• Ming. Sep 19th, 2021

IMBICOM

Tulisanmu Suaraku Suaramu Suara Kita

Bab 8 Jaruh Cinta Bikin Lemot Mendadak 2

Bymutiaradee

Jul 31, 2021

Tapi ketika aku berusaha berdiri tubuhku malah terhuyung ke depan dan hampir jatuh. Tiba-tiba saja Han adikku yang paling ganteng ini menahanku. Untunglah ada Han. Jadi aku tidak perlu merasakan pahitnya mencium lantai dapurku ini.
“Gue bantu sampai di depan kamar mandi.” Kata Han.
“Nyaris ciuman pertama lu buat si lantai.” Lanjut Han ketus.
Wah tumben ini anak baik banget. Kesambet jin dari mana nih. Ya, walaupun pada akhirnya tetap ada ejekan. Sesampainya di depan kamar mandi.
“Makasih ya. Ternyata lu bisa baik juga!” kataku tulus dalam hatiku.
Rasanya pengen nangis deh lihat Han kayak gini. Terharu banget. Ternyata bisa baik juga nih anak. Pantesan banyak cewek yang mengejar-ngejar dia.
“Eh lu punya dua hutang sama gue. Yang pertama buat yang tadi pagi dan yang kedua buat yang sekarang.”
Apaa??? Jadi yang tadi itu cuma trik dia aja. Oh Tuhan seharusnya aku bisa menebaknya. Wah kok aku bisa baper kayak gini sih? Sebenarnya aku pengen sekali membalas perlakuannya. Tapi aku lagi tidak mood bertengkar sama dia. Apalagi waktunya sudah mepet banget. Aku segera menjitak kepala Han kemudian langsung menutup pintu kamar mandi dan menyalakan kran kamar mandi. Aku tidak peduli dengan Han yang terus-terusan menggerutu di depan kamar mandi.
Setelah mandi aku segera ke kamar. Dan sekarang aku sangat bingung sekali. Aku harus memakai baju yang mana. Haduhh seharusnya aku mempersiapkan ini dari tadi bukannya malah bersantai-santai ria. Kali ini aku sudah mengganti bajuku sebanyak 3 kali. Dan terlihat kamarku yang biasanya rapi sekarang sudah kayak kapal pecah. Tiba-tiba Han muncul di tengah-tengah pintu kamarku dan terus saja mencerocos tidak jelas. Aku tidak mendengarkan kata-kata Han. Satu hal yang menarik perhatianku.
“Sudah ditunggu sama Kak Tara tuh! Di depan. Ibu, Ayah, Mama sama Papanya Kak Tara sudah berangkat duluan.”
“Haaahhh? Kenapa tidak bilang dari tadi sih?” kataku sambil panik dan mendorong Han agar keluar dari kamarku.
Akhirnya aku memutuskan untuk memakai kaos pink dan celana pendek dengan rambut yang ku kuncir kuda. Kenapa juga aku dari tadi ribet milih baju. Toh aku akan pergi ke taman dan kerja bakti. Itu artinya tidak perlu pakai baju bagus-bagus. Haduh Tiara jangan mulai deh lemotnya. Kataku pada diri sendiri. Emang gini ya rasanya jatuh cinta? Bisa bikin orang lemot mendadak.
“Woy lama banget sih! Ketiduran ya?” teriakan Han menyadarkanku dari lamunanku.
Astaga aku lupa. Tara pasti sudah menungguku terlalu lama.Kataku dalam hati sambil menepuk dahiku.
“Iya iya berisik banget sih!” teriakku sambil keluar.
Akhirnya kami berangkat pukul 06.00 WIB. Dan ini semua gara-gara perbuatanku. Baru saja sampai di taman Ibu langsung menyambutku dengan omelannya. Tuhan kuatkan aku. Tiba-tiba saja Mama Han datang sambil membawakanku minuman.
“Sudahlah Han, jangan diomelin terus. Kasihankan si Ara. Ini minum dulu!” kata Mama Irna sambil menyodorkan minuman dingin.
Mama Irna ini adalah Mamanya Tara. Orangnya cantik sekali, baik pula. Tubuhnya ideal, tinggi dan ramping. Maklumlah mantan model. Dari dulu aku memang memanggilnya Mama. Beliau juga orang yang baik dan selalu memanjakanku. Alasannya sih karena pengen punya anak perempuan. Kali ini Mama Irna memakai T-shirt hitam dilapisi dengan cardigan biru tua dan celana selutut sama sepertiku. Astaga ini membuat ia terlihat lebih muda.
“Sudahlah Ir, jangan terlalu memanjakannya!!” kata Ibu.
“Kamu juga sering memanjakan anakku. Jadi tidak salahkan kalau aku juga memanjakan anakmu, Han.” Jawaban Mama Hana membuat Ibu kehilangan kata-kata.
“Wah Tante baik sekali. Tiara sayang Tante.” Kataku.
Ups! Salah ngomong deh. Kan aku biasanya manggil Mama kok sekarang jadi Tante. Haduh Tiara blo’on banget sih kamu!
Mama Irna hanya mengerutkan kening menunggu reaksi dariku.
“Oh Tuhan. Maaf Mamaku yang cantik aku lupa nih. Maklum kan jarang banget ketemu Mama. Ini aja pertama kalinya ketemu setelah 11 tahun.” Kataku merasa bersalah.
“Iya sayang. Tidak apa-apa kok. Mama maklumi.” Tanggapan Mama Irna sambil tersenyum.
Duh senyumnya mengingatkaku pada Tara. Senyum mereka mirip sekali. Aku jadi membayangkan senyuman Tara.
“Oi Kak. Bantuin dong!” teriak Han membuyarkan lamunanku.
Nah kan, lagi lagi dia. Selalu dia yang mebuyarkan lamunanku. Han terus saja menatapku dengan tajam sambil mengacung-acungkan sapu lidi di tangannya. Huhhh sabar Tiara!
“Iya iya. Ribet banget sih!” teriakku sambil cemberut.
“Ibu, Mama Irna aku ke sana dulu ya! Mau bantu-bantu mereka!” pamitku pada Ibu dan Mama Irna.
“Iya hati-hati ya! Kalau capek istirahat aja!” kata Mama Irna.
Dan Ibu hanya bisa tersenyum menatapku. Mama Irna dan Ibu memang berteman sudah lama sekali. Sejak mereka duduk di bangku SMA. Mereka berteman baik. Dan karena mereka aku jadi tahu bahwa sahabat sejati itu memang benar-benar ada. Pernah saat itu aku berpikiran bahwa sahabat sejati itu hanya omong kosong.
Itu terjadi karena pengkhianatan Dila padaku. Saat itu aku sedang duduk merenung di kamar. Aku belum makan sejak siang tadi padahal jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Saat aku mengetahui Ibu mendekatiku, aku langsung menghapus air mataku. Aku tidak ingin Ibu khawatir dengan kondisiku.
“Wah ternyata anak Ibu sudah gede ya!” kata Ibu tiba-tiba.
Aku hanya tersenyum tipis.
“Ibu juga pernah mengalami hal seperti kamu. Waktu Ibu seumuran kamu Ibu pernah lo suka sama cowok dan kamu tahu ternyata sahabat Ibu juga suka sama dia. Wah awalnya Ibu sakit hati sekali melihat mereka selalu dekat. Hingga suatu saat si cowok itu menyatakan perasaannya pada Ibu bahwa dia mencintai Ibu. Awalnya Ibu senang sekali, kamu tahukan Ibu juga sangat mencintainya. Tapi Ibu juga memikirkan perasaan sahabat Ibu. Apalagi setelah Ibu mengerti bahwa si cowok itu mendekati sahabat Ibu hanya untuk menarik perhatian Ibu. Mulai saat itu Ibu sakit hati padanya. Dan Ibu memutuskan untuk menolaknya. Setelah itu Ibu menceritakan semuanya pada sahabat Ibu. Awalnya dia selalu menyalahkan si cowok tapi Ibu mengatakan padanya bahwa tidak ada yang salah diantara kita. Hanya saja waktu dan penempatannya saja yang salah.”
Aku mendengarkan dengan seksama cerita Ibu. Tanpa ku sadari air mataku mulai menetes. Aku tidak bisa membendungnya. Cerita Ibu hampir mirip dengan apa yang aku alami sekarang. Hanya saja saat itu Ibu berperan sebagai Dila bukan aku.
“Kalau kamu tidak sanggup untuk menceritakan semua hal pada Ibu tidak apa-apa. Tapi setidaknya kamu ceritakan masalahmu kepada sahabatmu yang seumuran denganmu. Adikmu mungkin. Ibu bisa mengerti karena Ibu sudah mengalami pahit manis kehidupan ini.”
“Apakah sahabat Ibu itu Mama Irna?”
“Iya sayang. Dan kamu bisa lihatkan? Sampai sekarang Ibu masih bersahabat dengan Mama Irna.”
“Dan cowok itu?”
“Dia hanya masa lalu Ibu sayang. Tapi sekarangkan Ibu dan Mama Irna sudah memiliki kehidupan masing-masing. Lagi pula hubungan Ibu dengan Mama Irna juga baik-baik saja.”
Haahh… Aku kembali teringat pada masa lalu itu. Masa dimana sahabat menjadi musuh. Masa dimana kasih menjadi perih. Dan masa dimana cinta menjadi luka. Oh God please give me strength!! Mungkin ini semua memang salahku. Aku yang terlalu berlebihan. Aku yang terlalu berharap. Dan sekarang ketika aku jatuh? Oh Tuhan maafkan aku. Aku justru menjauhinya karena kecewa. Dia sahabatku dan aku menjauhinya. Kini aku mulai mengerti apa arti persahabatan yang sesungguhnya. Selalu ada untuknya, menerima apa adanya, dan segala hal yang tidak mungkin membuatnya kecewa. Setelah liburan usai aku akan datang kepadanya dan meminta maaf. Entah siapa yang salah. Yang terpenting adalah keutuhan dalam hubungan ini. Persahabatan!!
Sekarang aku beristirahat di bawah pohon yang rindang dan mulai merenungkan masalah yang dari dulu ku hindari. Tanpa terasa air mataku mulai menetes. Mengapa persahabatanku mulai hancur karena cinta? Tuhan beri petunjuk-Mu. Sekarang baru kusadari, entah salah maupun benar yang terpenting adalah ketidak egoisan dan saling mengerti dalam sebuah hubungan.
Matahari mulai menyembunyikan wujudnya. Sinar keemasan nan indah mulai membara. Seakan menambah keindahan sore kali ini. Angin semilir bertiup perlahan membawa ketenangan dalam kehidupan. Tuhan terimakasih atas semua nikmat yang kau berikan. Hari ini aku belajar banyak pengalaman. Dari mulai persahabatan, kebersamaan, cinta, angan, kenangan, masa lalu dan kata maaf.
Kini hanya tinggal lelah dan senyuman. One more. Thanks God!! Huft, semoga kedamaian selalu menyelimuti keluarga dan orang terdekatku. Kelelahan mulai menjalari tubuhku. Setelah seharian kerja bakti. Kini saatnya untuk istirahat dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Jendela kamarku masih terbuka. Rasanya hari aku seperti terlahir kembali.
Huhhh… Tiba-tiba saja terdengar suara Bbrrruuugggg… Astaga suara apalagi itu? Perlahan ku buka mataku, rasanya masih berat sekali. Dengan nanar ku lihat bayangan seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap berada di depanku dan sedang melihatku. Tuhan apakah ini hanya mimpi? Astaga dengan perlahan namun pasti dia mulai mendekatiku. Ku coba untuk menggerakkan tubuhku tapi semuanya terasa berat. Oh God!! Somebody please help me!!! Teriakku namun masih saja tak terdengar.
“Wooyy sudah siang nih, bangun dong!!”
Suara itu!! Aku seperti mengenalnya. Tapi siapa? Oh Tuhan kenapa otakku sulit untuk berpikir. Tiba-tiba saja dia mengguncang-guncang tubuhku. Tindakan ini membuatku sedikit tersadar dan ku lihat Han sedang berdiri di depanku. Astaga, jangan-jangan seorang laki-laki yang tadi adalah Han. Kalau tahu begini sudah ku timpuk mukanya pakai bantal guling di sebelahku. Kalau dipikir-pikir aku juga terlalu bodoh, siapa juga yang berani membangunkanku seperti ini selain Han. Huuuhhh aku lupa bahwa aku memiliki adik yang menyebalkan. Saat ku coba menggerakkan tanganku untuk memukulnya, tiba-tiba saja tanganku terasa sangat berat. Saat ku coba untuk meneriaki dan memaki Han, tiba-tiba saja suaraku terdengar serak. Oh Tuhan apalagi ini?
“Wahh, ternyata demam. Badannya panas banget!” teriakan Han membuatku terkejut dan sekali lagi membuyarkan lamunanku. Mungkin ini memang hobinya dari dulu.
Han menempelkan punggung tangannya di dahiku. Dan mulai menggerutu tidak jelas. Aku tidak begitu mendengar gerutuannya.
“Astaga pasti gara-gara jendela kamar lu yang ke buka terus. Astaga ceroboh banget sih! Kalau sudah sakit kayak gini gimana? Kan bakal nyusahin semua orang terutama gue. Mana Ayah sama Ibu harus ke Surabaya lagi….” Dan bla bla bla bla bla. Aku tidak lagi mendengarkan ucapannya. Yang membuatku kaget adalah Ayah dan Ibu ke Surabaya? Ngapain? Lalu siapa yang akan merawatku kali ini? Tuhan kuatkan aku. Apa mungkin adikku yang menyebalkan ini akan merawatku? Ku rasa tidak. Huhhh… malang sekali nasibku.
“Baru saja aku mau membuka mulutku untuk memaki-maki Han. Tapi dia justru langsung nyerocos. Yahh mau bagaimana lagi? Keadaanku tidak mendukung untu membalas semua omelannya”
“Karena Ayah dan Ibu ke Surabaya selama seminggu. Jadi gue harus merawat lu. Yahh mau tidak mau!! Dan lu harus nurut sama semua yang gue perintahkan. Ada untungnya juga lu sakit. Gue bisa jadi bos di rumah ini.”
Astaga. Ku kira dia benar-benar peduli padaku. Tapi ternyata dia bersenang-senang di atas penderitaanku. Awas saja kalau aku sudah sembuh nanti.
Saat Han akan keluar dari kamarku. Tiba-tiba saja dia membalikkan badan dan berkata sesuatu yang membuat mataku terbelalak dan mulutku menganga.
“Oh iya. Lu tahu kan kalau tidak ada yang gratis di dunia ini? Jadi lu punya banyak hutang ke gue. Sehari merawat lu, satu kali imbalan buat gue.”
Apaaaa?? Inikah nasibku yang sebenarnya? Tergeletak di tempat tidur, tidak bisa bergerak, punya adik tidak tahu diri dan hal terburuk adalah Ayah dan Ibu pergi ke Surabaya. Tuhan ampuni aku!!!
Setelah Han keluar dan menutup pintuku. Selang beberapa menit ada seseorag yang membuka pintu kamarku dengan terburu-buru. Siapa lagi kalau bukan si tengil Han? Dia selalu mengganggu ketenanganku bahkan saat keadaanku seperti ini.
Dan benar saja Han kembali datang dan merecokkan waktu istirahatku.
“Kak Tara datang tuh! Katanya mau diajak jalan.” Kata Han tanpa rasa bersalah.
“Oh iya, lu kan sakit ya! Gue lupa. Mending gue suruh dia pulang ya. Kasihan dia!���
Oh God. Kenapa setiap Tara mengajakku jalan keluar rumah pasti ada saja halangannya.
“Terserah.” Jawabku dengan lesu.
Hanya Tuhan yang tahu segalanya, aku yakin Tuhan telah merencanakan sesuatu yang indah untukku. Ku harap memang begitu.
Tiba-tiba pintuku terbuka lagi. Huhh, itu pasti Han. Kenapa sih dia tidak bisa memberiku sedikit waktu untuk istirahat?
“Haaan… get out!!” Teriakku sambil melempar bantal kearah pintu dengan posisi tidur membelakangi pintu.
“Aaauuu…” teriak seseorang di depan pintu.
Oh God, siapa itu? Han? Bukan. Itu bukan suara Han. Aku kenal benar suara Han. Maklumlah dari kecil kami selalu bersama apalagi hampir setiap hari kami selalu bertengkar. Jadi, kesimpulannya aku yakin itu bukan suara Han. Lalu siapa? Huuhhh siapa lagi yang akan mengganggu waktu istirahatku.

Bagikan Yok!
BACA JUGA :   PUASA-MU MENJADI PUISI-KU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *