• Kam. Sep 16th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Perang berdarah pasca Pandemi Covid-19 ?

Byahmadarfandii

Agu 2, 2021

Kejadian paling menggemparkan dengan selang waktu yang lama terjadi akibat pandemi Covid-19. Muncul pada Tahun 2019 hingga sekarang memasuki akhir Tahun 2021 masih sangat hangat diberitakan. Virus, barang yang tak Nampak ibarat hantu setiap kali muncul tak ada yang tau, berbeda dengan penyakit lainnya yang umumnya memiliki gejala khusus, lain halnya dengan virus ini karena korban yang terpaparpun ada yang tak mengalami gejala alias OTG. Sialnya kita tak mampu lepas dari ilusi ini, ya saya katakan bahwa ini hanya ilusi, Bagaimana tidak telinga ini sudah tebal dengan isu-isu dan pemberitaan di media TV yang seakan membesar-besarkan hal yang tak sepatutnya dibesarkan sebab masih banyak hal yang perlu diberitakan, semisal keterbatasan pendidikan anak bangsa di daerah terpencil ataupun sulitnya perekonomian Masyarakat saat pandemi yang berjuang hanya untuk mencari sesuap nasi. Sialnya pemberitaan di TV hanya menangkap sisi luar kehidupan masyarakat saja, hanya ketika para Pejabat membagikan sembako kepada seorang nenek tapi itupun Cuma sekali lalu digembar gemborkan kebaikan hatinya, kemurahan senyumnya. Padahal pada kenyataannya Bantuan Sosial yang turun pun tidak merata bahkan Mentrinya pun terlibat kasus Korupsi Bansos itu sendiri.
Dalam Situasi pandemi Pemerintah silih berganti mengeluarkan Peraturan Pembatasan Sosial kepada Masyarakat dengan alasan menekan angka penyebaran Virus tapi nyatanya kita terus dimaini dengan isu-isu dan pemberitaan yang tak berujung. Apakah para Tuan yang menjabat tidak memperhitungkan berapa banyak Kepala Keluarga yang harus menahan perutnya kelaparan akibat mata pencahariannya yang dibatasi aturan tak pasti. Belum lagi kita berbicara disektor Pendidikan, berapa banyak siswa atau mahasiswa yang terkendala pelajarannnya atau bahkan berhenti bersekolah akibat keterbatasan ekonomi karena fungsi kementrian pendidikan tidak lagi amanah pada UUD 1945, Hak untuk mengenyam Pendidikan terbatasi oleh kondisi Perekonomian yang merosot. Kemudian lanjut disektor Keagamaan. Bagaimana beberapa peraturan yang telah dikeluarkan mengenai pembatasan aktivitas di rumah peribadatan bahkan mengatur akidah ummat semisal Shalat berjamaah dengan berjarak, sementara Shaf dirapatkan dalam shalat itu hukumnya wajib terkandung makna yang kuat dan mendalam mengapa Sang Pemimpin Sejati Nabiullah Muhammad SAW. Memerintahkan merapatkan Shaf dalam Shalat. Mengapa Bangsa Indonesia hari ini menjadi bangsa yang penakut?, tidakkah anda berpikir bagaimana mencekamnya di kawasan Gaza dan Masjidil Aqsha tetapi Muslim Palestina tetap mendirikan Sholat berjamaah dengan khusyuknya meski suara ledakan timah panas rudal dan senjata modern lainnya menghujam kawasan tersebut. Kita malah takut dan tunduk pada aturan tidak masuk akal di Negara ini.
Pada Tanggal 17 Agustus 1945 Negara Republik Indonesia resmi diproklamasikan, bukan perkara mudah memerdekakan suatu bangsa dari penjajahan SDM dan wilayah. Hari ini kita menghadapi penjajahan gaya baru atau neokolonialisme/Neoliberalisme. Kita dijajah secara pemikiran, Budaya sehingga kekhasan dari Indonesia sendiri sedikit demi sedikit terkikis dan akhirnya tinggal nama Indonesia, yang tersisa hanya gambar burung garuda pancasila di dinding kelas dan di kantor pemerintahan akan tetapi makna dari Pancasila itu sendiri sudah hilang. Bendera Sang saka Merah Putih tinggallah warna merah dan putih, tidak ada lagi makna keberanian dan kesucian. Perlukah pertumpahan darah untuk mengembalikan Keberanian dan kesucian si Merah Putih? Lalu kemudian muncul regenerasi Teuku Umar dari Sumatera, regenerasi Pangeran Diponegoro dari Jawa, regenerasi Pangeran Antasari dari Kalimantan, regenerasi Sultan Hasanuddin dari Sulawesi, dan regenerasi Kapitan Pattimura dari Maluku.
Semakin hari pesoalan yang melilit bangsa makin rumit pula, sebagai rakyat kecil kita bisa apa ?. Negara-negara besar didunia juga sedang bertikai memperebutkan kawasan investasi dan sudah bisa ditebak apabila Negara adidaya bertikai maka rusaklah Negara berkembang dibawahnya. Saya jadi teringat kata-kata potongan dari ceramah Alm. Ustadz Zainuddin MZ. Yang berkata “Kebo swngan Kebo bertikai yang rusak rumput dibawahnya”. Nampaknya kata-kata Sang Ustadz relevan dengan kondisi saat ini, Para petinggi di istana yang berikai berebut jabatan, yang rusak yah Rakyat kecil!. Pandemi masih berlangsung, sampai saat ini belum ada titik terang kapan pandemic akan berakhir, Sang pemangku jabatan tak ingin pula menyia-nyiakan kesempatan memakan selagi ada piring yang tersedia, begitula kira-kira jika ingin diumpamakan. Rakyat yang mengalami keterbatasan mencari sesuap nasi dan menemui jalan buntu akhirnya ada yang dengan terpaksa merampok bahkan saling bunuh untuk bertahan hidup. Apabila kita ingin menarik beberapa pesan Leluhur dari tanah Sulawesi apabila diartikan dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya demikian bahwa “Ketika wabah menjangkit suatu wilayah maka kejahatan akan merajalela, sesama manusia akan saling bunuh untuk bertahan hidup, pertumpahan darah dimana-dimana, tidak lagi berlaku hukum dan aturan, setelah peristiwa berlangsung relatif lama maka terjadilah bencana alam yang akan mengguncang Tanah itu, setelah hal itu terjadi maka bersihlah kembali dunia dan kekotoran Manusia”. Setelah mengetahui pesan Orang terdahulu kita tersebut, Apakah kita sudah siap menghadapi kondisi demikian ?, Sementara generasi masa kini lebih nyaman dengan dunianya sendiri terbawa arus modernisasi yang begitu deras, sangat langka ditemui generasi muda dengan mentalitas dan spritualitas yang kuat

ahmadarfandii (6)

Seorang Pengarang Muda yang tiap harinya bercumbu dengan imajinasi yang dituangkan dalam tulisan berharap para pembaca menikmatinya

BACA JUGA :   Kehadiran dia: chapter 3
Bagikan Yok!

ahmadarfandii

Seorang Pengarang Muda yang tiap harinya bercumbu dengan imajinasi yang dituangkan dalam tulisan berharap para pembaca menikmatinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *