan ingin ke rumah duka, dan waktu itu juga saya chat bung Muid untuk menanyakan apakah beliau mau kesana atau tidak. Ehh, ternyata beliau pun akan kesana dan chat saya dibalas bahwa akan berangkat satu jam kemudian setelah ia sudah mandi.

BACA JUGA :   Ketika matahariku pergi: chapter 2

Karena masih di Tinambung dan juga bersama orangtua, saya pun harus mengantar dulu pulang lalu setelah itu akan berangkat ke Wono di rumah duka. Akhirnya, saya dan juga bapak bisa kembali pulang dan saat tiba di rumah di Nipa, saya hanya sempat makan sedikit dan mandi juga, lalu kemudian berangkat kembali untuk melanjutkan perjalanan ke rumah duka di Wonomulyo.

Ke Rumah Duka di Wonomulyo

Sekitar pukul 10.00 Wita, saya berangkat dari rumah ke Wono. Tetapi, sebelumnya sudah janjian akan sama-sama berangkat bung Muid menuju ke rumah duka.

Karena saya agak lambat, akhirnya bung Muid duluan dan kami pun ketemunya di pasar Mapilli. Lalu setelah itu, perjalanan kami lanjutkan dan tiba di rumah duka saat mau memasuki waktu zdhuhur dan jenazahnya juga sudah mau dishalatkan.

Saya bersama dengan teman-teman TCSC bertemu di tempat tersebut, dan beberapa dari kami ikut shalat mayyit di Masjid.

Rasa sedih terlihat jelas di muka saudari Syamsuriati atau biasa dipanggil Iin. Dan saya pun termasuk teman-teman yang lain belum sempat komunikasi langsung sebelum almarhum bapaknya di kebumikan. Maklumlah terlihat sedih mengingat Iin telah ditinggal bapaknya, padahal detik-detik terakhir hidupnya, almarhum tidak ada yang melihat menghembuskan nafas terakhirnya.

Iin sendiri sementara di Majene. Menurut cerita dari Iin, bahwa saat almarhum menghembuskan nafas terakhirnya, beliau sementara duduk di kursi berada di depan teras rumah. Saat itu ketika almarhum selesai shalat subuh, maka beliau pun duduk di depan teras seperti kebiasaan sebelumnya.

Istrinya atau ibu Iin, dikiranya duduk saja sambil istrihat. Tetapi, karena lama tidak gerak dan berbicara, akhirnya ibu Iin pun memanggilnya “hei, ada apa. Jangan bercanda deh “. Akhirnya, ibu Iin pun mendekati dan ia mulai pegang lalu tiba-tiba langsung terjatuh dan ternyata sudah pergi meninggalkan keluarga untuk selamanya di dunia ini.

BACA JUGA :   Become a Mother

Setelah selesai shalat mayyit, jenazah pun langsung dibawa untuk dikebumikan di pekuburan Kediri, Wonomulyo. Saya bersama dengan teman-teman TCSC ikut mengantarkan jenazah sampai pada tempat peristirahatan di alam kubur.

Sehabis dari kubur, selanjutnya ke rumah almarhum dan beberapa dari teman-teman TCSC dulun balik pulang. Tetapi, saya, bung Muid dan Illan masih tinggal dan ngobrol beberapa jam. Hingga akhirnya kami pulang menjelang pukul 17.00 Wita sore hari.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *