• Jum. Sep 24th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Hannah Arendt: Saling Memaafkan tidaklah Buruk

Maaf-maafan biasanya adalah momen yang dilakukan setahun sekali bagi umat Islam, terutama di Indonesia. Momen ini terjadi ketika Hari Raya Idul Fitri atau lebaran kita menyebutnya secara umum.

Namun apakah kita mengetahui esensi dari memafkan itu sendiri? Apa jangan-jangan, kita hanya melakukannya saja karena sebuah tuntutan tradisi. Atau, apakah memaafkan hanyalah momen yang patut dilakukan sekali dalam satu tahun saja?

Di sini saya akan mencatat mengenai perayaan memaafkan, acara yang seharusnya dilangsungkan dalam keseharian sekalipun, dalam persoalan-persoalan yang bahkan terdengar remeh temeh. Untuk lebih jelasnya lagi, saya membawa perspektif dari Hannah Arendt, seorang filosof putri terkenal asal Jerman.

Pertama, mari kita mengenal siapa tokoh yang satu ini dan mengapa namanya begitu dikenal dikalangan filosof kontemporer, utamanya dalam bidang flsafat politik. Hannah Arendt, merupakan filosof kelahiran Jerman dan meninggalkan tanah kelahirannya itu pada tahun 1933 untuk meneruskan karir filsafatnya di Perancis selama 8 tahun. Ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di Amerika sejak tahun 1941, kemudian menjadi terkenal di kalangan intelektual Amerika. 

Ia dalam karir dan teks-teks filsafatnya menyorot beragam persoalan, diantaranya totalitarianisme Nazi, eksistensialisme, revolusi, kebebasan, otoritas, tradisi, dan tradisi pernikahan modern. Satu karya besar yang lahir dari pemikirannya ialah The Human Condition (1958). Teks ini secara khusus mendiskusikan mengenai bagaimana manusia mencipta atas diri dan dunianya. Adapun forgiveness (pengampunan/kemaafan/memaafkan), dibahas dalam teks fenomenal ini. 

Forgiveness merupakan proses fundamental manusia dalam berkehidupan. Ia membagi antara tindakan dan aspirasi. Tindakan (action) merupakan esensi dari seseorang, artinya, tindakan ialah apa yang mendefinisikan makna eksistensi seseorang tersebut. Sedangkan aspirasi merupakan janji (promises) yang seseorang buat pada dirinya sendiri dan orang lain. 

BACA JUGA :   Kisah Hero Couple Mobile Legend ini Tragis sekaligus Romantis. Mana yang paling kalian suka ??

Kedua hal ini saling berkaitan, di mana apabila terjadi gesekan antara janji dan tindakan, maka seseorang itu telah menghianati makna eksistensi, bagi dirinya dan orang yang lain. Karena itu, konsep memaafkan berlaku di sini sebagai cara manusia tetap bisa melangsungkan kehidupan di ruang public. “Forgiveness is the key to action and freedom” (Saling memaafkan merupakan kunci pada tindakan dan kebebasan).

Masa depan selalu hadir dalam peristiwa chaotic, absurd, dan tak terprediksi. Karena itu manusia membutuhkan konsep janji untuk memastikan bahwa mereka setidaknya dapat menyaksikan masa depan itu hadir sesuai kehendak mereka, terutama dalam relasi bersama orang lain. 

Bagi Arendt, masa depan itu seperti lautan ketidakpastian, namun manusia masih mempunyai kehendak yang ingin terpenuhi. Janji memberikan kita kesempatan untuk mengalami dan memaknai kehendak tersebut. Janji tidak saja berarti sebagai pengulangan tindakan belaka, ia membuat mereka yang terikat janji untuk melangkah, memulai kembali dari nol.

“The possible redemption from the predicament of irreversibility──of being unable to undo what one has done──is the faculty of forgiving. The remedy for unpredictability, for the chaotic uncertainty of the future, is contained in the faculty to make and keep promises. Both faculties depend upon plurality, on the presence and acting of others, for no man can forgive himself and no one can be bound by a promise made only to himself,” Hannah Arendt dalam The Human Condition.

Artinya, “Kemungkinan cara penebusan dari kesulitan ireversibilitas──karena tidak mampu membatalkan apa yang telah dilakukan—adalah kemampuan untuk memaafkan. Obat untuk kekacauan, untuk ketidakpastian masa depan yang kacau, terkandung dalam kemampuan untuk membuat dan menepati janji. Kedua fakultas tersebut bergantung pada pluralitas, pada kehadiran dan tindakan orang lain, karena tidak ada seorang pun yang dapat memaafkan dirinya sendiri dan tidak seorang pun dapat terikat oleh janji yang dibuat hanya untuk dirinya sendiri.”

BACA JUGA :   Cara Menulis Artikel yang Baik dan Menarik, Serta Contohnya

Manusia mencipta di dunia dengan tindakan. Keperpikiran memanifestasikan dirinya dalam tindakan itu. Apa yang orang lain lihat dari kita adalah sejauh apa kita bertindak berdasarkan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Artinya tindakan bukan dilakukan dengan sembarangan, ia harus diikuti dengan perenungan rasional.

Oleh karena itu, saling memaafkan adalah bagian dari tindakan juga. Dalam hal sederhana sekalipun, tidak ada salahnya bagi kita untuk saling memberi maaf. Terlebih kebudayaan kita mengenal etika dan etiket yang dijunjung tinggi, seperti sopan santun dan saling memberi. Kita tidak bisa mengabaikan dunia sekitar begitu saja, kita dan mereka adalah bagian dari ruang publik, kita adalah makhluk politik

Seberat apapun sebuah kesalahan, memaafkan tidaklah buruk. Tidak berarti tindakan buruk itu kita anggap seolah tidak terjadi dan berlalu begitu saja. Ia, sebagus apapun diperbaiki akan tetap menyisakan bekas. Namun, hanya dengan saling memaafkan sajalah manusia bisa melangkah bersama kembali.

Yogi Timor (9)

Menulis untuk Bertahan Hidup

Bagikan Yok!

Yogi Timor

Menulis untuk Bertahan Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *