• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Butuh Dukungan Bukan Hujatan

BySri Hidayati

Agu 3, 2021

Saat keadaan tak tahu harus apa dan bagaimana.

Rasanya hanya seperti percuma dan kesia-siakan belaka. Ngambang dan tak tahu harus mengapa. Seperti hanya kesalahan yang ada dan terus hadir sebagai perasaan menakutkan adanya.

Sungguh.

Seperti tak punya arah apalagi tujuan. Bingung dan harus bagiamana sekarang.

Melihat diri sendiri ini yang seperti sangat lemah. Sangat tak berdaya. Bahkan tak guna dan hanya penuh dengan dosa.

Tak ada secercah cahaya penerang, harapan. Hanya kegelapan adanya. Mentok. Tak tahu harus minta atau setidaknya sandaran pada siapa.

Pasrah.

Yang lagi-lagi hanya kata itu yang terus selalu ada. Sedikit kemajuan untuk diri sendiri itu hanya mampu pasrah. Lemah. Tak berdaya.

Keajaiban.

Hanya itu. Satu-satunya jalan yang di harapkan. Percaya akan kemustahilan belaka. Bingung, bimbang, dan takut hanya terus itu yang di rasa.

Sepeti tak punya siapa-siapa tuk berbagi rasa. Hanya diri sendiri dan lagi-lagi diri sendiri adanya. Tak ada penopang kepastian. Harapan yang selalu di damba.

Menyerah.

Entahlah kata putus asa yang terus menyelimuti. Kapan ini semua akan berakhir ? Harus matikah ? Seprti hanya salah, salah dan salah. Tak ada lagi dukungan atau semangat pada diri ini.

Tak bisa apa-apa, tak berguna, merepotkan. Terus dan lain-lainnya. Tak adakah tuk bisa tertanam kepercayaan yang bermutu sedikit. Diri ini pun juga sangat mengharapkan.Tapi lagi-lagi. Aku sih hanya apa ? Aku butuh penopang. Setidaknya apalah guna hidup di samping orang banyak. Namun, tetap hanya terus merasa sendiri.

Tak ada sedikit penghargaan kah ? Ingin saling menghibur, saling masukan. Tapi apa mustahil ?

Aku tak tahu alur menulisku ini apa ? Tapi ini hanyalah bukti sebegitu sendirinya kah diriku ? Dari berjuta-juta ribu orang aku kenal aku masih dalam memiliki rasa sendiri.

BACA JUGA :   Kenapa Seram?

Keluh. Ngeluh. Hanya itu. Seperti hanya mubadzir.

Abikan. Sertinya memang diri sendiri ini nasibnya sendiri. Tak ada yang mau peduli. Semuanya punya sendiri-sendiri. Kamu apa ? Gak penting.

Masih jauh banyak yang berharga.

Minder.

Tuh kan. Lagi-lagi kata negatif.

Kapan semua berakhir ? Capek.

Astaghfirullahal’adzim…..

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *