• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Berkenalan dengan Sukarno

ByLaksa Tiar Makmuria

Agu 2, 2021

Namanya saat lahir adalah Kusno. Lahir di Lawang Seketeng, Surabaya, 6 Juni 1901 saat fajar menyingsing. Ibunya bernam Idayu Nyoman Rai dan ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo seorang priyayi kecil yang berprofesi sebagai guru.

Pernikahannya dengan Idayu, seorang Hindu dari kasta Brahmana adalah hal yang tak lumrah di zamannya. Tapi itu yang dituturkan oleh Sukarno dalam autobiografinya; Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Kusno adalah seorang bungsu dari dua bersaudara. Kakak perempuannya bernama Soekarmini, lahir di Bali beberapa tahun sebelum Kusno lahir.

Konon, karena sering sakit-sakitan, Kusno oleh orangtuanya dianjurkan mengganti namanya. Kemudian, sang ayah memberikan namanya Sukarno. “Su” dalam kosakata Jawa berarti “paling”, sedang “Karno” adalah nama seorang tokoh wayang dalam epos Mahabarata. Karna adalah anak sulung dari Dewi Kunti, namun berbeda bapak dengan Pandawa.

Kelak di kemudian hari, saat pecah perang Baratayudha, Karna memihak Kurawa. Dalam keyakinannya, perjuangannya melawan Pandawa yang notabene adalah adik-adiknya semata-mata karena kecintaan atas tanah Astinapura.

Demikianlah, kelak Sukarno akan berlaku demikian untuk bangsa dan negaranya. Saat kecil Sukarno diasuh oleh Kakeknya di Tulungagung. Saat itulah dia berkenalan dengan epos Mahabaratha melalui pertunjukkan wayang. Kakeknya yang berjasa memperkenalkan pertunjukan itu kepada Sukarno kecil.

Tokoh kesukaannya adalah Bima. Anak kedua dari Pandu Dewanata yang tak kenal basa-basi dan penuh keterus-terangan. Pemupukan jiwa ksatria oleh kakeknya ini dilakukan secara tidak sadar oleh Sukarno.

Sukarno memasuki sekolah formal berkat status ayahnya sebagai Mantri Sekolah (kepala sekolah). Dia belajar tekun dalam tekanan ayahnya yang super disiplin. Latar belakang keluarganya yang unik menjadikannya keterbukaan soal beragama. Hingga kelak dia memilih Islam sebagai agama yang dianutnya. Meski Islam ayahnya adalah Islam Teosofi. Suatu ragam ajaran Islam yang menghormati perbedaan dan keterbukaan pikiran.

BACA JUGA :   TINJU

Saat usia 16 tahun untuk pertama kalinya ia menjejakkan kaki di sebuah Bandar besar bernama Surabaya. Tanah kelahirannya yang terasa asing baginya–Sukarno saat kanak-kanak pindah ke Tulungagung dan Mojokerto, daerah yang masih cukup kental nuansa desa dan agrarisnya–

Dia sampai di kota ini untuk melanjutkan sekolahnya di HBS. Dia bisa melanjutkan ke sekolah itu alagi-lagi berkat jaringan ayahnya di perkumpulan Teosofi. Kawannya, Cokroaminoto bersedia menampung Sukarno di rumah indekosnya di Paneleh gang 7.

Surabaya waktu itu adalah sebuah kota dagang di mana persaingan dan ketidakpuasan masyarakat urban bergejolak. Orang-orang desa yang harus menyesuaikan diri dengan geliat modernisme. Pribumi adalah masyarakat kelas 3 yang harga dirinya terus dinjak-injak.

Pergolakan pada dada Sukarno remaja dikoyak-koyak oleh realitas Surabaya. Beruntung, bapak semangnya adalah tokoh pergerakan modern rakyat pribumi yang kharismanya disamakan dengan sosok Ratu Adil.

Kesepiannya di tengah hiruk-pikuk bandar raksasa dia ekspresikan dengan membaca dan menonton film. Untuk menonton film dia hanya mampu membayar kursi yang berada di balik layar pertunjukkan. Hal inilah yang membuatnya cepat belajar bahasa Belanda karena dituntut membaca teks secara terbalik.

Ternyata, uang sakunya tak bisa terus memenuhi hasratnya menonton film. Sukarno beranjak ke rak-rak perpustakaan milik lodjie–perkumpulam teosofi–

Privilese ini dia dapatkan lagi-lagi karena status ayahnya yang aktif di perkumpulan tersebut. Dari perpustakaan itulah dia mulai berkenalan dengan pemikir-pemikir besar dunia. Berdialog secara emosi denga Thomas Jefferson, Sun Yat Sen, Marx, dan lain sebagainya.

Bekal bacaan inilah yang membuatnya bisa masuk ke dalam obrolan dengan tamu-tamu politik Cokroaminoto. Sesekali dia akan mengajukan pertanyaan, kali lain dia akan duduk bersila sambil dengan seksama mendengarkan paparan-paparan tamu Cokroaminoto. Ada Agus Salim, A. Baars, Muso, dan banyak lagi.

BACA JUGA :   Kehadiran dia:chapter 2

Tak salah bila dalam autobiografinya yang menceritakan masa ini dia beri tajuk “Surabaya: Dapur Nasionalisme”.

Bagikan Yok!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *