• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Sepotong Elegi Tipis Bab 9 Kesalahan Yang Tak Pernah Ku Sesali Keberadaannya

Bymutiaradee

Agu 2, 2021

“Kini aku dihadapkan pada pilihan yang sulit, dia yang dulu sangat ku cintai datang lagi dan dia yang mengisi kekosongan hatiku masih setia di sampingku”
– Tiara –

“Kesalahan yang tak ku sesali keberadaannya, kesalahan yang selalu ku nikmati kehadirannya memanfaatkan waktu kesedihannya untuk dekat dengannya hanya untuk mengobati rinduku padanya. Itulah tujuan awalku kembali padanya”
– Tara –

Kebimbangan mulai mengusikku. Lagi, lagi dan lagi. Kebungkaman malam yang menemaniku dalam kegelapan. Sinar rembulan yang menyemburatkan kepedihan. Tuhan, bantu aku bangun dalam kebimbangan ini. Mungkin ini memang kesalahanku. Kesalahan yang tak ku sesali terjadinya. Kesalahan yang selalu ku nikmati terjadinya. Memanfaatkan waktu kesedihannya untuk dekat dengannya. Hanya untuk mengobati rinduku padanya. Itulah tujuan awalku kembali padanya.
Namun kini, perasaan yang tak ku sadari kehadirannya. Mengusikku dalam kedamaian. Dia, sahabat yang sedari kecil bersamaku. Sahabat yang selalu di sampingku, hingga suatu ketika aku harus berpisah dengannya. Karena suatu hal orang tuaku mengajakku pindah dari kota dan meninggalkan separuh hatiku pada gadis cantik berwajah oriental. Namanya Tiara, aku biasa memanggilnya Ara. Nama yang indah, nama yang membuatku semangat dalam mengahadapi segala rintangan. Nama yang menjadi motivasiku untuk terus maju. Nama yang selalu ku ucapkan sebelum aku tidur. Tapi sekarang semua kenangan indah bersamanya memang harus dimusnahkan. Aku datang hanya untuk mengisi kekosongan hatinya. Belum sempat aku menetap di hatinya, tiba – tiba ada Tantra yang kembali merebut hatinya. Maaf bukan merebut tapi mengisi kembali hatinya. Hati yang sempat ditinggalkan oleh Tantra. Hati yang sempat disakiti oleh Tantra. Dan sekarang, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan berdiam diri saja melihat seseorang yang selama ini ku cintai bersama orang yang pernah menyakiti hatinya? Tapi apa boleh buat? Sumber kesakitannya kini justru menjadi salah satu sumber kebahagiaannya.
Mungkin besok aku akan datang ke rumah Tiara, kami sudah berjanji akan jalan – jalan dan makan siang bareng. Kalau dia masih ingat berarti masih ada kesempatan untuk aku dekat dengannya. Tapi jika dia melupakan itu atau memilih pergi bersama Tantra, mungkin ini yang terbaik untuk kami. Aku akan menjalani kehidupanku sendiri, tanpa Ara begitupun sebaliknya.
Pagi yang cerah telah berbanding terbalik dengan suasana hatiku yang sedang gundah. Oh Tuhan berikan keputusan yang terbaik untuk kami berdua. Kuatkan aku apapun yang terjadi nantinya. Kuatkan aku untuk menerima hasil akhirnya. Beri aku kesabaran jika keputusan itu berbanding terbalik dengan apa yang aku harapkan. Semua ku serahkan padamu. Saat sampai di depan rumah Ara, mendadak jantungku berdegup lebih cepat bahkan tanganku terasa sangat lemah ketika ingin mengetuk pintu rumahnya. Pertanda apa ini? Semoga hanya perkiraanku saja. Semua akan membaik pada waktunya.
Tokk…tokk… tok…
Setelah aku mengetuk pintu, Han yang membuka pintunya dan menyuruhku untuk masuk. Ku lihat keadaannya yang sangat kacau. Matanya yang memerah, hidungnya yang merah, rambut yang acak – acakan dan tubuh yang lemah.
“Kenapa Han? Sakit?” tanyaku.
“Tidak apa – apa Kak. Santa aja” jawabnya lemah.
Aku hanya menganggguk. Aku tidak mau mencampuri urusannya. Lagi pula aku datang ke sini untuk menemui Ara. Dan mempertaruhkan hatiku.
“Mau ketemu Kakak, kan? Bentar ya!”
Han segera memanggil Ara. Selang beberapa menit, aku melihat Ara datang menghampiriku dengan gaun casual selutut berwarna merah muda. Warna cinta. Dia terlihat sangat cantik dan memukau.
“Sudah siap, Ra?” tanyaku dengan penuh semangat.
“Aduhh gimana ya Ra, kayaknya gue hari ini tidak bisa jalan bareng lu deh. Gue sudah ada janji sama seseorang. Sory ya!” jawabnya enteng.
“Lu kan sudah janji sama gue juga. Emang sepenting itu orangnya bagi lu, sampai – sampai lu mau batalin janji kita.”
“Penting banget. Ini masalah hati. Maaf ya! Gue tidak bisa.”
Tiba – tiba terdengar klakson motor. Setelah mendengar itu Ara langsung pergi tanpa pamit dan meninggalkanku. Lebih tepatnya aku dan cintaku.
Inilah akhir dari perjuanganku. Mencintai seseorang yang tidak pantas diperjuangkan. Seharusnya aku mengetahui ini sejak awal. Seharusnya aku tidak terlena dengan kedekatan yang sesaat. Dan seharusnya aku menyadari posisiku sendiri. Hanya menjadi pengisi kekosongan hatinya saja. Tidak lebih!! Akhir yang menyedihkan. Seperti inikah rasanya patah hati? Sakit, sangat menyakitkan. Sesak, sangat menyesakkan dada. Perih. Sakit yang selama ini ku hindari justru kini menerpaku bertubi – tubi. Dia membuatku melayang di udara tapi dia juga yang menjatuhkanku hingga ke jurang kehancuran. Dan pada akhirnya, air mataku mulai menetes. Aku duduk tersungkur di samping sofa. Bahkan aku lupa saat ini aku sedang berada di rumah Ara. Yang ku rasakan hanya kepedihan. Aku tidak peduli siapapun yang akan melihatku nanti. Kini saatnya aku peduli pada diriku sendiri dan hatiku yang tersakiti.
“Sabar Kak.”
Tiba – tiba saja Han datang dari belakang dan memegang bahuku. Itu menandakan dia ingin menguatkanku. Aku hanya bisa terdiam. Mungkin saja dia mengetahui pembicaraanku dengan Ara. Entahlah aku tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang ku rasakan hanya sakit, sakit, dan sakit.
“Aku mendengar semuanya. Saat Kak Ara cerita masalahnya dengan Tantra malam itu, aku sudah menduga akan terjadi seperti ini. Aku tahu sebenarnya Kak Ara juga cinta sama Kak Tara. Tapi dia justru menuruti ambisinya. Kak Tara tahu sendirikan, Kak Ara tidak bakal menyerah sebelum apa yang dia inginkan tercapai. Kalian akan sama – sama tersiksa. Membohongi diri sendiri dengan kata persahabatan. Dan pada akhirnya hanya ada penyesalan.” Kata Han panjang lebar.
Semua yang dikatakan Han benar. Aku baru sadar, Ara memang orang yang ambisius. Dan aku melupakan hal itu. Aku lupa bahwa selama ini aku selalu bersemangat dalam mengahdapi segala hal hanya karena terinspirasi dari sifat ambisius Ara. Dulu aku selalu menganggapnya orang yang pantang menyerah tapi saat ini aku sadar bukan pantang menyerah lebih tepatnya ambisius. Air mataku semakin tak bisa terbendung. Saat ini mungkin yang dilakukan Han hanya melihatku dengan tatapan iba.
“Kak titip Kak Ara ya. Dia butuh orang kayak Kakak. Kesalahan terbesarnya adalah ketika dia mengikutsertakan ambisinya dalam hati dan perasaannya. Hingga pada akhirnya dia juga yang akan menyiksa dirinya.”
“Semua sudah berakhir Han, tidak ada yang bisa diperjuangkan lagi. Aku tidak mungkin mencintai seseorang yang tidak mau ku perjuangkan. Sia – sia. Aku sudah mengorbankan perasaanku selama ini. Dan mungkin ini saatnya aku melepas Ara. Inilah yang terbaik untukku dan untuknya. Aku tidak mau membodohi diriku sendiri dengan embel – embel cinta. Kalau Ara punya ambisi yang kuat, aku punya keteguhan yang melebihinya. Aku tidak akan kembali pada luka yang sama. Luka yang membuatku terpuruk selama ini.”
“Ini memang kesalahan Kakakku sendiri. Dia tidak bisa membedakan yang mana ketulusan dan yang mana ambisi. Aku tidak akan memaksa Kak Tara lagi, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama kalau aku berada di posisi Kakak. Kalian berdua adalah Kakakku. Jadi meskipun Kakak sudah memutuskan yang terbaik untuk kalian. Aku akan mendukung dan menghormati keputusan akhir. Semoga saja setelah ini kalian akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih berwarna.”
“Suata saat jika Ara sudah mengetahui kesalahannya katakan padanya bahwa musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri.”
“Semoga saja dia bisa menyadari kesalahannya sebelum dia semakin jatuh dalam lubang yang dalam.”
“Aku pulang dulu ya, Han.” Pamitku pada Han.
Saat aku melangkahkan kakiku dari rumah Ara, ada perasaan aneh yang menjalar di hatiku. Saat ini aku bisa melihat rumahnya dari kejauhan dan ada rasa ketenangan dalam hatiku. Selama ini belum pernah aku merasakan hal seperti ini. Rasanya segala beban yang ada di hatiku hilang semua. Iya, semuanya. Mungkin memang ini yang terbaik untukku dan Ara.
Terimakasih Tuhan, Kau telah memberikan keputusan yang terbaik untukku dan Ara, sekarang aku merasa lebih tenang.
Ragamu bersamaku
Kau di sampingku
Setiap saat aku melihatmu
Tapi entah kenapa semua tak seindah dulu
Ragamu bersamaku tapi hatimu tertaut padanya
Kau di sampingku tapi cintamu bersamanya
Rindu…
Iya, merindukanmu yang dulu
Saat masa lalumu belum mengusikmu
Saat sumber lukamu belum mengikatmu
Lagi…
Apakah kau mau terjerat luka yang sama lagi?
Luka yang membuatmu mencariku
Luka yang membuatmu meneteskan air mata
Luka yang secara perlahan memberiku harapan
Entahlah…
Yang ku tahu kini
Aku bahagia melihatmu tertawa bersamanya
Meski hati menangis di dalamnya
Meski kasih memberontak batasannya
Meski pikiran selalu mengingat tentangmu dan dirinya
Sakit…
Itulah hal yang pernah ku rasa
Ku harap kau tak akan terluka untuk kedua kalinya
Terimakasih untuk segalanya
Baru kali ini ku temui sebuah kebahagiaan
Tidak apa – apa jika kau memilih ambisimu
Tapi kau jangan lupa aku juga memiliki keteguhan yang kuat dalam hatiku
Dan hal itu yang dulu membuatmu kembali padaku
Bahagialah bersama dia dan ambisimu
Aku juga akan mencari kebahagiaanku dalam ketenangan, keteguhan, dan kedamaian

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   Arti Sebuah Pengorbanan 3 (Kekasih Untuk Adik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *