• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Risalah Bung Karno yang Pernah Aku Baca (bagian 1)

ByLaksa Tiar Makmuria

Agu 2, 2021

Tulisan pertama dari Bung Karno yang aku baca adalah risalahnya yang dia tulis pada tahun 1926 yang bertajuk “Nasionalisme, Islamisme, Marxisme”. Tulisan ini aku dapatkan di buku kumpulan tulisan yang ditulis oleh Roso Daras.

Aku membacanya saat kelas XI SMA. Waktu itu aku sama sekali tidak ngeh bahwa itu adalah tulisan Sukarno. Karena kupikir buku karya Roso Daras berjudul “Total Bung Karno” adalah buku yang ditulis dari hasil buah pikirnya sendiri.

Pada perkenalan pertama dengan tulisan Bung Karno itu aku merasa sedang diceramahi. Gaya tulisan Sukarno memang demikian. Hidup, sampai-sampai pembacanya merasakan suara dari si penulisnya. Paling tidak itu yang aku rasakan.

Risalah itu berisikan penjelasan mengenai tiga paham besar yang menjadi lokomotif pergerakan nasional Indonesia. Sukarno menjelaskan di awal tulisannya, bahwa percuma gontok-gontokan kalau kita masih di bawah cengkraman kolonialisme Belanda. Sedangkan tujuan dari ketiga paham itu adalah sama: membuka jalan ke arah kemerdekaan.

Alih-alih mempertajam perbedaan, Sukarno dengan caranya mencari kesamaan dari tiga paham besar itu. Nasionalisme, katanya adalah kecintaan dan pengorbanan untuk tanah airnya. Tak peduli dari ras apa orang berasal, asal merasa memiliki tanah air yang dipijaknya adalah suatu kewajiban untuk memperjuangkannya.

Islam sendiri, mengutip hadist nabi, menyatakan bahwa umat muslim, di mana pun dia berada harus membela dan memperjuangkan kemakmuran tanah tempat dia tinggal. Di sisi lain, Islam juga menolak riba. Akumulasi Nilai yang tidak bersumber dari kerja. Penolakan ini selaras dengan penolakan atas”teori nilai lebih” oleh kaum Marxis.

Kejelian atas ini menjadikan percobaan penyatuan asas perjuangan dan taktik dari tiga paham ini sebenarnya memungkinkan. Walaupun mereka akan tetap saling resisten jika sudah membahas Azas. Islam berdiri di atas idealisme, sedang Marxisme berada di atas materialisme.

BACA JUGA :   HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN

Tujuan Azas perjuangan ini di Ramu oleh Sukarno menjadi semacam pemahaman baru soal nasionalisme. Nasionalisme khas gagasan Sukarno. Mencari keselarasan ketimbang perbedaan. Kecerlangan ini secara ide sangat segar. Tapi dalam prakteknya memang sangat sulit menghindari pertentangan yang menjurus pada kekerasan.

Pembacaanku mengenai tulisan Sukarno ini menjadikan aku mendapatkan cara berfikir baru kala itu. Sukarno seketika menjadi Patron dan kawan berfikirku. Meski lambat-laun aku mulai skeptis dengan pemikirannya. Bukan berarti menolak, tapi perlu ada kerja berkelanjutan untuk menemukan kembali nasionalisme kita.

Di abad ini, saat paham-paham modernisme mendapatkan imbuhan “Neo” di depannya, aku masih hanyut dalam pemikiran abad 20. Masih mencari benang penghubung untuk sampai di pikiran “posmodernisme” abad 21. Abad yang penuh resiko dan keserbarelativan.

Tapi pendekatan populisnya dengan memberi batas politik antara “sana” dan “sini”, “si penjajah” dan “si terjajah” secara epik bisa dikatakan sebagai sebuah gaya populisme kiri yang cukup efektif mengantarkan bangsanya menuju kemerdekaan.

Walaupun belakangan semboyan-semboyan nasionalisme dikonfrontir sedemikan rupa menjadi wajah xenofobik dan ultra-nasionalisme. Gerakan yang menjadikan ras, kelompok di luar batas negara sebagai “asing” dan “Aseng” menjadikan kita gagap bergerak.

Satu sisi gagal mengkanalisasi ide alternatif, di sisi lain merasa resah dengan praktek populisme kanan yang demikian. Sudah saatnya ide populisme kiri kembali digali. Karena disadari atau tidak, kita sedang masuk ke dalam masa “momen populis”. Di mana kelompok neoliberal dan oligark sedang sempoyongan mencari pegangan untuk hegemoni mereka.

Krisis pandemi, gejolak perang dagang, persaingan dunia kesehatan, menunjukkan wajah bopeng praktek neoliberal dan oligark. Mereka mengantarkan masyarakat ke jalan apatis atau secara ilmiah disebut sebagai “pascapolitik”.

BACA JUGA :   Pesan Cinta di Hari Raya

Arena politik yang selalu menggelar karpet merah untuk para pemodal, sedang aspirasi masyarakat coba diredam dengan iming-iming kesejahteraan. Di mana ada kesejahteraan saat seorang yang merasa kurang tak berani berbicara?

Bersambung….

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *