• Sen. Sep 27th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Benarkah Kodrat Kita Jahat?

Jika manusia pada dasarnya adalah jahat, selalu memiliki motif tertentu demi tujuan diri sendiri, dan rela menyakiti subjek lain demi mendapatkan apa yang ia mau, lalu bagaimana cara menjeaskan kasus seorang ibu yang merelakan nyawa demi keselamatan anaknya?

Saban hari aku memberi sebuah materi filsafat etika di suatu acara diskusi yang diadakan komunitas filsafatku. Dalam sesi tanya jawab, seorang bapak yang kebetulan adalah peserta memberi tanggapan menarik. 

Beliau menyinggung Thomas Hobbes, tentang bagaimana perilaku etis manusia akan mustahil terjadi tanpa adanya norma yang disetujui bersama. 

Meski aku berusaha menjawab, jujur saja aku masih kebingungan. Aku, kita pasti merasakan bagaimana seringnya serigala itu muncul begitu saja dari diri seseorang atau kelompok orang.

 Ya, aku tahu bahwa tidak semua manusia itu jahat, tetapi tidak bisa disangkal juga bahwa hasrat itu sering menjadi sumber kegaduhan bagi manusia dan kehidupan lain. 

Beberapa hari ini publik diguncang dengan berita terorisme. Motif dibalik tindakan terorisme yang umum kita ketahui adalah jihad. Atas nama kebaikan dan kesucian, teror masal terjadi. Menimbulkan kekhawatiran dalam hati banyak orang. Bagaimana bisa mereka memakai jargon kebaikan untuk berbuat kotor? Kurasa, agama mana pun tidak ada yang mengajarkan untuk melukai orang lain.  

Aku berbelasungkawa atas mereka yang sudah termakan doktrin, mereka juga merupakan korban-korban dari dalang yang tidak pernah memahami makna toleransi. Apa benar Tuhan menyuruh umat-umatnya menemukan makna kebenaran melalui jalan kekerasan? 

Aku curiga, mungkin saja mereka sebenarnya adalah orang-orang yang tidak tahu cara menertawakan eksistensi mereka. 

Mereka kosong, tanpa harapan dan makna. Mereka tidak mengagumi makna eksistensi mereka sama sekali. Mereka melihat dunia sebagai sebuah medan perang alih-alih sebuah kehidupan. 

BACA JUGA :   Segitiga Bermuda Menurut Islam, Serem Banget!

Atau, mereka bahkan tidak tahu makna ada sebagai bersama, di mana manusia sama-sama mencari alasan untuk hidup, mengada, dan terus bersama dalam setiap fase zaman. 

Sebenarnya, berbicara kodrat manusia adalah hal yang sia-sia kata Auguste Comte, seorang tokoh positivis. Persoalan teologis dan metafisis telah usai. 

Manusia sekarang hidup pada era saintisme, di mana semua sudut gelap dari peradaban dapat diterangi dengan cahaya sains. Metode matematis adalah yang paling akurat, bahkan untuk membaca dinamisnya tatanan dunia sosial.

Aku tentu saja skeptis dengan pandangan seperti itu. Kita tidak bisa mengkerdilkan makna realitas ke dalam angka-angka. Realitas adalah absurd, keos dan tak terprediksi.

Manusia terlalu angkuh jika menganggap bahwa hakekatnya sebagai makhluk tercerdas di muka bumi berarti pembolehan untuk berkuasa atas dunia. Bagiku, manusia bukan apa-apa jika berhadapan dengan seberapa dalamnya realitas dunia, yang transenden itu. 

Namun di sisi lain, aku juga setuju dengan Comte. Kita terlalu banyak berdebat tentang kodrat manusia, pilihannya selalu dua, manusia itu ‘baik’ atau ‘jahat’. 

Terlepas dari kodrat itu, tugas-tugas kemanusiaan adalah kewajiban universal yang harus dilakukan. Tugasku adalah bertanggung jawab atas kebebasanku. 

Setiap orang adalah subjek yang bebas, “we are condemned to be free“, kata Sartre. Bahwa setiap orang berhak mengalami eksistensinya, lalu berkewajiban untuk bertanggung jawab atasnya. Kita, di sisi lain juga berhadapan dengan kebebasan-kebebasan dari subjek lain yang sama bernilai. Karena ia bernilai, kita tidak berhak mengambilnya. 

Kebebasan itu bersifat eksistensial, sebagai sesuatu yang tidak dapat ditemukan di mana pun, ia ada dalam diri, ‘bebas dari dalam’. Namun demikian, kebebasan itu sering bertabrakan dengan kebebasan yang lain. 

BACA JUGA :   Adik Saya Duluan Nikah dan Saya Tidak Masalah

Ketika salah satu subjek berhasil mengotoritasi subjek yang lain, relasi sosial yang lahir tidak lebih dari sekedar relasi subjek-objek. Kita menerima kehadiran orang lain, namun tidak dalam ke-diri-annya, melainkan melihat ia si orang lain itu hanya sebatas objek belaka.  

Maka Sartre melanjutkan, “hell is other people”. Bahwa orang lain dengan tatapan mereka adalah neraka, membuat kita terperangkap dalam suasana dingin, lembab, gelap, dan mencekam. Manusia adalah jahat sejauh ia menyepelekan kebebasan orang lain, namun tidak cukup kuat menjadi alasan bahwa setiap subjek pada dasarnya jahat. 

Namun, juga tidak berarti bahwa segala tindakan altruisme. Aku tidak suka dengan orang yang terlalu baik, yang kadang bertindak demi orang lain meski itu harus memperbudak dirinya. Aku juga tidak suka dengan orang yang tidak baik, karena mereka bergelagat begitu sombong. 

Baik atau jahat kodrat kita tidak merupakan masalah pokok. Yang utama adalah bagaimana kita, aku bertanggung jawab atas kebebasan yang membuatku memutuskan sesuatu. Aku bebas tidak berarti harus merugikan orang lain. 

Menjadi baik, juga, tidak harus dengan menyiksa diri. Tinggalkan atau jauhi saja yang menurutmu tidak eksistensial bagimu. Identitas yang diberikan padamu tidak berasal dari mereka. Kamu, aku yang berhak menentukkan esensiku. Nikmati saja perbedaan-perbedaan itu, tanpa harus memaksa subjek lain menjadi sama. 

Terakhir, manusia itu memang jahat, tetapi tidak sebagai kodrat dalam dirinya. Ia dikonstruksi oleh lingkungan di mana ia hidup. Ia akan membaca teks dan konteks atas kebiasaan di lingkungan itu, lalu menjadi preferensinya, dalam proses menjadi dan mengada. Pandai-pandai lah memilih lingkungan. 

Yogi Timor (9)

Menulis untuk Bertahan Hidup

Bagikan Yok!

Yogi Timor

Menulis untuk Bertahan Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *