• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Nakes Perempuan Di Masa Pandemi: Antara Altruisme Kerja Dan Apatisme Masyarakat

Byikanh127

Agu 2, 2021

… Manifestasinya pada penambahan jam kerja untuk jumlah pasien yang tak terduga jumlahnya, sementara di rumah mereka meninggalkan anak-anak yang perlu diurus. Belum lagi resiko tertular dan kematian yang menghantui.”

Bulan Maret lalu WHO memberi apresiasi kepada tenaga kesehatan (Nakes) perempuan atas dedikasi, keberanian dan perhatian mereka dalam penanganan covid-19 yang sedang melanda dunia. Apresiasi ini bukanlah langkah yang berlebihan mengingat angka kematian covid- 19 yang cukup tinggi. Artinya, resiko penularan kepada para nakes ini juga sangat tinggi. Ini ditandai tingginya angka kematian karena covid 19 yang sebagiannya adalah perempuan. Seperti yang diungkapkan Matshidiso Moeti, Direktur Kesehatan Dunia (WHO) Afrika bahwa sekitar 70 persen dari total tenaga kesehatan global adalah perempuan. Mereka di garis depan, terutama sebagai perawat dan tenaga kesehatan komunitas. (dilansir harian Pikiran-Rakyat.com Maret 2021). Bahkan WHO menemukan 41 persen kasus covid-19 menyerang perempuan.

Dalam beberapa riset perempuan menangung beban (bahkan beban ganda) yang lebih berat di masa pandemi ini. Selain nakes, di luar sana, secara umum beban pendidikan, ekonomi, profesionalitas kerja karena pergeseran kebiasaan, juga beban interaksi sosial dirasa lebih berat ditanggung oleh perempuan.
Beban pendidikan, ini terjadi karena mekanisme pembelajaran siswa dari tatap muka menjadi daring yang melibatkan penuh peran orang tua dalam pengerjaan tugas-tugas akademik.

Sebanyak dua pertiga atau sekitar 66,7% tugas pendampingan belajar ini dibebankan kepada seorang perempuan (ibu). Angka tersebut merupakan hasil penelitian dari sebuah studi yang dilakukan Research and Development Agency of Indonesian Education and Culture Ministry sepanjang April hingga Mei 2020, kepada orang tua di 34 provinsi. Artinya, perempuan (ibu) dengan berbagai latar belakang social pendidikannya, mau tak mau harus bisa menjadi guru selama pembelajaran daring di rumah. Ini dikarenakan model pembelajaran daring di Indonesia terlebih di pedesaan dan pedesaan transisi masih berbasis tutorial minimalis dan penugasan.

BACA JUGA :   Puisi Untuk Kaki ku

Penguasaan teknologi untuk mempermudah proses pembelajaran masih belum optimal. Ini terjadi karena beberapa factor; (1) daya beli masyarakat terhadap gadget yang ter-support jaringan secara baik, (2) daya beli masyarakat akan kuota data untuk menunjang ketersediaan jaringan, (3) Ketersediaan jaringan itu sendiri, (4) Sumber daya manusia (penguasaan teknologi masyarakat). Tak jarang seorang perempuan yang kemudian tertekan dengan tugas-tugas akademik anak-anaknya.
Pun demikian yang dialami perempuan akademisi. Di berbagai belahan dunia, studi-studi awal mengkonfirmasi bahwa pandemic covid-19 telah membuat akademisi perempuan menanggung beban mengajar lebih berat. Akibatnya, mereka hanya memiliki waktu sedikit untuk melakukan riset dan menerbitkan publikasi dibanding akademisi laki-laki.

Pandemi ini telah memaksa para akademisi untuk mengubah cara mengajar mereka dari tatap muka menjadi daring.
Perubahan yang cepat ini berarti para akademisi harus meluangkan waktu berjam-jam untuk merancang ulang pembelajaran, memeriksa tugas-tugas siswa, serta memastikan alat-alat penunjang pekerjaan (seperti jaringan internet dan perlengkapan mengajar daring lainnya) tersedia dengan baik. Seperti halnya para pekerja perempuan dan penyedia jasa perawatan dan pengasuhan yang tidak memiliki pekerjaan yang stabil, akademisi perempuan Indonesia harus menanggung beban ganda pekerjaan berbayar dan tidak berbayar. Pergeseran ke kegiatan belajar daring untuk siswa mereka dan anak-anak mereka sendiri ini menambah beban kerja domestik dan pengasuhan yang seringkali tidak dibagi secara adil kepada pasangan.(theconversation.com)

Beban ekonomi, perempuan yang sebelumnya sudah berkiprah di dunia kerja, dalam masa pandemic ini semakin bertambah bebannya. Ini ditandai bertambahnya perempuan yang bekerja sampingan unutuk menutup kebutuhan selama pandemic yang dikarenakan beban phk suami. Beban profesionalitas kerja, perempuan lebih bekerja keras dalam mengejar target-target. Di industry-industri pabrik kebanyakan menyerap tenaga kerja perempuan, selama pandemic memiliki target produksi meningkat. Peningkatan industry di masa pandemic misalnya produksi pakaian hanzmat, masker handsanitizer dan apd lain. Sementara di lain sisi justru gelombang PHK terjadi, pekerja yang sebagian besar perempuan terkena dampaknya. Selain itu kebijakan WFH juga menjadi tambahan beban bagi perempuan karena perempuan telah mempunyai pekerjaan mengurus rumah dan membantu anak-anak sekolah melalui internet.

BACA JUGA :   Mahasiswa kupu kupu VS mahasiswa organisasi

Beban profesionalitas kerja ini juga menyergapi para tenaga kesehatan perempuan. Manifestasinya pada penambahan jam kerja untuk jumlah pasien yang tak terduga jumlahnya, sementara di rumah mereka meninggalkan anak-anak yang perlu diurus. Belum lagi resiko tertular dan kematian yang menghantui. Jumlah kematian nakes perempuan di Indonesia sangat tinggi. Tim mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengumumkan pembaruan data tenaga medis yang wafat akibat Covid-19 sepanjang pandemi di Indonesia berlangsung mulai Maret 2020 hingga pertengahan Januari 2021, telah mencapai total 647 orang. Adapun dari total 647 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19 ini terdiri dari 289 dokter (16 guru besar), 27 dokter gigi (3 guru besar), 221 perawat, 84 bidan, 11 apoteker, 15 tenaga laboratorium medic. Data ini didapatkan berdasarkan rangkuman oleh Tim Mitigasi IDI dari Perusahaan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesidia (Patelki), dan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). (Kompas.com)

Selain nakes yang bertugas di rumah sakit-rumah sakit besar, beban ini juga menghinggapi nakes-nakes perempuan tingkat pedesaan. Bidan-bidan desa mempunyai tugas berat untuk mengedukasi covid 19 mulai dari sejarah kemunculan, pencegahan hingga resiko terburuknya yaitu kematian. Edukasi ini masif dilakukan dari masyarakat desa hingga kota di segala lini. Mengapa berat? Karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap covid-19 telah bergeser dari waktu ke waktu. Hal tersebut terjadi karena beberapa hal. Pertama, informasi yang simpang siur menyebabkan persepsi yang berbeda di masyarkat. Kedua, tingkat ketakutan masyarakat mulai menurun, sebagai buktinya sebagian masyarakat melanggar protocol kesehatan meskipun sudah ada pengetatan dari pemerintah. Ketiga, karena tabungan dan penghasilan mulai menurun, otomatis masyarakat akan berpikir lebih berani mengambil resiko tetap keluar rumah dan berkerumun mencari nafkah demi terisinya amunisi kembali.

BACA JUGA :   Resep cumi sambal hijau

Ditemukan banyak kasus perlakuan tidak menyenangkan yang dialami nakes perempuan pada saat melakukan brifing covid 19 di lapangan, mulai dari sikap acuh tak acuh, perkataan kasar hingga penolakan pendataan. Ini terjadi karena tingginya apatisme masyarakat terhadap eksistensi covid-19 itu sendiri. Meskipun demikian, sebenarnya kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam mengatasi covid-19 masih relative tinggi. Menurut survey indicator Politik Indonesia yang dirilis September 2020 lalu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dalam menangani masalah pandemi covid-19 berada di angka 60%. Hal ini menunjukkan masyarakat masih menaruh harapan terhadap pmerintah dalam menangani pandemi ini.
Beban ganda adalah (Double Burden) adalah beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Beban ganda tersebut meliputi pekerjaan domestic dan pekerjaan publik.

Beban ganda ini merupakan bentuk ketidak adilan gender sebagai korbannya adalah perempuan. Nakes perempuan menyandang beban ganda. Ia adlah seorang ibu, istri juga seorang pekerja kesehatan yang di masa pandemic ini mendapat tugas dan jam kerja lebih dengan resiko tertular penyakit dan kematian yang tinggi. Belum lagi beban edukasi kepada masyarakat awam tentang bahaya covid-19 di tengah apatisme masyarakat yang kian meningkat. Untuk itulah perlu sekali pola relasi berbasis kemitraan antara suami istri.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *